Hotel Rose Melfort adalah hotel yang paling sunyi di St. Mount Cambridge. Hotel megah yang bersembunyi di balik semak tinggi yang membentuk dinding, namun semak-semak itu di potong rapi seperti sengaja menyembunyikan hotel itu. Berseberangan dengan hotel yang terhalang oleh semak terdapat taman labirin yang luas, taman itu di setting sedemikian rupa membentuk sebuah bangunan tertutup.
Sementara
di depan pintu masuk labirin, beberapa orang wanita menunggu pintu masuk
labirin itu di buka. Ini permainan labirin berhantu, sebuah permainan yang di
adakan oleh Adry Russel Sanders, seorang anak kaisar terkemuka di Kanada. Sebut
saja ini permainan isengnya untuk menguji nyali para wanita yang berebut untuk
berkencan dengannya malam ini.
Seorang
wanita aneh menempati labirin nomor sepuluh setelah mengambil nomor dari
seorang pria yang duduk di meja sebagai pembimbing mereka.
Wanita
itu... datang paling terakhir yang membuat para wanita lain kesal, karena
keterlambatannya membuat permainan ini semakin di undur.
"Heu,
kostum macam apa itu" Ucap wanita yang berada di sampingnya, sementara si
lawan bicara tak menanggapi apapun, padahal ia sendiri merasa tak percaya diri
dengan kostumnya. Tidak, ini bukan kostum, tapi pakaian biasa yang sudah
ketinggalan zaman. Baju casual yang longgar, dengan rok berbahan katun yang
panjangnya di bawah lutut dan kaki yang di balut sepatu kulit berwarna coklat
tua, satu lagi, ia membawa tas selempang yang terlihat usang. Jelas kontras
sekali dengan para wanita lain. Mereka mengenakan baju dan sepatu yang bermerk
dan terlihat elegan, dan wajah bermake up seakan mereka telah siap membuka
pintu di hadapannya untuk bertemu sang pangeran dari anak kaisar.
Gadis
yang dikatai barusan hanya mendesah senyum, jelas itu bukan pintu untuk
menemukan sang pangeran, itu adalah pintu mengerikan yang di dalamnya berupa
labirin berhantu. Mereka akan terjebak di dalam sana dalam waktu 15 menit,
sementara mereka harus menemukan jalan keluar sambil di ganggu para hantu
labirin. Siapa yang berhasil keluar, maka ia mendapat kesempatan berkencan semalam dengan pria tampan
dari anak tunggal seorang Kaisar dan uang $10 dollar.
5 detik
lagi pintu akan di buka. Gadis itu mehembus nafas panjang, pintu otomatis
menggeser, para wanita itu masuk dengan percaya diri.
Gadis
aneh itu sempat memperhatikan pintu masuk tadi, di desain seperti tembok
labirin berwarna krem, sehingga tidak ada yang tahu bahwa itu pintu masuk atau
bukan. baiklah, sekarang ia berada di tengah labirin yang mengarah ke kiri dan
kanan. Tiba-tiba lampu mati, tak sampai 5 detik ia mendengar jeritan dari
labirin sebelah kiri, itu pasti wanita yang mengatainya tadi.
"Kau
boleh menjerit saat melihat hantu, heu, labirin berhantu pasti gelap,
seharusnya kau tahu itu" Gumam gadis itu pelan, sambil berjalan ke arah
kanan labirin.
Gadis itu
berjalan perlahan sambil memperhatikan hantu-hantu yang mengganggunya yang
telah di setting di dinding labirin, - hanya memperhatikan, bahwa hantu itu
bukan hantu yang dimainkan manusia sungguhan, tetapi mesin. Ia merasa telah
aman, meski begitu ia harus berhati-hati untuk melewati labirin selanjutnya ia
tidak ingin terlambat dalam waktu 15 menit karena tersesat di labirin.
Sampai
dilabairin terakhir, pintu yang bertuliskan "You are the winning" terpampang dengan tulisan semerah
darah. Gadis itu mendorong gagang pintu. Ia telah berada di luar labirin yang
berupa taman kecil tepat di hadapan bangunan bertingkat 5. Bangunan itu
bersinar karena ribuan lampu yang menyala di mana-mana.
Lalu ia
menemukan sepucuk amplop merah yang
tergeletak di tanah. Ia memungutnya dan membuka isinya.
Aku
menunggumu, permaisuriku. Adry.
gadis itu
kembali meletakkan amplop itu seperti semula. tentu saja, ia tidak akan menemui
pria itu. ia punya tujuan sendiri. Ia pun bersembunyi di balik pohon yang
berada di pinggir labirin, ia segera membuka tas dan mengambil pistol.
Kepalanya menyembul dari balik pohon. Dari kejauhan ia cukup melihat dengan
baik dua orang pria dengan stelan jas sedang berbbincang di balkon lantai tiga.
Pria paruh baya sang kaisar, dan seorang menteri baru yang berbahaya.
Gadis itu
adalah seorang penembak profesional, ia hanya mengarahkan pistol itu ke arah
pria yang menjadi targetnya. Ia siap menarik pelatuknya, sebuah peluru pun
menembus jantung pria itu. Pria yang menjadi menteri baru dalam kekaisaran.
Tampak pria itu jatuh tergeletak, sementara sang kaisar tterlihat sangat panik.
Gadis itu
kembali memasukkan pistolnya ke dalam tas. Ia kembali ke dalam labirin, dan
berpura-pura menjadi gadis malang yang terjebak didalamnya.
***
Phoeby
menyetop taksi di hadapannya. Ia masuk ke dalam dan taksi itu lalu melaju
sedang. Saat berada di
jalan tol sepi, taksi itu berhenti. Phoeby tahu alasan si sopir memberhentikan
taksinya. 10 meter dari arah taksinya, 3 orang FBI sedang menghajar seorang pria paruh
baya yang sepertinya pemilik mobil sedan Yurke yang juga berhenti disitu.
Phoeby
mengarahkan handycame ke arah mereka dan mereka kegiatan mereka di jalan tol.
seorang polisi berambut pirang tanpa ragu menembak kepala si pria paruh baya
itu hingga mati.
"Oh
God" Gumam Phoeby. Ketiga polisi itu merampok harta benda pemilik mobil
sedan Yurke. Tiba-tiba salah seorang polisi di antara mereka melihat ke arah
taksi, Phoeby terkejut, ia langsung menyembunyikan handycamenya ke dalam tas.
Dengan kasar polisi itu membuka pintu taksi dan menarik pengemudi. bersamaan
dengan polisi yang kedua menarik Phoeby keluar dari kemudi.
"Orang-orang
sialan!" Ucap polisi berambut pirang seraya menahan sopir taksi untuk
membelakangi dan menahan kedua tangannya.
"Apa
yang kau lakukan?" Tanya Phoeby dengan panik.
"Tidak
ada cara lain selain membunuhnya" Si pirang membunuh si sopir taksi.
"Nooo...!!!"
Phoeby menjerit. Ia menangis histeris. "Apa yang kau lakukan, kau kan
seorang polisi, kau bisa dihukum karena telah melakukan ini!"
"Berisik!"
Polisi itu memukul kepala Phoeby dengan pistol hingga ia jatuh pingsan dengan
kening yang mengeluarkan darah segar.
***
Phoeby
membuka matanya perlahan-lahan, sekarang tangan dan kakinya diikat dan
didudukan di kursi kayu, mulutnya di bekap dengan kain tali. ia berada di
sebuah ruangan asing yang tampak ramai dengan beberapa orang lelaki dan
perempuan sedang minum-minum. tiga di antara mereka adalah tiga polisi yang
telah membunuh dua orang tak bersalah tadi siang. ternyata mereka hanya polisi
gadungan yang memanfaatkan seragam FBI untuk merampok.
Phoeby
mencoba berontak dari kursi itu.
"Hei,
Nona, kau sudah sadar rupanya" Ucap si pirang yang tampaknya menjadi
pemimpin diantara mereka.
"Mau
bergabung dengan kami?" Tawar si pria berkulit coklat.
Phoeby
berteriak dengan mulut di bekap, seakan meminta untuk melepaskan ikatannya. Si
pirang mendekat dan mendekatkan wajahnya pada Phoeby.
"Aku
menggeledah tasmu, di dalam ada handycame namun aku tidak menemukan chip di
dalamnya, katakan, kau merekam kami siang itu dan kau menyembunyikannya?"
Phoeby
terdiam.
"Bodoh,
bagaimana bisa dia menjawab sementara mulutnya di bekap begitu" Ucap si
perempuan.
Si pirang
membuka kain yang membekap mulut Phoeby.
"Jawab"
"Camera
itu memang tidak ada chipnya"
"Pembohong!"bentak
si pirang
"Benar,
aku sama sekali tidak merekamnya, dan tidak ada chip di dalamnya, percayalah"
"Dan
bagaimana aku bisa percaya padamu, bahwa kau tidak akan melapor pada polisi
setelah kubebaskan dirimu. Kalau kau macam-macam aku bisa membunuhmu kapan
pun"
"Aku
tidak akan macam-macam, lagipula aku tidak ingin terlalu ikut campur dengan
urusan kalian, banyak yang harus kulakukan untuk masa depanku, tolong jangan
bunuh aku" Phoeby meminta dengan panik.
"Bagus,
gadis pintar" Pria itu mengacak rambut Phoeby dengan pelan "Kalau
begitu kau bisa bebas tepat pukul 12 malam, selama kau pingsan aku telah
menelpon ibumu untuk membawa uang sepuluh juta dollar"
Phoeby
terkejut. Jadi ini pemerasan untuk mendapatkan uang.
Tengah
malam, lima belas menit lagi ibunya akan datang menjemputnya dengan membawa
sejumlah uang. Ketujuh orang penjahat itu masih teler di sofa sementara Si
Pirang tampak berenergi menunggu nominal uang satu juga dollar.
***
"Jangan
panik nyonya Laurent, aku yakin mereka tidak akan berani macam-macam selama
mereka percaya bahwa kau membawa uangnya" Seorang polisi FBI bernama
Daniel menenangkan laurent, Ibunya Phoeby.
"tetap
saja, aku banar-benar panik sejak tadi siang"
Sampai di
tempat tujuan, para polisi itu keluar dari mobil dan menyelinap ke seluruh bangunan.
Laurent mengambil ponsel dan menghubungi nomor Phoeby, ia bisa mendengar suara
di seberang sana, tanpa pikir panjang laurent segera berlari ke dalam bangunan
itu dan menuju lantai dua dimana Phoeby berada. Ia langsung membuka ruangan
itu.
"Nyonya
Laurent, jangan gegabah!" Ucap Daniel, dengan sigap ia langsung
menodongkan pistol saat masuk ke dalam ruangan. Namun apa yang sedang dia
lihat, ia tak mampu berkata apa-apa, lidahnya kelu untuk berkata.
Ketujuh
orang penjahat itu tergeletak di lantai dengan bersimbah darah, sepertinya
seseorang telah membunuh mereka semua. Daniel melihat Laurent sedang berusaha
membuka tali yang mengikat Phoeby di kursi dan membuka ikatan penutup matanya.
"Mom"
Phoeby lega ibunya telah datang.
"Phoeby,
sayang" Laurent memeluknya dengan erat hingga mereka jatuh terduduk di
lantai "kau tidak apa-apa? Keningmu terluka" Ucap Laurent dengan
cemas.
"AKu
tidak apa-apa"
"Apa
yang terjadi? Seseorang membunuh mereka semua, Phoeby, kau akan di
interogasi"
"Apa
maksudmu, Daniel. Tangan dan kaki Phoeby diikat, apa kau mencurigainya membunuh
para penjahat itu hah!" Bentak laurent.
"Tidak,
begini, aku tidak menuduh Phoeby sebagai pembunuh, tapi setidaknya dia lah
petunjuk dari semua ini, seseorang membunuh mereka, dan hanya Phoeby yang
selamat"
"Heh,
jika kau sampai memberatkan anakku aku yang akan menuntutmu Mr. Daniel"
Ancam Mrs. Laurent.
***
Phoeby di
ruang interogasi bersama seorang polisi. gadis itu tampak tenang menjawab
pertanyaan yang dilontarkan polisi. Sementara Mrs. laurent menyaksikan
percakapan itu tanpa mendengar suaranya, karena ruangan itu terhalang oleh kaca
anti peluru.
"Jadi
kau menyaksikan pembunuhan FBI gadungan itu dan setelah itu kau pingsan"
"Ya,
dan setelah sadar aku sudah di bekap, tangan dan kakiku sulit digerakkan karena
diikat"
"Apa
yang kau lihat di ruangan itu?"
"Hanya
sebuah ruangan kecil, terlihat ruangan santai, mereka mabuk dihadapanku sampai
malam"
"Bukankah
kau tidak bisa melihat mereka karena kedua matamu di tutup?"
"Ya,
tepat pada pukul 10 pria berambut pirang menutup kedua mataku dengan kain,
katanya aku tidak boleh melihat karena mereka akan melakukan sex dengan wanita
itu. Dan pada saat itu aku tertidur, aku terbangun saat mendengar suara
tembakkan dan sangat berisik, wanita itu menjerit, lalu aku mendengar pecahan
gelas jatuh atau apapun itu, aku pikir itu polisi yang datang untuk membekuk,
tapi setelah itu aku tak mendengar apa-apa lagi, semuanya hening, hingga
sekitar limat belas menit kemudian ibuku datang dan melepas kain penutup mata
dan ikatanku"
"Apa
kau mendengar ada orang lain baru yang masuk menghajar para penjahat itu"
"Aku
tidak tahu, tidak ada tanda-tanda ada orang asing masuk. Aku berasumsi salah
seorang di antara mereka menghajar temannya sendiri dan dia bunuh diri"
"Mengapa
kau berasumsi seperti itu?"
"Ya,
karna aku pikir... jika ada orang asing masuk mengapa dia tidak membunuhku
juga, lagipula tidak mungkin tiba-tiba ada superhero menghajar penjahat tanpa
memperlihatkan batang hidungnya padaku dan melepaskan ikatanku , dan tempat itu
sangat terisolasi, berada di tengah hutan, tidak banyak orang yang tahu tempat
itu, aku pikir"
Mr.
Despard manggut-manggut seakan bisa menyimpulkan jawaban dari Phoeby.
"Kau
bersih"
"jadi..
bagaimana kesimpulannya?"
"Asumsimu
menurutku tidak masuk akal, salah satu dari mereka membunuh teman sendiri dan
dia sendiri bunuh diri, sementara itu mereka menunggu ibumu membawa uang.
Seharusnya ada motif yang membuat dia membunuh dan bunuh diri. Menurutku ada
orang asing yang masuk dan membunuh para penjahat itu, jelas motifnya untuk
menghukum para penjahat"
"Begitu,ya"
Mr.
Despard memberi isyarat jempol kepada polisi yang menunggu mereka diluar,
Laurent sendiri merasa lega karena Phoeby bisa melewati interogasi itu. Dua
orang polisi masuk ke dalam ruang interogasi dan diikuti laurent. Ia memeluk
putrinya dengan sayang.
"Syukurlah"
"Rasanya
kasus ini biarkan saja, tidak ada petunjuk-petunjuk yang jelas dari kasus ini,
Phoeby memang tidak tahu apa-apa soal pembunuhan penjahat itu. Jika kita menyelidikanya
lebih lanjut rasanya hanya membuang-buang waktu saja" Ucap Mr. Despard.
"Pintar
sekali pembunuh itu, tidak meninggalkan jejak dan sidik jari sedikit pun, aku
rasa dia memang sudah berprofesional membunuh" Kata Mr. Daniel.
"Pembunuh
membunuh pembunuh, aku tidak menemukan motif superhero membunuh penjahat itu,
jika ia memang samasama sama penjahat seharusnya ia melindungi penjahat itu,
bukan membunuhnya" Tambah Mr.Despard
"Jika
ada kejadian yang sama kita pasti sedikit menemukan petunjuk" Ucap Mr.Despard.
"Ada.
Kau lupa, kita masih mengurus kasus dua minggu yang lalu, pembunuhan menteri
itu sangat misterius" Ucap Mr. Despard.
"Ya,
kita harus memeriksa sepuluh wanita kandidat yang mengikuti permainan labirin
berhantu itu"
"Baiklah,
Mrs. Laurent, dan putrinya yang sangat cantik, maaf telah mengganggu waktu
kalian, jika ada apa-apa, kalian bisa hubungi kami lagi"
"Baik,
terimakasih" Kata laurent.
"Ya,
semoga beruntung"
***
Pembunuhan
misterius yang menimpa menteri raja kini banyak diperbincangkan netizen. pelaku
pembunuhan masih dalam penyelelidikan, karena si pelaku tidak meninggalkan
jejak sedikit pun di tempat itu. Namun kini polisi berasumsi bahwa si pelaku
membunuh dari arah taman labirin, itu sudah di pastikan karena tempat itu di
luar gerbang hotel sementara bagian dalam sudah di jaga ketat oleh polisi.
Sasaran utama penyeledikkan polisi disibukkan dengan mencari sepuluh wanita
kandidat yang mengikuti permainan labirin berhantu itu, sudah dipastikan
pembunuhnya pasti ada di antara mereka.
"Pintu
labirin nomor satu oleh wanita karir disebuah perusahaan, pintu nomor dua oleh
seorang model, pintu ketiga oleh seorang dokter hewan, pintu nomor empat oleh
seorang pemain teater..." Mr. Despard menyebutkan daftar nama yang
mengikuti permainan labirin berhantu, sementara pria tampan sedang menyalin
data nama-nama itu ke sebuah komputer.
"Dan
yang terakhir... seorang mahasiswi dari universitas Stoland"
"Mahasiswi,
heuh, patut dicurigai, gadis itu pasti pengecualian dari 9 gadis lain"
"Ya,
dia satu-satunya mahasiswi. Justru aku tidak yakin bahwa dia pelakunya"
kata Mr. Despard.
"Aku
sendiri yang akan menyelidikinya" ucap Adry
"Baiklah-baiklah,
jangan libatkan kasus ini dalam kehidupanmu, kau ini bukan anggota FBI apalagi
CIA, pulanglah, Nak, kerjakan tugas-tugas kampusmu, atau kau mandi air hangat
dengan bunga-bunga mawar yang disiapkan oleh para pelayanmu, jika kau terlibat
dalam urusan ini dan kau terjadi apa-apa, mau tidak mau aku harus siap di
eksekusi ayahmu" Ucap Despard sambil menepuk bahu Adry.
Adri
beranjak dari kursinya dan mengenakan jaket kulit yang teronggok di meja
"Aku memang tidak berminat menjadi
detektif, tapi memecahkan kasus yang misterius cukup menarik perhatianku, itu
seperti sebuah puzzle yang harus disusun untuk menemukan jawaban, selain itu
aku juga harus bertanggung jawab atas kasus ini, gara-gara permainan labirin
itu semua menjadi rumit,"
Adry yang
merasa bersalah ikut turun tangan dalam menyelesaikan kasus ini, dirinyalah
yang diincar sepuluh gadis dalam permainan labirin berhantu itu. Dan ia yakin
ada salah satu dari mereka yang lolos dari labirin itu, namun dia hanya berdiri
di luar labirin, dan melakukan pembunuhan tersembunyi.
Adry
merogoh ponselnya di saku.
"Edmun,
polisi bilang kau sempat memeriksa tas mahasiswi itu, apa benar? - Temui aku di
cafetaria biasa"
***
"Mahasiswi
itu muncul paling terakhir, aku lihat wajahnya sangat pucat dan berkeringat.
Dia bilang dia tersesat di dalam dan bingung mencari jalan keluar"
"Keluar
paling terakhir bagiku mencurigakan, itu bisa kujadikan daftar bukti,
lalu?"
"Ya,
dia tampak kelelahan seperti yang lainnya, dia juga sempat berisrirahat
sebentar sambil bersandar di bawah pohon"
"Yang
kau lihat saat itu?"
"Aku
tidak terlalu memerhatikan si mahasiswi, keadaan sangat kacau waktu itu, bahkan
si wanita nomor sembilan menangis
histeris karena ada sesuatu yang membuatnya trauma saat berada di dalam. Tapi
aku teratarik dengan si nomor tujuh, saat keluar dari labirin dia terlihat
begitu tenang, tetapi dia sempat berkata padaku, bahwa permainan ini sangat
menjijikan, setelah itu dia pergi mengendarai mobilnya"
Adry
manggut-manggut, aneh dengan wanita nomor tujuh disaat semua kandidat panik dan
ketakutan dia malah tenang, dan pergi begitu saja. Meski patut dicurigai tapi
ia bukan objek penyelidikannya.
"Kau
bilang di menenteng tas?"Tanya Adry
"Iya,
tas selempang yang usang. Ah, aku lupa, mahasiswi itu cantik, tapi
penampilannya benar-benar kuno, menurutku dia tidak pantas bertemu
denganmu"
"Ya,
atau dia memang tidak bermaksud untuk bertemu denganku, pasti ada tujuan
lain" Adri mendapat daftar bukti kedua.
"Tapi
dia bilang dia menyukaimu, dia akan berjuang agar memenangkan permainan ini dan
kencan denganmu. Dia juga terlihat polos seperti mahasiswi biasa yang hanya
punya urusan di kampus"
"Apa
kau memeriksa tasnya?"
"Ya
sebelum masuk aku sempat memeriksa barang-barang seluruh kandidat, kebanyakan
dari mereka menyimpan tasnya di mobil, tapi mahasiswi itu pengecualian, di
dalamnya hanya ada buku kecil seperti buku diary, buku catatan, pulpen, dan
kotak perhiasan dan kotak make up"
"Kau
membuka kotak perhiasannya?"
"Tidak,
justru dia sendiri yang membukanya, saat ku tanya identitasnya dia sempat
bercerita bahwa hari ini adalah ulangtahun ibunya, dia membelikan perhiasan itu
untuknya, jujur saja dia antusias menceritakan hal itu, makanya dia tidak ingin
menyimpan tasnya dan tetap membawanya ke dalam"
"Bagaimana
bentuk kotak perhiasan itu?"
"Aku
lupa, mungkin sekitar lima belas senti, sesuai dengan panjang perhiasan
itu"
"Seharusnya
kau minta untuk membuka kotak make upnya juga"
"Aku
tidak bisa berbuat sejauh itu, aku pasti dianggap tidak sopan karena menuduh
yang tidak-tidak sampai menggeledah kotak make upnya" Ucap Edmun.
***
Phoeby
menghempaskan lembaran berkas bertuliskan Universitas Princeton di hadapan
Laurent.
"Mom,
kau benar-benar mendaftarkanku kesana ya?" Tanya Phoeby.
"Ya,
tentu saja, jarak limakilo meter dari rumah itu membuatmu lebih
mudah""
"Maksudku
bukan itu, Mom, disana penghuninya jenius semua, lagipula itu kumpulan
orang-orang populer se Kanada, tidak, aku tidak bisa"
"Lalu
apa masalahmu?"
"Aku
sulit menyesuaikan diri"
"Kau
hanya perlu percaya diri sayang, percayalah, kau bisa"
Ini
adalah hari pertama bagi Phoeby masuk ke universitas baru, tepatnya dia adalah
mahasiswa pindahan dari swiss, dan baru seminggu tinggal di Crow's Nest
bangunan sederhana, kokoh, putih, dengan ukuran menyesatkan karena jauh lebih
besar dari yang kelihatan.
Phoeby
sama sekali tidak menginginkan untuk pindah ke Kanada, suhu udara di musim
dingin cukup menyiksa dirinya seakan sumsum tulang ikut membeku. Sebenarnya
hari ini ia berencana tidak ikut kuliah dulu, karena ingin menikmati secangkir
vanilla latte untuk sekedar menghangatkan tubuhnya di sofa empuk kamarnya.
Keinginan
untuk memanjakan diri dimusim dingin hilang begitu saja, sekarang ia berada di
kursi kemudi bersama Laurent menuju Universitas Princeton, yang tidak terlalu
jauh dari jarak rumahnya.
Laurent
berulang kali memandang wajah putrinya itu yang tampak lesu. Wajah ovalnya
dengan dagunya yang panjang bertopang pada jendela yang tertutup, kedua matanya
ke arah jalan, melihat segala sesuatu yang dilewati mobil itu. Hanya rumput
berembun dengan kabut tipis yang sama sekali tak menyegarkan mata.
Laurent
memarkirkan mobilnya tepat di depan tangga
yang begitu luas menuju bangunan universitas princeton. Tepat di dekatnya
seorang wanita berambut pirang yang masih muda menunggu kedatangan Laurent.
"Ayo
turun sayang" Ucap
Laurent.
Laurent
berjabat tangan dengan wanita berambut pirang itu., lalu sedikit berbasa-basi
membuka obrolan mereka. Phoeby yang menyusul membaca name tag yang menempel di
baju wanita itu. Miss Sutcliffe.
"Hmm...
ya, ini dia" Mrs. Laurent memperkenalkan Phoeby pada Miss Sutcliffe yang
langsung memberikan senyuman ramah ke arahnya. Sementara Phoeby bermuka datar
dan menunduk.
"Selamat
datang di Universitas Princeton, semoga kau nyaman berada disini" Ucap
Miss Sutcliffe.
Phoeby
mendesah senyum tipis.
Karena
sikap Phoeby yang dingin itu merubah suasana menjadi sedikit canggung, Mrs.
laurent pun mengajak Miss Sutcliffe untuk sedikit menjauh darinya.
"Dia
butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri, dia sedikit anti sosial dan tipe
penyendiri" Bisik Mrs. Laurent.
Miss
Sutcliffe mengerti dengan keadaan gadis itu, ia mengetahuinya karena Mrs.
Laurent menceritakan tentang bagaimana keluarganya. Phoeby anak satu-satunya
Mrs. Laurent, ia gadis yang antisosial dan sering menyendiri, itu karena Phoeby
sering hidup dibawah tekanan keluarganya yang selalu bertengkar. Hubungan Mrs.
Laurent dengan suaminya memang tidak bisa dikatakan baik, rumah tangga mereka
hancur berantakkan karena ayah dari gadis itu seorang penjudi dan pemabuk. Dan
hal ini menjadi sebuah alasan kenapa mereka sekarang berada di Kanada,
kepindahan mereka adalah hal yang terbaik menurut Laurent agar tak lagi
berurusan dengan mantan suaminya. Itu info yang di dapatkan Miss Sutclife.
"Aku
akan berusaha membimbingnya, lagipula dia cukup manis, aku rasa orang-orang
akan menyukainya" Ucap Miss Sutclife sedikit meghibur Laurent.
"Ya,
semoga saja"
Tidak
sampai lima menit mereka berbincang, laurent akhirnya pamit pergi.
"Telpon
aku jika kau sudah pulang" Kata Laurent.
"Hem"
Balas Phoeby.
***
"Aku
dosen filsafat, jam ketiga aku akan berada di kelasmu, ayo akan kutunjukan
kelasmu di lantai tiga, aku yakin kau akan kerasan disana" Kata Miss
Sutcliffe diikuti langkah Phoeby di belakangnya.
***
Sir
Charles yang gagah memasuki sebuah labirin berhantu untuk menemukan petunjuk.
Labirin ini cukup menakutkan menurutnya, ini di desain seperti terowongan
berhantu dan cocok di jadikan lokasi shooting film horor. Tidak aneh banyak
wanita yang menjerit histeris saat memasukinya. Namun hantu properti yang
tersimpan disana begitu sempurna dengan mesin penggerak otomatis yang bakalan
sukses membuat pengunjung trauma.
Pria
dengan rambut beruban itu mengambil sebuah benda yang tertempel di dalam perut boneka zombie, itu semacam baut
yang tak menempel sempurna untuk sekedar menempelkan sesuatu di dalam boneka
itu.
Sir
Charles melanjutkan langkahnya untuk menemukan pintu keluar, labirin itu
memiliki belokan yang memusingkan, ia
sempat kembali ke tempat asal karena tak menemukan jalan keluar. Namun pada
akhirnya Sir Charles menemukan pintu keluar berwarna coklat tua bertuliskan
"You are the winning" dengan tulisan merah darah.
