Hotel Rose Melfort
adalah hotel yang paling sunyi di St. Mount Cambridge, hotel megah yang
bersembunyi di balik semak tinggi yang membentuk dinding, namun semak-semak itu
di potong rapi seperti sengaja menyembunyikan hotel itu. Berseberangan dengan
hotel yang terhalang oleh semak terdapat taman labirin yang luas, taman itu di
setting sedemikian rupa membentuk sebuah bangunan tertutup.
Sementara di depan
pintu masuk labirin, beberapa orang wanita menunggu pintu masuk labirin itu di
buka. Ini permainan labirin berhantu, sebuah permainan yang di adakan oleh Adry
Russel Sanders, seorang anak kaisar terkemuka di Kanada. Sebut saja ini
permainan isengnya untuk menguji nyali para wanita yang berebut untuk berkencan
dengannya malam ini.
Seorang wanita aneh
menempati labirin nomor sepuluh setelah mengambil nomor dari seorang pria yang
duduk di meja sebagai pembimbing mereka.
Wanita itu... datang
paling terakhir yang membuat para wanita lain kesal, karena keterlambatannya
membuat permainan ini semakin di undur.
"Heu, kostum macam apa itu" Ucap
wanita yang berada di sampingnya, sementara si lawan bicara tak menanggapi
apapun, padahal ia sendiri merasa tak percaya diri dengan kostumnya. Tidak, ini
bukan kostum, tapi pakaian biasa yang sudah ketinggalan zaman. Baju casual yang
longgar, dengan rok berbahan katun yang panjangnya di bawah lutut dan kaki yang
di balut sepatu kulit berwarna coklat tua, satu lagi, ia membawa tas selempang
yang terlihat usang. Jelas kontras sekali dengan para wanita lain. Mereka
mengenakan baju dan sepatu yang bermerk dan terlihat elegan, dan wajah bermake
up seakan mereka telah siap membuka pintu di hadapannya untuk bertemu sang
pangeran dari anak kaisar.
Gadis yang dikatai
barusan hanya mendesah senyum, jelas itu bukan pintu untuk menemukan sang
pangeran, itu adalah pintu mengerikan yang di dalamnya berupa labirin berhantu.
Mereka akan terjebak di dalam sana dalam waktu 15 menit, sementara mereka harus
menemukan jalan keluar sambil di ganggu para hantu labirin. Siapa yang berhasil
keluar, maka ia mendapat kesempatan
berkencan semalam dengan pria tampan dari anak tunggal seorang Kaisar
dan uang $10 dollar.
5 detik lagi pintu
akan di buka. Gadis itu mehembus nafas panjang, pintu otomatis menggeser, para
wanita itu masuk dengan percaya diri.
Gadis aneh itu
sempat memperhatikan pintu masuk tadi, di desain seperti tembok labirin
berwarna krem, sehingga tidak ada yang tahu bahwa itu pintu masuk atau bukan.
baiklah, sekarang ia berada di tengah labirin yang mengarah ke kiri dan kanan.
Tiba-tiba lampu mati, tak sampai 5 detik ia mendengar jeritan dari labirin
sebelah kiri, itu pasti wanita yang mengatainya tadi.
"Kau boleh
menjerit saat melihat hantu, heu, labirin berhantu pasti gelap, seharusnya kau
tahu itu" Gumam gadis itu pelan, sambil berjalan ke arah kanan labirin.
Gadis itu berjalan
perlahan sambil memperhatikan hantu-hantu yang mengganggunya yang telah di
setting di dinding labirin, - hanya memperhatikan, bahwa hantu itu bukan hantu
yang dimainkan manusia sungguhan, tetapi mesin. Ia merasa telah aman, meski
begitu ia harus berhati-hati untuk melewati labirin selanjutnya ia tidak ingin
terlambat dalam waktu 15 menit karena tersesat di labirin.
Sampai dilabairin
terakhir, pintu yang bertuliskan "You are the winning" terpampang dengan tulisan semerah darah.
Gadis itu mendorong gagang pintu. Ia telah berada di luar labirin yang berupa
taman kecil tepat di hadapan bangunan bertingkat 5. Bangunan itu bersinar
karena ribuan lampu yang menyala di mana-mana.
Lalu ia menemukan
sepucuk amplop merah yang tergeletak di
tanah. Ia memungutnya dan membuka isinya.
Aku menunggumu,
permaisuriku. Adry.
gadis itu kembali
meletakkan amplop itu seperti semula. tentu saja, ia tidak akan menemui pria
itu. ia punya tujuan sendiri. Ia pun bersembunyi di balik pohon yang berada di
pinggir labirin, ia segera membuka tas dan mengambil pistol. Kepalanya
menyembul dari balik pohon. Dari kejauhan ia cukup melihat dengan baik dua
orang pria dengan stelan jas sedang berbbincang di balkon lantai tiga. Pria
paruh baya sang kaisar, dan seorang menteri baru yang berbahaya.
Gadis itu adalah
seorang penembak profesional, ia hanya mengarahkan pistol itu ke arah pria yang
menjadi targetnya. Ia siap menarik pelatuknya, sebuah peluru pun menembus
jantung pria itu. Pria yang menjadi menteri baru dalam kekaisaran. Tampak pria
itu jatuh tergeletak, sementara sang kaisar tterlihat sangat panik.
Gadis itu kembali
memasukkan pistolnya ke dalam tas. Ia kembali ke dalam labirin, dan
berpura-pura menjadi gadis malang yang terjebak didalamnya.
***
Phoeby menyetop
taksi di hadapannya. Ia masuk ke dalam dan taksi itu lalu melaju sedang. Saat berada di jalan tol sepi, taksi itu
berhenti. Phoeby tahu alasan si sopir memberhentikan taksinya. 10 meter dari
arah taksinya, 3 orang FBI sedang
menghajar seorang pria paruh baya yang sepertinya pemilik mobil sedan Yurke
yang juga berhenti disitu.
Phoeby mengarahkan
handycame ke arah mereka dan mereka kegiatan mereka di jalan tol. seorang
polisi berambut pirang tanpa ragu menembak kepala si pria paruh baya itu hingga
mati.
"Oh God"
Gumam Phoeby. Ketiga polisi itu merampok harta benda pemilik mobil sedan Yurke.
Tiba-tiba salah seorang polisi di antara mereka melihat ke arah taksi, Phoeby
terkejut, ia langsung menyembunyikan handycamenya ke dalam tas. Dengan kasar polisi
itu membuka pintu taksi dan menarik pengemudi. bersamaan dengan polisi yang
kedua menarik Phoeby keluar dari kemudi.
"Orang-orang
sialan!" Ucap polisi berambut pirang seraya menahan sopir taksi untuk
membelakangi dan menahan kedua tangannya.
"Apa yang kau
lakukan?" Tanya Phoeby dengan panik.
"Tidak ada cara
lain selain membunuhnya" Si pirang membunuh si sopir taksi.
"Nooo...!!!"
Phoeby menjerit. Ia menangis histeris. "Apa yang kau lakukan, kau kan
seorang polisi, kau bisa dihukum karena telah melakukan ini!"
"Berisik!"
Polisi itu memukul kepala Phoeby dengan pistol hingga ia jatuh pingsan dengan
kening yang mengeluarkan darah segar.
***
Phoeby membuka
matanya perlahan-lahan, sekarang tangan dan kakinya diikat dan didudukan di
kursi kayu, mulutnya di bekap dengan kain tali. ia berada di sebuah ruangan
asing yang tampak ramai dengan beberapa orang lelaki dan perempuan sedang
minum-minum. tiga di antara mereka adalah tiga polisi yang telah membunuh dua
orang tak bersalah tadi siang. ternyata mereka hanya polisi gadungan yang
memanfaatkan seragam FBI untuk merampok.
Phoeby mencoba
berontak dari kursi itu.
"Hei, Nona, kau
sudah sadar rupanya" Ucap si pirang yang tampaknya menjadi pemimpin
diantara mereka.
"Mau bergabung
dengan kami?" Tawar si pria berkulit coklat.
Phoeby berteriak
dengan mulut di bekap, seakan meminta untuk melepaskan ikatannya. Si pirang
mendekat dan mendekatkan wajahnya pada Phoeby.
"Aku
menggeledah tasmu, di dalam ada handycame namun aku tidak menemukan chip di
dalamnya, katakan, kau merekam kami siang itu dan kau menyembunyikannya?"
Phoeby terdiam.
"Bodoh,
bagaimana bisa dia menjawab sementara mulutnya di bekap begitu" Ucap si
perempuan.
Si pirang membuka
kain yang membekap mulut Phoeby.
"Jawab"
"Camera itu
memang tidak ada chipnya"
"Pembohong!"bentak
si pirang
"Benar, aku
sama sekali tidak merekamnya, dan tidak ada chip di dalamnya, percayalah"
"Dan bagaimana
aku bisa percaya padamu, bahwa kau tidak akan melapor pada polisi setelah
kubebaskan dirimu. Kalau kau macam-macam aku bisa membunuhmu kapan pun"
"Aku tidak akan
macam-macam, lagipula aku tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan kalian,
banyak yang harus kulakukan untuk masa depanku, tolong jangan bunuh aku"
Phoeby meminta dengan panik.
"Bagus, gadis
pintar" Pria itu mengacak rambut Phoeby dengan pelan "Kalau begitu
kau bisa bebas tepat pukul 12 malam, selama kau pingsan aku telah menelpon
ibumu untuk membawa uang sepuluh juta dollar"
Phoeby terkejut.
Jadi ini pemerasan untuk mendapatkan uang.