Pintu itu
ia buka dan sampai di taman tepat di depan hotel Rose Melfort, taman yang cukup
luas namun beranda hotel terhalang rumput tinggi yang di potong rapi membentuk
seperti tembok pembatas.
Sir
Charles menoleh ke arah kanan, ada pohon akasia yang tingginya sekitar lima
meter. Pandangan Sir Charles kini bergantian pada pintu keluar, dan pintu itu
berada di posisi akhir, artinya pintu sepuluh. Ia mencoba menempatkan diri
sebagai pelaku pembunuh setelah keluar dari pintu ia melangkah ke arah pohon
dan menyembunyikan tubuhnya.
Ia
mengarahkan pandangan ke arah lantai tiga hotel Rose Melfort, tepat pada posisi
dimana Menteri itu sedang berbincang dengan Kaisar. Ia menyadari sesuatu, pohon
ini cukup untuk menyembunyikan tubuh seseorang.
Tiba-tiba
ia merasa telah menginjak sesuatu. Selembar kertas. Sir Charles memungutnya, ia
tak khawatir meninggalkan sidik jari di kertas itu karena menggunakan sarung
tangan, dan membaca isinya.
Aku
menunggumu, permaisuriku. Adry.
***
"Heii,
apa kabar bung, kau meninggalkan beberapa mata kuliah akhir-akhir ini, apa
sekarang kau jadi detektif betulan?" Edgar merangkul sahabat karibnya,
Adry, saat ia sedang berjalan sendirian di koridor.
"Berisik,
jika kau mengatakan detektif dengan suara keras itu bukan detektif namanya,
bodoh"
Edgar
tertawa renyah. Ia satu-satunya orang yang tahu bahwa Adry terlibat dalam
kegiatan detektif. Ya, meski bukan anggota CIA, Adry cukup bisa di andalkan dan
pintar dalam urusan penyelidikan.
"Ahh
selain itu hari ini kelas kita kedatangan mahasiswi baru dari Swiss, kau hari
ini kau datang terlambat,
cepat-cepatlah mengajaknya kenalan, dari fisiknya dia tipemu, tapi
sayang-"
"Apa?"
Tanya Adry.
"Dia
suram sekali"
"Kalau
begitu dia bukan tipeku"
Sampai di
dalam kelas, Edgar mencari sosok Phoeby si mahasiswi pindahan itu. Dia tidak
ada di bangkunya, padahal lima menit lagi jam ke empat akan dimulai.
"Hai
Dri" Seorang wanita cantik menyapa Adry, namun yang disapa tak begitu
tertarik dan malas membalas sapaannya. Tapi Olivia Manders, wanita primadona
yang menjadi dambaan setiap pria. siapa yang tak kenal dia. Wanita yang
tingginya semampai dengan rambut pirang keemasan dan mata bulat kecoklatan
mampu melumpuhkan hati pria mana pun dengan penampilannya.
Tapi bagi
Adry tak ada yang menarik dari sosok Olivia Manders, terlalu "murah"
di mata lelaki, dia mau saja di ajak "ini dan itu".
"Hei
Nona Manders, apa kau melihat si gadis pindahan itu?" Tanya Edgar.
"Si
Suram maksudmu? heuh, jangan bertanya padaku, mengetahui keberadaannya sama
sekali tidak penting bagiku. Lagipula... bukankah dia itu pernah di
perbincangkan di koran ya, dia korban penculikan polisi FBI palsu, heuh, baru
dua minggu tinggal di Kanada dia sudah membunuh tujuh nyawa"
"Apa!
Aku tidak tahu soal itu!" Edgar terkejut.
"Jadi
dia ya" Ucap Adry.
Adry
kembali keluar kelas dengan langkah cepat.
"Hei,
mau kemana lagi?" Tanya Edgar menjajari langkah kaki Adry.
"Menemui
Sir Charles"
"Inspektur
tua itu? Oh ayolah, setidaknya kau bisa menunda kegiatan ini dulu"
"Ini
ada hubungannya dengan pembunuhan di labirin itu. Tidak,kau benar, aku tidak
akan menemui Sir Charles dulu. Aku harus bertemu dengan mahasiswi pindahan itu
dan menginterogasinya sekali lagi"
"Kau
benar, tapi aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi saat ini, tolong
jelaskan, dan biar aku membantumu"
"Dua
minggu yang lalu ada kabar terjadi penculikan pada seorang wanita muda dari
Swiss dan anehnya para penculik itu semuanya mati, sementara wanita itu tidak,
tepat seminggu kemudian setelah kejadian itu terjadi pembunuhan di hotel Rose
Melfort, permainan labirin yang menghadiahi 10 dollar dan berkencan denganku,
salah satu di antara mereka seorang mahasiswi"
"Jadi
menurutmu si mahasiswi dari Swiss itu pembunuhnya?"
"Aku tidak bisa mengatakan itu. Setidaknya
dia menjadi petunjuk bagiku, pasti ada sesuatu yang belum dia ceritakan pada
Mr. Despard saat di interogasi"
"Intinya?"
"Ini
dua kasus pembunuhan yang sama, membunuh secara misterius tanpa meninggalkan
jejak dan sidik jari sedikit pun. Pembunuhan sempurna yang dilakukan oleh
seseorang yang sudah berprofesional"
Edgar
terdiam. Ia belum sepenuhnya mengerti dengan kasus ini, namun terkadang asumsi
yang dilontarkan pria detektif itu terlalu kritis dan membingungkan yang
mendengar.
"kau
bilang kau mau membantuku?" Tanya Adry.
"Eeh...-"
Edgar tiba-tiba menyesal kenapa harus menawarkan diri untuk membantu pria ini.
"Dekati
gadis itu, cari tau informasinya, dan kalau bisa kau mendapatkan nomor
hapenya?"
"What????"
***
"Si
pembunuh meninggalkan isi amplop itu di bawah pohon" Sir Charles
memperlihatkan lembaran kertas yang terlihat beberapa bekas lipatan tak
beraturan dan noda tanah seperti terinjak sepatu. Kertas itu menjadi pusat
perhatian orang-orang yang mengikuti rapat nonformal itu di sebuah ruangan
kecil hotel Rose Melfort, beberaoa orang anggota CIA dan FBI ikut menyimknya,
termasuk Adry dan para pegawai yang terlibat di permainan labirin berhantu.
"Kita
akan melakukan beberapa percobaan untuk mengetahui pintu labirin mana dengan
amplop kosong"
"Apa
bisa? Bukankah amplop itu tersusun acak?" Tanya Mr. Despard.
"Tidak,
Lucifer menyimpannya dengan baik, dia memungut amplop itu dari nomor satu dan
meletakkannya paling atas. Artinya amplop itu berurutan"
Sir
Charles meletakkan setumpuk amplop merah tua di meja, menatap amplop-amplop itu
sejenak seakan jawaban teka-teki sudah ada di depan mata.
"Baik,
aku akan membuka satu persatu amplop ini" Sir Charles mengambil satu
amplop paling atas, ini milik wanita labirin nomor satu. Ia membuka isi amplop
itu. Sir tak menunjukkan ekspresi apapun saat melihatnya artinya amlop itu tak
mengundang keterkejutan apapun.
"Isinya
utuh" Sir membuka lembaran kertas itu dan membaca kalimat yang sama.
"Kau yang menulis semua ini?" Tanya Sir Charles pada Adry.
"Ya,
aku membuat kalimat yang sama di sepuluh amplop dengan tulisan tanganku
sendiri" Jawab Adry.
"Tulisanmu
jelek"
"Hahhh"
Adry mendesah sebal.
Sir
Charles membuka amplop selanjutnya, hasil yang sama seperti amplop sebelumnya.
Adegan
ini sedikit menegangkan, meski Adry penasaran di pintu mana yang terdapat
amplop kosong tapi ia merasa ada yang mengganjal. Adegan ini bisa saja menjawab
siapa si pembunuh, atau bisa saja adegan ini justru tak ada petunjuk apapun.
"Nomor
enam" Kata Sir Charles yang akhirnya menemukan amplop kosong. Ia membuka
lebar-lebar amlop itu dan memperlihatkan pada rekan-rekannya.
"Nomor
enam, ya" ucap Mr. Despard.
"Siapa
pemilik nomor enam?" Tanya Sir Charles pada Edmun.
Edmun
dengan sigap dan tampak canggung membuka lembaran kertas yang berisi data-data
nama wanita kandidat beserta profesinya.
"Miss
Christie, seorang desaigner berumur 24 tahun"
"Tidak,
Sir, tolong lanjutkan untuk membuka amplop sisanya" Pinta Adry, Sir
Charles pun tak kan menolak dengan permintaan ini, maka ia membuka amplop
selanjutnya. Hingga amplop terakhir...
"Mengejutkan,
amplop sepuluh kosong"
"Itu
dia" ucap Adry, seiring sesuatu yang mengganjal hilang begitu saja.
"Jadi..
ada dua amplop yang kosong, apa-apaan ini" Ucap Mr. daniel.
"Mahasiswi
Universitas Stoland berumur 20 tahun, Amanda Milray" Lontar Edmun tanpa
diminta, tapi itu jawaban yang dibutuhkan.
"Dan
artinya pelaku pembunuhan dua orang?" Tanya Mr.Despard.
"Ini
hanya mengecoh, ini sama sekali bukan yang di harapkan. Aku tidak yakin pelaku
pembunuh si pemilik amplop kosong, bisa saja si pembunuh sengaja mengosongkan
dua amlop dan dia berada di amplop yang utuh agar jejaknya tak di ketahui, atau
justru kita menemukan jawaban bahwa pelaku pembunuh adalah nomor enam dan nomor
sepuluh" Kata Sir Charles.
Semua
terdiam, ada benarnya dengan dua asumsi Sir Charles. Mereka berpikir apa yang
dipikirkan Charles, itu artinya mereka tidak menemukan jawaban sama sekali,
namun prioritas utama adalah interogasi antara wanita nomor enam dan nomor
sepuluh.
Tiba-tiba
Adry tertawa keras, lalu ia menghempaskan punggungnya di sandaran sofa, dan
menatap langit-langit atap hotel.
"Pembunuh
itu... mempermainkan kita, dia sengaja membuat permainan ini agar kepolisian
menyelidikinya dengan banyak teka-teki dan
membuatnya kelabakan. Benar-benar trik hebat, ini permainan intelektual, dia
seperti menguji seberapa pintarkah kepolisian dan CIA dalam menyelidiki ini.
Aku jadi penasaran siapa pelakunya, dia pasti wanita yang menarik" Ucap
Adry, tiba-tiba ia semakin bersemangat dalam penyelidikan ini.
"Kau
tidak bisa memilikinya, Adry"
"Aku
tahu, dia permaisuriku si pembunuh, aku penasaran seperti apa dia, aku harap
aku yang akan mengeksekusinya nanti"
"Baiklah,
akhirnya dalam percobaan ini kita tidak menemukan jawaban sama sekali, yang
harus kita lakukan selanjutnya adalah membawa wanita itu satu persatu ke kepolisian kita akan melakukan
interogasi secepatnya" Ucap Sir Charles mengakhiri pertemuan mereka malam
itu.
***
"Ayah
sudah bilang untuk tidak ikut lagi dalam memecahkan kasus-kasus yang ada di
kepolisian" Ucap Feddy Dacres, kepada Adry yang pulang larut malam saat
itu.
"Ayah,
Ayah belum tidur?" Tanya Adry melihat ayahnya yang masih bersantai di
kursi menghadap ke jendela, tampak asp rokok mengepul di tengah keremangan
ruangan itu
"Ini
untuk yang terakhir Ayah, lagipula aku merasa terlibat dalam memecahkan kasus
ini, aku yang menginginkan permainan labirin itu, tapi akhirnya Mr. Franky mati
terbunuh, aku rasa ini tanggung jawabku. Apalagi Mr. Franky orang yang sangat
dipercayai Ayah, aku semakin ingin kasus ini cepat terselesaikan dan aku yang
ingin mengeksekusi pelakunya"
"Meski
ini yang terakhir, kau berada di ambang bahaya jika kau gegabah, dilihat dari
cara dia membunuh dia orang yang pintar dan tidak mudah di tebak. Bisa jadi dia
lebih pintar dari FBI maupun CIA"
"Aku
tau ayah, tenang saja aku akan selalu waspada untuk memecahkan kasus ini, aku
mohon, izinkan aku untuk melakukannya"
"Baiklah"
"Terimakasih,
Ayah" Adry membungkukan badan simbol penghormatan, lalu ia masuk ke
kamarnya yang berada di lantai atas.
Sampai di
kamar, ia merogoh ponselnya di saku, lalu menghubungi Edgar.
"Bagaimana,
kau mendapatkan nomer ponselnya?"
"Ah,
sebaiknya kau yang temui dia langsung, dia sulit di tangani"
"Aku
tidak mengerti"
"Dia
antisosial, bukan gadis ramah, lebih tepatnya... apa ya, selain bermuka suram
dia itu sulit di ajak bicara"
"Baiklah,
tapi akiu belum bisa menemuinya besok. Ada yang harus kulakukan" Adry
menatap selebaran kertas berisi identitas mahasiswa Universitas Princeton.
"Apalagi?"
"Itu
rahasia. Baiklah, selamat malam" Tanpa menunggu balasan Edgar, Adry
langsung memutuskan sambungannya. Ponselnya ia lempar ke ranjang yang empuk,
lalu ia melangkah ke jendela dan membukanya lebar-lebar.
Ia
membaca sekali lagi selembar kertas itu.
Amanda
Milray, 20 tahun, Mahasiswi Universitas STOLAND, St. Petroch Loomouth.
***
"Permisi,
Miss, apakah anda bisa mencari identitas nama ini?" Adry menyerahkan
selembaran kertas kepada seorang pegawai yang ada di kantor Universitas Stoland
"Baik,
sebentar" Wanita itu menerima selembaran kertas dari Adry dan mengetikkan
di komputer nama tertera disana.
"Anda
mendapatka nama ini dari mana?"
"Hmm..
sulit jika kuceritakan dari awal, dia memberikan identitas itu saat mengikuti
sebuah permainan, dan karena dia memenangkan permainan itu dia berhak
mendapatkan hadiahnya ,tetapi dia meninggalkannya, jadi saya mencarinya
kesini" Jawab Adry sedikit berbohong.
"Disini
sama sekali tidak ada yang bernama Amanda Milray, yang ada Milray Satterhwaite.
dia kelahiran 1994, itu artinya dia berumur 22 tahun, bukan 20 tahun"
"Tidak
mungkin dia berbohong, dia menyerahkan identitas aslinya saat pendaftaran,
semacam paspor" Ucap Adry.
"Jika
itu saya tidak tahu, bahkan saya penasaran dengan Amanda Milray, dia memalsukan
identitas dengan membawa universitas ini" Wanita itu tampak marah.
Wanita
itu kembali menyerahkan lembaran itu. Setelah itu dia kembali melanjutkan
aktivitas kerjanya yang sepertinya tidak ingin di ganggu lagi.
"Terimakasih,
maaf sudah mengganggu"
"Oke"
Adry
kembali masuk ke dalam mobilnya. meski Amanda Milray tidak di temukan , namun
ia yakin bahwa gadis inilah pelakunya. Edmun bilang dia menyerahkan identitas
asli berupa paspor. Jika gadis itu bisa memanipulasi identitas asli, maka tidak
diragukan, dia berada disini tidak sendiri, dengan kata lain, dia berada dalam
sebuah organisasi yang berkaitan dengan pembunuhan.
Mobil itu
melaju, menuju tempat berikutnya St. Petroch Loomouth. Ia pun membuka Google
Map di ponselnya. Alamat tersebut jauh dari kota dan membutuhkan waktu dua jam
untuk sampai kesana.
Mobil itu
melewati perbatasan kota, masuk ke wilayah St. Petroch 5KM dari arah kanannya.
jalan yang di lewati sunyi sepi seperti di tengah hutan, dan jalannya
berkelok-kelok dan sempit.
Sampai di
tempat tujuan Adry segera keluar dari mobilnya. tempat ini tidak begitu luas,
dan terdapat beberapa rumah dengan jarak yang terpisah-pisah, tampak sunyi
namun tentram dari kebisingan kota. Adry segera menghampiri salah seorang
penduduk di tempat itu, seorang nenek tua yang yang sedang berjalan di jalan
setapak berbatu dengan tongkatnya, lalu seorang kakek datang dan membantunya
berjalan.
"Permisi,
selamat siang" sapa Adry
"Selamat
siang" balas nenek itu dengan suara serak.
"Hmm...
boleh saya bertanya sesuatu"
"Yes,
of course"
"Apakah
gadis yang bernama Amanda Milray tinggal disini?"
Nenek dan
kakek itu saling pandang.
"Disini
tidak ada Amanda Milray" Jawab Kakek.
"Tapi
disini benar, alamatnya ST. Petroch Loomouth. Dan ini identitas asli"
"Disini
tidak ada Amanda Milray" Ucap Kakek itu sekali lagi.
"Tunggu,
rasanya aku masih ingat dengan nama itu" Ucap si nenek "Sejak kau
pergi ke Hoxton, ada seorang gadis yang datang kesini" Nenek itu berkata
pada si kakek.
"Ya,
ya, dia bernama Amanda Milray" Nenek itu mencoba mengingat ngingat.
"Dia gadis tersesat dengan mobilnya. Dia menumpang dirumahku, dia
bercerita banyak tentangnya. Tapi aku tidak bisa menangkap isi
pembicaraannya"
"Maaf
dia tidak bisa mengingat dengan baik" Ucap si kakek.
"Sayang
sekali,kapan dia kesini?" Tanya Adry
"Sekitar
beberapa minggu yang lalu"
"Bertepatan
hari apa?"
"Aku
lupa?"
"Jika
itu bertepatan saat aku ke hoxton maka pada hari itu adalah hari selasa"
ucap si kakek.
"Lalu
dari mana dia berasal?"
"Aku
yakin dia juga bilang padaku dimana dia tinggal dan kenapa tersesat, tapi aku
benar-benar tidak ingat. Aku hanya ingat kalimatnya yang membuatku terharu,
bahwa dia ingin hidup bebas seperti burung yang terbang di langit. kemana pun
dia pergi tidak akan ada yang melarangnya"
Adry akan
mengingat kalimatnya itu.
"Lalu
bagaimana ciri fisiknya?"
"Dia
gadis yang sangat cantik, dia ramah dan selalu tersenyum. Bola matanya hitam
seperti boneka, dia memiliki bentuk tulang pipi yang indah. Saat pagi tiba dia
menghilang begitu saja, tapi dia membuatkanku sepiring wafel, dan di pinggirnya
ada tulisan terimakasih dengan coklat" Jelas nenek itu.
"Jika
kau melihatnya, maka kau mengingatnya dengan baik" Ucap kakek yang tampak
senang, tampaknya si nenek memiliki ingatan yang baik sesuai dengan apa yang
dia lihat.
"Kalau
begitu... anda pasti tau dengan apa yang dia bawa"
"Dia
membawa tas ransel, namun aku tidak tahu apa isinya"
"Begitu
ya.."
"Ah,
seandainya gadis itu masih disini sekarang, akan ku kenalkan kau padanya, aku
yakin kau pasti menyukainya, kalian sangat cocok" ucap nenek itu.
Adry
tertawa kecil.
"Oh,
apa jangan-jangan kau adalah pacarnya? Tanya si nenek.
"Ah,
tidak, bukan, saya kesini ada urusan tertentu dengan gadis itu"
"Oh
begitu ya... kalau begitu kau bisa meninggalkan nomor ponselmu padaku, aku
yakin gadis itu akan kesini lagi" Pinta si nenek.
"Oh
ya, apa boleh?"
"Tentu
saja, kalian bisa bertemu nanti"
"Baiklah,
aku akan mencatat nomor ponsel ku disini" Adry menuliskan nomor ponselnya
di catatan kecil. lalu memberikannya pada si nenek.
"Aku
sangat menantikannya" UCap Adry.
"Ya,
akan ku telpon jika dia sedang berada disini"
Usai
berurusan dengan kedua lansia itu, Adry meninggalkan tempat itu dengan perasaan
puas. Meski ia tak berhasil menemukan gadis itu tapi ia sudah mendapatkan
banyak petunjuk. Dan Adry sangat menantikan kedatangan gadis itu lagi di St.
Petroch Loomouth.
Namun
yang dirasakan Adry tiba-tiba berbeda dia menunggu gadis itu untuk di eksekusi
atas pembunuhan menteri kepercayaan ayahnya. Menunggu gadis itu serasa
menegangkan namun ada sensasi didalamnya.
***
Mr.
Despard dan Mr Daniel mengawal seorang perempuan berpakaian modis ke kantor
kepolisian. Miss Meredith, si wanita pemain teater, tampaknya tidak suka jika
ia harus berurusan dengan kepolisian.
Saat
berada di ruang intergogasi ia berhadapan dengan Sir Charles.
"Miss
Meredith, benar?" Tanya Sir Charles.
'Ya, dan
aku kesini ingin bertanya langsung pada anda, saya tidak pernah melakukan
pembunuhan kepada menteri raja. Saya tersesat di labirin dengan hantu
menyeramkan dan saya heran kenapa harus di bawa ke kantor polisi?"
"Ah,
anda agresif sekali, saya belum melontarkan pertanyaan apapun pada anda. Santai
saja, ikuti aturan-aturan kami, maka saya akan memudahkan anda" Ucap Sir
Charles.
Miss
Meredith memasang muka sebal, sambil berpangku tangan.
"Ngomong-ngomong
Miss Meredith, anda pemain teater bukan? Saya pernah melihat anda sebagai
pemeran utama di teater Gadis pemeluk bulan. peran anda sangat bagus, tidak
aneh, anda banyak diincar acara tivi karena bakat anda yang sangat hebat"
Sir Charles berbasa basi agar suasana tak terlalu tegang.
Miss
Meredith menghembus nafas, ia terlihat sedikit tenang dengan pembawaan Sir
Charles yang santai, dan tidak menakutkan seperti yang ia kira.
"Bagaimana
menurutmu permainan labirin berhantu itu?" Tanya Sir Charles.
"Itu
penipuan, Adry Russel Sanders, itu hanya mempermainkan mental seorang wanita
dengan permainan yang menjijikan. Jika dia ingin berkencan dengan wanita bukan
seperti ini caranya, labirin sialan itu membuatku tidak bisa makan
berhari-hari" Ucap Miss Meredith dengan penuh emosi.
"Anda
mengetahui permainan labirin itu dari mana?"
"Itu
dari internet, dia mengumumkan permainan itu di fanspagenya"
"Oh,
anda mengikuti fanspagenya rupanya?" Sir Charles menggodanya.
"Ya,
pada awalnya aku memang menyukainya, dia salah satu pria yang selalu aku incar.
Tapi setelah aku mengikuti permainan labirinnya aku malah membencinya, apalagi
setelah itu terjadi pembunuhan yang tak di duga-duga, membuatku kaget
saja"
"Miss
Meredith, anda tidak menggunakan kedok teater anda disini kan?"
"Aku
bicara apa adanya, Sir, lagipula untuk apa aku membunuh menteri raja, tidak ada
untungnya bagiku"
"Kau
datang bersama siapa, Miss?"
"Aku
sendiri yang membawa mobilku, sebenarnya aku ingin di antar dengan sopir
pribadiku, tapi dia bilang dia mendadak sakit kepala dan tidak bisa
mengantarkanku malam itu di tempat teater"
"Dan
setelah sampai di tempat permainan labirin siapa saja yang kau lihat
disana?"
"Aku
tidak terlalu memperhatikan orang dan tidak terlalu suka berbicara, tapi disana
ada beberapa orang yang sedang menunggu kandidat lain, tampaknya mereka tidak
sabar untuk berkencan dengan Adry"
"Dan
setelah itu anda mengambil nomor labirin?"
"Ya
disana ada pria, yang duduk di meja menyiapkan lembaran-lembaran kertas yang
sulit kupahami. Lalu dia memberiku nomor 4, yang artinya aku harus menempati
labirin empat"
"Siapa
wanita yang sudah ada disana, apa mereka juga sudah mendapat nomor?"
"Nomor
tiga dan dua, lalu saat itu datang dua orang lagi yang langsung mengmpiri pria
di meja mengambil nomor, dan setelah itu aku lupa mereka nomor berapa"
"Berapa
lama anda menunggu sampai anda memasuki labirin itu?"
"Sekitar
tiga puluh menit, ini semua gara-gara wanita yang datang terlambat. Dari situ
aku mulai merasa sebal dan ingin pulang, tapi pria-pria disana tidak
mengizinkannya"
"Setelah
kau memasuki labirin itu, seberapa jauh kau berjalan di dalamnya, dan arah mana
yang anda ambil?"
"Aku
mengambil arah kiri, saat ada tikungan dan beberapa ruangan dengan belokan, aku
melihat zombi sedang menjulurkan lidah dengan cairan yang menjijikan, aku tahu
itu hanya boneka, tapi bagiku itu sangat menjijikan dan karena hal itu aku
tidak ingin melanjutkan dan kembali ke tempat pintu masuk menunggu pintu itu di
buka" Jelas Miss Meredith yang berusaha meyakinkan.
Sir
Charles manggut-manggut. Ia merenung sejenak, Miss Meredith meski memiliki
wajah yang menyebalkan tetapi dia terlihat sangat jujur, dia menceritakan
semuanya dari awal, dan tidak tersendat-sendat dan lancer begitu saja.
"Dan
setelah kau keluar?"
"Aku
langsung berjalan ke pinggir dan duduk di kursi karena tiba-tiba perutku
mual"
"Apa
kau melihat yang lainnya, para wanita lain ketakutan sepertimu?"
"Ya
mereka ketakutan sekali, dan yang paling parah si wanita berbaju merah menangis
histeris dan hampir pingsan, ada yang bilang dia sangat takut pada zombi"
"Apa
kau tahu siapa yang kembali paling terlambat?"
"Aku
tidak tahu"
"Berapa
lama kau duduk di kursi?"
"Sekitar
limat menit, dan setelah itu aku pulang karena perutku tidak mual lagi"
"Kau
tidak tahu ada petugas yang datang dan memberitahu bahwa telah terjadi
penembakan?"
"Kalau
itu saya tidak tahu sama sekali"
Sir
Charles sejenak berpikir. Ia sudah menemukan keputusan untuk Miss Meredith.
"Ya,
tidak ada alasan lagi bagiku untuk mencurigai anda"
"benarkah?
Oh Thanks, God"
***
Adry
bertemu kembali dengan Edgar di kampus. Ada sedikit perubahan pada Adry, hari
ini terlihat begitu semangat dari biasanya, dia antusias menceritakan
penyelidikannya pada Edgar, padahal Edgar sendiri heran biasanya Adry tidak
terlalu buka-bukaan dengan kegiatannya di kepolisian karna takut ada yang
dengar bahwa ia seorang detektif.
"Ya,
jadi intinya kau seperti menunggu wanita yang membuatmu penasarankan, kau tau
itu seperti saat kau sedang jatuh cinta dengan wanita yang menarik perhatianmu
karena dia misterius" Ucap Edgar.
"Aku
tidak bilang jatuh cinta padanya, aku hanya penasaran karena dia menarik
perhatianku dengan cara dia membunuh"
"Yah,
tipe macam apapun si pembunuh itu asalkan dia jangan membuatmu jatuh cinta,
jika dia membuatmu jatuh cinta, aku benar-benar tidak bisa membayangkan apa
yang akan terjadi nanti" Ucap Edgar.
"Ah
kau ini"
"Ngomong-ngomong...
Aku rasa dia juga akan membuatmu penasaran, kau bilang kau akan menemuinya
langsungkan?" Edgar menunjuk kepada seorang gadis yang berjalan di depan
mereka.
"Dia?"
"Phoeby,
mahasiswi baru itu"
Adry
memperhatikan Phoeby yang membelakanginya, ia pun mengikuti langkah Phoeby dan
memanggilnya.
"Hei,
Nona" Panggil Adry. Phoeby menghentikan langkah, lalu ia melanjutkannya
lagi.
"Aku
memanggilmu"
Langkah
Phoeby semakin cepat, Adry mengimbanginya, lalu menarik lengannya.
"Don't
touch me!" Phoeby menghempaskan tangannya, namun tanpa sengaja tangannya
melayang ke arah pipi Adry, dan ia sedikit tersungkur.
"Ah!"
"Oh
God!" Edgar terkejut, namun ia jadi ingint ertawa.
Phoeby
terkejut setengah mati. Dilihatnya pria itu sedikit menoleh ke belakang efek
tangannya yang tak sengaja menampar pipi pria itu.
Adry
mengusap darah di bibirnya.
"Oh
my God, I,m sorry, aku tidak sengaja, maaf-maaf" Kata Phoeby memohon,
namun wajahnya tertunduk seakan tak ingin di tunjukkan. Phoeby pergi begitu
saja meninggalkan Adry.
Lalu
Edgar datang menertawakan Adry..
"Berisik"
Ucap Adry.
"Sudah
kubilang dia itu sulit di tangani"
"Apa
dia juga menamparmu?"
"Tidak,
hanya saja dia sulit diajak bicara, hei, dia maniskan? Apa kau tertarik
padanya?"
***
Saat
pulang kuliah Adry kembali memanggil Phoeby. tapi Phoeby tak terlalu
menanggapinya sampai Adry berhasil menjejaki langkahnya.
"Ada
perlu apa?"
"Aku
perlu bicara padamu, ini soal penculikanmu beberapa minggu lalu"
"Kenapa
kau ingin tanyakan itu?"
"AKu
perlu petunjuk darimu"
"Aku
tidak ingin membahasnya,
aku sudah selesai dengan itu semua"
"Ayolah,
aku seorang detektif, aku sedang membantu kepolisian dalam kasus pembunuhan,
dan aku rasa kasus ini ada hubungannya dengan pembunuhan polisi palsu itu"
Phoeby
menggelengkan kepala, ia tampak tak mengerti dengan apa yang dikatakan Adry.
"Aku
tidak punya waktu" Phoeby pergi.
"Kau
pembunuhnya" Ucap Adry, Phoeby menghentikan langkah dan kembali berbalik.
"Kau
bilang apa?" Tanya Phoeby dengan muka datar.
"Kau
pembunuhnya"
"Aku
bukan pembunuhnya, bagaimana bisa aku seorang pembunuh, aku sudah selesai
dengan kepolisian, dan kepolisian sudah membebaskanku dari tuduhan itu"
"kalau
begitu buktikan sekali lagi dengan intogasi ringanku"
Phoeby
menghembus nafas berat. Ia tahu Adry menuduhnya sebagai pembunuh agar ia
menuruti semua keinginannya. Mereka pun pergi ke cafetaria untuk berbicara
berdua.
Seorang
waitress menyodorkan vanilla latte dan capucchino di meja. Phoeby langsung
mengambil vanilla lattenya, bukan untuk di minum, hanya memegang cangkirnya
dengan kedua tangannya. Ia menghangatkan tangannya yang dingin dan menempelkan
ke cangkir panas itu.
"Kau
tampak kedinginan, apakah di Swiss tidak sedingin ini?"
"Hem"
Balas Phoeby, yang tatapannya tertuju pada vanilla latte di cangkirnya.
"Jangan
tegang, aku tidak akan mengajukan pertanyaan sulit, lagipula aku sudah tahu
hasil interogasi dengan Sir Charles, dan aku tidak akan mengajukan pertanyaan
yang sama"
"lalu
apa yang akan kau tanyakan lagi padaku?"
"Apa
kau merasakan kehadiran orang asing saat penjahat itu sedang berkelahi?"
"Itu
pertanyaan yang sama"
"Apa
kau yakin dengan jawabanmu?"
Phoeby
terdiam.
"Melihatmu
diam kau seperti orang yang mencurigakan"
"Aku
tidak merasakan ada orang asing, yang ku tahu aku mendengar suara berisik
seperti lemparan gelas dan aku tak pernah tahu apa yang sedang diperbuat
mereka" Jawab Phoeby.
"Apa
kau merasakan ada orang asing?"
"Kenapa
kau mengajukan pertanyaan itu lagi!" Suara Phoeby meninggi. Dan itu
mengundang perhatian banyak orang di cafetaria. Adry menatapnya serius.
Nafas
Phoeby memburu.
"Baiklah,
aku akan menjawabnya dengan jujur, dan aku belum pernah mengatakkannya pada Sir
Charles" Phoeby mengakui.
"Ya,
katakan saja"
"Aku
mendengar suara tembakkan beberapa kali, dan setelah itu keadaanpun menjadi
hening, aku rasa tidak ada yang hidup lagi di antara mereka, tapi ada sesuatu
yang membuatku takut, aku mendengar suara langkah kaki, seperti suara sepatu
but. Dia semakin mendekat, dan saat itu...." Phoeby berbicara tak karuan
dan tanpa jeda sedikit pun. Nafasnya semakin memburu dan terlihat ketakutan.
"Dia
mengusap pipiku, dan dia berkata..." Lanjut Phoeby.
"Ya?"
Tanya Adry penasaran.
"Dia
bilang mereka pantas mati, nyawa harus di bayar dengan nyawa, dia menyuruhku
untuk tidak mengatakkannya pada polisi, karena dia bilang dia akan melakukan
pembunuhan yang lebih misterius lagi"
"Apa"
"Setelah
itu dia menjauh, aku tidak mendengar dia membuka pintu keluar, aku tidak tahu
dia pergi ke arah mana, yang jelas dia sudah tidak ada disana lagi, dan sepuluh
menit kemudian ibuku datang bersama polisi"
"Sudah
kuduga, pembunuhan di labirin itu pasti dia pelakunya, seorang perempuan,
ya"
"Ya,
dia memang seorang perempuan"
"Kau
terlambat mengatakkannya, Phoeby" kata Adry dengan nada curiga.
"Dia
sudah melarangku untuk tidak mengatakkannya pada siapapun, dan sekarang aku
mengatakkannya pada seorang detektif yang akan memecahkan kasus pembunuhan,
katakkan, apa setelah ini aku akan aman, jika pembunuh itu membunuhku apa yang
akan kau lakukan?"
"Pertanyaanmu
kritis sekali. kau menanyakan apa yang akan aku lakukan jika pembunuh itu
membunuhmu, tentu saja, aku akan menemukannya dan mengeksekusinya" Jawab
Adry.
Phoeby
tak berkata apa-apa lagi.
"Tenang
saja, wanita itu menyuruhmu untuk tidak mengatakkannya hanya pada polisi, dan
aku bukan anggota FBI atau CIA, jadi kau tidak salah"
Phoeby
menyeruput vanilla lattenya, tubuhnya perlahan menghangat. sesekali ia
curi-curi pandang menatap pria di
hadapannya yang sedang meminum capucchinonya juga. Dia pria yang tampan, dan
pintar, juga memiliki siluet yang indah saat pria itu menghadap ke arah
samping, meski begitu menurut Phoeby dia tidak cocok menjadi seorang detektif,
karena dia lebih memenuhi kriteria sebagai seorang model atau aktor.
"Apa
sudah selesai? Aku harus pulang" Kata Phoeby,
"Aku
akan mengantarmu"
"Tidak
perlu, aku sudah mengirim pesan pada ibuku untuk menjemputku disini"
"Baiklah,
Phoeby, terimakasih, maaf sudah mengganggu waktumu"
"Tidak
apa-apa, lagipula... bukankah lebih baik jika aku mengatakkan hal yang
sebenarnya padamu. Setidaknya ini bisa membantumu mencari si pembunuh itu, aku
harap kasus ini segera terselesaikan"
"Ya,
semoga saja"
"Apa
kau masih mencurigaiku sebagai pembunuh?"
"Tentu
saja tidak, maaf dengan perkataanku tadi siang, itu hanya untuk menarikmu agar
kau bersedia berbicara denganku"
"Ah,
sudah kuduga" Phoeby tertawa kecil.
Adry
tiba-tiba terpaku, barusan Phoeby tertawa, ternyata gadis yang sering di sebut
suram dan antisosial itu bisa tersenyum, dan ia tidak menyangka Phoeby memiliki
senyuman yang sangat manis. Tapi senyuman itu hanya sekejap, Phoeby kembali
murung seperti biasa.
"Adry,
jika kau menemukan pembunuhnya, bisakah kau memotretnya dan menunjukan fotonya
padaku, sebenarnya aku penasaran siapa yang sudah menyelamatkanku malam itu,
aku sangat ingin tahu rupanya"
"Aku
akan meminta kepolisian untuk mengizinkanmu bertemu dengannya"
"Kalau
begitu aku akan mengucapkan terimakasih padanya"
"Phoeby,
kau tak perlu mengatakan hal itu pada seorang pembunuh"
"Aku
tahu dia pembunuh, mungkin dia sudah membunuh banyak nyawa dari yang kita duga,
tapi tidak selamanya pembunuh selalu membunuh, dia pasti pernah melakukan hal
yang baik pada orang lain, termasuk menyelamatkan nyawaku waktu itu"
"Baiklah,
akan kuusahakan kau bisa bertemu dengannya"
Phoeby
melihat ke arah luar, mobil sedan silver berhenti di depan cafe. "Ibuku
sudah sampai, aku pulang dulu"
"Hem"
***
Jam
menunjukkan pukul sepuluh malam, Mr. Albert masih sibuk dengan komputern di
ruangannya. Ia tampak kelelahan terlihat dari guratan wajahnya yang sudah mulai
menua. Ia adalah seorang kepala perusahaan Yotsuba, yang sedang menyiapkan
materi presentasi besok diacara meeting dengan rekan kerjanya.
Konsentrasinya
tiba-tiba terganggu setelah mendengar suara berisik di luar ruangan. ia pun tak
menanggapinya, tanpa sengaja ia menjatuhkan pulpen ke bawah meja, lalu ia
membungkuk untuk mengambilnya, saat kembali tegak, ia terkejut kedatangan
seseorang berpenampilan misterius sudah berada diruangannya.
"Siapa
kau?" Tanya Mr. Albert ketakutan.
Yang di
ajak bicara menodongkan pistol dan menarik pelatuknya untuk bersiap menembak.
manusia misterius itu berpakaian serba hitam, ia mengenakan jubah panjang yang
menutupi kepalanya sehingga wajahnya tak terlihat.
"Seseorang
yang akan membunuhmu"
"Apa,
ti-tidak" Mr. Albert mengangkat tangannya.
Peluru
itu pun menembus kening Mr. Albert dengan seketika ia mati dan tubuhnya terjatuh
di kursi putarnya. Wanita itu mendekat, lalu meletakkan setangkai bunga mawar
putih di meja.
Pagi itu,
warga di buat geger dengan kematian Mr. Albert di tempat perusahaannya. Mayat
Mr. Albert barusaja dimasukkan ke dalam mobil ambulance dan di bawa ke rumah
sakit untuk di autopsi. Sir Charles bersama rekan FBI tampak sibuk menangani
kasus ini.
Phoeby
yang tengah berjalan di trotoar sempat melihat aktivitas kepolisian di depan
halaman perusahaan, ia juga melihat Sir Charles dan Mr. Despard yang sedang
berbincang.
"Apa
yang sudah terjadi?" Tanya Phoeby bertanya pada salah seorang penduduk
setempat.
"Seseorang
membunuh Mr. Albert, pemimpin perusahaan Yotsuba tadi malam" Jawab wanita
berumur paruh baya itu.
Phoeby
berbalik arah untuk kembali pulang, di tengah jalan sebuah mobil berhenti, dan
Adry keluar untuk menghampirinya.
"Kenapa
kau balik lagi?" Tanya Adry.
"Adry,
aku takut, pembunuhan terjadi lagi, kali ini pemimpin perusahaan Yotsuba"
"Aku
tau, aku mendengar kabar ini tadi pagi, Mr. Despard mengirim pesan padaku. Tapi
aku tidak akan pergi ke perusahaan sekarang, ayo, kita berangkat ke kampus
sama-sama" Kata Adry.
"Tidak"
"Phoeby..."
Adry memegang kedua bahunya. "Aku akan melindungimu, tenang saja, tidak akan
terjadi apa-apa"
"Bagaimana
aku bisa yakin, sementara kemarin aku sudah mengatakan hal yang sebenarnya
padamu, bagaimana kalau pembunuh itu tau bahwa aku membocorkan rahasia ini
padamu"
"Dia
tidak akan tahu bahwa kau mengatakkan hal sebenarnya padamu, meski dia tahu
bahwa kau sudah mengatakkannya pembunuh itu tidak akan membunuhmu. Nyawa di
bayar dengan nyawa. kau tidak pernah membunuh, Phoeby, dia tidak akan
melakukannya padamu"
Phoeby
merasa tenang saat Adry mengatakan hal itu.
"Ayo,
kita berangkat" Adry mengajak Phoeby masuk ke dalam mobil.
***
"Aku
tersesat di labirin dan tidak bisa menemukan jalan keluar, bagaimana bisa aku
membunuh menteri raja!" Bentak gadis itu yang tampak tak terima di
interogasi dengan berbagai macam pertanyaan yang di lontarkan Mr.Despard.
"Baikla,
baiklah, kau bisa menjawab pertanyaanmu tanpa berteriak, jika kau terus
berteriak kau akan ku tetapkan sebagai tersangka"
"Apa!!"
Mr.
Despard yang sibuk menginterogasi lain halnya dengan Sir Chales yang kelabakan
menangani kasus pembunuhan selanjutnya.
"Bunga
mawar identik dengan seorang perempuan, bisa jadi si pembunuhan ini dilakukan
oleh orang yang sama di labirin itu"
"Mengapa
harus mawar putih?"
"Entahlah,
mawar putih diartikan sebagai lambang cinta dan keagungan hati. Pasti ada
alasan tertentu yang tidak kita ketahui mengapa si pelaku meletakan bunga mawar setelah ia
membunuh"
"Permainan
macam apa ini"
"Apa
si pembunuh mencoba memberi pesan kepada kita? Tapi apa artinya?"
"Aku
yakin pelakunya orang yang sama dengan pembunuhan di labirin itu. Semua akan
terjawab secara akurat setelah usai interogasi seluruh wanita kandidat"
Kata Sir Charles.
***
"Sial,
aku tidak menemukan namanya" Ucap Adry, tampaknya hasil pencarian di
komputer tidak ada penduduk Kanada yang bernama Amanda Milray yang berumur 20
tahun. Adry menghempaskan punggungnya di senderan kursi putar, selama lebih
dari dua jam ia berada di depan komputer hanya untuk mencari satu nama.
"Kalau
kau tidak menemukannya sampai saat ini, aku akan membantumu, ingat batas
penyelidikkan kita tiga minggu lagi, jika kita tak menemukan pelakunya maka
kasus ini akan di hapus dan kita tidak akan pernah tahu siapa pelaku
pembunuhannya" Kata Mrs. Daniel.
"Aku
tidak akan menyerah"
"Oh
ya. hasil inteogasi dari keenam orang mereka tidak terbukti bersalah. sisanya
wanita labirin nomor tiga, lima,tujuh dan sepuluh. Sir Charles, Mr. Morgan dan
Mr. Despard akan mengurus ketiga wanita itu, dan aku akan membantumu mencari si
nomor sepuluh" Kata Mr. Daniel. "Baiklah, apa yang akan kau lakukan
selanjutnya"
"Tidak
ada. Aku masih menunggu kabar dari salah satu penduduk di St. Petroch Loomouth.
Dia bilang Amanda Milray pernah kesana, dan dia akan menghubungiku jika dia
kesana lagi"
"Dia
wanita menyusahkan"
Lalu
pintu ruangan di ketuk seseorang dari luar. Mr. Daniel membukanya. Seorang polisi
wanita dengan seseorang pria berumur 30-an membawa sebuah DVD.
"Dia
membawa petunjuk baru" Ucap polwan itu.
Mr.
Daniel memutar DVD itu di komputer, Adry bersama polwan dan pria bernama Eric
ikut menyaksikan apa isi dari sebuah rekaman CCTV itu.
Layar
komputer mempelihatkan sebuah sudut ruangan hinggga sepuluh detik kemudian
sekelebat manusia berjubah hitam berjalan ke ruangan yang lain.
"Bisa
tolong jelaskan?" Tanya Mr. Daniel.
"Ya,
itu ruangan karyawan dan karyawati, tepat di depan ruangan Mr. Albert, karena
CCTV itu dalam posisi tidak tepat jadi hanya sudut itu saja yang terekam.
Sepertinya memang si pembunuh itu menuju ruangan Mr. Albert" Jelas Eric.
"Ada
berapa jalan menuju kesana?" Tanya Mr. Daniel, yang terus mengulang
rekaman itu
"samping
kiri, kanan, depan, dan belakang, namun pintu di belakang sedang rusak sehingga
tidak ada orang yang berhasil masuk kesana, ya, kemungkinan dia mengambil jalan
dari arah antara ketiga pintu" Balas Eric.
"Miss
Jeany, aku dengar kau ahli mikroekspresi, apa kau bisa membaca gerak-gerik
orang ini?"
"Ya,
setelah kuperhatikan baik-baik, dia berjalan dengan langkah kecil, namun
seperti terburu-buru, tapi dia tidak terlihat waspada dengan disekitar, dia
sangat percaya diri. Tapi- Tunggu, Mr. Daniel bisa kau pause dulu saat dia
muncul?" Pinta Mr. Jeany.
Mr.
Daniel mengulang video, dan memijit tombol spasi. Video itu memperlihatkan saat
pelaku itu muncul di kamera.
"Perbesar
di area wajah" Pinta Mr. Jeany. Gambar itu di perbesar di area wajah meski
tertutup dengan tudung jubah, tapi masih terlihat di bagian dagu dan hidung,
namun tidak begitu jelas.
"Itu
seorang perempuan"
"Ya,
aku pikir juga begitu" Kata Mr. Daniel.
"Dagunya
terlihat panjang, sepertinya
efek dia sedang tersenyum dengan mulut yang sedikit terbuka, ini menandakan,
seolah kematian Mr. Albert akan membuahkan hasil bagi dirinya sendiri"
Kata Jeany.
"Jika
kau benar, maka bisa dipastikan dia pembunuh bayaran yang disewa oleh salah
satu perusahaan besar" Tiba-tiba Eric berasumsi.
Lalu
semua memandang Eric dengan tatapan aneh.
"Itu
tidak menutup kemungkinan, tapi apa keuntungan baginya?" Tanya Adry.
"Eeuu
ituu, entahlah" Jawab Eric bingung.
"Oh
ya ada sesuatu yang mengganjal, perbesar tangannya" Pinta Adry, lalu video
memfokuskan dan memperbesar di area tangan, si pembunuh menggunakan sarung
tangan dengan membawa pistol api.
"Ini
pistol yang dia bawa, dia menggunakan sarung tangan agar tidak meninggalkan
sidik jari" Ucap Mr. Daniel.
"Sepertinya
pembunuhan ini dipersiapkan secara matang dan terencana, tapi... dari mana dia
tahu bahwa Mr. Albert masih berada di kantornya?" Ucap Mr. Jeany, semuanya
tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Petunjuk masih samar-samar, tapi
setidaknya mereka sudah tau bagaimana rupa si pembunuh itu.
Di tengah
keheningan semua dikejutkan dengan dering ponsel Adri disakunya. Nomor asing
menghubunginya, Adri pun memijit tombol terima dan menempelkan ponselnya di
telinga kiri.
"Ya?"
Tanya Adri.
"A-Adri..."
Itu suara seorang wanita, namun bagi Adri suara itu tidak asing lagi di
telinganya.
"Phoeby?"
"Adry,
tolong aku" Suara Phoeby gemetaran
"Kau
ada dimana?"
"Toserba,
di distrik ketiga"
"Aku
harus menjemput seseorang" Adri menyambar kunci mobilnya di meja, lalu
meninggalkan ruang kantor CIA.
***
"Phoeby"
Panggil Adry.
"Adry"
"Ada
apa?"
"Laki-laki
itu,aku tidak tahu sejak kapan dia mengikutiku, tapi aku baru menyadari saat
berada di Mademoissel, dan dia mengikutiku sampai kesini" Phoeby menunjuk
ke arah pria yang berdiri di dekat gang yang berada sepuluh meter dari arah
toserba.
"Sudah
berapa lama kau disini?"
"Sudah
tiga puluh menit yang lalu"
"Kalau
begitu dia benar-benar menguntitmu"
"Aku
tidak tahu harus bagaimana selain menghubungimu, telpon ibuku sedang tidak
aktif, aku hanya mempunyai dua nomor di ponselku, kau dan ibuku"
"Tenang
saja, kau sudah bersamaku sekarang, ayo kita pulang" Adry menggamit tangan
Phoeby, dan membawanya keluar.
"AKu
takut dia bertindak macam-macam, bagaimana jika pria itu berbahaya
"Jika
dia bertindak macam-macam aku akan menghajarnya, yang penting sekarang aku
harus mengantarmu pulang, kau akan aman setelah berada di rumah"
Mobil itu
mengantarkan tempat dimana Phoeby tinggal, barulah lima belas menit kemudian
mereka sampai di Crow's Nest sederhana di sekitar Green Lock Street.
"Jadi
ini rumahmu" Ucap Adry saat mengantarkan gadis itu sampai di depan pintu.
"Hem,
jika kau tidak sibuk, kau bisa mencicipi poutline dan sandwich buatanku"
***
Ketika
Phoeby sibuk mengeluarkan belanjaannya di dapur, Adry yang berada di ruangan
keluarga memperhatikan sekeliling ruangan. Jika dari luar rumah ini terlihat
kecil, tapi berbanding terbalik dengan yang di dalam, ruangan ini terbilang
sangat luas, namun tidak terlalu banyak barang disana. Hanya beberapa sofa
santai di depan televisi, sebuah patung seorang wanita di bawah tangga, dan
lukisan yang menghiasi dinding.
Adry
mendekat dan memperhatikan lukisan itu. Tidak terlalu memiliki nilai seni
tinggi, tetapi meninggalkan kesan di dalamnya. Lukisan wajah seorang wanita
dengan mata terpejam namun menjatuhkan air mata di pipinya, wajah itu
menengadah ke langit. Adry membaca tulisan kecil di sudut kiri kanvas.
A.M,Swiss, .
Adry
kembali memperhatikan lukisan itu, mirip wajah Phoeby. Hidungnya dan dagunya
tampak tidak asing baginya jika dilihat dari samping. Gadis itu benar-benar
cantik. Batin Adry.
"Apa
itu lukisanmu?"
"Oh
lukisan itu? Itu memang wajahku, tapi bukan aku yang buat. Di sudut kiri kau
akan menemukan tulisan AM, Swiss, 20-7-2014"
"Ya
aku melihatnya"
"Angel
Mademoissel, salah satu teman kampusku di Swiss, ah tidak, aku tidak punya
teman, pokoknya saat itu sedang praktik melukis, entah mengapa dia melukis
wajahku, dia bilang itu hanya iseng dan mengejekku lewat lukisan. Aku yang
pemurung yang menengadah ke arah langit seakan mengharapkan sebuah kebahagiaan.
Entah kenapa aku malah menyukainya, dan dia memberikanku lukisan itu seperti
sampah"
"Dan
aku akan bertanya padamu, kenapa kau tidak pernah memiliki teman dan bersikap
antisosial, Phoeby"
Phoeby
mengangkat bahu "Aku sulit menjawabnya"
"Katakan
saja apa yang kau rasakan"
"Aku
memiliki masalalu yang buruk, ini ada hubungannya dengan kepindahanku ke
Kanada. Dari sejak kecil aku hidup di bawah asuhan ayahku yang otoriter, dengan
sikapnya yang keras itu dan sempat menyiksaku, akhirnya aku terbiasa begini.
Menurutku hidup dengan seseorang akan menyusahkan, berbeda dengan hidup
sendiri, serasa bebas melakukan apapun"
"Kenapa
orang tuamu...- ah tidak, aku tidak akan menanyakannya terlalu jauh, aku tau
kau tidak ingin mengatakkannya padaku, iyakan?"
"Hem,
terlalu rumit, itu membuatku kembali ke masalalu"
"Aku
mengerti"
"Oh
ya, bagaimana dengan penyeledikanmu, sudah ada kemajuan?" Tanya Phoeby.
"Ya,
sudah ada beberapa petunjuk, aku sempat kelabakan mengurusnya, masih di bawah
lima puluh persen untuk menemukan jawaban siapa pelakunya"
"Lalu
bagaimana dengan pembunuhan di perusahaan Yotsuba itu? Apa disana juga
menemukan petunjuk?"
"Dia
menyimpan bunga mawar putih di meja Mr. Albert, tapi kepolisian belum menemukan
motif pembunuh dan arti dari mawar itu"
"Petunjuk
yang aneh, pembunuh menyimpan bunga mawar itu adalah hal yang langka"
Adri
tertawa kecil "Ya, kau benar"
"Kau
tampak mahir memainkan pisau ya" Ucap Adry dengan nada yang dibuat curiga
saat melihat tangan terampil mengupas kulit kentang.
"nadamu
itu seperti menuduhku seorang pembunuh" Balas Phoeby dengan nada bercanda.
Lalu ia mencuci tangannya di wastafel.
"Oh
ya" Phoeby berdiri tepat di hadapan Adry, gadis itu sedikit mendongak
memandang Adry dan menatapnya dengan wajah manis. "Kau adalah seorang
detektif yang menyelidiki kasus pembunuhan, tapi kau bukan FBI atau CIA,
katakan apa yang akan kau lakukan jika aku adalah pembunuh itu, aku ingin
tahu?"
Adry
menatap balik gadis itu. Menatapnya lama.
"Aku
akan menciummu"
Phoeby
tertawa renyah "Jangan bercanda"
"Kau
juga sedang bercanda"
"Ya
aku tahu-aku tahu,,, jika aku adalah pembunuh, kau akan mengeksekusiku tanpa
ampun, kau akan mengambil pistolmu dan menembakkannya tepat dikepalaku, atau
kau..."
"Atau
aku akan membunuhmu dengan pisau dapur" Adry melanjutkan.
"Ya-ya
kau benar" Phoeby tertawa.
"Kau
bahagia denganku"
Tiba-tiba
tawa Phoeby terhenti.
"Aku
penasaran kapan kau terakhir tertawa seperti itu, Phoeby. apa kau sering
tertawa?" Tanya Adry sambil menatapnya dalam-dalam. Lalu menggenggam kedua
tangan Phoeby yang dingin.
"Sejak
pertama bertemu denganmu, sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan wanita yang
antisosial, dia terlihat angkuh dan egois, aku tahu kau memiliki sikap seperti
itu, kadang aku ingin kau bisa tersenyum kepada orang-orang disekitarmu, dan
mencoba berbicara banyak pada orang yang peduli padamu. Aku ingin kau
melakukannya, tapi setelah aku sadar, aku ingin hanya aku yang tahu senyuman
itu, aku hanya ingin hanya aku yang tau suara tawamu, aku ingin memilikinya,
hanya aku, Phoeby... aku jatuh cinta padamu. Jangan berikan senyuman itu pada
orang lain, kecuali aku"
"A-Adry"
Wajah
Adry tepat di depan wajahnya, sepertinya sebentar lagi akan terjadi sesuatu.
Phoeby bisa merasakan nafas Adry yang hangat, dan tangannya menggenggam erat.
"Jangan
jatuh cinta padaku" Ucap Phoeby pelan.
"Aku
sudah jatuh cinta padamu, dan aku tidak ingin kau melarangku"
"Tidak,
aku mohon jangan jatuh cinta padaku. Pada akhirnya kau hanya akan menyakitiku
Adry, semua pria selalu menyakiti wanita, seperti yang dilakukan ayah padaku dan ibuku"
"Kenapa
kau beranggapan seperti itu Phoeby, kau tidak tahu apa arti cinta sesungguhnya,
kau barusaja tertawa denganku, aku tahu kau bahagia jika aku berada di dekatmu,
iyakan"
Phoeby
terdiam.
"Aku
tahu kau kesepian selama ini karena selalu sendiri. Aku mohon, beri sedikit
ruang untukku" Adry memegang pinggang gadis itu, dan memberikan ciuman
lembut pada bibirnya.