Tengah malam, lima
belas menit lagi ibunya akan datang menjemputnya dengan membawa sejumlah uang.
Ketujuh orang penjahat itu masih teler di sofa sementara Si Pirang tampak berenergi
menunggu nominal uang satu juga dollar.
***
"Jangan panik
nyonya Laurent, aku yakin mereka tidak akan berani macam-macam selama mereka
percaya bahwa kau membawa uangnya" Seorang polisi FBI bernama Daniel
menenangkan laurent, Ibunya Phoeby.
"tetap saja,
aku banar-benar panik sejak tadi siang"
Sampai di tempat
tujuan, para polisi itu keluar dari mobil dan menyelinap ke seluruh bangunan.
Laurent mengambil ponsel dan menghubungi nomor Phoeby, ia bisa mendengar suara
di seberang sana, tanpa pikir panjang laurent segera berlari ke dalam bangunan
itu dan menuju lantai dua dimana Phoeby berada. Ia langsung membuka ruangan
itu.
"Nyonya
Laurent, jangan gegabah!" Ucap Daniel, dengan sigap ia langsung
menodongkan pistol saat masuk ke dalam ruangan. Namun apa yang sedang dia
lihat, ia tak mampu berkata apa-apa, lidahnya kelu untuk berkata.
Ketujuh orang
penjahat itu tergeletak di lantai dengan bersimbah darah, sepertinya seseorang
telah membunuh mereka semua. Daniel melihat Laurent sedang berusaha membuka
tali yang mengikat Phoeby di kursi dan membuka ikatan penutup matanya.
"Mom"
Phoeby lega ibunya telah datang.
"Phoeby,
sayang" Laurent memeluknya dengan erat hingga mereka jatuh terduduk di
lantai "kau tidak apa-apa? Keningmu terluka" Ucap Laurent dengan
cemas.
"AKu tidak
apa-apa"
"Apa yang
terjadi? Seseorang membunuh mereka semua, Phoeby, kau akan di interogasi"
"Apa maksudmu,
Daniel. Tangan dan kaki Phoeby diikat, apa kau mencurigainya membunuh para
penjahat itu hah!" Bentak laurent.
"Tidak, begini,
aku tidak menuduh Phoeby sebagai pembunuh, tapi setidaknya dia lah petunjuk
dari semua ini, seseorang membunuh mereka, dan hanya Phoeby yang selamat"
"Heh, jika kau
sampai memberatkan anakku aku yang akan menuntutmu Mr. Daniel" Ancam Mrs.
Laurent.
***
Phoeby di ruang
interogasi bersama seorang polisi. gadis itu tampak tenang menjawab pertanyaan
yang dilontarkan polisi. Sementara Mrs. laurent menyaksikan percakapan itu
tanpa mendengar suaranya, karena ruangan itu terhalang oleh kaca anti peluru.
"Jadi kau
menyaksikan pembunuhan FBI gadungan itu dan setelah itu kau pingsan"
"Ya, dan
setelah sadar aku sudah di bekap, tangan dan kakiku sulit digerakkan karena
diikat"
"Apa yang kau
lihat di ruangan itu?"
"Hanya sebuah
ruangan kecil, terlihat ruangan santai, mereka mabuk dihadapanku sampai
malam"
"Bukankah kau
tidak bisa melihat mereka karena kedua matamu di tutup?"
"Ya, tepat pada
pukul 10 pria berambut pirang menutup kedua mataku dengan kain, katanya aku
tidak boleh melihat karena mereka akan melakukan sex dengan wanita itu. Dan
pada saat itu aku tertidur, aku terbangun saat mendengar suara tembakkan dan
sangat berisik, wanita itu menjerit, lalu aku mendengar pecahan gelas jatuh
atau apapun itu, aku pikir itu polisi yang datang untuk membekuk, tapi setelah
itu aku tak mendengar apa-apa lagi, semuanya hening, hingga sekitar limat belas
menit kemudian ibuku datang dan melepas kain penutup mata dan ikatanku"
"Apa kau
mendengar ada orang lain baru yang masuk menghajar para penjahat itu"
"Aku tidak
tahu, tidak ada tanda-tanda ada orang asing masuk. Aku berasumsi salah seorang
di antara mereka menghajar temannya sendiri dan dia bunuh diri"
"Mengapa kau
berasumsi seperti itu?"
"Ya, karna aku
pikir... jika ada orang asing masuk mengapa dia tidak membunuhku juga, lagipula
tidak mungkin tiba-tiba ada superhero menghajar penjahat tanpa memperlihatkan
batang hidungnya padaku dan melepaskan ikatanku , dan tempat itu sangat
terisolasi, berada di tengah hutan, tidak banyak orang yang tahu tempat itu,
aku pikir"
Mr. Despard
manggut-manggut seakan bisa menyimpulkan jawaban dari Phoeby.
"Kau
bersih"
"jadi..
bagaimana kesimpulannya?"
"Asumsimu
menurutku tidak masuk akal, salah satu dari mereka membunuh teman sendiri dan
dia sendiri bunuh diri, sementara itu mereka menunggu ibumu membawa uang.
Seharusnya ada motif yang membuat dia membunuh dan bunuh diri. Menurutku ada
orang asing yang masuk dan membunuh para penjahat itu, jelas motifnya untuk
menghukum para penjahat"
"Begitu,ya"
Mr. Despard memberi
isyarat jempol kepada polisi yang menunggu mereka diluar, Laurent sendiri
merasa lega karena Phoeby bisa melewati interogasi itu. Dua orang polisi masuk
ke dalam ruang interogasi dan diikuti laurent. Ia memeluk putrinya dengan
sayang.
"Syukurlah"
"Rasanya kasus
ini biarkan saja, tidak ada petunjuk-petunjuk yang jelas dari kasus ini, Phoeby
memang tidak tahu apa-apa soal pembunuhan penjahat itu. Jika kita
menyelidikanya lebih lanjut rasanya hanya membuang-buang waktu saja" Ucap
Mr. Despard.
"Pintar sekali
pembunuh itu, tidak meninggalkan jejak dan sidik jari sedikit pun, aku rasa dia
memang sudah berprofesional membunuh" Kata Mr. Daniel.
"Pembunuh
membunuh pembunuh, aku tidak menemukan motif superhero membunuh penjahat itu,
jika ia memang samasama sama penjahat seharusnya ia melindungi penjahat itu,
bukan membunuhnya" Tambah Mr. Morgan
"Jika ada
kejadian yang sama kita pasti sedikit menemukan petunjuk" Ucap Mr. Morgan.
"Ada. Kau lupa,
kita masih mengurus kasus dua minggu yang lalu, pembunuhan menteri itu sangat
misterius" Ucap Mr. Despard.
"Ya, kita harus
memeriksa sepuluh wanita kandidat yang mengikuti permainan labirin berhantu
itu"
"Baiklah, Mrs.
Laurent, dan putrinya yang sangat cantik, maaf telah mengganggu waktu kalian,
jika ada apa-apa, kalian bisa hubungi kami lagi"
"Baik,
terimakasih" Kata laurent.
"Ya, semoga
beruntung"
***
Pembunuhan misterius
yang menimpa menteri raja kini banyak diperbincangkan netizen. pelaku
pembunuhan masih dalam penyelelidikan, karena si pelaku tidak meninggalkan
jejak sedikit pun di tempat itu. Namun kini polisi berasumsi bahwa si pelaku
membunuh dari arah taman labirin, itu sudah di pastikan karena tempat itu di
luar gerbang hotel sementara bagian dalam sudah di jaga ketat oleh polisi.
Sasaran utama penyeledikkan polisi disibukkan dengan mencari sepuluh wanita
kandidat yang mengikuti permainan labirin berhantu itu, sudah dipastikan
pembunuhnya pasti ada di antara mereka.
"Pintu labirin
nomor satu oleh wanita karir disebuah perusahaan, pintu nomor dua oleh seorang
model, pintu ketiga oleh seorang dokter hewan, pintu nomor empat oleh seorang
pemain teater..." Mr. Morgan menyebutkan daftar nama yang mengikuti
permainan labirin berhantu, sementara pria tampan sedang menyalin data
nama-nama itu ke sebuah komputer.
"Dan yang
terakhir... seorang mahasiswi dari universitas Stoland"
"Mahasiswi,
heuh, patut dicurigai, gadis itu pasti pengecualian dari 9 gadis lain"
"Ya, dia
satu-satunya mahasiswi. Justru aku tidak yakin bahwa dia pelakunya" kata
Mr. Morgan.
"Aku sendiri
yang akan menyelidikinya" ucap Adry
"Baiklah-baiklah,
jangan libatkan kasus ini dalam kehidupanmu, kau ini bukan anggota FBI apalagi
CIA, pulanglah, Nak, kerjakan tugas-tugas kampusmu, atau kau mandi air hangat
dengan bunga-bunga mawar yang disiapkan oleh para pelayanmu, jika kau terlibat dalam
urusan ini dan kau terjadi apa-apa, mau tidak mau aku harus siap di eksekusi
ayahmu" Ucap Morgan sambil menepuk bahu Adry.
Adri beranjak dari
kursinya dan mengenakan jaket kulit yang teronggok di meja "Aku memang
tidak berminat menjadi detektif, tapi
memecahkan kasus yang misterius cukup menarik perhatianku, itu seperti sebuah
puzzle yang harus disusun untuk menemukan jawaban, selain itu aku juga harus
bertanggung jawab atas kasus ini, gara-gara permainan labirin itu semua menjadi
rumit,"
Adry yang merasa
bersalah ikut turun tangan dalam menyelesaikan kasus ini, dirinyalah yang
diincar sepuluh gadis dalam permainan labirin berhantu itu. Dan ia yakin ada
salah satu dari mereka yang lolos dari labirin itu, namun dia hanya berdiri di
luar labirin, dan melakukan pembunuhan tersembunyi.