Keduanya
di kejutkan saat pintu depan yang di buka. Laurent barusaja sampai dan tak
sengaja menyaksikan adegan mengejutkan itu di dapur. Tapi Laurent berusaha
bersikap tenang kepada mereka, padahal dalam hati ia senang, akhirnya Phoeby
yang pemurung bisa jatuh cinta.
"Aku
pikir siapa, tidak biasanya ada mobil yang terparkir di depan" Ucap
laurent dengan ramah.
"Mom,
kau sudah pulang, hemm... ini Adry dia teman kampusku, Adry dia ibuku"
"Adry"
Mereka
berjabat tangan.
"laurent.
Teman?" laurent bertanya sesuatu.
"Hem
ya, kami barusaja berpacaran" ucap Adry.
"Tidak-
kami tidak pacaran, Mom, yang barusan itu...-"
"Ah
syukurlah, mama tidak menyangka pria setampan ini akan menjadi pacarmu, mama
senang mendengarnya"
"Tidak-"
Phoeby berusaha mengelak.
"Uh,
aroma poutline, apa kau membuat poutline?" Laurent mengalihkan pembicaraan
seraya berjalan ke dapur. Dimeja tersaji sepiring besar kentang dengan taburan
keju dan tiga sandwich yang cukup mengenyangkan.
"Ya,
aku membuatnya dengan Adry, aku sengaja membuatkan tiga sandwich untuk
kita"
"Baiklah,
malam ini kita akan makan bersama" Laurent dengan antusias membawa makanan
itu ke ruang keluarga sambil menyalakan televisi.
***
Hujan
deras di luar belum juga berhenti. Hawa dingin yang menyeruak akhirnya membuat
Restoran di sekitar Maam Cross menjadi sasaran orang-orang untuk sekedar
menunggu hujan reda sambil meminum
coffe.
Sir
Charles menyimpan makanannya di atas meja, Shish Taouk dan smoked meat sandwich
siap dilahap oleh Inspektur paruh baya itu. Ia mengambil potongan daging dengan
garpu lalu menjejalkannya ke dalam mulut.
"Disini
sangat ramai sekali, aku hampir kehabisan tempat duduk" Ucap pria asing
bertopi bundar dan mengenakan mantel yang sangat tebal. Sir Charles menatap
tajam, menurutnya itu sangat tidak sopan seorang yang duduk tanpa dipersilahkan
dahulu.
"Aku
melihatmu di televisi, sepertinya FBI dan CIA sangat sibuk akhir-akhir
ini" Ucap pria asing itu, setelah menyadari bahwa Sir Charles berseragam
kepolisian. Sir Charles tak menaggapi, ia hanya tidak suka di ganggu saat
makan, apalagi saat dirinya - dan Shish Taouk favoritnya.
"Tapi
sepertinya kasus ini sulit untuk dipecahkan,bukan?" kata pria asing itu.
"Jika
ingin bicara denganku tunggu sampai aku menyelesaikan makananku" Balas Sir
Charles tanpa memandangnya.
Pria
asing itu tertawa "Kau terlalu santai dalam menangani kasus ini, tidak
kusangka, FBI dan CIA kelabakan hanya dengan satu orang wanita"
Sir
Charles menatap wajah pria itu dengan serius. "Apa maumu?"
"Baiklah,
untuk membuatmu jelas" Pria itu menyerahkan identitasnya "Aku anggota
kepolisian"
Sir
Charles menatap identitas kepolisian itu di meja. Namun identitas itu bukan
dari negara Kanada. Sir Charles kembali memandang pria asing itu.
"Aku
sedang menjalankan tugas, ah, kau pasti kenal dengan foto ini" Pria asing
itu meletakkan sebuah foto di meja.
"Kau
pasti kenal dengan orang ini, dan setelah memperlihatkan foto ini kau pasti
tahu aku berasal dari kepolisian mana" Kata pria itu mengejutkan Sir
Charles, namun Sir Charles tak menunjukkannya. "Dia adalah buronan kami.
Pembunuh bayaran yang sangat profesional dalam hal menembak"
Lama, Sir
Charles memandang foto itu.
"Dia
satu-satunya anak buah Pater Kardinal Rooney dan teman-temannya berjumlah 3
orang. Pater tersangka yang sudah kami bebaskan 15 tahun yang lalu, dia
terbukti melakukan pembunuhan dan perampokkan di sebuah bank. Dan untuk
melanjutkan kejahatannya dia merekrut gadis ini untuk melakukannya" Jelas
pria itu.
"Ayo,
kita bekerja sama mencarinya. Amanda Milray" Lanjut pria itu.
***
Istana
kaisar bukan main megahnya, bangunan yang berdiri beberapa hektar itu tampak
bersinar di pinggir kota. Istana itu menjadi pusat perhatian banyak orang. Ya,
malam ini banyak sekali orang yang berdatangan, para pejabat tinggi dan tokoh
ternama mendatangi istana untuk merayakan sebuah pesta yang di adakan oleh
Freddy Sanders. Pesta yang diadakan setiap satu tahun sekali tepat di musim
dingin. Pesta ulang tahun Freddy Sanders.
"Selamat
berulang tahun, Yang Mulia" Seorang pejabat tinggi menjabat tangan Freddy
dengan bangga. "Ah, dan Nyonya Sanders" ia juga menjabat istri
Freddy.
"Thank
you" Ucap Nyonya Sanders ramah. Dia wanita berumur setengah abad,
mengenakan gaun yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang masih segar di pandang
mata. Dia sangat perfeksionis dalam hal apapun terutama penampilannya, karena
hal itulah dia masih saja cantik dan garis-garis keriput di wajah nyaris tak
terlihat.
Mereka
berbincang selama beberapa menit dan berfoto bersama. Nyonya Sanders
memperhatikan anak semata wayangnya yang berdiri di samping jendela, sedari
tadi ia seperti menunggu seseorang. Nyonya Sanders mendekat.
"Jangan
hanya berdiri saja, kau bisa berdansa dengan gadis cantik yang berada
disini" ucap Nyonya Sanders.
"Aku
sedang menunggu seseorang, Mom" ucap Adri.
"Dia
pacarmu?"
"Entahlah"
Nyonya
Sanders tertawa kecil "Apa gadis itu menolakmu?"
"Dia
belum merespon apa-apa, aku harap malam ini aku bisa menemukan jawabannya"
"Tidak
biasanya ada gadis yang tidak langsung menjawab pernyataan cintamu itu, aku
jadi penasaran gadis seperti apa dia, apa dia cantik?"
"Hem,
dia tipeku"
"Baiklah,
kenalkan dia padaku"
***
Adry
menyembunyikan seikat bunga mawar di balik punggungnya. ia menaiki tangga untuk
menuju ke lantai tiga. Phoeby, sudah menunggunya disana.
Sampai di
lorong yang terang benderang, dan angin semilir dari luar tampak Phoeby sedang
memandang ke arah luar, rambutnya sesekali tertiup angin menambah ketertarikan
siluetnya. Apalagi lekuk tubuhnya yang indah dengan balutan gaun sifon berwarna
putih tanpa lengan, membuat Adry semakin ingin memilikinya.
"Apa
kau menunggu lama?" Tanya Adry.
"Tidak,
maaf aku datang terlambat"
"Kau
pintar bersembunyi, aku menunggumu di bawah, diam-diam kau kesini sendirian
ya"
"Aku
hanya tidak suka keramaian, dan kalau aku menemuimu di bawah, sepertinya aku
akan jadi pusat perhatian"
"Dan
kau juga tidak suka diperhatikan banyak orang. Phoeby, banyak sekali yang tak
aku ketahui tentang kamu" Ucap Adri. Adry memperhatikan wajah Phoeby yang
sedikit bermake up, tidak terlalu tebal namun natural, bibirnya yang kecil
mengkilap dengan polesan lip gloss. Phoeby benar-benar cantik malam ini.
Adry
menyerahkan seikat bunga mawar merah pada Phoeby. Phoeby menatapnya tanpa
ekspresi, tapi lalu dia tersenyum.
"Aku
tidak menyangka kau bisa bertindak manis seperti ini. Tapi... aku tidak suka
mawar"
"Oh
ya? Sayang sekali. Baiklah, jika kau tidak menyukainya aku akan melemparnya
keluar"
Phoeby
menahan tangan Adry, lalu ia menerima bunganya "Tunggu, aku akan
membawanya. Hal yang langka menerima bunga dari seorang detektif"
Tiba-tiba
Adry menarik tubuh Phoeby ke dalam pelukannya.
"Mulai
malam ini kau adalah milikku, Phoeby"
Phoeby
terdiam sejenak.
"Sudah
ku bilang, jangan jatuh cinta padaku, Adry-"
Pelukan
Adry semakin erat. dan membelai rambutnya dengan sayang.
"Aku
tidak akan menyakitimu Phoeby, dan aku akan melindungimu. Percayalah"
"Janji?"
"AKu
berjanji"
"Aku
belum bisa memberimu jawaban, aku butuh beberapa menit untuk
memikirkannya"
Adry
melepas pelukannya. "Baiklah. Aku mau mengambil minuman dulu"
"Ya"
Adry
meninggalkan Phoeby di lorong, ia pun pergi ke lantai dasar untuk mengambil dua
gelas minuman. Tak di sangka, Sir Charles dan pria tak di kenalinya datang.
Mereka mengenakan stelan jas yang sangat rapi seperti tamu yang lain, dan itu
sangat membuat Adry terkejut.
"Sir,
kau datang juga?" Tanya Adry.
"Adry,
aku sama sekali tidak ingin merusak acara ini. Tapi... ini demi kebaikan kita
semua, aku sengaja datang kesini tanpa seragam kepolisian agar dia tidak
mengetahui bahwa CIA ada disini"
"Maksudmu
dia?"
"Aku
sudah menemukan si pembunuh misterius itu, dia ada disini, oh kenalkan dia Sir
Philips, partner baruku untuk membantu penyelidikan ini"
"Tunggu,
maksudmu apa, dia ada disini, siapa?"
"Amanda
Milray"
Adry
tertegun.
"Kau
juga mengenalnya dengan baik, Amanda Milray, ah, bukan, dia Phoeby. Ya, Phoeby
adalah Amanda Milray"
Adry
tertawa "Tidak jangan bercanda, malam ini aku dengan PHoeby sedang
berkencan, jangan membawa-bawa Phoeby dalam penyelidikkan"
"Kau
terlalu percaya padanya, aku membawa kepolisian dari Swiss, bukankah Phoeby
dari Swiss, benarkan? Dia mencari gadis itu, dia adalah buronan"
"Tidak-"
"Katakan
dimana dia?"
Adry, Sir
Charles dan Philips menuju balkon lantai tiga. Saat sampai langkah mereka
seketika berhenti. Dihadapan mereka, Phoeby dengan refleks menodongkan pistol
ke arah mereka, bersamaan dengan Sir Charles juga menodongkan pistol padanya.
"Phoeby"
Kata Adry pelan, ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Phoeby
menurunkan ponsel dari telinganya. Sepertinya seseorang sudah memberitahu
Phoeby bahwa Sir pHilips sedang mencarinya. Ya, Laurent memberitahunya. Setelah
Phoeby pergi ke pesta Sir Charles datang menanyakan Phoeby. Laurent pun di
tahan di kepolisian diam-diam ia menelpon Phoeby dengan ponsel yang ia
sembunyikan. Saat itulah Phoeby mengerti keadaan, ia akan bertemu Sir Philips
malam ini.
"Sir
Philips. Benar?" Tanya Phoeby tenang, namun terdengar angkuh.
"Senang
bertemu denganmu, Miss Milray" Balas Sir Philips.
Phoeby
mendesah sinis. "Aku terkejut kau bisa sampai kesini,"
"Tentu
saja, aku membawakan berita baik untukmu. Besok lusa, Pater akan di
eksekusi"
"Apa?"
"Apa
lagi yang akan kau perbuat? Atasanmu akan mati, akan lebih bagus kau juga
menyerahkan diri pada kepolisian, jangan menghancurkan keamanan negara ini,
Milray"
"Phoeby,
katakan, ini tidak serius kan, kau bukan Amanda Milray"
"Jangan
berkata polos seperti itu, detektif. Aku memang Amanda Milray, aku yang
membunuh polisi palsu di bangunan terisolasi ,labirin, dan yotsuba. Itu aku.
AKu memaklumi keterlambatanmu menyelidiki Amanda Milray, karna kau sama sekali
bukan anggota CIA. Kau sudah mengetahuinya sekarang, yang jelas aku sudah
melarangmu untuk jatuh cinta padaku, Adry Russel Sanders"
Entah
kenapa, meskipun itu Phoeby tapi Adry tak mengenal nada suara seperti itu. Itu
kebalikan dari sikap Phoeby yang lembut dan dingin. Sekarang dihadapannya bukan
Phoeby lagi, tapi Amanda Milray, gadis pembunuh yang selama ini ia cari.
Phoeby
menarik pelatuk tanpa ragu dan siap menembak mereka.
"Sir,
turunkan senjatamu" Pinta Philips pada Sir Charles. Sir Charles terkejut
dengan permintaan Philips itu.
"Dia
penembak profesional, dia bisa menembak dari sembarang arah dan selalu tepat
sasaran"
"Tidak
mungkin, wanita seperti dia bisa melakukan hal yang tak bisa dilakukan oleh
FBI" Balas Sir Charles pelan, ia pun menurunkan senjatanya.
Sir
Philips mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
"Ayo
lakukan" Ucap Sir Philips agar keduanya mengangkat tangan juga, Sir
Charles menurutinya, namun Adry masih tak percaya dan keras kepala.
"Phoeby-"
"Berbalik"
Ucap Phoeby.
"Dia
gadis berbahaya, ikuti saja kata-katanya" Ucap Philips, yang seakan tak
bisa berbuat apa-apa menghadapi gadis ini.
Ketiganya
berbalik membelakangi Phoeby, sementara itu Phoeby menurunkan senjatanya.
Sampai beberapa detik, tak terdengar suara dari belakang mereka. Saat mencoba
berbalik ke arah Phoeby,
dia sudah tidak ada disana lagi. Meninggalkan bunga mawar dan hand bagnya.
Sir
Charles menuju jendela dan memandang ke arah luar. Tidak ada Phoeby disana.
"Menghilang"
Adry
melesat menuruni tangga, diikuti Philips dan Sir Charles, tentu saja, untuk
mencari Phoeby.
Mereka
bertiga menyebar keseluruh ruangan dasar, untuk berjaga-jaga bahwa Phoeby tak
melakukan pembunuhan disini. Adry keluar dari istana memandang ke sekeliling
taman, tidak ada tanda-tanda Phoeby disana. Beberapa orang penjaga pun terlihat
aman mengawasi lingkungan.
"Apa
kau melihat gadis mengenakan baju putih yang keluar dari istana?" Tanya
Adry ke seorang penjaga keamanan istana.
"Kami
belum melihat tamu manapun yang keluar dari istana, Tuan muda"
Ia pun
mencari ke tempat lain disamping istana. Tidak ada Phoeby disana. Tak lama
datang Sir Charles dan Philips.
"Kau
menemukannya?" Tanya Philips.
"Dia
kabur dengan sempurna" Jawabnya.
"Gadis
itu benar-benar diluar logika. Bagaimana bisa dia melakukannya tanpa ada
jejak" Ucap SIr Charles.
"Ya,
ini salah satu alasan kenapa kepolisian Swiss tak pernah berhasil menangkapnya,
gadis itu seperti tikus yang pintar menyelinap dan bersembunyi" Kata
Philips
"Dia
belum lama pergi dari sini, ayo kita lanjutkan pencarian keluar istana"
"Aku
ikut" Ucap Adry.
"Tidak,
kau harus tetap berada di istana, gadis itu bisa berada dimana saja, jaga saja
ayahmu" Ucap Sir Charles.
AKhirnya
kedua polisi itu pergi dari istana dengan mobilnya.
***
Pagi itu,
Adri memandang seikat bunga mawar dan hand bag di meja. Melihat kedua benda itu
membuat hatinya terasa sakit, apalagi mengingat tadi malam Phoeby yang terlihat
polos tiba-tiba menodongkan pistol ke arahnya. Meski perasaannya hancur, tapi
Adry tetap konsisten menjalankan tugasnya, tentu saja, untuk memenuhi janji
pada ayahnya, menemukan dan mengeksekusi gadis itu.
Tiba-tiba
ponselnya bergetar. Nomor tak di kenal menghubunginya.
"Ya?"
Ucap Adry.
Mengetahui
isi pembicaraan seseorang di seberang Adry langsung mengambil kunci mobil dan
pergi meninggalkan istana, ia juga mengh
Hotel Rose Melfort adalah hotel yang paling sunyi di St. Mount Cambridge. Hotel megah yang bersembunyi di balik semak tinggi yang membentuk dinding, namun semak-semak itu di potong rapi seperti sengaja menyembunyikan hotel itu. Berseberangan dengan hotel yang terhalang oleh semak terdapat taman labirin yang luas, taman itu di setting sedemikian rupa membentuk sebuah bangunan tertutup.
Sementara
di depan pintu masuk labirin, beberapa orang wanita menunggu pintu masuk
labirin itu di buka. Ini permainan labirin berhantu, sebuah permainan yang di
adakan oleh Adry Russel Sanders, seorang anak kaisar terkemuka di Kanada. Sebut
saja ini permainan isengnya untuk menguji nyali para wanita yang berebut untuk
berkencan dengannya malam ini.
Seorang
wanita aneh menempati labirin nomor sepuluh setelah mengambil nomor dari
seorang pria yang duduk di meja sebagai pembimbing mereka.
Wanita
itu... datang paling terakhir yang membuat para wanita lain kesal, karena
keterlambatannya membuat permainan ini semakin di undur.
"Heu,
kostum macam apa itu" Ucap wanita yang berada di sampingnya, sementara si
lawan bicara tak menanggapi apapun, padahal ia sendiri merasa tak percaya diri
dengan kostumnya. Tidak, ini bukan kostum, tapi pakaian biasa yang sudah
ketinggalan zaman. Baju casual yang longgar, dengan rok berbahan katun yang
panjangnya di bawah lutut dan kaki yang di balut sepatu kulit berwarna coklat
tua, satu lagi, ia membawa tas selempang yang terlihat usang. Jelas kontras
sekali dengan para wanita lain. Mereka mengenakan baju dan sepatu yang bermerk
dan terlihat elegan, dan wajah bermake up seakan mereka telah siap membuka
pintu di hadapannya untuk bertemu sang pangeran dari anak kaisar.
Gadis
yang dikatai barusan hanya mendesah senyum, jelas itu bukan pintu untuk
menemukan sang pangeran, itu adalah pintu mengerikan yang di dalamnya berupa
labirin berhantu. Mereka akan terjebak di dalam sana dalam waktu 15 menit,
sementara mereka harus menemukan jalan keluar sambil di ganggu para hantu
labirin. Siapa yang berhasil keluar, maka ia mendapat kesempatan berkencan semalam dengan pria tampan
dari anak tunggal seorang Kaisar dan uang $10 dollar.
5 detik
lagi pintu akan di buka. Gadis itu mehembus nafas panjang, pintu otomatis
menggeser, para wanita itu masuk dengan percaya diri.
Gadis
aneh itu sempat memperhatikan pintu masuk tadi, di desain seperti tembok
labirin berwarna krem, sehingga tidak ada yang tahu bahwa itu pintu masuk atau
bukan. baiklah, sekarang ia berada di tengah labirin yang mengarah ke kiri dan
kanan. Tiba-tiba lampu mati, tak sampai 5 detik ia mendengar jeritan dari
labirin sebelah kiri, itu pasti wanita yang mengatainya tadi.
"Kau
boleh menjerit saat melihat hantu, heu, labirin berhantu pasti gelap,
seharusnya kau tahu itu" Gumam gadis itu pelan, sambil berjalan ke arah
kanan labirin.
Gadis itu
berjalan perlahan sambil memperhatikan hantu-hantu yang mengganggunya yang
telah di setting di dinding labirin, - hanya memperhatikan, bahwa hantu itu
bukan hantu yang dimainkan manusia sungguhan, tetapi mesin. Ia merasa telah
aman, meski begitu ia harus berhati-hati untuk melewati labirin selanjutnya ia
tidak ingin terlambat dalam waktu 15 menit karena tersesat di labirin.
Sampai
dilabairin terakhir, pintu yang bertuliskan "You are the winning" terpampang dengan tulisan semerah
darah. Gadis itu mendorong gagang pintu. Ia telah berada di luar labirin yang
berupa taman kecil tepat di hadapan bangunan bertingkat 5. Bangunan itu
bersinar karena ribuan lampu yang menyala di mana-mana.
Lalu ia
menemukan sepucuk amplop merah yang
tergeletak di tanah. Ia memungutnya dan membuka isinya.
Aku
menunggumu, permaisuriku. Adry.
gadis itu
kembali meletakkan amplop itu seperti semula. tentu saja, ia tidak akan menemui
pria itu. ia punya tujuan sendiri. Ia pun bersembunyi di balik pohon yang
berada di pinggir labirin, ia segera membuka tas dan mengambil pistol.
Kepalanya menyembul dari balik pohon. Dari kejauhan ia cukup melihat dengan
baik dua orang pria dengan stelan jas sedang berbbincang di balkon lantai tiga.
Pria paruh baya sang kaisar, dan seorang menteri baru yang berbahaya.
Gadis itu
adalah seorang penembak profesional, ia hanya mengarahkan pistol itu ke arah
pria yang menjadi targetnya. Ia siap menarik pelatuknya, sebuah peluru pun
menembus jantung pria itu. Pria yang menjadi menteri baru dalam kekaisaran.
Tampak pria itu jatuh tergeletak, sementara sang kaisar tterlihat sangat panik.
Gadis itu
kembali memasukkan pistolnya ke dalam tas. Ia kembali ke dalam labirin, dan
berpura-pura menjadi gadis malang yang terjebak didalamnya.
***
Phoeby
menyetop taksi di hadapannya. Ia masuk ke dalam dan taksi itu lalu melaju
sedang. Saat berada di
jalan tol sepi, taksi itu berhenti. Phoeby tahu alasan si sopir memberhentikan
taksinya. 10 meter dari arah taksinya, 3 orang FBI sedang menghajar seorang pria paruh
baya yang sepertinya pemilik mobil sedan Yurke yang juga berhenti disitu.
Phoeby
mengarahkan handycame ke arah mereka dan mereka kegiatan mereka di jalan tol.
seorang polisi berambut pirang tanpa ragu menembak kepala si pria paruh baya
itu hingga mati.
"Oh
God" Gumam Phoeby. Ketiga polisi itu merampok harta benda pemilik mobil
sedan Yurke. Tiba-tiba salah seorang polisi di antara mereka melihat ke arah
taksi, Phoeby terkejut, ia langsung menyembunyikan handycamenya ke dalam tas.
Dengan kasar polisi itu membuka pintu taksi dan menarik pengemudi. bersamaan
dengan polisi yang kedua menarik Phoeby keluar dari kemudi.
"Orang-orang
sialan!" Ucap polisi berambut pirang seraya menahan sopir taksi untuk
membelakangi dan menahan kedua tangannya.
"Apa
yang kau lakukan?" Tanya Phoeby dengan panik.
"Tidak
ada cara lain selain membunuhnya" Si pirang membunuh si sopir taksi.
"Nooo...!!!"
Phoeby menjerit. Ia menangis histeris. "Apa yang kau lakukan, kau kan
seorang polisi, kau bisa dihukum karena telah melakukan ini!"
"Berisik!"
Polisi itu memukul kepala Phoeby dengan pistol hingga ia jatuh pingsan dengan
kening yang mengeluarkan darah segar.
***
Phoeby
membuka matanya perlahan-lahan, sekarang tangan dan kakinya diikat dan
didudukan di kursi kayu, mulutnya di bekap dengan kain tali. ia berada di
sebuah ruangan asing yang tampak ramai dengan beberapa orang lelaki dan
perempuan sedang minum-minum. tiga di antara mereka adalah tiga polisi yang
telah membunuh dua orang tak bersalah tadi siang. ternyata mereka hanya polisi
gadungan yang memanfaatkan seragam FBI untuk merampok.
Phoeby
mencoba berontak dari kursi itu.
"Hei,
Nona, kau sudah sadar rupanya" Ucap si pirang yang tampaknya menjadi
pemimpin diantara mereka.
"Mau
bergabung dengan kami?" Tawar si pria berkulit coklat.
Phoeby
berteriak dengan mulut di bekap, seakan meminta untuk melepaskan ikatannya. Si
pirang mendekat dan mendekatkan wajahnya pada Phoeby.
"Aku
menggeledah tasmu, di dalam ada handycame namun aku tidak menemukan chip di
dalamnya, katakan, kau merekam kami siang itu dan kau menyembunyikannya?"
Phoeby
terdiam.
"Bodoh,
bagaimana bisa dia menjawab sementara mulutnya di bekap begitu" Ucap si
perempuan.
Si pirang
membuka kain yang membekap mulut Phoeby.
"Jawab"
"Camera
itu memang tidak ada chipnya"
"Pembohong!"bentak
si pirang
"Benar,
aku sama sekali tidak merekamnya, dan tidak ada chip di dalamnya, percayalah"
"Dan
bagaimana aku bisa percaya padamu, bahwa kau tidak akan melapor pada polisi
setelah kubebaskan dirimu. Kalau kau macam-macam aku bisa membunuhmu kapan
pun"
"Aku
tidak akan macam-macam, lagipula aku tidak ingin terlalu ikut campur dengan
urusan kalian, banyak yang harus kulakukan untuk masa depanku, tolong jangan
bunuh aku" Phoeby meminta dengan panik.
"Bagus,
gadis pintar" Pria itu mengacak rambut Phoeby dengan pelan "Kalau
begitu kau bisa bebas tepat pukul 12 malam, selama kau pingsan aku telah
menelpon ibumu untuk membawa uang sepuluh juta dollar"
Phoeby
terkejut. Jadi ini pemerasan untuk mendapatkan uang.
Tengah
malam, lima belas menit lagi ibunya akan datang menjemputnya dengan membawa
sejumlah uang. Ketujuh orang penjahat itu masih teler di sofa sementara Si
Pirang tampak berenergi menunggu nominal uang satu juga dollar.
***
"Jangan
panik nyonya Laurent, aku yakin mereka tidak akan berani macam-macam selama
mereka percaya bahwa kau membawa uangnya" Seorang polisi FBI bernama
Daniel menenangkan laurent, Ibunya Phoeby.
"tetap
saja, aku banar-benar panik sejak tadi siang"
Sampai di
tempat tujuan, para polisi itu keluar dari mobil dan menyelinap ke seluruh bangunan.
Laurent mengambil ponsel dan menghubungi nomor Phoeby, ia bisa mendengar suara
di seberang sana, tanpa pikir panjang laurent segera berlari ke dalam bangunan
itu dan menuju lantai dua dimana Phoeby berada. Ia langsung membuka ruangan
itu.
"Nyonya
Laurent, jangan gegabah!" Ucap Daniel, dengan sigap ia langsung
menodongkan pistol saat masuk ke dalam ruangan. Namun apa yang sedang dia
lihat, ia tak mampu berkata apa-apa, lidahnya kelu untuk berkata.
Ketujuh
orang penjahat itu tergeletak di lantai dengan bersimbah darah, sepertinya
seseorang telah membunuh mereka semua. Daniel melihat Laurent sedang berusaha
membuka tali yang mengikat Phoeby di kursi dan membuka ikatan penutup matanya.
"Mom"
Phoeby lega ibunya telah datang.
"Phoeby,
sayang" Laurent memeluknya dengan erat hingga mereka jatuh terduduk di
lantai "kau tidak apa-apa? Keningmu terluka" Ucap Laurent dengan
cemas.
"AKu
tidak apa-apa"
"Apa
yang terjadi? Seseorang membunuh mereka semua, Phoeby, kau akan di
interogasi"
"Apa
maksudmu, Daniel. Tangan dan kaki Phoeby diikat, apa kau mencurigainya membunuh
para penjahat itu hah!" Bentak laurent.
"Tidak,
begini, aku tidak menuduh Phoeby sebagai pembunuh, tapi setidaknya dia lah
petunjuk dari semua ini, seseorang membunuh mereka, dan hanya Phoeby yang
selamat"
"Heh,
jika kau sampai memberatkan anakku aku yang akan menuntutmu Mr. Daniel"
Ancam Mrs. Laurent.
***
Phoeby di
ruang interogasi bersama seorang polisi. gadis itu tampak tenang menjawab
pertanyaan yang dilontarkan polisi. Sementara Mrs. laurent menyaksikan
percakapan itu tanpa mendengar suaranya, karena ruangan itu terhalang oleh kaca
anti peluru.
"Jadi
kau menyaksikan pembunuhan FBI gadungan itu dan setelah itu kau pingsan"
"Ya,
dan setelah sadar aku sudah di bekap, tangan dan kakiku sulit digerakkan karena
diikat"
"Apa
yang kau lihat di ruangan itu?"
"Hanya
sebuah ruangan kecil, terlihat ruangan santai, mereka mabuk dihadapanku sampai
malam"
"Bukankah
kau tidak bisa melihat mereka karena kedua matamu di tutup?"
"Ya,
tepat pada pukul 10 pria berambut pirang menutup kedua mataku dengan kain,
katanya aku tidak boleh melihat karena mereka akan melakukan sex dengan wanita
itu. Dan pada saat itu aku tertidur, aku terbangun saat mendengar suara
tembakkan dan sangat berisik, wanita itu menjerit, lalu aku mendengar pecahan
gelas jatuh atau apapun itu, aku pikir itu polisi yang datang untuk membekuk,
tapi setelah itu aku tak mendengar apa-apa lagi, semuanya hening, hingga
sekitar limat belas menit kemudian ibuku datang dan melepas kain penutup mata
dan ikatanku"
"Apa
kau mendengar ada orang lain baru yang masuk menghajar para penjahat itu"
"Aku
tidak tahu, tidak ada tanda-tanda ada orang asing masuk. Aku berasumsi salah
seorang di antara mereka menghajar temannya sendiri dan dia bunuh diri"
"Mengapa
kau berasumsi seperti itu?"
"Ya,
karna aku pikir... jika ada orang asing masuk mengapa dia tidak membunuhku
juga, lagipula tidak mungkin tiba-tiba ada superhero menghajar penjahat tanpa
memperlihatkan batang hidungnya padaku dan melepaskan ikatanku , dan tempat itu
sangat terisolasi, berada di tengah hutan, tidak banyak orang yang tahu tempat
itu, aku pikir"
Mr.
Despard manggut-manggut seakan bisa menyimpulkan jawaban dari Phoeby.
"Kau
bersih"
"jadi..
bagaimana kesimpulannya?"
"Asumsimu
menurutku tidak masuk akal, salah satu dari mereka membunuh teman sendiri dan
dia sendiri bunuh diri, sementara itu mereka menunggu ibumu membawa uang.
Seharusnya ada motif yang membuat dia membunuh dan bunuh diri. Menurutku ada
orang asing yang masuk dan membunuh para penjahat itu, jelas motifnya untuk
menghukum para penjahat"
"Begitu,ya"
Mr.
Despard memberi isyarat jempol kepada polisi yang menunggu mereka diluar,
Laurent sendiri merasa lega karena Phoeby bisa melewati interogasi itu. Dua
orang polisi masuk ke dalam ruang interogasi dan diikuti laurent. Ia memeluk
putrinya dengan sayang.
"Syukurlah"
"Rasanya
kasus ini biarkan saja, tidak ada petunjuk-petunjuk yang jelas dari kasus ini,
Phoeby memang tidak tahu apa-apa soal pembunuhan penjahat itu. Jika kita menyelidikanya
lebih lanjut rasanya hanya membuang-buang waktu saja" Ucap Mr. Despard.
"Pintar
sekali pembunuh itu, tidak meninggalkan jejak dan sidik jari sedikit pun, aku
rasa dia memang sudah berprofesional membunuh" Kata Mr. Daniel.
"Pembunuh
membunuh pembunuh, aku tidak menemukan motif superhero membunuh penjahat itu,
jika ia memang samasama sama penjahat seharusnya ia melindungi penjahat itu,
bukan membunuhnya" Tambah Mr.Despard
"Jika
ada kejadian yang sama kita pasti sedikit menemukan petunjuk" Ucap Mr.Despard.
"Ada.
Kau lupa, kita masih mengurus kasus dua minggu yang lalu, pembunuhan menteri
itu sangat misterius" Ucap Mr. Despard.
"Ya,
kita harus memeriksa sepuluh wanita kandidat yang mengikuti permainan labirin
berhantu itu"
"Baiklah,
Mrs. Laurent, dan putrinya yang sangat cantik, maaf telah mengganggu waktu
kalian, jika ada apa-apa, kalian bisa hubungi kami lagi"
"Baik,
terimakasih" Kata laurent.
"Ya,
semoga beruntung"
***
Pembunuhan
misterius yang menimpa menteri raja kini banyak diperbincangkan netizen. pelaku
pembunuhan masih dalam penyelelidikan, karena si pelaku tidak meninggalkan
jejak sedikit pun di tempat itu. Namun kini polisi berasumsi bahwa si pelaku
membunuh dari arah taman labirin, itu sudah di pastikan karena tempat itu di
luar gerbang hotel sementara bagian dalam sudah di jaga ketat oleh polisi.
Sasaran utama penyeledikkan polisi disibukkan dengan mencari sepuluh wanita
kandidat yang mengikuti permainan labirin berhantu itu, sudah dipastikan
pembunuhnya pasti ada di antara mereka.
"Pintu
labirin nomor satu oleh wanita karir disebuah perusahaan, pintu nomor dua oleh
seorang model, pintu ketiga oleh seorang dokter hewan, pintu nomor empat oleh
seorang pemain teater..." Mr. Despard menyebutkan daftar nama yang
mengikuti permainan labirin berhantu, sementara pria tampan sedang menyalin
data nama-nama itu ke sebuah komputer.
"Dan
yang terakhir... seorang mahasiswi dari universitas Stoland"
"Mahasiswi,
heuh, patut dicurigai, gadis itu pasti pengecualian dari 9 gadis lain"
"Ya,
dia satu-satunya mahasiswi. Justru aku tidak yakin bahwa dia pelakunya"
kata Mr. Despard.
"Aku
sendiri yang akan menyelidikinya" ucap Adry
"Baiklah-baiklah,
jangan libatkan kasus ini dalam kehidupanmu, kau ini bukan anggota FBI apalagi
CIA, pulanglah, Nak, kerjakan tugas-tugas kampusmu, atau kau mandi air hangat
dengan bunga-bunga mawar yang disiapkan oleh para pelayanmu, jika kau terlibat
dalam urusan ini dan kau terjadi apa-apa, mau tidak mau aku harus siap di
eksekusi ayahmu" Ucap Despard sambil menepuk bahu Adry.
Adri
beranjak dari kursinya dan mengenakan jaket kulit yang teronggok di meja
"Aku memang tidak berminat menjadi
detektif, tapi memecahkan kasus yang misterius cukup menarik perhatianku, itu
seperti sebuah puzzle yang harus disusun untuk menemukan jawaban, selain itu
aku juga harus bertanggung jawab atas kasus ini, gara-gara permainan labirin
itu semua menjadi rumit,"
Adry yang
merasa bersalah ikut turun tangan dalam menyelesaikan kasus ini, dirinyalah
yang diincar sepuluh gadis dalam permainan labirin berhantu itu. Dan ia yakin
ada salah satu dari mereka yang lolos dari labirin itu, namun dia hanya berdiri
di luar labirin, dan melakukan pembunuhan tersembunyi.
Adry
merogoh ponselnya di saku.
"Edmun,
polisi bilang kau sempat memeriksa tas mahasiswi itu, apa benar? - Temui aku di
cafetaria biasa"
***
"Mahasiswi
itu muncul paling terakhir, aku lihat wajahnya sangat pucat dan berkeringat.
Dia bilang dia tersesat di dalam dan bingung mencari jalan keluar"
"Keluar
paling terakhir bagiku mencurigakan, itu bisa kujadikan daftar bukti,
lalu?"
"Ya,
dia tampak kelelahan seperti yang lainnya, dia juga sempat berisrirahat
sebentar sambil bersandar di bawah pohon"
"Yang
kau lihat saat itu?"
"Aku
tidak terlalu memerhatikan si mahasiswi, keadaan sangat kacau waktu itu, bahkan
si wanita nomor sembilan menangis
histeris karena ada sesuatu yang membuatnya trauma saat berada di dalam. Tapi
aku teratarik dengan si nomor tujuh, saat keluar dari labirin dia terlihat
begitu tenang, tetapi dia sempat berkata padaku, bahwa permainan ini sangat
menjijikan, setelah itu dia pergi mengendarai mobilnya"
Adry
manggut-manggut, aneh dengan wanita nomor tujuh disaat semua kandidat panik dan
ketakutan dia malah tenang, dan pergi begitu saja. Meski patut dicurigai tapi
ia bukan objek penyelidikannya.
"Kau
bilang di menenteng tas?"Tanya Adry
"Iya,
tas selempang yang usang. Ah, aku lupa, mahasiswi itu cantik, tapi
penampilannya benar-benar kuno, menurutku dia tidak pantas bertemu
denganmu"
"Ya,
atau dia memang tidak bermaksud untuk bertemu denganku, pasti ada tujuan
lain" Adri mendapat daftar bukti kedua.
"Tapi
dia bilang dia menyukaimu, dia akan berjuang agar memenangkan permainan ini dan
kencan denganmu. Dia juga terlihat polos seperti mahasiswi biasa yang hanya
punya urusan di kampus"
"Apa
kau memeriksa tasnya?"
"Ya
sebelum masuk aku sempat memeriksa barang-barang seluruh kandidat, kebanyakan
dari mereka menyimpan tasnya di mobil, tapi mahasiswi itu pengecualian, di
dalamnya hanya ada buku kecil seperti buku diary, buku catatan, pulpen, dan
kotak perhiasan dan kotak make up"
"Kau
membuka kotak perhiasannya?"
"Tidak,
justru dia sendiri yang membukanya, saat ku tanya identitasnya dia sempat
bercerita bahwa hari ini adalah ulangtahun ibunya, dia membelikan perhiasan itu
untuknya, jujur saja dia antusias menceritakan hal itu, makanya dia tidak ingin
menyimpan tasnya dan tetap membawanya ke dalam"
"Bagaimana
bentuk kotak perhiasan itu?"
"Aku
lupa, mungkin sekitar lima belas senti, sesuai dengan panjang perhiasan
itu"
"Seharusnya
kau minta untuk membuka kotak make upnya juga"
"Aku
tidak bisa berbuat sejauh itu, aku pasti dianggap tidak sopan karena menuduh
yang tidak-tidak sampai menggeledah kotak make upnya" Ucap Edmun.
***
Phoeby
menghempaskan lembaran berkas bertuliskan Universitas Princeton di hadapan
Laurent.
"Mom,
kau benar-benar mendaftarkanku kesana ya?" Tanya Phoeby.
"Ya,
tentu saja, jarak limakilo meter dari rumah itu membuatmu lebih
mudah""
"Maksudku
bukan itu, Mom, disana penghuninya jenius semua, lagipula itu kumpulan
orang-orang populer se Kanada, tidak, aku tidak bisa"
"Lalu
apa masalahmu?"
"Aku
sulit menyesuaikan diri"
"Kau
hanya perlu percaya diri sayang, percayalah, kau bisa"
Ini
adalah hari pertama bagi Phoeby masuk ke universitas baru, tepatnya dia adalah
mahasiswa pindahan dari swiss, dan baru seminggu tinggal di Crow's Nest
bangunan sederhana, kokoh, putih, dengan ukuran menyesatkan karena jauh lebih
besar dari yang kelihatan.
Phoeby
sama sekali tidak menginginkan untuk pindah ke Kanada, suhu udara di musim
dingin cukup menyiksa dirinya seakan sumsum tulang ikut membeku. Sebenarnya
hari ini ia berencana tidak ikut kuliah dulu, karena ingin menikmati secangkir
vanilla latte untuk sekedar menghangatkan tubuhnya di sofa empuk kamarnya.
Keinginan
untuk memanjakan diri dimusim dingin hilang begitu saja, sekarang ia berada di
kursi kemudi bersama Laurent menuju Universitas Princeton, yang tidak terlalu
jauh dari jarak rumahnya.
Laurent
berulang kali memandang wajah putrinya itu yang tampak lesu. Wajah ovalnya
dengan dagunya yang panjang bertopang pada jendela yang tertutup, kedua matanya
ke arah jalan, melihat segala sesuatu yang dilewati mobil itu. Hanya rumput
berembun dengan kabut tipis yang sama sekali tak menyegarkan mata.
Laurent
memarkirkan mobilnya tepat di depan tangga
yang begitu luas menuju bangunan universitas princeton. Tepat di dekatnya
seorang wanita berambut pirang yang masih muda menunggu kedatangan Laurent.
"Ayo
turun sayang" Ucap
Laurent.
Laurent
berjabat tangan dengan wanita berambut pirang itu., lalu sedikit berbasa-basi
membuka obrolan mereka. Phoeby yang menyusul membaca name tag yang menempel di
baju wanita itu. Miss Sutcliffe.
"Hmm...
ya, ini dia" Mrs. Laurent memperkenalkan Phoeby pada Miss Sutcliffe yang
langsung memberikan senyuman ramah ke arahnya. Sementara Phoeby bermuka datar
dan menunduk.
"Selamat
datang di Universitas Princeton, semoga kau nyaman berada disini" Ucap
Miss Sutcliffe.
Phoeby
mendesah senyum tipis.
Karena
sikap Phoeby yang dingin itu merubah suasana menjadi sedikit canggung, Mrs.
laurent pun mengajak Miss Sutcliffe untuk sedikit menjauh darinya.
"Dia
butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri, dia sedikit anti sosial dan tipe
penyendiri" Bisik Mrs. Laurent.
Miss
Sutcliffe mengerti dengan keadaan gadis itu, ia mengetahuinya karena Mrs.
Laurent menceritakan tentang bagaimana keluarganya. Phoeby anak satu-satunya
Mrs. Laurent, ia gadis yang antisosial dan sering menyendiri, itu karena Phoeby
sering hidup dibawah tekanan keluarganya yang selalu bertengkar. Hubungan Mrs.
Laurent dengan suaminya memang tidak bisa dikatakan baik, rumah tangga mereka
hancur berantakkan karena ayah dari gadis itu seorang penjudi dan pemabuk. Dan
hal ini menjadi sebuah alasan kenapa mereka sekarang berada di Kanada,
kepindahan mereka adalah hal yang terbaik menurut Laurent agar tak lagi
berurusan dengan mantan suaminya. Itu info yang di dapatkan Miss Sutclife.
"Aku
akan berusaha membimbingnya, lagipula dia cukup manis, aku rasa orang-orang
akan menyukainya" Ucap Miss Sutclife sedikit meghibur Laurent.
"Ya,
semoga saja"
Tidak
sampai lima menit mereka berbincang, laurent akhirnya pamit pergi.
"Telpon
aku jika kau sudah pulang" Kata Laurent.
"Hem"
Balas Phoeby.
***
"Aku
dosen filsafat, jam ketiga aku akan berada di kelasmu, ayo akan kutunjukan
kelasmu di lantai tiga, aku yakin kau akan kerasan disana" Kata Miss
Sutcliffe diikuti langkah Phoeby di belakangnya.
***
Sir
Charles yang gagah memasuki sebuah labirin berhantu untuk menemukan petunjuk.
Labirin ini cukup menakutkan menurutnya, ini di desain seperti terowongan
berhantu dan cocok di jadikan lokasi shooting film horor. Tidak aneh banyak
wanita yang menjerit histeris saat memasukinya. Namun hantu properti yang
tersimpan disana begitu sempurna dengan mesin penggerak otomatis yang bakalan
sukses membuat pengunjung trauma.
Pria
dengan rambut beruban itu mengambil sebuah benda yang tertempel di dalam perut boneka zombie, itu semacam baut
yang tak menempel sempurna untuk sekedar menempelkan sesuatu di dalam boneka
itu.
Sir
Charles melanjutkan langkahnya untuk menemukan pintu keluar, labirin itu
memiliki belokan yang memusingkan, ia
sempat kembali ke tempat asal karena tak menemukan jalan keluar. Namun pada
akhirnya Sir Charles menemukan pintu keluar berwarna coklat tua bertuliskan
"You are the winning" dengan tulisan merah darah.
Pintu itu
ia buka dan sampai di taman tepat di depan hotel Rose Melfort, taman yang cukup
luas namun beranda hotel terhalang rumput tinggi yang di potong rapi membentuk
seperti tembok pembatas.
Sir
Charles menoleh ke arah kanan, ada pohon akasia yang tingginya sekitar lima
meter. Pandangan Sir Charles kini bergantian pada pintu keluar, dan pintu itu
berada di posisi akhir, artinya pintu sepuluh. Ia mencoba menempatkan diri
sebagai pelaku pembunuh setelah keluar dari pintu ia melangkah ke arah pohon
dan menyembunyikan tubuhnya.
Ia
mengarahkan pandangan ke arah lantai tiga hotel Rose Melfort, tepat pada posisi
dimana Menteri itu sedang berbincang dengan Kaisar. Ia menyadari sesuatu, pohon
ini cukup untuk menyembunyikan tubuh seseorang.
Tiba-tiba
ia merasa telah menginjak sesuatu. Selembar kertas. Sir Charles memungutnya, ia
tak khawatir meninggalkan sidik jari di kertas itu karena menggunakan sarung
tangan, dan membaca isinya.
Aku
menunggumu, permaisuriku. Adry.
***
"Heii,
apa kabar bung, kau meninggalkan beberapa mata kuliah akhir-akhir ini, apa
sekarang kau jadi detektif betulan?" Edgar merangkul sahabat karibnya,
Adry, saat ia sedang berjalan sendirian di koridor.
"Berisik,
jika kau mengatakan detektif dengan suara keras itu bukan detektif namanya,
bodoh"
Edgar
tertawa renyah. Ia satu-satunya orang yang tahu bahwa Adry terlibat dalam
kegiatan detektif. Ya, meski bukan anggota CIA, Adry cukup bisa di andalkan dan
pintar dalam urusan penyelidikan.
"Ahh
selain itu hari ini kelas kita kedatangan mahasiswi baru dari Swiss, kau hari
ini kau datang terlambat,
cepat-cepatlah mengajaknya kenalan, dari fisiknya dia tipemu, tapi
sayang-"
"Apa?"
Tanya Adry.
"Dia
suram sekali"
"Kalau
begitu dia bukan tipeku"
Sampai di
dalam kelas, Edgar mencari sosok Phoeby si mahasiswi pindahan itu. Dia tidak
ada di bangkunya, padahal lima menit lagi jam ke empat akan dimulai.
"Hai
Dri" Seorang wanita cantik menyapa Adry, namun yang disapa tak begitu
tertarik dan malas membalas sapaannya. Tapi Olivia Manders, wanita primadona
yang menjadi dambaan setiap pria. siapa yang tak kenal dia. Wanita yang
tingginya semampai dengan rambut pirang keemasan dan mata bulat kecoklatan
mampu melumpuhkan hati pria mana pun dengan penampilannya.
Tapi bagi
Adry tak ada yang menarik dari sosok Olivia Manders, terlalu "murah"
di mata lelaki, dia mau saja di ajak "ini dan itu".
"Hei
Nona Manders, apa kau melihat si gadis pindahan itu?" Tanya Edgar.
"Si
Suram maksudmu? heuh, jangan bertanya padaku, mengetahui keberadaannya sama
sekali tidak penting bagiku. Lagipula... bukankah dia itu pernah di
perbincangkan di koran ya, dia korban penculikan polisi FBI palsu, heuh, baru
dua minggu tinggal di Kanada dia sudah membunuh tujuh nyawa"
"Apa!
Aku tidak tahu soal itu!" Edgar terkejut.
"Jadi
dia ya" Ucap Adry.
Adry
kembali keluar kelas dengan langkah cepat.
"Hei,
mau kemana lagi?" Tanya Edgar menjajari langkah kaki Adry.
"Menemui
Sir Charles"
"Inspektur
tua itu? Oh ayolah, setidaknya kau bisa menunda kegiatan ini dulu"
"Ini
ada hubungannya dengan pembunuhan di labirin itu. Tidak,kau benar, aku tidak
akan menemui Sir Charles dulu. Aku harus bertemu dengan mahasiswi pindahan itu
dan menginterogasinya sekali lagi"
"Kau
benar, tapi aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi saat ini, tolong
jelaskan, dan biar aku membantumu"
"Dua
minggu yang lalu ada kabar terjadi penculikan pada seorang wanita muda dari
Swiss dan anehnya para penculik itu semuanya mati, sementara wanita itu tidak,
tepat seminggu kemudian setelah kejadian itu terjadi pembunuhan di hotel Rose
Melfort, permainan labirin yang menghadiahi 10 dollar dan berkencan denganku,
salah satu di antara mereka seorang mahasiswi"
"Jadi
menurutmu si mahasiswi dari Swiss itu pembunuhnya?"
"Aku tidak bisa mengatakan itu. Setidaknya
dia menjadi petunjuk bagiku, pasti ada sesuatu yang belum dia ceritakan pada
Mr. Despard saat di interogasi"
"Intinya?"
"Ini
dua kasus pembunuhan yang sama, membunuh secara misterius tanpa meninggalkan
jejak dan sidik jari sedikit pun. Pembunuhan sempurna yang dilakukan oleh
seseorang yang sudah berprofesional"
Edgar
terdiam. Ia belum sepenuhnya mengerti dengan kasus ini, namun terkadang asumsi
yang dilontarkan pria detektif itu terlalu kritis dan membingungkan yang
mendengar.
"kau
bilang kau mau membantuku?" Tanya Adry.
"Eeh...-"
Edgar tiba-tiba menyesal kenapa harus menawarkan diri untuk membantu pria ini.
"Dekati
gadis itu, cari tau informasinya, dan kalau bisa kau mendapatkan nomor
hapenya?"
"What????"
***
"Si
pembunuh meninggalkan isi amplop itu di bawah pohon" Sir Charles
memperlihatkan lembaran kertas yang terlihat beberapa bekas lipatan tak
beraturan dan noda tanah seperti terinjak sepatu. Kertas itu menjadi pusat
perhatian orang-orang yang mengikuti rapat nonformal itu di sebuah ruangan
kecil hotel Rose Melfort, beberaoa orang anggota CIA dan FBI ikut menyimknya,
termasuk Adry dan para pegawai yang terlibat di permainan labirin berhantu.
"Kita
akan melakukan beberapa percobaan untuk mengetahui pintu labirin mana dengan
amplop kosong"
"Apa
bisa? Bukankah amplop itu tersusun acak?" Tanya Mr. Despard.
"Tidak,
Lucifer menyimpannya dengan baik, dia memungut amplop itu dari nomor satu dan
meletakkannya paling atas. Artinya amplop itu berurutan"
Sir
Charles meletakkan setumpuk amplop merah tua di meja, menatap amplop-amplop itu
sejenak seakan jawaban teka-teki sudah ada di depan mata.
"Baik,
aku akan membuka satu persatu amplop ini" Sir Charles mengambil satu
amplop paling atas, ini milik wanita labirin nomor satu. Ia membuka isi amplop
itu. Sir tak menunjukkan ekspresi apapun saat melihatnya artinya amlop itu tak
mengundang keterkejutan apapun.
"Isinya
utuh" Sir membuka lembaran kertas itu dan membaca kalimat yang sama.
"Kau yang menulis semua ini?" Tanya Sir Charles pada Adry.
"Ya,
aku membuat kalimat yang sama di sepuluh amplop dengan tulisan tanganku
sendiri" Jawab Adry.
"Tulisanmu
jelek"
"Hahhh"
Adry mendesah sebal.
Sir
Charles membuka amplop selanjutnya, hasil yang sama seperti amplop sebelumnya.
Adegan
ini sedikit menegangkan, meski Adry penasaran di pintu mana yang terdapat
amplop kosong tapi ia merasa ada yang mengganjal. Adegan ini bisa saja menjawab
siapa si pembunuh, atau bisa saja adegan ini justru tak ada petunjuk apapun.
"Nomor
enam" Kata Sir Charles yang akhirnya menemukan amplop kosong. Ia membuka
lebar-lebar amlop itu dan memperlihatkan pada rekan-rekannya.
"Nomor
enam, ya" ucap Mr. Despard.
"Siapa
pemilik nomor enam?" Tanya Sir Charles pada Edmun.
Edmun
dengan sigap dan tampak canggung membuka lembaran kertas yang berisi data-data
nama wanita kandidat beserta profesinya.
"Miss
Christie, seorang desaigner berumur 24 tahun"
"Tidak,
Sir, tolong lanjutkan untuk membuka amplop sisanya" Pinta Adry, Sir
Charles pun tak kan menolak dengan permintaan ini, maka ia membuka amplop
selanjutnya. Hingga amplop terakhir...
"Mengejutkan,
amplop sepuluh kosong"
"Itu
dia" ucap Adry, seiring sesuatu yang mengganjal hilang begitu saja.
"Jadi..
ada dua amplop yang kosong, apa-apaan ini" Ucap Mr. daniel.
"Mahasiswi
Universitas Stoland berumur 20 tahun, Amanda Milray" Lontar Edmun tanpa
diminta, tapi itu jawaban yang dibutuhkan.
"Dan
artinya pelaku pembunuhan dua orang?" Tanya Mr.Despard.
"Ini
hanya mengecoh, ini sama sekali bukan yang di harapkan. Aku tidak yakin pelaku
pembunuh si pemilik amplop kosong, bisa saja si pembunuh sengaja mengosongkan
dua amlop dan dia berada di amplop yang utuh agar jejaknya tak di ketahui, atau
justru kita menemukan jawaban bahwa pelaku pembunuh adalah nomor enam dan nomor
sepuluh" Kata Sir Charles.
Semua
terdiam, ada benarnya dengan dua asumsi Sir Charles. Mereka berpikir apa yang
dipikirkan Charles, itu artinya mereka tidak menemukan jawaban sama sekali,
namun prioritas utama adalah interogasi antara wanita nomor enam dan nomor
sepuluh.
Tiba-tiba
Adry tertawa keras, lalu ia menghempaskan punggungnya di sandaran sofa, dan
menatap langit-langit atap hotel.
"Pembunuh
itu... mempermainkan kita, dia sengaja membuat permainan ini agar kepolisian
menyelidikinya dengan banyak teka-teki dan
membuatnya kelabakan. Benar-benar trik hebat, ini permainan intelektual, dia
seperti menguji seberapa pintarkah kepolisian dan CIA dalam menyelidiki ini.
Aku jadi penasaran siapa pelakunya, dia pasti wanita yang menarik" Ucap
Adry, tiba-tiba ia semakin bersemangat dalam penyelidikan ini.
"Kau
tidak bisa memilikinya, Adry"
"Aku
tahu, dia permaisuriku si pembunuh, aku penasaran seperti apa dia, aku harap
aku yang akan mengeksekusinya nanti"
"Baiklah,
akhirnya dalam percobaan ini kita tidak menemukan jawaban sama sekali, yang
harus kita lakukan selanjutnya adalah membawa wanita itu satu persatu ke kepolisian kita akan melakukan
interogasi secepatnya" Ucap Sir Charles mengakhiri pertemuan mereka malam
itu.
***
"Ayah
sudah bilang untuk tidak ikut lagi dalam memecahkan kasus-kasus yang ada di
kepolisian" Ucap Feddy Dacres, kepada Adry yang pulang larut malam saat
itu.
"Ayah,
Ayah belum tidur?" Tanya Adry melihat ayahnya yang masih bersantai di
kursi menghadap ke jendela, tampak asp rokok mengepul di tengah keremangan
ruangan itu
"Ini
untuk yang terakhir Ayah, lagipula aku merasa terlibat dalam memecahkan kasus
ini, aku yang menginginkan permainan labirin itu, tapi akhirnya Mr. Franky mati
terbunuh, aku rasa ini tanggung jawabku. Apalagi Mr. Franky orang yang sangat
dipercayai Ayah, aku semakin ingin kasus ini cepat terselesaikan dan aku yang
ingin mengeksekusi pelakunya"
"Meski
ini yang terakhir, kau berada di ambang bahaya jika kau gegabah, dilihat dari
cara dia membunuh dia orang yang pintar dan tidak mudah di tebak. Bisa jadi dia
lebih pintar dari FBI maupun CIA"
"Aku
tau ayah, tenang saja aku akan selalu waspada untuk memecahkan kasus ini, aku
mohon, izinkan aku untuk melakukannya"
"Baiklah"
"Terimakasih,
Ayah" Adry membungkukan badan simbol penghormatan, lalu ia masuk ke
kamarnya yang berada di lantai atas.