Adry merogoh
ponselnya di saku.
"Edmun, polisi
bilang kau sempat memeriksa tas mahasiswi itu, apa benar? - Temui aku di
cafetaria biasa"
***
"Mahasiswi itu
muncul paling terakhir, aku lihat wajahnya sangat pucat dan berkeringat. Dia
bilang dia tersesat di dalam dan bingung mencari jalan keluar"
"Keluar paling
terakhir bagiku mencurigakan, itu bisa kujadikan daftar bukti, lalu?"
"Ya, dia tampak
kelelahan seperti yang lainnya, dia juga sempat berisrirahat sebentar sambil
bersandar di bawah pohon"
"Yang kau lihat
saat itu?"
"Aku tidak
terlalu memerhatikan si mahasiswi, keadaan sangat kacau waktu itu, bahkan si
wanita nomor sembilan menangis histeris
karena ada sesuatu yang membuatnya trauma saat berada di dalam. Tapi aku
teratarik dengan si nomor tujuh, saat keluar dari labirin dia terlihat begitu
tenang, tetapi dia sempat berkata padaku, bahwa permainan ini sangat
menjijikan, setelah itu dia pergi mengendarai mobilnya"
Adry
manggut-manggut, aneh dengan wanita nomor tujuh disaat semua kandidat panik dan
ketakutan dia malah tenang, dan pergi begitu saja. Meski patut dicurigai tapi
ia bukan objek penyelidikannya.
"Kau bilang di
menenteng tas?"Tanya Adry
"Iya, tas
selempang yang usang. Ah, aku lupa, mahasiswi itu cantik, tapi penampilannya
benar-benar kuno, menurutku dia tidak pantas bertemu denganmu"
"Ya, atau dia
memang tidak bermaksud untuk bertemu denganku, pasti ada tujuan lain" Adri
mendapat daftar bukti kedua.
"Tapi dia
bilang dia menyukaimu, dia akan berjuang agar memenangkan permainan ini dan
kencan denganmu. Dia juga terlihat polos seperti mahasiswi biasa yang hanya
punya urusan di kampus"
"Apa kau
memeriksa tasnya?"
"Ya sebelum
masuk aku sempat memeriksa barang-barang seluruh kandidat, kebanyakan dari
mereka menyimpan tasnya di mobil, tapi mahasiswi itu pengecualian, di dalamnya
hanya ada buku kecil seperti buku diary, buku catatan, pulpen, dan kotak
perhiasan dan kotak make up"
"Kau membuka
kotak perhiasannya?"
"Tidak, justru
dia sendiri yang membukanya, saat ku tanya identitasnya dia sempat bercerita
bahwa hari ini adalah ulangtahun ibunya, dia membelikan perhiasan itu untuknya,
jujur saja dia antusias menceritakan hal itu, makanya dia tidak ingin menyimpan
tasnya dan tetap membawanya ke dalam"
"Bagaimana
bentuk kotak perhiasan itu?"
"Aku lupa,
mungkin sekitar lima belas senti, sesuai dengan panjang perhiasan itu"
"Seharusnya kau
minta untuk membuka kotak make upnya juga"
"Aku tidak bisa
berbuat sejauh itu, aku pasti dianggap tidak sopan karena menuduh yang
tidak-tidak sampai menggeledah kotak make upnya" Ucap Edmun.
***
Phoeby menghempaskan
lembaran berkas bertuliskan Universitas Princeton di hadapan Laurent.
"Mom, kau
benar-benar mendaftarkanku kesana ya?" Tanya Phoeby.
"Ya, tentu
saja, jarak limakilo meter dari rumah itu membuatmu lebih mudah""
"Maksudku bukan
itu, Mom, disana penghuninya jenius semua, lagipula itu kumpulan orang-orang
populer se Kanada, tidak, aku tidak bisa"
"Lalu apa
masalahmu?"
"Aku sulit
menyesuaikan diri"
"Kau hanya
perlu percaya diri sayang, percayalah, kau bisa"
Ini adalah hari
pertama bagi Phoeby masuk ke universitas baru, tepatnya dia adalah mahasiswa
pindahan dari swiss, dan baru seminggu tinggal di Crow's Nest bangunan
sederhana, kokoh, putih, dengan ukuran menyesatkan karena jauh lebih besar dari
yang kelihatan.
Phoeby sama sekali
tidak menginginkan untuk pindah ke Kanada, suhu udara di musim dingin cukup
menyiksa dirinya seakan sumsum tulang ikut membeku. Sebenarnya hari ini ia
berencana tidak ikut kuliah dulu, karena ingin menikmati secangkir vanilla
latte untuk sekedar menghangatkan tubuhnya di sofa empuk kamarnya.
Keinginan untuk
memanjakan diri dimusim dingin hilang begitu saja, sekarang ia berada di kursi
kemudi bersama Laurent menuju Universitas Princeton, yang tidak terlalu jauh
dari jarak rumahnya.
Laurent berulang
kali memandang wajah putrinya itu yang tampak lesu. Wajah ovalnya dengan
dagunya yang panjang bertopang pada jendela yang tertutup, kedua matanya ke
arah jalan, melihat segala sesuatu yang dilewati mobil itu. Hanya rumput
berembun dengan kabut tipis yang sama sekali tak menyegarkan mata.
Laurent memarkirkan
mobilnya tepat di depan anak tangga yang begitu luas menuju bangunan
universitas princeton. Tepat di dekatnya seorang wanita berambut pirang yang
masih muda menunggu kedatangan Laurent.
"Ayo turun
sayang" Ucap Laurent.
Laurent berjabat
tangan dengan wanita berambut pirang itu., lalu sedikit berbasa-basi membuka
obrolan mereka. Phoeby yang menyusul membaca name tag yang menempel di baju
wanita itu. Miss Sutcliffe.
"Hmm... ya, ini
dia" Mrs. Laurent memperkenalkan Phoeby pada Miss Sutcliffe yang langsung
memberikan senyuman ramah ke arahnya. Sementara Phoeby bermuka datar dan
menunduk.
"Selamat datang
di Universitas Princeton, semoga kau nyaman berada disini" Ucap Miss
Sutcliffe.
Phoeby mendesah
senyum tipis.
Karena sikap Phoeby
yang dingin itu merubah suasana menjadi sedikit canggung, Mrs. laurent pun
mengajak Miss Sutcliffe untuk sedikit menjauh darinya.
"Dia butuh
waktu lama untuk menyesuaikan diri, dia sedikit anti sosial dan tipe
penyendiri" Bisik Mrs. Laurent.
Miss Sutcliffe
mengerti dengan keadaan gadis itu, ia mengetahuinya karena Mrs. Laurent
menceritakan tentang bagaimana keluarganya. Phoeby anak satu-satunya Mrs.
Laurent, ia gadis yang antisosial dan sering menyendiri, itu karena Phoeby
sering hidup dibawah tekanan keluarganya yang selalu bertengkar. Hubungan Mrs.
Laurent dengan suaminya memang tidak bisa dikatakan baik, rumah tangga mereka
hancur berantakkan karena ayah dari gadis itu seorang penjudi dan pemabuk. Dan
hal ini menjadi sebuah alasan kenapa mereka sekarang berada di Kanada,
kepindahan mereka adalah hal yang terbaik menurut Laurent agar tak lagi berurusan
dengan mantan suaminya.
"Aku akan
berusaha membimbingnya, lagipula dia cukup manis, aku rasa orang-orang akan
menyukainya"
"Ya, semoga
saja"
Tidak sampai lima
menit mereka berbincang, laurent akhirnya pamit pergi.
"Telpon aku
jika kau sudah pulang" Kata Laurent.
"Hem"
Balas Phoeby.
***
"Aku dosen
filsafat, jam ketiga aku akan berada di kelasmu, ayo akan kutunjukan kelasmu di
lantai tiga, aku yakin kau akan kerasan disana" Kata Miss Sutcliffe
diikuti langkah Phoeby di belakangnya.
***
Sir Charles yang
gagah memasuki sebuah labirin berhantu untuk menemukan petunjuk. Labirin ini
cukup menakutkan menurutnya, ini di desain seperti terowongan berhantu dan
cocok di jadikan lokasi shooting film horor. Tidak aneh banyak wanita yang
menjerit histeris saat memasukinya. Namun hantu properti yang tersimpan disana
begitu sempurna dengan mesin penggerak otomatis yang bakalan sukses membuat
pengunjung trauma.
Pria dengan rambut
beruban itu mengambil sebuah benda yang tertempel di dalam perut boneka zombie, itu semacam baut yang
tak menempel sempurna untuk sekedar menempelkan sesuatu di dalam boneka itu.
Sir Charles
melanjutkan langkahnya untuk menemukan pintu keluar, labirin itu memiliki
belokan yang memusingkan, ia sempat
kembali ke tempat asal karena tak menemukan jalan keluar. Namun pada akhirnya
Sir Charles menemukan pintu keluar berwarna coklat tua bertuliskan "You
are the winning" dengan tulisan merah darah.
Pintu itu ia buka
dan sampai di taman tepat di depan hotel Rose Melfort, taman yang cukup luas
namun beranda hotel terhalang rumput tinggi yang di potong rapi membentuk
seperti tembok pembatas.
Sir Charles menoleh
ke arah kanan, ada pohon akasia yang tingginya sekitar lima meter. Pandangan
Sir Charles kini bergantian pada pintu keluar, dan pintu itu berada di posisi
akhir, artinya pintu sepuluh. Ia mencoba menempatkan diri sebagai pelaku
pembunuh setelah keluar dari pintu ia melangkah ke arah pohon dan
menyembunyikan tubuhnya.
Ia mengarahkan
pandangan ke arah lantai tiga hotel Rose Melfort, tepat pada posisi dimana
Menteri itu sedang berbincang dengan Kaisar. Ia menyadari sesuatu, pohon ini
cukup untuk menyembunyikan tubuh seseorang.
Tiba-tiba ia merasa
telah menginjak sesuatu. Selembar kertas. Sir Charles memungutnya, ia tak
khawatir meninggalkan sidik jari di kertas itu karena menggunakan sarung
tangan, dan membaca isinya.
Aku menunggumu, permaisuriku. Adry.
***
"Heii, apa
kabar bung, kau meninggalkan beberapa mata kuliah akhir-akhir ini, apa sekarang
kau jadi detektif betulan?" Edgar merangkul sahabat karibnya, Adry, saat
ia sedang berjalan sendirian di koridor.
"Berisik, jika
kau mengatakan detektif dengan suara keras itu bukan detektif namanya,
bodoh"
Edgar tertawa
renyah. Ia satu-satunya orang yang tahu bahwa Adry terlibat dalam kegiatan
detektif. Ya, meski bukan anggota CIA, Adry cukup bisa di andalkan dan pintar
dalam urusan penyelidikan.
"Ahh selain itu
hari ini kelas kita kedatangan mahasiswi baru dari Swiss, kau hari ini kau datang terlambat, cepat-cepatlah mengajaknya
kenalan, dari fisiknya dia tipemu, tapi sayang-"
"Apa?"
Tanya Adry.
"Dia suram
sekali"
"Kalau begitu
dia bukan tipeku"
Sampai di dalam
kelas, Edgar mencari sosok Phoeby si mahasiswi pindahan itu. Dia tidak ada di
bangkunya, padahal lima menit lagi jam ke empat akan dimulai.
"Hai Dri"
Seorang wanita cantik menyapa Adry, namun yang disapa tak begitu tertarik dan
malas membalas sapaannya. Tapi Olivia Manders, wanita primadona yang menjadi
dambaan setiap pria. siapa yang tak kenal dia. Wanita yang tingginya semampai
dengan rambut pirang keemasan dan mata bulat kecoklatan mampu melumpuhkan hati
pria mana pun dengan penampilannya.
Tapi bagi Adry tak
ada yang menarik dari sosok Olivia Manders, terlalu "murah" di mata
lelaki, dia mau saja di ajak "ini dan itu".
"Hei Nona
Manders, apa kau melihat si gadis pindahan itu?" Tanya Edgar.
"Si Suram
maksudmu? heuh, jangan bertanya padaku, mengetahui keberadaannya sama sekali
tidak penting bagiku. Lagipula... bukankah dia itu pernah di perbincangkan di
koran ya, dia korban penculikan polisi FBI palsu, heuh, baru dua minggu tinggal
di Kanada dia sudah membunuh tujuh nyawa"
"Apa! Aku tidak
tahu soal itu!" Edgar terkejut.
"Jadi dia
ya" Ucap Adry.
Adry kembali keluar
kelas dengan langkah cepat.
"Hei, mau
kemana lagi?" Tanya Edgar menjajari langkah kaki Adry.
"Menemui Sir
Charles"
"Inspektur tua
itu? Oh ayolah, setidaknya kau bisa menunda kegiatan ini dulu"
"Ini ada
hubungannya dengan pembunuhan di labirin itu. Tidak,kau benar, aku tidak akan
menemui Sir Charles dulu. Aku harus bertemu dengan mahasiswi pindahan itu dan
menginterogasinya sekali lagi"
"Kau benar,
tapi aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi saat ini, tolong jelaskan, dan
biar aku membantumu"
"Dua minggu
yang lalu ada kabar terjadi penculikan pada seorang wanita muda dari Swiss dan
anehnya para penculik itu semuanya mati, sementara wanita itu tidak, tepat
seminggu kemudian setelah kejadian itu terjadi pembunuhan di hotel Rose
Melfort, permainan labirin yang menghadiahi 10 dollar dan berkencan denganku,
salah satu di antara mereka seorang mahasiswi"
"Jadi menurutmu
si mahasiswi dari Swiss itu pembunuhnya?"
"Aku tidak bisa mengatakan itu. Setidaknya dia
menjadi petunjuk bagiku, pasti ada sesuatu yang belum dia ceritakan pada Mr.
Despard saat di interogasi"
"Intinya?"
"Ini dua kasus
pembunuhan yang sama, membunuh secara misterius tanpa meninggalkan jejak dan
sidik jari sedikit pun. Pembunuhan sempurna yang dilakukan oleh seseorang yang
sudah berprofesional"
Edgar terdiam. Ia
belum sepenuhnya mengerti dengan kasus ini, namun terkadang asumsi yang
dilontarkan pria detektif itu terlalu kritis dan membingungkan yang mendengar.
"kau bilang kau
mau membantuku?" Tanya Adry.
"Eeh...-"
Edgar tiba-tiba menyesal kenapa harus menawarkan diri untuk membantu pria ini.
"Dekati gadis
itu, cari tau informasinya, dan kalau bisa kau mendapatkan nomor hapenya?"
"What????"
***
"Si pembunuh
meninggalkan isi amplop itu di bawah pohon" Sir Charles memperlihatkan
lembaran kertas yang terlihat beberapa bekas lipatan tak beraturan dan noda
tanah seperti terinjak sepatu. Kertas itu menjadi pusat perhatian orang-orang
yang mengikuti rapat nonformal itu di sebuah ruangan kecil hotel Rose Melfort,
beberaoa orang anggota CIA dan FBI ikut menyimknya, termasuk Adry dan para
pegawai yang terlibat di permainan labirin berhantu.
"Kita akan
melakukan beberapa percobaan untuk mengetahui pintu labirin mana dengan amplop
kosong"
"Apa bisa?
Bukankah amplop itu tersusun acak?" Tanya Mr. Morgan.
"Tidak, Lucifer
menyimpannya dengan baik, dia memungut amplop itu dari nomor satu dan
meletakkannya paling atas. Artinya amplop itu berurutan"
Sir Charles
meletakkan setumpuk amplop merah tua di meja, menatap amplop-amplop itu sejenak
seakan jawaban teka-teki sudah ada di depan mata.
"Baik, aku akan
membuka satu persatu amplop ini" Sir Charles mengambil satu amplop paling
atas, ini milik wanita labirin nomor satu. Ia membuka isi amplop itu. Sir tak
menunjukkan ekspresi apapun saat melihatnya artinya amlop itu tak mengundang
keterkejutan apapun.
"Isinya
utuh" Sir membuka lembaran kertas itu dan membaca kalimat yang sama.
"Kau yang menulis semua ini?" Tanya Sir Charles pada Adry.
"Ya, aku
membuat kalimat yang sama di sepuluh amplop dengan tulisan tanganku
sendiri" Jawab Adry.
"Tulisanmu
jelek"
"Hahhh"
Adry mendesah sebal.
Sir Charles membuka
amplop selanjutnya, hasil yang sama seperti amplop sebelumnya.
Adegan ini sedikit menegangkan, meski Adry
penasaran di pintu mana yang terdapat amplop kosong tapi ia merasa ada yang
mengganjal. Adegan ini bisa saja menjawab siapa si pembunuh, atau bisa saja
adegan ini justru tak ada petunjuk apapun.
"Nomor
enam" Kata Sir Charles yang akhirnya menemukan amplop kosong. Ia membuka
lebar-lebar amlop itu dan memperlihatkan pada rekan-rekannya.
"Nomor enam,
ya" ucap Mr. Morgan.
"Siapa pemilik
nomor enam?" Tanya Sir Charles pada Edmun.
Edmun dengan sigap
dan tampak canggung membuka lembaran kertas yang berisi data-data nama wanita
kandidat beserta profesinya.
"Miss Christie,
seorang desaigner berumur 24 tahun"
"Tidak, Sir,
tolong lanjutkan untuk membuka amplop sisanya" Pinta Adry, Sir Charles pun
tak kan menolak dengan permintaan ini, maka ia membuka amplop selanjutnya.
Hingga amplop terakhir...
"Mengejutkan,
amplop sepuluh kosong"
"Itu dia"
ucap Adry, seiring sesuatu yang mengganjal hilang begitu saja.
"Jadi.. ada dua
amplop yang kosong, apa-apaan ini" Ucap Mr. daniel.
"Mahasiswi
Universitas Stoland berumur 20 tahun, Amanda Milray" Lontar Edmun tanpa
diminta, tapi itu jawaban yang dibutuhkan.
"Dan artinya
pelaku pembunuhan dua orang?" Tanya Mr.Morgan.
"Ini hanya
mengecoh, ini sama sekali bukan yang di harapkan. Aku tidak yakin pelaku
pembunuh si pemilik amplop kosong, bisa saja si pembunuh sengaja mengosongkan
dua amlop dan dia berada di amplop yang utuh agar jejaknya tak di ketahui, atau
justru kita menemukan jawaban bahwa pelaku pembunuh adalah nomor enam dan nomor
sepuluh" Kata Sir Charles.
Semua terdiam, ada
benarnya dengan dua asumsi Sir Charles. Mereka berpikir apa yang dipikirkan
Charles, itu artinya mereka tidak menemukan jawaban sama sekali, namun
prioritas utama adalah interogasi antara wanita nomor enam dan nomor sepuluh.