Sampai di
kamar, ia merogoh ponselnya di saku, lalu menghubungi Edgar.
"Bagaimana,
kau mendapatkan nomer ponselnya?"
"Ah,
sebaiknya kau yang temui dia langsung, dia sulit di tangani"
"Aku
tidak mengerti"
"Dia
antisosial, bukan gadis ramah, lebih tepatnya... apa ya, selain bermuka suram
dia itu sulit di ajak bicara"
"Baiklah,
tapi akiu belum bisa menemuinya besok. Ada yang harus kulakukan" Adry
menatap selebaran kertas berisi identitas mahasiswa Universitas Princeton.
"Apalagi?"
"Itu
rahasia. Baiklah, selamat malam" Tanpa menunggu balasan Edgar, Adry
langsung memutuskan sambungannya. Ponselnya ia lempar ke ranjang yang empuk,
lalu ia melangkah ke jendela dan membukanya lebar-lebar.
Ia
membaca sekali lagi selembar kertas itu.
Amanda
Milray, 20 tahun, Mahasiswi Universitas STOLAND, St. Petroch Loomouth.
***
"Permisi,
Miss, apakah anda bisa mencari identitas nama ini?" Adry menyerahkan
selembaran kertas kepada seorang pegawai yang ada di kantor Universitas Stoland
"Baik,
sebentar" Wanita itu menerima selembaran kertas dari Adry dan mengetikkan
di komputer nama tertera disana.
"Anda
mendapatka nama ini dari mana?"
"Hmm..
sulit jika kuceritakan dari awal, dia memberikan identitas itu saat mengikuti
sebuah permainan, dan karena dia memenangkan permainan itu dia berhak
mendapatkan hadiahnya ,tetapi dia meninggalkannya, jadi saya mencarinya
kesini" Jawab Adry sedikit berbohong.
"Disini
sama sekali tidak ada yang bernama Amanda Milray, yang ada Milray Satterhwaite.
dia kelahiran 1994, itu artinya dia berumur 22 tahun, bukan 20 tahun"
"Tidak
mungkin dia berbohong, dia menyerahkan identitas aslinya saat pendaftaran,
semacam paspor" Ucap Adry.
"Jika
itu saya tidak tahu, bahkan saya penasaran dengan Amanda Milray, dia memalsukan
identitas dengan membawa universitas ini" Wanita itu tampak marah.
Wanita
itu kembali menyerahkan lembaran itu. Setelah itu dia kembali melanjutkan
aktivitas kerjanya yang sepertinya tidak ingin di ganggu lagi.
"Terimakasih,
maaf sudah mengganggu"
"Oke"
Adry
kembali masuk ke dalam mobilnya. meski Amanda Milray tidak di temukan , namun
ia yakin bahwa gadis inilah pelakunya. Edmun bilang dia menyerahkan identitas
asli berupa paspor. Jika gadis itu bisa memanipulasi identitas asli, maka tidak
diragukan, dia berada disini tidak sendiri, dengan kata lain, dia berada dalam
sebuah organisasi yang berkaitan dengan pembunuhan.
Mobil itu
melaju, menuju tempat berikutnya St. Petroch Loomouth. Ia pun membuka Google
Map di ponselnya. Alamat tersebut jauh dari kota dan membutuhkan waktu dua jam
untuk sampai kesana.
Mobil itu
melewati perbatasan kota, masuk ke wilayah St. Petroch 5KM dari arah kanannya.
jalan yang di lewati sunyi sepi seperti di tengah hutan, dan jalannya
berkelok-kelok dan sempit.
Sampai di
tempat tujuan Adry segera keluar dari mobilnya. tempat ini tidak begitu luas,
dan terdapat beberapa rumah dengan jarak yang terpisah-pisah, tampak sunyi
namun tentram dari kebisingan kota. Adry segera menghampiri salah seorang
penduduk di tempat itu, seorang nenek tua yang yang sedang berjalan di jalan
setapak berbatu dengan tongkatnya, lalu seorang kakek datang dan membantunya
berjalan.
"Permisi,
selamat siang" sapa Adry
"Selamat
siang" balas nenek itu dengan suara serak.
"Hmm...
boleh saya bertanya sesuatu"
"Yes,
of course"
"Apakah
gadis yang bernama Amanda Milray tinggal disini?"
Nenek dan
kakek itu saling pandang.
"Disini
tidak ada Amanda Milray" Jawab Kakek.
"Tapi
disini benar, alamatnya ST. Petroch Loomouth. Dan ini identitas asli"
"Disini
tidak ada Amanda Milray" Ucap Kakek itu sekali lagi.
"Tunggu,
rasanya aku masih ingat dengan nama itu" Ucap si nenek "Sejak kau
pergi ke Hoxton, ada seorang gadis yang datang kesini" Nenek itu berkata
pada si kakek.
"Ya,
ya, dia bernama Amanda Milray" Nenek itu mencoba mengingat ngingat.
"Dia gadis tersesat dengan mobilnya. Dia menumpang dirumahku, dia
bercerita banyak tentangnya. Tapi aku tidak bisa menangkap isi
pembicaraannya"
"Maaf
dia tidak bisa mengingat dengan baik" Ucap si kakek.
"Sayang
sekali,kapan dia kesini?" Tanya Adry
"Sekitar
beberapa minggu yang lalu"
"Bertepatan
hari apa?"
"Aku
lupa?"
"Jika
itu bertepatan saat aku ke hoxton maka pada hari itu adalah hari selasa"
ucap si kakek.
"Lalu
dari mana dia berasal?"
"Aku
yakin dia juga bilang padaku dimana dia tinggal dan kenapa tersesat, tapi aku
benar-benar tidak ingat. Aku hanya ingat kalimatnya yang membuatku terharu,
bahwa dia ingin hidup bebas seperti burung yang terbang di langit. kemana pun
dia pergi tidak akan ada yang melarangnya"
Adry akan
mengingat kalimatnya itu.
"Lalu
bagaimana ciri fisiknya?"
"Dia
gadis yang sangat cantik, dia ramah dan selalu tersenyum. Bola matanya hitam
seperti boneka, dia memiliki bentuk tulang pipi yang indah. Saat pagi tiba dia
menghilang begitu saja, tapi dia membuatkanku sepiring wafel, dan di pinggirnya
ada tulisan terimakasih dengan coklat" Jelas nenek itu.
"Jika
kau melihatnya, maka kau mengingatnya dengan baik" Ucap kakek yang tampak
senang, tampaknya si nenek memiliki ingatan yang baik sesuai dengan apa yang
dia lihat.
"Kalau
begitu... anda pasti tau dengan apa yang dia bawa"
"Dia
membawa tas ransel, namun aku tidak tahu apa isinya"
"Begitu
ya.."
"Ah,
seandainya gadis itu masih disini sekarang, akan ku kenalkan kau padanya, aku
yakin kau pasti menyukainya, kalian sangat cocok" ucap nenek itu.
Adry
tertawa kecil.
"Oh,
apa jangan-jangan kau adalah pacarnya? Tanya si nenek.
"Ah,
tidak, bukan, saya kesini ada urusan tertentu dengan gadis itu"
"Oh
begitu ya... kalau begitu kau bisa meninggalkan nomor ponselmu padaku, aku
yakin gadis itu akan kesini lagi" Pinta si nenek.
"Oh
ya, apa boleh?"
"Tentu
saja, kalian bisa bertemu nanti"
"Baiklah,
aku akan mencatat nomor ponsel ku disini" Adry menuliskan nomor ponselnya
di catatan kecil. lalu memberikannya pada si nenek.
"Aku
sangat menantikannya" UCap Adry.
"Ya,
akan ku telpon jika dia sedang berada disini"
Usai
berurusan dengan kedua lansia itu, Adry meninggalkan tempat itu dengan perasaan
puas. Meski ia tak berhasil menemukan gadis itu tapi ia sudah mendapatkan
banyak petunjuk. Dan Adry sangat menantikan kedatangan gadis itu lagi di St.
Petroch Loomouth.
Namun
yang dirasakan Adry tiba-tiba berbeda dia menunggu gadis itu untuk di eksekusi
atas pembunuhan menteri kepercayaan ayahnya. Menunggu gadis itu serasa
menegangkan namun ada sensasi didalamnya.
***
Mr.
Despard dan Mr Daniel mengawal seorang perempuan berpakaian modis ke kantor
kepolisian. Miss Meredith, si wanita pemain teater, tampaknya tidak suka jika
ia harus berurusan dengan kepolisian.
Saat
berada di ruang intergogasi ia berhadapan dengan Sir Charles.
"Miss
Meredith, benar?" Tanya Sir Charles.
'Ya, dan
aku kesini ingin bertanya langsung pada anda, saya tidak pernah melakukan
pembunuhan kepada menteri raja. Saya tersesat di labirin dengan hantu
menyeramkan dan saya heran kenapa harus di bawa ke kantor polisi?"
"Ah,
anda agresif sekali, saya belum melontarkan pertanyaan apapun pada anda. Santai
saja, ikuti aturan-aturan kami, maka saya akan memudahkan anda" Ucap Sir
Charles.
Miss
Meredith memasang muka sebal, sambil berpangku tangan.
"Ngomong-ngomong
Miss Meredith, anda pemain teater bukan? Saya pernah melihat anda sebagai
pemeran utama di teater Gadis pemeluk bulan. peran anda sangat bagus, tidak
aneh, anda banyak diincar acara tivi karena bakat anda yang sangat hebat"
Sir Charles berbasa basi agar suasana tak terlalu tegang.
Miss
Meredith menghembus nafas, ia terlihat sedikit tenang dengan pembawaan Sir
Charles yang santai, dan tidak menakutkan seperti yang ia kira.
"Bagaimana
menurutmu permainan labirin berhantu itu?" Tanya Sir Charles.
"Itu
penipuan, Adry Russel Sanders, itu hanya mempermainkan mental seorang wanita
dengan permainan yang menjijikan. Jika dia ingin berkencan dengan wanita bukan
seperti ini caranya, labirin sialan itu membuatku tidak bisa makan
berhari-hari" Ucap Miss Meredith dengan penuh emosi.
"Anda
mengetahui permainan labirin itu dari mana?"
"Itu
dari internet, dia mengumumkan permainan itu di fanspagenya"
"Oh,
anda mengikuti fanspagenya rupanya?" Sir Charles menggodanya.
"Ya,
pada awalnya aku memang menyukainya, dia salah satu pria yang selalu aku incar.
Tapi setelah aku mengikuti permainan labirinnya aku malah membencinya, apalagi
setelah itu terjadi pembunuhan yang tak di duga-duga, membuatku kaget
saja"
"Miss
Meredith, anda tidak menggunakan kedok teater anda disini kan?"
"Aku
bicara apa adanya, Sir, lagipula untuk apa aku membunuh menteri raja, tidak ada
untungnya bagiku"
"Kau
datang bersama siapa, Miss?"
"Aku
sendiri yang membawa mobilku, sebenarnya aku ingin di antar dengan sopir
pribadiku, tapi dia bilang dia mendadak sakit kepala dan tidak bisa
mengantarkanku malam itu di tempat teater"
"Dan
setelah sampai di tempat permainan labirin siapa saja yang kau lihat
disana?"
"Aku
tidak terlalu memperhatikan orang dan tidak terlalu suka berbicara, tapi disana
ada beberapa orang yang sedang menunggu kandidat lain, tampaknya mereka tidak
sabar untuk berkencan dengan Adry"
"Dan
setelah itu anda mengambil nomor labirin?"
"Ya
disana ada pria, yang duduk di meja menyiapkan lembaran-lembaran kertas yang
sulit kupahami. Lalu dia memberiku nomor 4, yang artinya aku harus menempati
labirin empat"
"Siapa
wanita yang sudah ada disana, apa mereka juga sudah mendapat nomor?"
"Nomor
tiga dan dua, lalu saat itu datang dua orang lagi yang langsung mengmpiri pria
di meja mengambil nomor, dan setelah itu aku lupa mereka nomor berapa"
"Berapa
lama anda menunggu sampai anda memasuki labirin itu?"
"Sekitar
tiga puluh menit, ini semua gara-gara wanita yang datang terlambat. Dari situ
aku mulai merasa sebal dan ingin pulang, tapi pria-pria disana tidak
mengizinkannya"
"Setelah
kau memasuki labirin itu, seberapa jauh kau berjalan di dalamnya, dan arah mana
yang anda ambil?"
"Aku
mengambil arah kiri, saat ada tikungan dan beberapa ruangan dengan belokan, aku
melihat zombi sedang menjulurkan lidah dengan cairan yang menjijikan, aku tahu
itu hanya boneka, tapi bagiku itu sangat menjijikan dan karena hal itu aku
tidak ingin melanjutkan dan kembali ke tempat pintu masuk menunggu pintu itu di
buka" Jelas Miss Meredith yang berusaha meyakinkan.
Sir
Charles manggut-manggut. Ia merenung sejenak, Miss Meredith meski memiliki
wajah yang menyebalkan tetapi dia terlihat sangat jujur, dia menceritakan
semuanya dari awal, dan tidak tersendat-sendat dan lancer begitu saja.
"Dan
setelah kau keluar?"
"Aku
langsung berjalan ke pinggir dan duduk di kursi karena tiba-tiba perutku
mual"
"Apa
kau melihat yang lainnya, para wanita lain ketakutan sepertimu?"
"Ya
mereka ketakutan sekali, dan yang paling parah si wanita berbaju merah menangis
histeris dan hampir pingsan, ada yang bilang dia sangat takut pada zombi"
"Apa
kau tahu siapa yang kembali paling terlambat?"
"Aku
tidak tahu"
"Berapa
lama kau duduk di kursi?"
"Sekitar
limat menit, dan setelah itu aku pulang karena perutku tidak mual lagi"
"Kau
tidak tahu ada petugas yang datang dan memberitahu bahwa telah terjadi
penembakan?"
"Kalau
itu saya tidak tahu sama sekali"
Sir
Charles sejenak berpikir. Ia sudah menemukan keputusan untuk Miss Meredith.
"Ya,
tidak ada alasan lagi bagiku untuk mencurigai anda"
"benarkah?
Oh Thanks, God"
***
Adry
bertemu kembali dengan Edgar di kampus. Ada sedikit perubahan pada Adry, hari
ini terlihat begitu semangat dari biasanya, dia antusias menceritakan
penyelidikannya pada Edgar, padahal Edgar sendiri heran biasanya Adry tidak
terlalu buka-bukaan dengan kegiatannya di kepolisian karna takut ada yang
dengar bahwa ia seorang detektif.
"Ya,
jadi intinya kau seperti menunggu wanita yang membuatmu penasarankan, kau tau
itu seperti saat kau sedang jatuh cinta dengan wanita yang menarik perhatianmu
karena dia misterius" Ucap Edgar.
"Aku
tidak bilang jatuh cinta padanya, aku hanya penasaran karena dia menarik
perhatianku dengan cara dia membunuh"
"Yah,
tipe macam apapun si pembunuh itu asalkan dia jangan membuatmu jatuh cinta,
jika dia membuatmu jatuh cinta, aku benar-benar tidak bisa membayangkan apa
yang akan terjadi nanti" Ucap Edgar.
"Ah
kau ini"
"Ngomong-ngomong...
Aku rasa dia juga akan membuatmu penasaran, kau bilang kau akan menemuinya
langsungkan?" Edgar menunjuk kepada seorang gadis yang berjalan di depan
mereka.
"Dia?"
"Phoeby,
mahasiswi baru itu"
Adry
memperhatikan Phoeby yang membelakanginya, ia pun mengikuti langkah Phoeby dan
memanggilnya.
"Hei,
Nona" Panggil Adry. Phoeby menghentikan langkah, lalu ia melanjutkannya
lagi.
"Aku
memanggilmu"
Langkah
Phoeby semakin cepat, Adry mengimbanginya, lalu menarik lengannya.
"Don't
touch me!" Phoeby menghempaskan tangannya, namun tanpa sengaja tangannya
melayang ke arah pipi Adry, dan ia sedikit tersungkur.
"Ah!"
"Oh
God!" Edgar terkejut, namun ia jadi ingint ertawa.
Phoeby
terkejut setengah mati. Dilihatnya pria itu sedikit menoleh ke belakang efek
tangannya yang tak sengaja menampar pipi pria itu.
Adry
mengusap darah di bibirnya.
"Oh
my God, I,m sorry, aku tidak sengaja, maaf-maaf" Kata Phoeby memohon,
namun wajahnya tertunduk seakan tak ingin di tunjukkan. Phoeby pergi begitu
saja meninggalkan Adry.
Lalu
Edgar datang menertawakan Adry..
"Berisik"
Ucap Adry.
"Sudah
kubilang dia itu sulit di tangani"
"Apa
dia juga menamparmu?"
"Tidak,
hanya saja dia sulit diajak bicara, hei, dia maniskan? Apa kau tertarik
padanya?"
***
Saat
pulang kuliah Adry kembali memanggil Phoeby. tapi Phoeby tak terlalu
menanggapinya sampai Adry berhasil menjejaki langkahnya.
"Ada
perlu apa?"
"Aku
perlu bicara padamu, ini soal penculikanmu beberapa minggu lalu"
"Kenapa
kau ingin tanyakan itu?"
"AKu
perlu petunjuk darimu"
"Aku
tidak ingin membahasnya,
aku sudah selesai dengan itu semua"
"Ayolah,
aku seorang detektif, aku sedang membantu kepolisian dalam kasus pembunuhan,
dan aku rasa kasus ini ada hubungannya dengan pembunuhan polisi palsu itu"
Phoeby
menggelengkan kepala, ia tampak tak mengerti dengan apa yang dikatakan Adry.
"Aku
tidak punya waktu" Phoeby pergi.
"Kau
pembunuhnya" Ucap Adry, Phoeby menghentikan langkah dan kembali berbalik.
"Kau
bilang apa?" Tanya Phoeby dengan muka datar.
"Kau
pembunuhnya"
"Aku
bukan pembunuhnya, bagaimana bisa aku seorang pembunuh, aku sudah selesai
dengan kepolisian, dan kepolisian sudah membebaskanku dari tuduhan itu"
"kalau
begitu buktikan sekali lagi dengan intogasi ringanku"
Phoeby
menghembus nafas berat. Ia tahu Adry menuduhnya sebagai pembunuh agar ia
menuruti semua keinginannya. Mereka pun pergi ke cafetaria untuk berbicara
berdua.
Seorang
waitress menyodorkan vanilla latte dan capucchino di meja. Phoeby langsung
mengambil vanilla lattenya, bukan untuk di minum, hanya memegang cangkirnya
dengan kedua tangannya. Ia menghangatkan tangannya yang dingin dan menempelkan
ke cangkir panas itu.
"Kau
tampak kedinginan, apakah di Swiss tidak sedingin ini?"
"Hem"
Balas Phoeby, yang tatapannya tertuju pada vanilla latte di cangkirnya.
"Jangan
tegang, aku tidak akan mengajukan pertanyaan sulit, lagipula aku sudah tahu
hasil interogasi dengan Sir Charles, dan aku tidak akan mengajukan pertanyaan
yang sama"
"lalu
apa yang akan kau tanyakan lagi padaku?"
"Apa
kau merasakan kehadiran orang asing saat penjahat itu sedang berkelahi?"
"Itu
pertanyaan yang sama"
"Apa
kau yakin dengan jawabanmu?"
Phoeby
terdiam.
"Melihatmu
diam kau seperti orang yang mencurigakan"
"Aku
tidak merasakan ada orang asing, yang ku tahu aku mendengar suara berisik
seperti lemparan gelas dan aku tak pernah tahu apa yang sedang diperbuat
mereka" Jawab Phoeby.
"Apa
kau merasakan ada orang asing?"
"Kenapa
kau mengajukan pertanyaan itu lagi!" Suara Phoeby meninggi. Dan itu
mengundang perhatian banyak orang di cafetaria. Adry menatapnya serius.
Nafas
Phoeby memburu.
"Baiklah,
aku akan menjawabnya dengan jujur, dan aku belum pernah mengatakkannya pada Sir
Charles" Phoeby mengakui.
"Ya,
katakan saja"
"Aku
mendengar suara tembakkan beberapa kali, dan setelah itu keadaanpun menjadi
hening, aku rasa tidak ada yang hidup lagi di antara mereka, tapi ada sesuatu
yang membuatku takut, aku mendengar suara langkah kaki, seperti suara sepatu
but. Dia semakin mendekat, dan saat itu...." Phoeby berbicara tak karuan
dan tanpa jeda sedikit pun. Nafasnya semakin memburu dan terlihat ketakutan.
"Dia
mengusap pipiku, dan dia berkata..." Lanjut Phoeby.
"Ya?"
Tanya Adry penasaran.
"Dia
bilang mereka pantas mati, nyawa harus di bayar dengan nyawa, dia menyuruhku
untuk tidak mengatakkannya pada polisi, karena dia bilang dia akan melakukan
pembunuhan yang lebih misterius lagi"
"Apa"
"Setelah
itu dia menjauh, aku tidak mendengar dia membuka pintu keluar, aku tidak tahu
dia pergi ke arah mana, yang jelas dia sudah tidak ada disana lagi, dan sepuluh
menit kemudian ibuku datang bersama polisi"
"Sudah
kuduga, pembunuhan di labirin itu pasti dia pelakunya, seorang perempuan,
ya"
"Ya,
dia memang seorang perempuan"
"Kau
terlambat mengatakkannya, Phoeby" kata Adry dengan nada curiga.
"Dia
sudah melarangku untuk tidak mengatakkannya pada siapapun, dan sekarang aku
mengatakkannya pada seorang detektif yang akan memecahkan kasus pembunuhan,
katakkan, apa setelah ini aku akan aman, jika pembunuh itu membunuhku apa yang
akan kau lakukan?"
"Pertanyaanmu
kritis sekali. kau menanyakan apa yang akan aku lakukan jika pembunuh itu
membunuhmu, tentu saja, aku akan menemukannya dan mengeksekusinya" Jawab
Adry.
Phoeby
tak berkata apa-apa lagi.
"Tenang
saja, wanita itu menyuruhmu untuk tidak mengatakkannya hanya pada polisi, dan
aku bukan anggota FBI atau CIA, jadi kau tidak salah"
Phoeby
menyeruput vanilla lattenya, tubuhnya perlahan menghangat. sesekali ia
curi-curi pandang menatap pria di
hadapannya yang sedang meminum capucchinonya juga. Dia pria yang tampan, dan
pintar, juga memiliki siluet yang indah saat pria itu menghadap ke arah
samping, meski begitu menurut Phoeby dia tidak cocok menjadi seorang detektif,
karena dia lebih memenuhi kriteria sebagai seorang model atau aktor.
"Apa
sudah selesai? Aku harus pulang" Kata Phoeby,
"Aku
akan mengantarmu"
"Tidak
perlu, aku sudah mengirim pesan pada ibuku untuk menjemputku disini"
"Baiklah,
Phoeby, terimakasih, maaf sudah mengganggu waktumu"
"Tidak
apa-apa, lagipula... bukankah lebih baik jika aku mengatakkan hal yang
sebenarnya padamu. Setidaknya ini bisa membantumu mencari si pembunuh itu, aku
harap kasus ini segera terselesaikan"
"Ya,
semoga saja"
"Apa
kau masih mencurigaiku sebagai pembunuh?"
"Tentu
saja tidak, maaf dengan perkataanku tadi siang, itu hanya untuk menarikmu agar
kau bersedia berbicara denganku"
"Ah,
sudah kuduga" Phoeby tertawa kecil.
Adry
tiba-tiba terpaku, barusan Phoeby tertawa, ternyata gadis yang sering di sebut
suram dan antisosial itu bisa tersenyum, dan ia tidak menyangka Phoeby memiliki
senyuman yang sangat manis. Tapi senyuman itu hanya sekejap, Phoeby kembali
murung seperti biasa.
"Adry,
jika kau menemukan pembunuhnya, bisakah kau memotretnya dan menunjukan fotonya
padaku, sebenarnya aku penasaran siapa yang sudah menyelamatkanku malam itu,
aku sangat ingin tahu rupanya"
"Aku
akan meminta kepolisian untuk mengizinkanmu bertemu dengannya"
"Kalau
begitu aku akan mengucapkan terimakasih padanya"
"Phoeby,
kau tak perlu mengatakan hal itu pada seorang pembunuh"
"Aku
tahu dia pembunuh, mungkin dia sudah membunuh banyak nyawa dari yang kita duga,
tapi tidak selamanya pembunuh selalu membunuh, dia pasti pernah melakukan hal
yang baik pada orang lain, termasuk menyelamatkan nyawaku waktu itu"
"Baiklah,
akan kuusahakan kau bisa bertemu dengannya"
Phoeby
melihat ke arah luar, mobil sedan silver berhenti di depan cafe. "Ibuku
sudah sampai, aku pulang dulu"
"Hem"
***
Jam
menunjukkan pukul sepuluh malam, Mr. Albert masih sibuk dengan komputern di
ruangannya. Ia tampak kelelahan terlihat dari guratan wajahnya yang sudah mulai
menua. Ia adalah seorang kepala perusahaan Yotsuba, yang sedang menyiapkan
materi presentasi besok diacara meeting dengan rekan kerjanya.
Konsentrasinya
tiba-tiba terganggu setelah mendengar suara berisik di luar ruangan. ia pun tak
menanggapinya, tanpa sengaja ia menjatuhkan pulpen ke bawah meja, lalu ia
membungkuk untuk mengambilnya, saat kembali tegak, ia terkejut kedatangan
seseorang berpenampilan misterius sudah berada diruangannya.
"Siapa
kau?" Tanya Mr. Albert ketakutan.
Yang di
ajak bicara menodongkan pistol dan menarik pelatuknya untuk bersiap menembak.
manusia misterius itu berpakaian serba hitam, ia mengenakan jubah panjang yang
menutupi kepalanya sehingga wajahnya tak terlihat.
"Seseorang
yang akan membunuhmu"
"Apa,
ti-tidak" Mr. Albert mengangkat tangannya.
Peluru
itu pun menembus kening Mr. Albert dengan seketika ia mati dan tubuhnya terjatuh
di kursi putarnya. Wanita itu mendekat, lalu meletakkan setangkai bunga mawar
putih di meja.
Pagi itu,
warga di buat geger dengan kematian Mr. Albert di tempat perusahaannya. Mayat
Mr. Albert barusaja dimasukkan ke dalam mobil ambulance dan di bawa ke rumah
sakit untuk di autopsi. Sir Charles bersama rekan FBI tampak sibuk menangani
kasus ini.
Phoeby
yang tengah berjalan di trotoar sempat melihat aktivitas kepolisian di depan
halaman perusahaan, ia juga melihat Sir Charles dan Mr. Despard yang sedang
berbincang.
"Apa
yang sudah terjadi?" Tanya Phoeby bertanya pada salah seorang penduduk
setempat.
"Seseorang
membunuh Mr. Albert, pemimpin perusahaan Yotsuba tadi malam" Jawab wanita
berumur paruh baya itu.
Phoeby
berbalik arah untuk kembali pulang, di tengah jalan sebuah mobil berhenti, dan
Adry keluar untuk menghampirinya.
"Kenapa
kau balik lagi?" Tanya Adry.
"Adry,
aku takut, pembunuhan terjadi lagi, kali ini pemimpin perusahaan Yotsuba"
"Aku
tau, aku mendengar kabar ini tadi pagi, Mr. Despard mengirim pesan padaku. Tapi
aku tidak akan pergi ke perusahaan sekarang, ayo, kita berangkat ke kampus
sama-sama" Kata Adry.
"Tidak"
"Phoeby..."