Tiba-tiba Adry
tertawa keras, lalu ia menghempaskan punggungnya di sandaran sofa, dan menatap
langit-langit atap hotel.
"Pembunuh
itu... mempermainkan kita, dia sengaja membuat permainan ini agar kepolisian
menyelidikinya dengan banyak teka-teki
dan membuatnya kelabakan. Benar-benar trik hebat, ini permainan
intelektual, dia seperti menguji seberapa pintarkah kepolisian dan CIA dalam
menyelidiki ini. Aku jadi penasaran siapa pelakunya, dia pasti wanita yang
menarik" Ucap Adry, tiba-tiba ia semakin bersemangat dalam penyelidikan
ini.
"Kau tidak bisa
memilikinya, Adry"
"Aku tahu, dia
permaisuriku si pembunuh, aku penasaran seperti apa dia, aku harap aku yang
akan mengeksekusinya nanti"
"Baiklah,
akhirnya dalam percobaan ini kita tidak menemukan jawaban sama sekali, yang
harus kita lakukan selanjutnya adalah membawa wanita itu satu persatu ke kepolisian kita akan melakukan interogasi
secepatnya" Ucap Sir Charles mengakhiri pertemuan mereka malam itu.
***
"Ayah sudah
bilang untuk tidak ikut lagi dalam memecahkan kasus-kasus yang ada di
kepolisian" Ucap Feddy Dacres, kepada Adry yang pulang larut malam saat
itu.
"Ayah, Ayah
belum tidur?" Tanya Adry melihat ayahnya yang masih bersantai di kursi
menghadap ke jendela, tampak asp rokok mengepul di tengah keremangan ruangan
itu
"Ini untuk yang
terakhir Ayah, lagipula aku merasa terlibat dalam memecahkan kasus ini, aku
yang menginginkan permainan labirin itu, tapi akhirnya Mr. Franky mati
terbunuh, aku rasa ini tanggung jawabku. Apalagi Mr. Franky orang yang sangat
dipercayai Ayah, aku semakin ingin kasus ini cepat terselesaikan dan aku yang
ingin mengeksekusi pelakunya"
"Meski ini yang
terakhir, kau berada di ambang bahaya jika kau gegabah, dilihat dari cara dia
membunuh dia orang yang pintar dan tidak mudah di tebak. Bisa jadi dia lebih
pintar dari FBI maupun CIA"
"Aku tau ayah,
tenang saja aku akan selalu waspada untuk memecahkan kasus ini, aku mohon,
izinkan aku untuk melakukannya"
"Baiklah"
"Terimakasih,
Ayah" Adry membungkukan badan simbol penghormatan, lalu ia masuk ke
kamarnya yang berada di lantai atas.
Sampai di kamar, ia
merogoh ponselnya di saku, lalu menghubungi Edgar.
"Bagaimana, kau
mendapatkan nomer ponselnya?"
"Ah, sebaiknya
kau yang temui dia langsung, dia sulit di tangani"
"Aku tidak
mengerti"
"Dia
antisosial, bukan gadis ramah, lebih tepatnya... apa ya, selain bermuka suram
dia itu sulit di ajak bicara"
"Baiklah, tapi
akiu belum bisa menemuinya besok. Ada yang harus kulakukan" Adry menatap
selebaran kertas berisi identitas mahasiswa Universitas Princeton.
"Apalagi?"
"Itu rahasia.
Baiklah, selamat malam" Tanpa menunggu balasan Edgar, Adry langsung
memutuskan sambungannya. Ponselnya ia lempar ke ranjang yang empuk, lalu ia
melangkah ke jendela dan membukanya lebar-lebar.
Ia membaca sekali
lagi selembar kertas itu.
Amanda Milray, 20
tahun, Mahasiswi Universitas Princeton,
St. Petroch Loomouthme
***
"Permisi, Miss,
apakah anda bisa mencari identitas nama ini?" Adry menyerahkan selembaran
kertas kepada seorang pegawai yang ada di kantor Universitas Princeton.
"Baik,
sebentar" Wanita itu menerima selembaran kertas dari Adry dan mengetikkan
di komputer nama tertera disana.
"Anda
mendapatka nama ini dari mana?"
"Hmm.. sulit
jika kuceritakan dari awal, dia memberikan identitas itu saat mengikuti sebuah
permainan, dan karena dia memenangkan permainan itu ,tetapi dia meninggalkan
hadiahnya, jadi saya mencarinya kesini" Jawab Adry sedikit berbohong.
"Disini sama
sekali tidak ada yang bernama Amanda Milray, yang ada Milray Satterhwaite. dia
kelahiran 1994, itu artinya dia berumur 22 tahun, bukan 20 tahun"
"Tidak mungkin
dia berbohong, dia menyerahkan identitas aslinya saat pendaftaran, semacam
paspor" Ucap Adry.
"Jika itu saya
tidak tahu, bahkan saya penasaran dengan Amanda Milray, dia memalsukan
identitas dengan membawa universitas ini" Wanita itu tampak marah.
Wanita itu kembali
menyerahkan lembaran itu. Setelah itu dia kembali melanjutkan aktivitas
kerjanya yang sepertinya tidak ingin di ganggu lagi.
"Terimakasih,
maaf sudah mengganggu"
"Oke"
Adry kembali masuk
ke dalam mobilnya. meski Amanda Milray tidak di temukan , namun ia yakin bahwa
gadis inilah pelakunya. Edmun bilang dia menyerahkan identitas asli berupa
paspor. Jika gadis itu bisa memanipulasi identitas asli, maka tidak diragukan,
dia berada disini tidak sendiri, dengan kata lain, dia berada dalam sebuah
organisasi yang berkaitan dengan kasus pembunuhan.
Mobil itu melaju,
menuju tempat berikutnya St. Petroch Loomouth. Ia pun membuka Google Map di
ponselnya. Alamat tersebut jauh dari kota dan membutuhkan waktu dua jam untuk
sampai kesana.
Mobil itu melewati
perbatasan kota, masuk ke wilayah St. Petroch 5KM dari arah kanannya. jalan
yang di lewati sunyi sepi seperti di tengah hutan, dan jalannya berkelok-kelok.
Sampai di tempat
tujuan Adry segera keluar dari mobilnya. tempat ini tidak begitu luas, dan
terdapat beberapa rumah dengan jarak yang terpisah-pisah, tampak sunyi namun
tentram dari kebisingan kota. Adry segera menghampiri salah seorang penduduk di
tempat itu, seorang nenek tua yang yang sedang berjalan di jalan setapak
berbatu dengan tongkatnya, lalu seorang kakek membantunya berjalan.
"Permisi,
selamat siang"
"Selamat
siang" balas nenek itu dengan suara serak.
"Hmm... boleh
saya bertanya sesuatu"
"Yes, of
course"
"Apakah gadis
yang bernama Amanda Milray tinggal disini?"
Nenek dan kakek itu
saling pandang.
"Disini tidak
ada Amanda Milray" Jawab Kakek.
"Tapi disini
benar, alamatnya ST. Petroch Loomouth. Dan ini identitas asli"
"Disini tidak
ada Amanda Milray" Ucap Kakek itu sekali lagi.
"Tunggu,
rasanya aku masih ingat dengan nama itu" Ucap si nenek.
"Sejak kau
pergi ke Hoxton, ada seorang gadis yang datang kesini" Nenek itu berkata
pada si kakek.
"Ya, ya, dia
bernama Amanda Milray" Nenek itu mencoba mengingat ngingat. "Dia
gadis tersesat dengan mobilnya. Dia menumpang dirumahku, dia bercerita banyak
tentangnya. Tapi aku tidak bisa menangkap isi pembicaraannya"
"Maaf dia tidak
bisa mengingat dengan baik" Ucap si kakek.
"Sayang
sekali,kapan dia kesini?"
"Sekitar
beberapa minggu yang lalu"
"Bertepatan
hari apa?"
"Aku
lupa?"
"Jika itu
bertepatan saat aku ke hoxton maka pada hari itu adalah hari selasa" ucap
si kakek.
"Lalu dari mana
dia berasal?"
"Aku yakin dia
juga bilang padaku dimana dia tinggal dan kenapa tersesat, tapi aku benar-benar
tidak ingat. Aku hanya ingat kalimatnya yang membuatku terharu, bahwa dia ingin
hidup bebas seperti burung yang terbang di langit. kemana pun dia pergi tidak
akan ada yang melarangnya"
Adry akan mengingat
kalimatnya itu.
"Lalu bagaimana
ciri fisiknya?"
"Dia gadis yang
sangat cantik, dia ramah dan selalu tersenyum. Bola matanya hitam seperti
boneka, dia memiliki bentuk tulang pipi yang indah. Saat pagi tiba dia
menghilang begitu saja, tapi dia membuatkanku sepiring wafel, dan di pinggirnya
ada tulisan terimakasih dengan coklat" Jelas nenek itu.
"Jika kau
melihatnya, maka kau mengingatnya dengan baik" Ucap kakek yang tampak
senang, tampaknya si nenek memiliki ingatan yang baik sesuai dengan apa yang
dia lihat.
"Kalau
begitu... anda pasti tau dengan apa yang dia bawa"
"Dia membawa
tas ransel, namun aku tidak tahu apa isinya"
"Begitu
ya.."
"Ah, seandainya
gadis itu masih disini sekarang, akan ku kenalkan kau padanya, aku yakin kau
pasti menyukainya, kalian sangat cocok" ucap nenek itu.
Adry tertawa kecil.
"Oh, apa
jangan-jangan kau adalah pacarnya? Tanya si nenek.
"Ah, tidak,
bukan, saya kesini ada urusan tertentu dengan gadis itu"
"Oh begitu
ya... kalau begitu kau bisa meninggalkan nomor ponselmu padaku, aku yakin gadis
itu akan kesini lagi" Pinta si nenek.
"Oh ya, apa
boleh?"
"Tentu saja,
kalian bisa bertemu nanti"
"Baiklah, aku
akan mencatat nomor ponsel ku disini" Adry menuliskan nomor ponselnya di
catatan kecil. lalu memberikannya pada si nenek.
"Aku sangat
menantikannya" UCap Adry.
"Ya, akan ku
telpon jika dia sedang berada disini"
Usai berurusan
dengan kedua lansia itu, Adry menancap gas meninggalkan tempat itu dengan
perasaan puas. Meski ia tak berhasil menemukan gadis itu tapi ia sudah
mendapatkan banyak petunjuk. Dan Adry sangat menantikan, kedatangan gadis itu
lagi di St. Petroch Loomouth.
Namun yang dirasakan
Adry tiba-tiba berbeda dia menunggu gadis itu untuk di eksekusi atas pembunuhan
menteri kepercayaan ayahnya. Menunggu gadis itu serasa menegangkan namun ada
sensasi didalamnya.
***
Mr. Morgan dan Mr
Daniel mengawal seorang perempuan berpakaian modis ke kantor kepolisian. Miss
Meredith, si wanita pemain teater, tampaknya tidak suka jika ia harus berurusan
dengan kepolisian.
Saat berada di ruang
intergogasi ia berhadapan dengan Sir Charles.
"Miss Meredith,
benar?" Tanya Sir Charles.
'Ya, dan aku kesini
ingin berkata langsung pada anda, saya tidak pernah melakukan pembunuhan kepada
menteri raja. Saya tersesat di labirin dengan hantu menyeramkan dan saya heran
kenapa harus di bawa ke kantor polisi?"
"Ah, anda
agresif sekali, saya belum melontarkan pertanyaan apapun pada anda. Santai
saja, ikut aturan-aturan kami, maka saya akan memudahkan anda" Ucap Sir
Charles.
Miss Meredith
memasang muka sebal, sambil berpangku tangan.
"Ngomong-ngomong
Miss Meredith, anda pemain teater bukan? Saya pernah melihat anda sebagai
pemeran utama di teater Gadis pemeluk bulan peran anda sangat bagus, tidak
aneh, anda banyak diincar acara tivi karena bakat anda yang sangat hebat"
Miss Meredith
menghembus nafas, ia terlihat sedikit tenang dengan pembawaan Sir Charles yang
tampak tenang, dan tidak menakutkan seperti yang ia kira.
"Bagaimana
menurutmu permainan labirin berhantu itu?"
"Itu penipuan,
Adry Russel Sanders, itu hanya mempermainkan mental seorang wanita dengan
permainan yang menjijikan. Jika dia ingin berkencan dengan wanita bukan seperti
ini caranya, labirin sialan itu membuatku tidak bisa makan berhari-hari"
Ucap Miss Meredith dengan penuh emosi.
"Anda
mengetahui permainan labirin itu dari mana?"
"Itu dari
internet, dia mengumumkan permainan itu di fanspagenya"
"Oh, anda
mengikui fanspagenya rupanya?" Sir Charles menggodanya.
"Ya, pada awalnya
aku memang menyukainya, dia salah satu pria yang selalu aku incar. Tapi setelah
aku mengikuti permainan labirinnya aku malah membencinya, apalagi setelah itu
terjadi pembunuhan yang tak di duga-duga, membuatku kaget saja"
"Miss Meredith,
anda tidak menggunakan kedok teater anda disini kan?"
"Aku bicara apa
adanya, Sir, lagipula untuk apa aku membunuh menteri raja, tidak ada untungnya
bagiku"
"Kau datang
bersama siapa, Miss?"
"Aku sendiri
yang membawa mobilku, sebenarnya aku ingin di antar dengan sopir pribadiku,
tapi dia bilang dia mendadak sakit kepala dan tidak bisa mengantarkanku malam
itu di tempat teater"
"Dan setelah
sampai di tempat permainan labirin siapa saja yang kau lihat disana?"
"Aku tidak
terlalu memperhatikan orang dan tidak terlalu suka berbicara, tapi disana ada
beberapa orang yang sedang menunggu kandidat lain, tampaknya mereka tidak sabar
untuk berkencan dengan Adry"
"Dan setelah
itu anda mengambil nomor labirin?"
"Ya disana ada
pria, yang duduk di meja menyiapkan lembaran-lembaran kertas yang sulit
kupahami. Lalu dia memberiku nomor 4, yang artinya aku harus menempati labirin
empat"
"Siapa wanita
yang sudah ada disana, apa mereka juga sudah mendapat nomor?"
"Nomor tiga dan
dua, lalu saat itu datang dua orang lagi yang langsung mengmpiri pria di meja
mengambil nomor, dan setelah itu aku lupa mereka nomor berapa"
"Berapa lama
anda menunggu sampai anda memasuki labirin itu?"
"Sekitar tiga
puluh menit, ini semua gara-gara wanita yang datang terlambat. Dari situ aku
mulai merasa sebal dan ingin pulang, tapi pria-pria disana tidak
mengizinkannya"
"Setelah kau
memasuki labirin itu, seberapa jauh kau berjalan di dalamnya, dan arah mana
yang anda ambil?"
"Aku mengambil arah
kiri, saat ada tikungan dan beberapa ruangan dengan belokan, aku melihat zombi
sedang menjulurkan lidah dengan cairan yang menjijikan, aku tahu itu hanya
boneka, tapi bagiku itu sangat menjijikan dan karena hal itu aku tidak ingin
melanjutkan dan kembali ke tempat pintu masuk menunggu pintu itu di buka"
Jelas Miss Meredith yang berusaha meyakinkan.
Sir Charles
manggut-manggut. Ia merenung sejenak, Miss Meredith meski memiliki wajah yang
menyebalkan tetapi dia terlihat sangat jujur, dia menceritakan semuanya dari
awal, dan tidak tersendat-sendat dan lancer begitu saja.
"Dan setelah
kau keluar?"
"Aku langsung
berjalan ke pinggir dan duduk di kursi karena tiba-tiba perutku mual"
"Apa kau
melihat yang lainnya, para wanita lain ketakutan sepertimu?"
"Ya mereka
ketakutan sekali, dan yang paling parah si wanita berbaju merah menangis
histeris dan hampir pingsan, ada yang bilang dia sangat takut pada zombi"
"Apa kau tahu
siapa yang kembali paling terlambat?"
"Aku tidak
tahu"
"Berapa lama
kau duduk di kursi?"
"Sekitar limat
menit, dan setelah itu aku pulang karena perutku tidak mual lagi"
"Kau tidak tahu
ada petugas yang datang dan memberitahu bahwa telah terjadi penembakan?"
"Kalau itu saya
tidak tahu sama sekali"
Sir Charles sejenak
berpikir. Ia sudah menemukan keputusan untuk Miss Meredith.
"Ya, tidak ada
alasan lagi bagiku untuk mencurigai anda"
"benarkah? Oh
Thanks, God"
***
Adry bertemu kembali
dengan Edgar di kampus. Ada sedikit perubahan pada Adry, hari ini terlihat
begitu semangat dari biasanya, dia antusias menceritakan penyelidikannya pada
Edgar, padahal Edgar sendiri heran biasanya Adry tidak terlalu buka-bukaan
dengan kegiatannya di kepolisian karna takut ada yang dengar bahwa ia seorang
detektif.
"Ya, jadi
intinya kau seperti menunggu wanita yang membuatmu penasarankan, kau tau itu
seperti saat kau sedang jatuh cinta dengan wanita yang menarik perhatianmu
karena dia misterius"
"Aku tidak
bilang jatuh cinta padanya, aku hanya penasaran karena dia menarik perhatianku
dengan cara dia membunuh"
"Yah, tipe
macam apapun si pembunuh itu asalkan dia jangan membuatmu jatuh cinta, jika dia
membuatmu jatuh cinta, aku benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akant
terjadi nanti" Ucap Edgar.
"Ah kau
ini"
"Ngomong-ngomong...
Aku rasa dia juga akan membuatmu penasaran, kau bilang kau akan menemuinya
langsungkan?" Edgar menunjuk kepada seorang gadis yang berjalan di depan
mereka.
"Dia?"
"Phoeby,
mahasiswi baru itu"
Adry memperhatikan
Phoeby yang membelakanginya, ia pun mengikuti langkah Phoeby dan memanggilnya.
"Hei,
Nona" Panggil Adry. Phoeby menghentikan langkah, lalu ia melanjutkannya
lagi.
"Aku
memanggilmu"
Langkah Phoeby
semakin cepat, Adry mengimbanginya, lalu menarik lengannya.
"Don't touch
me!" Phoeby menghempaskan tangannya, namun tanpa sengaja tangannya
melayang ke arah pipi Adry, dan ia sedikit tersungkur.
"Ah!"
"Oh God!"
Edgar terkejut, namun ia jadi ingint ertawa.
Phoeby terkejut
setengah mati. Dilihatnya pria itu sedikit menoleh ke belakang efek tangannya
yang tak sengaja menampar pipi pria itu.
Adry mengusap darah
di bibirnya.
"Oh my God, I,m
sorry, aku tidak sengaja, maaf-maaf" Kata Phoeby memohon, namun wajahnya
tertunduk seakan tak ingin di tunjukkan. Phoeby pergi begitu saja meninggalkan
Adry.
Lalu Edgar datang
menertawakan Adry..
"Berisik"
Ucap Adry.