Adry memegang kedua bahunya. "Aku akan melindungimu, tenang saja, tidak akan
terjadi apa-apa"
"Bagaimana
aku bisa yakin, sementara kemarin aku sudah mengatakan hal yang sebenarnya
padamu, bagaimana kalau pembunuh itu tau bahwa aku membocorkan rahasia ini
padamu"
"Dia
tidak akan tahu bahwa kau mengatakkan hal sebenarnya padamu, meski dia tahu
bahwa kau sudah mengatakkannya pembunuh itu tidak akan membunuhmu. Nyawa di
bayar dengan nyawa. kau tidak pernah membunuh, Phoeby, dia tidak akan
melakukannya padamu"
Phoeby
merasa tenang saat Adry mengatakan hal itu.
"Ayo,
kita berangkat" Adry mengajak Phoeby masuk ke dalam mobil.
***
"Aku
tersesat di labirin dan tidak bisa menemukan jalan keluar, bagaimana bisa aku
membunuh menteri raja!" Bentak gadis itu yang tampak tak terima di
interogasi dengan berbagai macam pertanyaan yang di lontarkan Mr.Despard.
"Baikla,
baiklah, kau bisa menjawab pertanyaanmu tanpa berteriak, jika kau terus
berteriak kau akan ku tetapkan sebagai tersangka"
"Apa!!"
Mr.
Despard yang sibuk menginterogasi lain halnya dengan Sir Chales yang kelabakan
menangani kasus pembunuhan selanjutnya.
"Bunga
mawar identik dengan seorang perempuan, bisa jadi si pembunuhan ini dilakukan
oleh orang yang sama di labirin itu"
"Mengapa
harus mawar putih?"
"Entahlah,
mawar putih diartikan sebagai lambang cinta dan keagungan hati. Pasti ada
alasan tertentu yang tidak kita ketahui mengapa si pelaku meletakan bunga mawar setelah ia
membunuh"
"Permainan
macam apa ini"
"Apa
si pembunuh mencoba memberi pesan kepada kita? Tapi apa artinya?"
"Aku
yakin pelakunya orang yang sama dengan pembunuhan di labirin itu. Semua akan
terjawab secara akurat setelah usai interogasi seluruh wanita kandidat"
Kata Sir Charles.
***
"Sial,
aku tidak menemukan namanya" Ucap Adry, tampaknya hasil pencarian di
komputer tidak ada penduduk Kanada yang bernama Amanda Milray yang berumur 20
tahun. Adry menghempaskan punggungnya di senderan kursi putar, selama lebih
dari dua jam ia berada di depan komputer hanya untuk mencari satu nama.
"Kalau
kau tidak menemukannya sampai saat ini, aku akan membantumu, ingat batas
penyelidikkan kita tiga minggu lagi, jika kita tak menemukan pelakunya maka
kasus ini akan di hapus dan kita tidak akan pernah tahu siapa pelaku
pembunuhannya" Kata Mrs. Daniel.
"Aku
tidak akan menyerah"
"Oh
ya. hasil inteogasi dari keenam orang mereka tidak terbukti bersalah. sisanya
wanita labirin nomor tiga, lima,tujuh dan sepuluh. Sir Charles, Mr. Morgan dan
Mr. Despard akan mengurus ketiga wanita itu, dan aku akan membantumu mencari si
nomor sepuluh" Kata Mr. Daniel. "Baiklah, apa yang akan kau lakukan
selanjutnya"
"Tidak
ada. Aku masih menunggu kabar dari salah satu penduduk di St. Petroch Loomouth.
Dia bilang Amanda Milray pernah kesana, dan dia akan menghubungiku jika dia
kesana lagi"
"Dia
wanita menyusahkan"
Lalu
pintu ruangan di ketuk seseorang dari luar. Mr. Daniel membukanya. Seorang polisi
wanita dengan seseorang pria berumur 30-an membawa sebuah DVD.
"Dia
membawa petunjuk baru" Ucap polwan itu.
Mr.
Daniel memutar DVD itu di komputer, Adry bersama polwan dan pria bernama Eric
ikut menyaksikan apa isi dari sebuah rekaman CCTV itu.
Layar
komputer mempelihatkan sebuah sudut ruangan hinggga sepuluh detik kemudian
sekelebat manusia berjubah hitam berjalan ke ruangan yang lain.
"Bisa
tolong jelaskan?" Tanya Mr. Daniel.
"Ya,
itu ruangan karyawan dan karyawati, tepat di depan ruangan Mr. Albert, karena
CCTV itu dalam posisi tidak tepat jadi hanya sudut itu saja yang terekam.
Sepertinya memang si pembunuh itu menuju ruangan Mr. Albert" Jelas Eric.
"Ada
berapa jalan menuju kesana?" Tanya Mr. Daniel, yang terus mengulang
rekaman itu
"samping
kiri, kanan, depan, dan belakang, namun pintu di belakang sedang rusak sehingga
tidak ada orang yang berhasil masuk kesana, ya, kemungkinan dia mengambil jalan
dari arah antara ketiga pintu" Balas Eric.
"Miss
Jeany, aku dengar kau ahli mikroekspresi, apa kau bisa membaca gerak-gerik
orang ini?"
"Ya,
setelah kuperhatikan baik-baik, dia berjalan dengan langkah kecil, namun
seperti terburu-buru, tapi dia tidak terlihat waspada dengan disekitar, dia
sangat percaya diri. Tapi- Tunggu, Mr. Daniel bisa kau pause dulu saat dia
muncul?" Pinta Mr. Jeany.
Mr.
Daniel mengulang video, dan memijit tombol spasi. Video itu memperlihatkan saat
pelaku itu muncul di kamera.
"Perbesar
di area wajah" Pinta Mr. Jeany. Gambar itu di perbesar di area wajah meski
tertutup dengan tudung jubah, tapi masih terlihat di bagian dagu dan hidung,
namun tidak begitu jelas.
"Itu
seorang perempuan"
"Ya,
aku pikir juga begitu" Kata Mr. Daniel.
"Dagunya
terlihat panjang, sepertinya
efek dia sedang tersenyum dengan mulut yang sedikit terbuka, ini menandakan,
seolah kematian Mr. Albert akan membuahkan hasil bagi dirinya sendiri"
Kata Jeany.
"Jika
kau benar, maka bisa dipastikan dia pembunuh bayaran yang disewa oleh salah
satu perusahaan besar" Tiba-tiba Eric berasumsi.
Lalu
semua memandang Eric dengan tatapan aneh.
"Itu
tidak menutup kemungkinan, tapi apa keuntungan baginya?" Tanya Adry.
"Eeuu
ituu, entahlah" Jawab Eric bingung.
"Oh
ya ada sesuatu yang mengganjal, perbesar tangannya" Pinta Adry, lalu video
memfokuskan dan memperbesar di area tangan, si pembunuh menggunakan sarung
tangan dengan membawa pistol api.
"Ini
pistol yang dia bawa, dia menggunakan sarung tangan agar tidak meninggalkan
sidik jari" Ucap Mr. Daniel.
"Sepertinya
pembunuhan ini dipersiapkan secara matang dan terencana, tapi... dari mana dia
tahu bahwa Mr. Albert masih berada di kantornya?" Ucap Mr. Jeany, semuanya
tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Petunjuk masih samar-samar, tapi
setidaknya mereka sudah tau bagaimana rupa si pembunuh itu.
Di tengah
keheningan semua dikejutkan dengan dering ponsel Adri disakunya. Nomor asing
menghubunginya, Adri pun memijit tombol terima dan menempelkan ponselnya di
telinga kiri.
"Ya?"
Tanya Adri.
"A-Adri..."
Itu suara seorang wanita, namun bagi Adri suara itu tidak asing lagi di
telinganya.
"Phoeby?"
"Adry,
tolong aku" Suara Phoeby gemetaran
"Kau
ada dimana?"
"Toserba,
di distrik ketiga"
"Aku
harus menjemput seseorang" Adri menyambar kunci mobilnya di meja, lalu
meninggalkan ruang kantor CIA.
***
"Phoeby"
Panggil Adry.
"Adry"
"Ada
apa?"
"Laki-laki
itu,aku tidak tahu sejak kapan dia mengikutiku, tapi aku baru menyadari saat
berada di Mademoissel, dan dia mengikutiku sampai kesini" Phoeby menunjuk
ke arah pria yang berdiri di dekat gang yang berada sepuluh meter dari arah
toserba.
"Sudah
berapa lama kau disini?"
"Sudah
tiga puluh menit yang lalu"
"Kalau
begitu dia benar-benar menguntitmu"
"Aku
tidak tahu harus bagaimana selain menghubungimu, telpon ibuku sedang tidak
aktif, aku hanya mempunyai dua nomor di ponselku, kau dan ibuku"
"Tenang
saja, kau sudah bersamaku sekarang, ayo kita pulang" Adry menggamit tangan
Phoeby, dan membawanya keluar.
"AKu
takut dia bertindak macam-macam, bagaimana jika pria itu berbahaya
"Jika
dia bertindak macam-macam aku akan menghajarnya, yang penting sekarang aku
harus mengantarmu pulang, kau akan aman setelah berada di rumah"
Mobil itu
mengantarkan tempat dimana Phoeby tinggal, barulah lima belas menit kemudian
mereka sampai di Crow's Nest sederhana di sekitar Green Lock Street.
"Jadi
ini rumahmu" Ucap Adry saat mengantarkan gadis itu sampai di depan pintu.
"Hem,
jika kau tidak sibuk, kau bisa mencicipi poutline dan sandwich buatanku"
***
Ketika
Phoeby sibuk mengeluarkan belanjaannya di dapur, Adry yang berada di ruangan
keluarga memperhatikan sekeliling ruangan. Jika dari luar rumah ini terlihat
kecil, tapi berbanding terbalik dengan yang di dalam, ruangan ini terbilang
sangat luas, namun tidak terlalu banyak barang disana. Hanya beberapa sofa
santai di depan televisi, sebuah patung seorang wanita di bawah tangga, dan
lukisan yang menghiasi dinding.
Adry
mendekat dan memperhatikan lukisan itu. Tidak terlalu memiliki nilai seni
tinggi, tetapi meninggalkan kesan di dalamnya. Lukisan wajah seorang wanita
dengan mata terpejam namun menjatuhkan air mata di pipinya, wajah itu
menengadah ke langit. Adry membaca tulisan kecil di sudut kiri kanvas.
A.M,Swiss, .
Adry
kembali memperhatikan lukisan itu, mirip wajah Phoeby. Hidungnya dan dagunya
tampak tidak asing baginya jika dilihat dari samping. Gadis itu benar-benar
cantik. Batin Adry.
"Apa
itu lukisanmu?"
"Oh
lukisan itu? Itu memang wajahku, tapi bukan aku yang buat. Di sudut kiri kau
akan menemukan tulisan AM, Swiss, 20-7-2014"
"Ya
aku melihatnya"
"Angel
Mademoissel, salah satu teman kampusku di Swiss, ah tidak, aku tidak punya
teman, pokoknya saat itu sedang praktik melukis, entah mengapa dia melukis
wajahku, dia bilang itu hanya iseng dan mengejekku lewat lukisan. Aku yang
pemurung yang menengadah ke arah langit seakan mengharapkan sebuah kebahagiaan.
Entah kenapa aku malah menyukainya, dan dia memberikanku lukisan itu seperti
sampah"
"Dan
aku akan bertanya padamu, kenapa kau tidak pernah memiliki teman dan bersikap
antisosial, Phoeby"
Phoeby
mengangkat bahu "Aku sulit menjawabnya"
"Katakan
saja apa yang kau rasakan"
"Aku
memiliki masalalu yang buruk, ini ada hubungannya dengan kepindahanku ke
Kanada. Dari sejak kecil aku hidup di bawah asuhan ayahku yang otoriter, dengan
sikapnya yang keras itu dan sempat menyiksaku, akhirnya aku terbiasa begini.
Menurutku hidup dengan seseorang akan menyusahkan, berbeda dengan hidup
sendiri, serasa bebas melakukan apapun"
"Kenapa
orang tuamu...- ah tidak, aku tidak akan menanyakannya terlalu jauh, aku tau
kau tidak ingin mengatakkannya padaku, iyakan?"
"Hem,
terlalu rumit, itu membuatku kembali ke masalalu"
"Aku
mengerti"
"Oh
ya, bagaimana dengan penyeledikanmu, sudah ada kemajuan?" Tanya Phoeby.
"Ya,
sudah ada beberapa petunjuk, aku sempat kelabakan mengurusnya, masih di bawah
lima puluh persen untuk menemukan jawaban siapa pelakunya"
"Lalu
bagaimana dengan pembunuhan di perusahaan Yotsuba itu? Apa disana juga
menemukan petunjuk?"
"Dia
menyimpan bunga mawar putih di meja Mr. Albert, tapi kepolisian belum menemukan
motif pembunuh dan arti dari mawar itu"
"Petunjuk
yang aneh, pembunuh menyimpan bunga mawar itu adalah hal yang langka"
Adri
tertawa kecil "Ya, kau benar"
"Kau
tampak mahir memainkan pisau ya" Ucap Adry dengan nada yang dibuat curiga
saat melihat tangan terampil mengupas kulit kentang.
"nadamu
itu seperti menuduhku seorang pembunuh" Balas Phoeby dengan nada bercanda.
Lalu ia mencuci tangannya di wastafel.
"Oh
ya" Phoeby berdiri tepat di hadapan Adry, gadis itu sedikit mendongak
memandang Adry dan menatapnya dengan wajah manis. "Kau adalah seorang
detektif yang menyelidiki kasus pembunuhan, tapi kau bukan FBI atau CIA,
katakan apa yang akan kau lakukan jika aku adalah pembunuh itu, aku ingin
tahu?"
Adry
menatap balik gadis itu. Menatapnya lama.
"Aku
akan menciummu"
Phoeby
tertawa renyah "Jangan bercanda"
"Kau
juga sedang bercanda"
"Ya
aku tahu-aku tahu,,, jika aku adalah pembunuh, kau akan mengeksekusiku tanpa
ampun, kau akan mengambil pistolmu dan menembakkannya tepat dikepalaku, atau
kau..."
"Atau
aku akan membunuhmu dengan pisau dapur" Adry melanjutkan.
"Ya-ya
kau benar" Phoeby tertawa.
"Kau
bahagia denganku"
Tiba-tiba
tawa Phoeby terhenti.
"Aku
penasaran kapan kau terakhir tertawa seperti itu, Phoeby. apa kau sering
tertawa?" Tanya Adry sambil menatapnya dalam-dalam. Lalu menggenggam kedua
tangan Phoeby yang dingin.
"Sejak
pertama bertemu denganmu, sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan wanita yang
antisosial, dia terlihat angkuh dan egois, aku tahu kau memiliki sikap seperti
itu, kadang aku ingin kau bisa tersenyum kepada orang-orang disekitarmu, dan
mencoba berbicara banyak pada orang yang peduli padamu. Aku ingin kau
melakukannya, tapi setelah aku sadar, aku ingin hanya aku yang tahu senyuman
itu, aku hanya ingin hanya aku yang tau suara tawamu, aku ingin memilikinya,
hanya aku, Phoeby... aku jatuh cinta padamu. Jangan berikan senyuman itu pada
orang lain, kecuali aku"
"A-Adry"
Wajah
Adry tepat di depan wajahnya, sepertinya sebentar lagi akan terjadi sesuatu.
Phoeby bisa merasakan nafas Adry yang hangat, dan tangannya menggenggam erat.
"Jangan
jatuh cinta padaku" Ucap Phoeby pelan.
"Aku
sudah jatuh cinta padamu, dan aku tidak ingin kau melarangku"
"Tidak,
aku mohon jangan jatuh cinta padaku. Pada akhirnya kau hanya akan menyakitiku
Adry, semua pria selalu menyakiti wanita, seperti yang dilakukan ayah padaku dan ibuku"
"Kenapa
kau beranggapan seperti itu Phoeby, kau tidak tahu apa arti cinta sesungguhnya,
kau barusaja tertawa denganku, aku tahu kau bahagia jika aku berada di dekatmu,
iyakan"
Phoeby
terdiam.
"Aku
tahu kau kesepian selama ini karena selalu sendiri. Aku mohon, beri sedikit
ruang untukku" Adry memegang pinggang gadis itu, dan memberikan ciuman
lembut pada bibirnya.
Keduanya
di kejutkan saat pintu depan yang di buka. Laurent barusaja sampai dan tak
sengaja menyaksikan adegan mengejutkan itu di dapur. Tapi Laurent berusaha
bersikap tenang kepada mereka, padahal dalam hati ia senang, akhirnya Phoeby
yang pemurung bisa jatuh cinta.
"Aku
pikir siapa, tidak biasanya ada mobil yang terparkir di depan" Ucap
laurent dengan ramah.
"Mom,
kau sudah pulang, hemm... ini Adry dia teman kampusku, Adry dia ibuku"
"Adry"
Mereka
berjabat tangan.
"laurent.
Teman?" laurent bertanya sesuatu.
"Hem
ya, kami barusaja berpacaran" ucap Adry.
"Tidak-
kami tidak pacaran, Mom, yang barusan itu...-"
"Ah
syukurlah, mama tidak menyangka pria setampan ini akan menjadi pacarmu, mama
senang mendengarnya"
"Tidak-"
Phoeby berusaha mengelak.
"Uh,
aroma poutline, apa kau membuat poutline?" Laurent mengalihkan pembicaraan
seraya berjalan ke dapur. Dimeja tersaji sepiring besar kentang dengan taburan
keju dan tiga sandwich yang cukup mengenyangkan.
"Ya,
aku membuatnya dengan Adry, aku sengaja membuatkan tiga sandwich untuk
kita"
"Baiklah,
malam ini kita akan makan bersama" Laurent dengan antusias membawa makanan
itu ke ruang keluarga sambil menyalakan televisi.
***
Hujan
deras di luar belum juga berhenti. Hawa dingin yang menyeruak akhirnya membuat
Restoran di sekitar Maam Cross menjadi sasaran orang-orang untuk sekedar
menunggu hujan reda sambil meminum
coffe.
Sir
Charles menyimpan makanannya di atas meja, Shish Taouk dan smoked meat sandwich
siap dilahap oleh Inspektur paruh baya itu. Ia mengambil potongan daging dengan
garpu lalu menjejalkannya ke dalam mulut.
"Disini
sangat ramai sekali, aku hampir kehabisan tempat duduk" Ucap pria asing
bertopi bundar dan mengenakan mantel yang sangat tebal. Sir Charles menatap
tajam, menurutnya itu sangat tidak sopan seorang yang duduk tanpa dipersilahkan
dahulu.
"Aku
melihatmu di televisi, sepertinya FBI dan CIA sangat sibuk akhir-akhir
ini" Ucap pria asing itu, setelah menyadari bahwa Sir Charles berseragam
kepolisian. Sir Charles tak menaggapi, ia hanya tidak suka di ganggu saat
makan, apalagi saat dirinya - dan Shish Taouk favoritnya.
"Tapi
sepertinya kasus ini sulit untuk dipecahkan,bukan?" kata pria asing itu.
"Jika
ingin bicara denganku tunggu sampai aku menyelesaikan makananku" Balas Sir
Charles tanpa memandangnya.
Pria
asing itu tertawa "Kau terlalu santai dalam menangani kasus ini, tidak
kusangka, FBI dan CIA kelabakan hanya dengan satu orang wanita"
Sir
Charles menatap wajah pria itu dengan serius. "Apa maumu?"
"Baiklah,
untuk membuatmu jelas" Pria itu menyerahkan identitasnya "Aku anggota
kepolisian"
Sir
Charles menatap identitas kepolisian itu di meja. Namun identitas itu bukan
dari negara Kanada. Sir Charles kembali memandang pria asing itu.
"Aku
sedang menjalankan tugas, ah, kau pasti kenal dengan foto ini" Pria asing
itu meletakkan sebuah foto di meja.
"Kau
pasti kenal dengan orang ini, dan setelah memperlihatkan foto ini kau pasti
tahu aku berasal dari kepolisian mana" Kata pria itu mengejutkan Sir
Charles, namun Sir Charles tak menunjukkannya. "Dia adalah buronan kami.
Pembunuh bayaran yang sangat profesional dalam hal menembak"
Lama, Sir
Charles memandang foto itu.
"Dia
satu-satunya anak buah Pater Kardinal Rooney dan teman-temannya berjumlah 3
orang. Pater tersangka yang sudah kami bebaskan 15 tahun yang lalu, dia
terbukti melakukan pembunuhan dan perampokkan di sebuah bank. Dan untuk
melanjutkan kejahatannya dia merekrut gadis ini untuk melakukannya" Jelas
pria itu.
"Ayo,
kita bekerja sama mencarinya. Amanda Milray" Lanjut pria itu.
***
Istana
kaisar bukan main megahnya, bangunan yang berdiri beberapa hektar itu tampak
bersinar di pinggir kota. Istana itu menjadi pusat perhatian banyak orang. Ya,
malam ini banyak sekali orang yang berdatangan, para pejabat tinggi dan tokoh
ternama mendatangi istana untuk merayakan sebuah pesta yang di adakan oleh
Freddy Sanders. Pesta yang diadakan setiap satu tahun sekali tepat di musim
dingin. Pesta ulang tahun Freddy Sanders.
"Selamat
berulang tahun, Yang Mulia" Seorang pejabat tinggi menjabat tangan Freddy
dengan bangga. "Ah, dan Nyonya Sanders" ia juga menjabat istri
Freddy.
"Thank
you" Ucap Nyonya Sanders ramah. Dia wanita berumur setengah abad,
mengenakan gaun yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang masih segar di pandang
mata. Dia sangat perfeksionis dalam hal apapun terutama penampilannya, karena
hal itulah dia masih saja cantik dan garis-garis keriput di wajah nyaris tak
terlihat.
Mereka
berbincang selama beberapa menit dan berfoto bersama. Nyonya Sanders
memperhatikan anak semata wayangnya yang berdiri di samping jendela, sedari
tadi ia seperti menunggu seseorang. Nyonya Sanders mendekat.
"Jangan
hanya berdiri saja, kau bisa berdansa dengan gadis cantik yang berada
disini" ucap Nyonya Sanders.
"Aku
sedang menunggu seseorang, Mom" ucap Adri.
"Dia
pacarmu?"
"Entahlah"
Nyonya
Sanders tertawa kecil "Apa gadis itu menolakmu?"
"Dia
belum merespon apa-apa, aku harap malam ini aku bisa menemukan jawabannya"
"Tidak
biasanya ada gadis yang tidak langsung menjawab pernyataan cintamu itu, aku
jadi penasaran gadis seperti apa dia, apa dia cantik?"
"Hem,
dia tipeku"
"Baiklah,
kenalkan dia padaku"
***
Adry
menyembunyikan seikat bunga mawar di balik punggungnya. ia menaiki tangga untuk
menuju ke lantai tiga. Phoeby, sudah menunggunya disana.
Sampai di
lorong yang terang benderang, dan angin semilir dari luar tampak Phoeby sedang
memandang ke arah luar, rambutnya sesekali tertiup angin menambah ketertarikan
siluetnya. Apalagi lekuk tubuhnya yang indah dengan balutan gaun sifon berwarna
putih tanpa lengan, membuat Adry semakin ingin memilikinya.
"Apa
kau menunggu lama?" Tanya Adry.
"Tidak,
maaf aku datang terlambat"
"Kau
pintar bersembunyi, aku menunggumu di bawah, diam-diam kau kesini sendirian
ya"
"Aku
hanya tidak suka keramaian, dan kalau aku menemuimu di bawah, sepertinya aku
akan jadi pusat perhatian"
"Dan
kau juga tidak suka diperhatikan banyak orang. Phoeby, banyak sekali yang tak
aku ketahui tentang kamu" Ucap Adri. Adry memperhatikan wajah Phoeby yang
sedikit bermake up, tidak terlalu tebal namun natural, bibirnya yang kecil
mengkilap dengan polesan lip gloss. Phoeby benar-benar cantik malam ini.
Adry
menyerahkan seikat bunga mawar merah pada Phoeby. Phoeby menatapnya tanpa
ekspresi, tapi lalu dia tersenyum.
"Aku
tidak menyangka kau bisa bertindak manis seperti ini. Tapi... aku tidak suka
mawar"
"Oh
ya? Sayang sekali. Baiklah, jika kau tidak menyukainya aku akan melemparnya
keluar"
Phoeby
menahan tangan Adry, lalu ia menerima bunganya "Tunggu, aku akan
membawanya. Hal yang langka menerima bunga dari seorang detektif"
Tiba-tiba
Adry menarik tubuh Phoeby ke dalam pelukannya.
"Mulai
malam ini kau adalah milikku, Phoeby"
Phoeby
terdiam sejenak.
"Sudah
ku bilang, jangan jatuh cinta padaku, Adry-"
Pelukan
Adry semakin erat. dan membelai rambutnya dengan sayang.
"Aku
tidak akan menyakitimu Phoeby, dan aku akan melindungimu. Percayalah"
"Janji?"
"AKu
berjanji"
"Aku
belum bisa memberimu jawaban, aku butuh beberapa menit untuk
memikirkannya"
Adry
melepas pelukannya. "Baiklah. Aku mau mengambil minuman dulu"
"Ya"
Adry
meninggalkan Phoeby di lorong, ia pun pergi ke lantai dasar untuk mengambil dua
gelas minuman. Tak di sangka, Sir Charles dan pria tak di kenalinya datang.
Mereka mengenakan stelan jas yang sangat rapi seperti tamu yang lain, dan itu
sangat membuat Adry terkejut.
"Sir,
kau datang juga?" Tanya Adry.
"Adry,
aku sama sekali tidak ingin merusak acara ini. Tapi... ini demi kebaikan kita
semua, aku sengaja datang kesini tanpa seragam kepolisian agar dia tidak
mengetahui bahwa CIA ada disini"
"Maksudmu
dia?"
"Aku
sudah menemukan si pembunuh misterius itu, dia ada disini, oh kenalkan dia Sir
Philips, partner baruku untuk membantu penyelidikan ini"
"Tunggu,
maksudmu apa, dia ada disini, siapa?"
"Amanda
Milray"
Adry
tertegun.
"Kau
juga mengenalnya dengan baik, Amanda Milray, ah, bukan, dia Phoeby. Ya, Phoeby
adalah Amanda Milray"
Adry
tertawa "Tidak jangan bercanda, malam ini aku dengan PHoeby sedang
berkencan, jangan membawa-bawa Phoeby dalam penyelidikkan"
"Kau
terlalu percaya padanya, aku membawa kepolisian dari Swiss, bukankah Phoeby
dari Swiss, benarkan? Dia mencari gadis itu, dia adalah buronan"
"Tidak-"
"Katakan
dimana dia?"
Adry, Sir
Charles dan Philips menuju balkon lantai tiga. Saat sampai langkah mereka
seketika berhenti. Dihadapan mereka, Phoeby dengan refleks menodongkan pistol
ke arah mereka, bersamaan dengan Sir Charles juga menodongkan pistol padanya.
"Phoeby"
Kata Adry pelan, ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Phoeby
menurunkan ponsel dari telinganya. Sepertinya seseorang sudah memberitahu
Phoeby bahwa Sir pHilips sedang mencarinya. Ya, Laurent memberitahunya. Setelah
Phoeby pergi ke pesta Sir Charles datang menanyakan Phoeby. Laurent pun di
tahan di kepolisian diam-diam ia menelpon Phoeby dengan ponsel yang ia
sembunyikan. Saat itulah Phoeby mengerti keadaan, ia akan bertemu Sir Philips
malam ini.
"Sir
Philips. Benar?" Tanya Phoeby tenang, namun terdengar angkuh.
"Senang
bertemu denganmu, Miss Milray" Balas Sir Philips.
Phoeby
mendesah sinis. "Aku terkejut kau bisa sampai kesini,"
"Tentu
saja, aku membawakan berita baik untukmu. Besok lusa, Pater akan di
eksekusi"
"Apa?"