"Sudah kubilang
dia itu sulit di tangani"
"Apa dia juga
menamparmu?"
"Tidak, hanya
saja dia sulit diajak bicara, hei, dia maniskan? Apa kau tertarik
padanya?"
***
Saat pulang kuliah
Adry kembali memanggil Phoeby. tapi Phoeby tak terlalu menanggapinya sampai
Adry berhasil menjejaki langkahnya.
"Ada perlu
apa?"
"Aku perlu
bicara padamu, ini soal penculikanmu beberapa minggu lalu"
"Kenapa kau
ingin tanyakan itu?"
"AKu perlu
petunjuk darimu"
"Aku tidak
ingin membahasnya, aku sudah selesai
dengan itu semua"
"Ayolah, aku
seorang detektif, aku sedang membantu kepolisian dalam kasus pembunuhan, dan
aku rasa kasus ini ada hubungannya dengan pembunuhan polisi palsu itu"
Phoeby menggelengkan
kepala, ia tampak tak mengerti dengan apa yang dikatakan Adry.
"Aku tidak
punya waktu" Phoeby pergi.
"Kau
pembunuhnya" Ucap Adry, Phoeby menghentikan langkah dan kembali berbalik.
"Kau bilang
apa?" Tanya Phoeby dengan muka datar.
"Kau
pembunuhnya"
"Aku bukan
pembunuhnya, bagaimana bisa aku seorang pembunuh, aku sudah selesai dengan
kepolisian, dan kepolisian sudah membebaskanku
dari tuduhan itu"
"kalau begitu
buktikan sekali lagi dengan intogasi ringanku"
Phoeby menghembus
nafas berat. Ia tahu Adry menuduhnya sebagai pembunuh agar ia menuruti semua
keinginannya. Mereka pun pergi ke cafetaria untuk berbicara berdua.
Seorang waitress
menyodorkan vanilla latte dan capucchino di meja. Phoeby langsung mengambil
vanilla lattenya, bukan untuk di minum, hanya memegang cangkirnya dengan kedua
tangannya. Ia menghangatkan tangannya yang dingin dan menempelkan ke cangkir
panas itu.
"Kau tampak
kedinginan, apakah di Swiss tidak sedingin ini?"
"Hem"
Balas Phoeby, yang tatapannya tertuju pada vanilla latte di cangkirnya.
"Jangan tegang,
aku tidak akan mengajukan pertanyaan sulit, lagipula aku sudah tahu hasil
wawancaramu dengan Sir Charles, dan aku tidak akan mengajukan pertanyaan yang
sama"
"lalu apa yang
akan kau tanyakan lagi padaku?"
"Apa kau
merasakan kehadiran orang asing saat penjahat itu sedang berkelahi?"
"Itu pertanyaan
yang sama"
"Apa kau yakin
dengan jawabanmu?"
Phoeby terdiam.
"Melihatmu diam
kau seperti orang yang mencurigakan"
"Aku tidak
merasakan ada orang asing, yang ku tahu aku mendengar suara berisik seperti
lemparan gelas dan aku tak pernah tahu apa yang sedang diperbuat mereka"
Jawab Phoeby.
"Apa kau
merasakan ada orang asing?"
"Kenapa kau
mengajukan pertanyaan itu lagi!" Suara Phoeby meninggi. Dan itu mengundang
perhatian banyak orang di cafetaria. Adry menatapnya serius.
Nafas Phoeby
memburu.
"Baiklah, aku
akan menjawabnya dengan jujur, dan aku belum pernah mengatakkannya pada Sir
Charles"
"Ya, katakan
saja"
"Aku mendengar
suara tembakkan beberapa kali, dan setelah itu keadaanpun menjadi hening, aku
rasa tidak ada yang hidup lagi di antara mereka, tapi ada sesuatu yang
membuatku takut, aku mendengar suara langkah kaki, seperti suara sepatu but.
Dia semakin mendekat, dan saat itu...." Phoeby berbicara tak karuan dan
tanpa jeda sedikit pun. Nafasnya semakin memburu dan terlihat ketakutan.
"Dia mengusap
pipiku, dan dia berkata..." Lanjut Phoeby.
"Ya?"
Tanya Adry penasaran.
"Dia bilang
mereka pantas mati, nyawa harus di bayar dengan nyawa, dia menyuruhku untuk
tidak mengatakkannya pada polisi, karena dia bilang dia akan melakukan
pembunuhan yang lebih misterius lagi"
"Apa"
"Setelah itu
dia menjauh, aku tidak mendengar dia membuka pintu keluar, aku tidak tahu dia
pergi ke arah mana, yang jelas dia sudah tidak ada disana lagi, dan sepuluh
menit kemudian ibuku datang bersama polisi"
"Sudah kuduga,
pembunuhan di labirin itu pasti dia pelakunya, seorang perempuan, ya"
"Ya, dia memang
seorang perempuan"
"Kau terlambat
mengatakkannya, Phoeby" kata Adry dengan nada curiga.
"Dia sudah
melarangku untuk tidak mengatakkannya pada siapapun, dan sekarang aku
mengatakkannya pada seorang detektif yang akan memecahkan kasus pembunuhan,
katakkan, apa setelah ini aku akan aman, jika pembunuh itu membunuhku apa yang
akan kau lakukan?"
"Pertanyaanmu
kritis sekali. kau menanyakan apa yang akan aku lakukan jika pembunuh itu
membunuhmu, tentu saja, aku akan menemukannya dan mengeksekusinya" Jawab
Adry.
Phoeby tak berkata
apa-apa lagi.
"Tenang saja,
wanita itu menyuruhmu untuk tidak mengatakkannya hanya pada polisi, dan aku
bukan anggota FBI atau CIA, jadi kau tidak salah"
Phoeby menyeruput
vanilla lattenya, tubuhnya perlahan menghangat. sesekali ia curi-curi pandang
menatap pria di hadapannya yang sedang
meminum capucchinonya juga. Dia pria yang tampan, dan pintar, juga memiliki
siluet yang indah saat pria itu menghadap ke arah samping, meski begitu menurut
Phoeby dia tidak cocok menjadi seorang detektif, karena dia lebih memenuhi
kriteria sebagai seorang model atau aktor.
"Apa sudah
selesai? Aku harus pulang"
"Aku akan
mengantarmu"
"Tidak perlu,
aku sudah mengirim pesan pada ibuku untuk menjemputku disini"
"Baiklah,
Phoeby, terimakasih, maaf sudah mengganggu waktumu"
"Tidak apa-apa,
lagipula... bukankah lebih baik jika aku mengatakkan hal yang sebenarnya
padamu. Setidaknya ini bisa membantumu mencari si pembunuh itu, aku harap kasus
ini segera terselesaikan"
"Ya, semoga
saja"
"Apa kau masih
mencurigaiku sebagai pembunuh?"
"Tentu saja
tidak, maaf dengan perkataanku tadi siang, itu hanya untuk menarikmu agar kau
bersedia berbicara denganku"
"Ah, sudah
kuduga" Phoeby tertawa kecil.
Adry tiba-tiba terpaku,
barusan Phoeby tertawa, ternyata gadis yang sering di sebut suram dan
antisosial itu bisa tersenyum, dan ia tidak menyangka Phoeby memiliki senyuman
yang sangat manis. Tapi senyuman itu hanya sekejap, Phoeby kembali murung
seperti biasa.
"Adry, jika kau
menemukan pembunuhnya, bisakah kau memotretnya dan menunjukan fotonya padaku,
sebenarnya aku penasaran siapa yang sudah menyelamatkanku malam itu, aku sangat
ingin tahu rupanya"
"Aku akan
meminta kepolisian untuk mengizinkanmu bertemu dengannya"
"Kalau begitu
aku akan mengucapkan terimakasih padanya"
"Phoeby, kau
tak perlu mengatakan hal itu pada seorang pembunuh"
"Aku tahu dia
pembunuh, mungkin dia sudah membunuh banyak nyawa dari yang kita duga, tapi
tidak selamanya pembunuh selalu membunuh, dia pasti pernah melakukan hal yang
baik pada orang lain, termasuk menyelamatkan nyawaku waktu itu"
"Baiklah, akan
kuusahakan kau bisa bertemu dengannya"
Phoeby melihat ke
arah luar, mobil sedan silver berhenti di depan cafe. "Ibuku sudah sampai,
aku pulang dulu"
"Hem"
***
Jam menunjukkan
pukul sepuluh malam, Mr. Albert masih sibuk dengan komputernya di ruangannya.
Ia tampak kelelahan terlihat dari guratan wajahnya yang sudah mulai menua. Ia
adalah seorang kepala perusahaan Yotsuba, yang sedang menyiapkan materi
presentasi besok diacara meeting dengan rekan kerjanya.
Konsentrasinya
tiba-tiba terganggu setelah mendengar suara berisik di luar ruangan. ia pun tak
menanggapinya, tanpa sengaja ia menjatuhkan pulpen ke bawah meja, lalu ia
membungkuk untuk mengambilnya, saat kembali tegak, ia terkejut kedatangan
seseorang berpenampilan misterius sudah berada diruangannya.
"Siapa
kau?" Tanya Mr. Albert ketakutan.
Yang di ajak bicara
menodongkan pistol dan menarik pelatuknya untuk bersiap menembak. manusia
misterius itu berpakaian serba hitam, ia mengenakan jubah panjang yang menutupi
kepalanya sehingga wajahnya tak terlihat.
"Seseorang yang
akan membunuhmu"
"Apa,
ti-tidak" Mr. Albert mengangkat tangannya.
"Nyawa harus
dibayar dengan nyawa"
Peluru itu pun
menembus kening Mr. Albert dengan seketika ia mati dan tubuhnya terjatuh di
kursi putarnya. Wanita itu mendekat, lalu meletakkan setangkai bunga mawar
putih di meja.
***
Pagi itu, warga di
buat geger dengan kematian Mr. Albert di tempat perusahaannya. Mayat Mr. Albert
barusaja dimasukkan ke dalam mobil ambulance dan di bawa ke rumah sakit. Sir
Charles bersama rekan FBI tampak sibuk menangani kasus ini.
Phoeby yang tengah
berjalan di trotoar sempat melihat aktivitas kepolisian di depan halaman
perusahaan, ia juga melihat Sir Charles dan Mr. Morgan yang tampan sedang
berbincang.
"Apa yang sudah
terjadi?" Tanya Phoeby bertanya pada salah seorang penduduk setempat.
"Seseorang
membunuh Mr. Albert, pemimpin perusahaan Yotsuba tadi malam" Jawab wanita
berumur paruh baya itu.
Phoeby berbalik arah
untuk kembali pulang, di tengah jalan sebuah mobil berhenti, dan Adry keluar
untuk menghampirinya.
"Kenapa kau
balik lagi?" Tanya Adry.
"Adry, aku takut,
pembunuhan terjadi lagi, kali ini pemimpin perusahaan Yotsuba"
"Aku tau, aku
mendengar kabar ini tadi pagi, Mr. Morgan mengirim pesan padaku. Tapi aku tidak
akan pergi ke perusahaan sekarang, ayo, kita berangkat ke kampus
sama-sama" Kata Adry.
"Tidak"
"Phoeby..."
Adry memegang kedua bahunya. "Aku akan melindungimu, tenang saja, tidak
akan terjadi apa-apa"
"Bagaimana aku
bisa yakin, sementara kemarin aku sudah mengatakan hal yang sebenarnya padamu,
bagaimana kalau pembunuh itu tau bahwa aku membocorkan rahasia ini padamu"
"Dia tidak akan
tahu bahwa kau mengatakkan hal sebenarnya padamu, meski dia tahu bahwa kau
sudah mengatakkannya pembunuh itu tidak akan membunuhmu. Nyawa di bayar dengan
nyawa. kau tidak pernah membunuh, Phoeby, dia tidak akan melakukannya
padamu"
Phoeby merasa tenang
saat Adry mengatakan hal itu.
"Ayo, kita
berangkat" Adry mengajak Phoeby masuk ke dalam mobil.
***
"Aku tersesat
di labirin dan tidak bisa menemukan jalan keluar, bagaimana bisa aku membunuh
menteri raja!" Bentak gadis itu yang tampak tak terima di interogasi
dengan berbagai macam pertanyaan yang di lontarkan Mr.Morgan.
"Baikla,
baiklah, kau bisa menjawab pertanyaanmu tanpa berteriak, jika kau terus
berteriak kau akan ku tetapkan sebagai tersangka"
"Apa!!"
Mr. Morgan yang
sibuk menginterogasi lain halnya dengan Sir Chales yang kelabakan menangani
kasus pembunuhan selanjutnya.
"Bunga mawar
identik dengan seorang perempuan, bisa jadi si pembunuhan ini dilakukan oleh
orang yang sama di labirin itu"
"Mengapa harus
mawar putih?"
"Entahlah,
mawar putih diartikan sebagai lambang cinta dan keagungan hati. Pasti ada
alasan tertentu yang tidak kita ketahui mengapa si pelaku meletakan bunga mawar setelah ia
membunuh"
"Permainan
macam apa ini"
"Apa si
pembunuh mencoba memberi pesan kepada kita? Tapi apa artinya?"
"Aku yakin
pelakunya orang yang sama dengan pembunuhan di labirin itu. Semua akan terjawab
secara akurat setelah usai interogasi seluruh wanita kandidat" Kata Sir
Charles.
***
"Sial, aku tidak menemukan namanya"
Ucap Adry, tampaknya hasil pencarian di komputer tidak ada penduduk Kanada yang
bernama Amanda Milray yang berumur 20 tahun. Adry menghempaskan punggungnya di
senderan kursi putar, selamalebih dari dua jam ia berada di depan komputer
hanya untuk mencari satu nama.
"Kalau kau
tidak menemukannya sampai saat ini, aku akan membantumu, ingat batas
penyelidikkan kita tiga minggu lagi, jika kita tak menemukan pelakunya maka
kasus ini akan di hapus dan kita tidak akan pernah tahu siapa pelaku
pembunuhannya"
"Aku tidak akan
menyerah"
"Oh ya. hasil
inteogasi dari keenam orang mereka tidak terbukti bersalah. sisanya wanita
labirin nomor tiga, lima,tujuh dan sepuluh. Sir Charles, Mr. Morgan dan Mr.
Despard akan mengurus ketiga wanita itu, dan aku akan membantumu mencari si
nomor sepuluh" Kata Mr. Daniel. "Baiklah, apa yang akan kau lakukan
selanjutnya"
"Tidak ada. Aku
masih menunggu kabar dari salah satu penduduk di St. Petroch Loomouth. Dia
bilang Amanda Milray pernah kesana, dan dia akan menghubungiku jika dia kesana
lagi"
"Dia wanita
menyusahkan"
Lalu pintu ruangan
di ketuk seseorang dari luar. Mr. Daniel
membukanya. Seorang polisi wanita dengan seseorang pria berumur 30-an membawa
sebuah DVD.
"Dia membawa
petunjuk baru" Ucap polwan itu.
Mr. Daniel memutar
DVD itu di komputer, Adry bersama polwan dan pria bernama Eric ikut menyaksikan
apa isi dari sebuah rekaman CCTV itu.
Layar komputer
mempelihatkan sebuah sudut ruangan hinggga sepuluh detik kemudian sekelebat
manusia berjubah hitam berjalan ke ruangan yang lain.
"Bisa tolong
jelaskan?" Tanya Mr. Daniel.
"Ya, itu
ruangan karyawan dan karyawati, tepat di depan ruangan Mr. Albert, karena CCTV
itu dalam posisi tidak tepat jadi hanya sudut itu saja yang terekam. Sepertinya
memang si pembunuh itu menuju ruangan Mr. Albert"
"Ada berapa
jalan menuju kesana?" Tanya Mr. Daniel, yang terus mengulang rekaman itu
"samping kiri,
kanan, depan, dan belakang, namun pintu di belakang sedang rusak sehingga tidak
ada orang yang berhasil masuk kesana, ya, kemungkinan dia mengambil jalan dari
arah antara ketiga pintu" Balas Eric.
"Miss Jeany,
aku dengar kau ahli mikroekspresi, apa kau bisa membaca gerak-gerik orang
ini?"
"Ya, setelah
kuperhatikan baik-baik, dia berjalan dengan langkah kecil, namun seperti
terburu-buru, tapi dia tidak terlihat waspada dengan disekitar, dia sangat
percaya diri. Tapi- Tunggu, Mr. Daniel bisa kau pause dulu saat dia
muncul?" Pinta Mr. Jeany.
Mr. Daniel mengulang
video, dan memijit tombol spasi. Video itu memperlihatkan saat pelaku itu
muncul di kamera.
"Perbesar di
area wajah" Pinta Mr. Jeany. Gambar itu di perbesar di area wajah meski
tertutup dengan tudung jubah, tapi masih terlihat di bagian dagu dan hidung,
namun tidak begitu jelas.
"Itu seorang
perempuan"
"Ya, aku pikir
juga begitu" Kata Mr. Daniel.
"Dagunya
terlihat panjang, sepertinya efek dia
sedang tersenyum dengan mulut yang sedikit terbuka, ini menandakan, seolah
kematian Mr. Albert akan membuahkan hasil bagi dirinya sendiri" Kata
Jeany.
"Jika kau
benar, maka bisa dipastikan dia pembunuh bayaran yang disewa oleh salah satu
perusahaan besar" Tiba-tiba Eric berasumsi.
Lalu semua memandang
Eric dengan tatapan aneh.
"Itu tidak
menutup kemungkinan, tapi apa keuntungan baginya?" Tanya Adry.
"Eeuu ituu,
entahlah" Jawab Eric bingung.
"Oh ya ada
sesuatu yang mengganjal, perbesar tangannya" Pinta Adry, lalu video
memfokuskan dan memperbesar di area tangan, si pembunuh menggunakan sarung
tangan dengan membawa pistol api.
"Ini pistol
yang dia bawa, dia menggunakan sarung tangan agar tidak meninggalkan sidik jari"
Ucap Mr. Daniel.
"Sepertinya
pembunuhan ini dipersiapkan secara matang dan terencana, tapi... dari mana dia
tahu bahwa Mr. Albert masih berada di kantornya?" Ucap Mr. Jeany, semuanya
tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Petunjuk masih samar-samar, tapi
setidaknya mereka sudah tau bagaimana rupa si pembunuh itu.
Di tengah keheningan
semua dikejutkan dengan dering ponsel Adri disakunya. Nomor asing
menghubunginya, Adri pun memijit tombol terima dan menempelkan ponselnya di
telinga kiri.
"Ya?"
Tanya Adri.
"A-Adri..."
Itu suara seorang wanita, namun bagi Adri suara itu tidak asing lagi di
telinganya.
"Phoeby?"
"Adry, tolong
aku" Suara Phoeby gemetaran
"Kau ada
dimana?"
"Toserba, di
distrik ketiga"
"Aku harus
menjemput seseorang" Adri menyambar kunci mobilnya di meja, lalu
meninggalkan ruang kantor CIA.
BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:
Posting Komentar