"Apa
lagi yang akan kau perbuat? Atasanmu akan mati, akan lebih bagus kau juga
menyerahkan diri pada kepolisian, jangan menghancurkan keamanan negara ini,
Milray"
"Phoeby,
katakan, ini tidak serius kan, kau bukan Amanda Milray"
"Jangan
berkata polos seperti itu, detektif. Aku memang Amanda Milray, aku yang
membunuh polisi palsu di bangunan terisolasi ,labirin, dan yotsuba. Itu aku.
AKu memaklumi keterlambatanmu menyelidiki Amanda Milray, karna kau sama sekali
bukan anggota CIA. Kau sudah mengetahuinya sekarang, yang jelas aku sudah
melarangmu untuk jatuh cinta padaku, Adry Russel Sanders"
Entah
kenapa, meskipun itu Phoeby tapi Adry tak mengenal nada suara seperti itu. Itu
kebalikan dari sikap Phoeby yang lembut dan dingin. Sekarang dihadapannya bukan
Phoeby lagi, tapi Amanda Milray, gadis pembunuh yang selama ini ia cari.
Phoeby
menarik pelatuk tanpa ragu dan siap menembak mereka.
"Sir,
turunkan senjatamu" Pinta Philips pada Sir Charles. Sir Charles terkejut
dengan permintaan Philips itu.
"Dia
penembak profesional, dia bisa menembak dari sembarang arah dan selalu tepat
sasaran"
"Tidak
mungkin, wanita seperti dia bisa melakukan hal yang tak bisa dilakukan oleh
FBI" Balas Sir Charles pelan, ia pun menurunkan senjatanya.
Sir
Philips mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
"Ayo
lakukan" Ucap Sir Philips agar keduanya mengangkat tangan juga, Sir
Charles menurutinya, namun Adry masih tak percaya dan keras kepala.
"Phoeby-"
"Berbalik"
Ucap Phoeby.
"Dia
gadis berbahaya, ikuti saja kata-katanya" Ucap Philips, yang seakan tak
bisa berbuat apa-apa menghadapi gadis ini.
Ketiganya
berbalik membelakangi Phoeby, sementara itu Phoeby menurunkan senjatanya.
Sampai beberapa detik, tak terdengar suara dari belakang mereka. Saat mencoba
berbalik ke arah Phoeby,
dia sudah tidak ada disana lagi. Meninggalkan bunga mawar dan hand bagnya.
Sir
Charles menuju jendela dan memandang ke arah luar. Tidak ada Phoeby disana.
"Menghilang"
Adry
melesat menuruni tangga, diikuti Philips dan Sir Charles, tentu saja, untuk
mencari Phoeby.
Mereka
bertiga menyebar keseluruh ruangan dasar, untuk berjaga-jaga bahwa Phoeby tak
melakukan pembunuhan disini. Adry keluar dari istana memandang ke sekeliling
taman, tidak ada tanda-tanda Phoeby disana. Beberapa orang penjaga pun terlihat
aman mengawasi lingkungan.
"Apa
kau melihat gadis mengenakan baju putih yang keluar dari istana?" Tanya
Adry ke seorang penjaga keamanan istana.
"Kami
belum melihat tamu manapun yang keluar dari istana, Tuan muda"
Ia pun
mencari ke tempat lain disamping istana. Tidak ada Phoeby disana. Tak lama
datang Sir Charles dan Philips.
"Kau
menemukannya?" Tanya Philips.
"Dia
kabur dengan sempurna" Jawabnya.
"Gadis
itu benar-benar diluar logika. Bagaimana bisa dia melakukannya tanpa ada
jejak" Ucap SIr Charles.
"Ya,
ini salah satu alasan kenapa kepolisian Swiss tak pernah berhasil menangkapnya,
gadis itu seperti tikus yang pintar menyelinap dan bersembunyi" Kata
Philips
"Dia
belum lama pergi dari sini, ayo kita lanjutkan pencarian keluar istana"
"Aku
ikut" Ucap Adry.
"Tidak,
kau harus tetap berada di istana, gadis itu bisa berada dimana saja, jaga saja
ayahmu" Ucap Sir Charles.
AKhirnya
kedua polisi itu pergi dari istana dengan mobilnya.
***
Pagi itu,
Adri memandang seikat bunga mawar dan hand bag di meja. Melihat kedua benda itu
membuat hatinya terasa sakit, apalagi mengingat tadi malam Phoeby yang terlihat
polos tiba-tiba menodongkan pistol ke arahnya. Meski perasaannya hancur, tapi
Adry tetap konsisten menjalankan tugasnya, tentu saja, untuk memenuhi janji
pada ayahnya, menemukan dan mengeksekusi gadis itu.
Tiba-tiba
ponselnya bergetar. Nomor tak di kenal menghubunginya.
"Ya?"
Ucap Adry.
Mengetahui
isi pembicaraan seseorang di seberang Adry langsung mengambil kunci mobil dan
pergi meninggalkan istana, ia juga menghubungi Sir Charles.
"Dia
berada di Street Petroch Loomouth"
***
Phoeby
memandang Nenek Lucy yang meletakkan kembali telepon rumahnya. Nenek Lucy baru
saja memberitahu seseorang keberadaan dirinya di St. Petroch Loomouth.
"Nenek,
kau baru saja menelpon polisi, apa yang kau lakukan?" Tanya Phoeby.
Nenek
Lucy kaget lalu berbalik. Ia memegang bahu gadis itu.
"Seseorang
ingin menemuimu, dia pria yang sangat baik dan tampan, kau pasti menyukainya,
pria itu juga menanyakan keberadaanmu. Aku akan mempertemukan kalian berdua,
kalian akan saling jatuh cinta"
Hotel Rose Melfort adalah hotel yang paling sunyi di St. Mount Cambridge. Hotel megah yang bersembunyi di balik semak tinggi yang membentuk dinding, namun semak-semak itu di potong rapi seperti sengaja menyembunyikan hotel itu. Berseberangan dengan hotel yang terhalang oleh semak terdapat taman labirin yang luas, taman itu di setting sedemikian rupa membentuk sebuah bangunan tertutup.
Sementara
di depan pintu masuk labirin, beberapa orang wanita menunggu pintu masuk
labirin itu di buka. Ini permainan labirin berhantu, sebuah permainan yang di
adakan oleh Adry Russel Sanders, seorang anak kaisar terkemuka di Kanada. Sebut
saja ini permainan isengnya untuk menguji nyali para wanita yang berebut untuk
berkencan dengannya malam ini.
Seorang
wanita aneh menempati labirin nomor sepuluh setelah mengambil nomor dari
seorang pria yang duduk di meja sebagai pembimbing mereka.
Wanita
itu... datang paling terakhir yang membuat para wanita lain kesal, karena
keterlambatannya membuat permainan ini semakin di undur.
"Heu,
kostum macam apa itu" Ucap wanita yang berada di sampingnya, sementara si
lawan bicara tak menanggapi apapun, padahal ia sendiri merasa tak percaya diri
dengan kostumnya. Tidak, ini bukan kostum, tapi pakaian biasa yang sudah
ketinggalan zaman. Baju casual yang longgar, dengan rok berbahan katun yang
panjangnya di bawah lutut dan kaki yang di balut sepatu kulit berwarna coklat
tua, satu lagi, ia membawa tas selempang yang terlihat usang. Jelas kontras
sekali dengan para wanita lain. Mereka mengenakan baju dan sepatu yang bermerk
dan terlihat elegan, dan wajah bermake up seakan mereka telah siap membuka
pintu di hadapannya untuk bertemu sang pangeran dari anak kaisar.
Gadis
yang dikatai barusan hanya mendesah senyum, jelas itu bukan pintu untuk
menemukan sang pangeran, itu adalah pintu mengerikan yang di dalamnya berupa
labirin berhantu. Mereka akan terjebak di dalam sana dalam waktu 15 menit,
sementara mereka harus menemukan jalan keluar sambil di ganggu para hantu
labirin. Siapa yang berhasil keluar, maka ia mendapat kesempatan berkencan semalam dengan pria tampan
dari anak tunggal seorang Kaisar dan uang $10 dollar.
5 detik
lagi pintu akan di buka. Gadis itu mehembus nafas panjang, pintu otomatis
menggeser, para wanita itu masuk dengan percaya diri.
Gadis
aneh itu sempat memperhatikan pintu masuk tadi, di desain seperti tembok
labirin berwarna krem, sehingga tidak ada yang tahu bahwa itu pintu masuk atau
bukan. baiklah, sekarang ia berada di tengah labirin yang mengarah ke kiri dan
kanan. Tiba-tiba lampu mati, tak sampai 5 detik ia mendengar jeritan dari
labirin sebelah kiri, itu pasti wanita yang mengatainya tadi.
"Kau
boleh menjerit saat melihat hantu, heu, labirin berhantu pasti gelap,
seharusnya kau tahu itu" Gumam gadis itu pelan, sambil berjalan ke arah
kanan labirin.
Gadis itu
berjalan perlahan sambil memperhatikan hantu-hantu yang mengganggunya yang
telah di setting di dinding labirin, - hanya memperhatikan, bahwa hantu itu
bukan hantu yang dimainkan manusia sungguhan, tetapi mesin. Ia merasa telah
aman, meski begitu ia harus berhati-hati untuk melewati labirin selanjutnya ia
tidak ingin terlambat dalam waktu 15 menit karena tersesat di labirin.
Sampai
dilabairin terakhir, pintu yang bertuliskan "You are the winning" terpampang dengan tulisan semerah
darah. Gadis itu mendorong gagang pintu. Ia telah berada di luar labirin yang
berupa taman kecil tepat di hadapan bangunan bertingkat 5. Bangunan itu
bersinar karena ribuan lampu yang menyala di mana-mana.
Lalu ia
menemukan sepucuk amplop merah yang
tergeletak di tanah. Ia memungutnya dan membuka isinya.
Aku
menunggumu, permaisuriku. Adry.
gadis itu
kembali meletakkan amplop itu seperti semula. tentu saja, ia tidak akan menemui
pria itu. ia punya tujuan sendiri. Ia pun bersembunyi di balik pohon yang
berada di pinggir labirin, ia segera membuka tas dan mengambil pistol.
Kepalanya menyembul dari balik pohon. Dari kejauhan ia cukup melihat dengan
baik dua orang pria dengan stelan jas sedang berbbincang di balkon lantai tiga.
Pria paruh baya sang kaisar, dan seorang menteri baru yang berbahaya.
Gadis itu
adalah seorang penembak profesional, ia hanya mengarahkan pistol itu ke arah
pria yang menjadi targetnya. Ia siap menarik pelatuknya, sebuah peluru pun
menembus jantung pria itu. Pria yang menjadi menteri baru dalam kekaisaran.
Tampak pria itu jatuh tergeletak, sementara sang kaisar tterlihat sangat panik.
Gadis itu
kembali memasukkan pistolnya ke dalam tas. Ia kembali ke dalam labirin, dan
berpura-pura menjadi gadis malang yang terjebak didalamnya.
***
Phoeby
menyetop taksi di hadapannya. Ia masuk ke dalam dan taksi itu lalu melaju
sedang. Saat berada di
jalan tol sepi, taksi itu berhenti. Phoeby tahu alasan si sopir memberhentikan
taksinya. 10 meter dari arah taksinya, 3 orang FBI sedang menghajar seorang pria paruh
baya yang sepertinya pemilik mobil sedan Yurke yang juga berhenti disitu.
Phoeby
mengarahkan handycame ke arah mereka dan mereka kegiatan mereka di jalan tol.
seorang polisi berambut pirang tanpa ragu menembak kepala si pria paruh baya
itu hingga mati.
"Oh
God" Gumam Phoeby. Ketiga polisi itu merampok harta benda pemilik mobil
sedan Yurke. Tiba-tiba salah seorang polisi di antara mereka melihat ke arah
taksi, Phoeby terkejut, ia langsung menyembunyikan handycamenya ke dalam tas.
Dengan kasar polisi itu membuka pintu taksi dan menarik pengemudi. bersamaan
dengan polisi yang kedua menarik Phoeby keluar dari kemudi.
"Orang-orang
sialan!" Ucap polisi berambut pirang seraya menahan sopir taksi untuk
membelakangi dan menahan kedua tangannya.
"Apa
yang kau lakukan?" Tanya Phoeby dengan panik.
"Tidak
ada cara lain selain membunuhnya" Si pirang membunuh si sopir taksi.
"Nooo...!!!"
Phoeby menjerit. Ia menangis histeris. "Apa yang kau lakukan, kau kan
seorang polisi, kau bisa dihukum karena telah melakukan ini!"
"Berisik!"
Polisi itu memukul kepala Phoeby dengan pistol hingga ia jatuh pingsan dengan
kening yang mengeluarkan darah segar.
***
Phoeby
membuka matanya perlahan-lahan, sekarang tangan dan kakinya diikat dan
didudukan di kursi kayu, mulutnya di bekap dengan kain tali. ia berada di
sebuah ruangan asing yang tampak ramai dengan beberapa orang lelaki dan
perempuan sedang minum-minum. tiga di antara mereka adalah tiga polisi yang
telah membunuh dua orang tak bersalah tadi siang. ternyata mereka hanya polisi
gadungan yang memanfaatkan seragam FBI untuk merampok.
Phoeby
mencoba berontak dari kursi itu.
"Hei,
Nona, kau sudah sadar rupanya" Ucap si pirang yang tampaknya menjadi
pemimpin diantara mereka.
"Mau
bergabung dengan kami?" Tawar si pria berkulit coklat.
Phoeby
berteriak dengan mulut di bekap, seakan meminta untuk melepaskan ikatannya. Si
pirang mendekat dan mendekatkan wajahnya pada Phoeby.
"Aku
menggeledah tasmu, di dalam ada handycame namun aku tidak menemukan chip di
dalamnya, katakan, kau merekam kami siang itu dan kau menyembunyikannya?"
Phoeby
terdiam.
"Bodoh,
bagaimana bisa dia menjawab sementara mulutnya di bekap begitu" Ucap si
perempuan.
Si pirang
membuka kain yang membekap mulut Phoeby.
"Jawab"
"Camera
itu memang tidak ada chipnya"
"Pembohong!"bentak
si pirang
"Benar,
aku sama sekali tidak merekamnya, dan tidak ada chip di dalamnya, percayalah"
"Dan
bagaimana aku bisa percaya padamu, bahwa kau tidak akan melapor pada polisi
setelah kubebaskan dirimu. Kalau kau macam-macam aku bisa membunuhmu kapan
pun"
"Aku
tidak akan macam-macam, lagipula aku tidak ingin terlalu ikut campur dengan
urusan kalian, banyak yang harus kulakukan untuk masa depanku, tolong jangan
bunuh aku" Phoeby meminta dengan panik.
"Bagus,
gadis pintar" Pria itu mengacak rambut Phoeby dengan pelan "Kalau
begitu kau bisa bebas tepat pukul 12 malam, selama kau pingsan aku telah
menelpon ibumu untuk membawa uang sepuluh juta dollar"
Phoeby
terkejut. Jadi ini pemerasan untuk mendapatkan uang.
Tengah
malam, lima belas menit lagi ibunya akan datang menjemputnya dengan membawa
sejumlah uang. Ketujuh orang penjahat itu masih teler di sofa sementara Si
Pirang tampak berenergi menunggu nominal uang satu juga dollar.
***
"Jangan
panik nyonya Laurent, aku yakin mereka tidak akan berani macam-macam selama
mereka percaya bahwa kau membawa uangnya" Seorang polisi FBI bernama
Daniel menenangkan laurent, Ibunya Phoeby.
"tetap
saja, aku banar-benar panik sejak tadi siang"
Sampai di
tempat tujuan, para polisi itu keluar dari mobil dan menyelinap ke seluruh bangunan.
Laurent mengambil ponsel dan menghubungi nomor Phoeby, ia bisa mendengar suara
di seberang sana, tanpa pikir panjang laurent segera berlari ke dalam bangunan
itu dan menuju lantai dua dimana Phoeby berada. Ia langsung membuka ruangan
itu.
"Nyonya
Laurent, jangan gegabah!" Ucap Daniel, dengan sigap ia langsung
menodongkan pistol saat masuk ke dalam ruangan. Namun apa yang sedang dia
lihat, ia tak mampu berkata apa-apa, lidahnya kelu untuk berkata.
Ketujuh
orang penjahat itu tergeletak di lantai dengan bersimbah darah, sepertinya
seseorang telah membunuh mereka semua. Daniel melihat Laurent sedang berusaha
membuka tali yang mengikat Phoeby di kursi dan membuka ikatan penutup matanya.
"Mom"
Phoeby lega ibunya telah datang.
"Phoeby,
sayang" Laurent memeluknya dengan erat hingga mereka jatuh terduduk di
lantai "kau tidak apa-apa? Keningmu terluka" Ucap Laurent dengan
cemas.
"AKu
tidak apa-apa"
"Apa
yang terjadi? Seseorang membunuh mereka semua, Phoeby, kau akan di
interogasi"
"Apa
maksudmu, Daniel. Tangan dan kaki Phoeby diikat, apa kau mencurigainya membunuh
para penjahat itu hah!" Bentak laurent.
"Tidak,
begini, aku tidak menuduh Phoeby sebagai pembunuh, tapi setidaknya dia lah
petunjuk dari semua ini, seseorang membunuh mereka, dan hanya Phoeby yang
selamat"
"Heh,
jika kau sampai memberatkan anakku aku yang akan menuntutmu Mr. Daniel"
Ancam Mrs. Laurent.
***
Phoeby di
ruang interogasi bersama seorang polisi. gadis itu tampak tenang menjawab
pertanyaan yang dilontarkan polisi. Sementara Mrs. laurent menyaksikan
percakapan itu tanpa mendengar suaranya, karena ruangan itu terhalang oleh kaca
anti peluru.
"Jadi
kau menyaksikan pembunuhan FBI gadungan itu dan setelah itu kau pingsan"
"Ya,
dan setelah sadar aku sudah di bekap, tangan dan kakiku sulit digerakkan karena
diikat"
"Apa
yang kau lihat di ruangan itu?"
"Hanya
sebuah ruangan kecil, terlihat ruangan santai, mereka mabuk dihadapanku sampai
malam"
"Bukankah
kau tidak bisa melihat mereka karena kedua matamu di tutup?"
"Ya,
tepat pada pukul 10 pria berambut pirang menutup kedua mataku dengan kain,
katanya aku tidak boleh melihat karena mereka akan melakukan sex dengan wanita
itu. Dan pada saat itu aku tertidur, aku terbangun saat mendengar suara
tembakkan dan sangat berisik, wanita itu menjerit, lalu aku mendengar pecahan
gelas jatuh atau apapun itu, aku pikir itu polisi yang datang untuk membekuk,
tapi setelah itu aku tak mendengar apa-apa lagi, semuanya hening, hingga
sekitar limat belas menit kemudian ibuku datang dan melepas kain penutup mata
dan ikatanku"
"Apa
kau mendengar ada orang lain baru yang masuk menghajar para penjahat itu"
"Aku
tidak tahu, tidak ada tanda-tanda ada orang asing masuk. Aku berasumsi salah
seorang di antara mereka menghajar temannya sendiri dan dia bunuh diri"
"Mengapa
kau berasumsi seperti itu?"
"Ya,
karna aku pikir... jika ada orang asing masuk mengapa dia tidak membunuhku
juga, lagipula tidak mungkin tiba-tiba ada superhero menghajar penjahat tanpa
memperlihatkan batang hidungnya padaku dan melepaskan ikatanku , dan tempat itu
sangat terisolasi, berada di tengah hutan, tidak banyak orang yang tahu tempat
itu, aku pikir"
Mr.
Despard manggut-manggut seakan bisa menyimpulkan jawaban dari Phoeby.
"Kau
bersih"
"jadi..
bagaimana kesimpulannya?"
"Asumsimu
menurutku tidak masuk akal, salah satu dari mereka membunuh teman sendiri dan
dia sendiri bunuh diri, sementara itu mereka menunggu ibumu membawa uang.
Seharusnya ada motif yang membuat dia membunuh dan bunuh diri. Menurutku ada
orang asing yang masuk dan membunuh para penjahat itu, jelas motifnya untuk
menghukum para penjahat"
"Begitu,ya"
Mr.
Despard memberi isyarat jempol kepada polisi yang menunggu mereka diluar,
Laurent sendiri merasa lega karena Phoeby bisa melewati interogasi itu. Dua
orang polisi masuk ke dalam ruang interogasi dan diikuti laurent. Ia memeluk
putrinya dengan sayang.
"Syukurlah"
"Rasanya
kasus ini biarkan saja, tidak ada petunjuk-petunjuk yang jelas dari kasus ini,
Phoeby memang tidak tahu apa-apa soal pembunuhan penjahat itu. Jika kita menyelidikanya
lebih lanjut rasanya hanya membuang-buang waktu saja" Ucap Mr. Despard.
"Pintar
sekali pembunuh itu, tidak meninggalkan jejak dan sidik jari sedikit pun, aku
rasa dia memang sudah berprofesional membunuh" Kata Mr. Daniel.
"Pembunuh
membunuh pembunuh, aku tidak menemukan motif superhero membunuh penjahat itu,
jika ia memang samasama sama penjahat seharusnya ia melindungi penjahat itu,
bukan membunuhnya" Tambah Mr.Despard
"Jika
ada kejadian yang sama kita pasti sedikit menemukan petunjuk" Ucap Mr.Despard.
"Ada.
Kau lupa, kita masih mengurus kasus dua minggu yang lalu, pembunuhan menteri
itu sangat misterius" Ucap Mr. Despard.
"Ya,
kita harus memeriksa sepuluh wanita kandidat yang mengikuti permainan labirin
berhantu itu"
"Baiklah,
Mrs. Laurent, dan putrinya yang sangat cantik, maaf telah mengganggu waktu
kalian, jika ada apa-apa, kalian bisa hubungi kami lagi"
"Baik,
terimakasih" Kata laurent.
"Ya,
semoga beruntung"
***
Pembunuhan
misterius yang menimpa menteri raja kini banyak diperbincangkan netizen. pelaku
pembunuhan masih dalam penyelelidikan, karena si pelaku tidak meninggalkan
jejak sedikit pun di tempat itu. Namun kini polisi berasumsi bahwa si pelaku
membunuh dari arah taman labirin, itu sudah di pastikan karena tempat itu di
luar gerbang hotel sementara bagian dalam sudah di jaga ketat oleh polisi.
Sasaran utama penyeledikkan polisi disibukkan dengan mencari sepuluh wanita
kandidat yang mengikuti permainan labirin berhantu itu, sudah dipastikan
pembunuhnya pasti ada di antara mereka.
"Pintu
labirin nomor satu oleh wanita karir disebuah perusahaan, pintu nomor dua oleh
seorang model, pintu ketiga oleh seorang dokter hewan, pintu nomor empat oleh
seorang pemain teater..." Mr. Despard menyebutkan daftar nama yang
mengikuti permainan labirin berhantu, sementara pria tampan sedang menyalin
data nama-nama itu ke sebuah komputer.
"Dan
yang terakhir... seorang mahasiswi dari universitas Stoland"
"Mahasiswi,
heuh, patut dicurigai, gadis itu pasti pengecualian dari 9 gadis lain"
"Ya,
dia satu-satunya mahasiswi. Justru aku tidak yakin bahwa dia pelakunya"
kata Mr. Despard.
"Aku
sendiri yang akan menyelidikinya" ucap Adry
"Baiklah-baiklah,
jangan libatkan kasus ini dalam kehidupanmu, kau ini bukan anggota FBI apalagi
CIA, pulanglah, Nak, kerjakan tugas-tugas kampusmu, atau kau mandi air hangat
dengan bunga-bunga mawar yang disiapkan oleh para pelayanmu, jika kau terlibat
dalam urusan ini dan kau terjadi apa-apa, mau tidak mau aku harus siap di
eksekusi ayahmu" Ucap Despard sambil menepuk bahu Adry.
Adri
beranjak dari kursinya dan mengenakan jaket kulit yang teronggok di meja
"Aku memang tidak berminat menjadi
detektif, tapi memecahkan kasus yang misterius cukup menarik perhatianku, itu
seperti sebuah puzzle yang harus disusun untuk menemukan jawaban, selain itu
aku juga harus bertanggung jawab atas kasus ini, gara-gara permainan labirin
itu semua menjadi rumit,"
Adry yang
merasa bersalah ikut turun tangan dalam menyelesaikan kasus ini, dirinyalah
yang diincar sepuluh gadis dalam permainan labirin berhantu itu. Dan ia yakin
ada salah satu dari mereka yang lolos dari labirin itu, namun dia hanya berdiri
di luar labirin, dan melakukan pembunuhan tersembunyi.
Adry
merogoh ponselnya di saku.
"Edmun,
polisi bilang kau sempat memeriksa tas mahasiswi itu, apa benar? - Temui aku di
cafetaria biasa"
***
"Mahasiswi
itu muncul paling terakhir, aku lihat wajahnya sangat pucat dan berkeringat.
Dia bilang dia tersesat di dalam dan bingung mencari jalan keluar"
"Keluar
paling terakhir bagiku mencurigakan, itu bisa kujadikan daftar bukti,
lalu?"
"Ya,
dia tampak kelelahan seperti yang lainnya, dia juga sempat berisrirahat
sebentar sambil bersandar di bawah pohon"
"Yang
kau lihat saat itu?"
"Aku
tidak terlalu memerhatikan si mahasiswi, keadaan sangat kacau waktu itu, bahkan
si wanita nomor sembilan menangis
histeris karena ada sesuatu yang membuatnya trauma saat berada di dalam. Tapi
aku teratarik dengan si nomor tujuh, saat keluar dari labirin dia terlihat
begitu tenang, tetapi dia sempat berkata padaku, bahwa permainan ini sangat
menjijikan, setelah itu dia pergi mengendarai mobilnya"
Adry
manggut-manggut, aneh dengan wanita nomor tujuh disaat semua kandidat panik dan
ketakutan dia malah tenang, dan pergi begitu saja. Meski patut dicurigai tapi
ia bukan objek penyelidikannya.
"Kau
bilang di menenteng tas?"Tanya Adry
"Iya,
tas selempang yang usang. Ah, aku lupa, mahasiswi itu cantik, tapi
penampilannya benar-benar kuno, menurutku dia tidak pantas bertemu
denganmu"
"Ya,
atau dia memang tidak bermaksud untuk bertemu denganku, pasti ada tujuan
lain" Adri mendapat daftar bukti kedua.
"Tapi
dia bilang dia menyukaimu, dia akan berjuang agar memenangkan permainan ini dan
kencan denganmu. Dia juga terlihat polos seperti mahasiswi biasa yang hanya
punya urusan di kampus"
"Apa
kau memeriksa tasnya?"
"Ya
sebelum masuk aku sempat memeriksa barang-barang seluruh kandidat, kebanyakan
dari mereka menyimpan tasnya di mobil, tapi mahasiswi itu pengecualian, di
dalamnya hanya ada buku kecil seperti buku diary, buku catatan, pulpen, dan
kotak perhiasan dan kotak make up"
"Kau
membuka kotak perhiasannya?"
"Tidak,
justru dia sendiri yang membukanya, saat ku tanya identitasnya dia sempat
bercerita bahwa hari ini adalah ulangtahun ibunya, dia membelikan perhiasan itu
untuknya, jujur saja dia antusias menceritakan hal itu, makanya dia tidak ingin
menyimpan tasnya dan tetap membawanya ke dalam"
"Bagaimana
bentuk kotak perhiasan itu?"
"Aku
lupa, mungkin sekitar lima belas senti, sesuai dengan panjang perhiasan
itu"
"Seharusnya
kau minta untuk membuka kotak make upnya juga"
"Aku
tidak bisa berbuat sejauh itu, aku pasti dianggap tidak sopan karena menuduh
yang tidak-tidak sampai menggeledah kotak make upnya" Ucap Edmun.
***
Phoeby
menghempaskan lembaran berkas bertuliskan Universitas Princeton di hadapan
Laurent.
"Mom,
kau benar-benar mendaftarkanku kesana ya?" Tanya Phoeby.
"Ya,
tentu saja, jarak limakilo meter dari rumah itu membuatmu lebih
mudah""
"Maksudku
bukan itu, Mom, disana penghuninya jenius semua, lagipula itu kumpulan
orang-orang populer se Kanada, tidak, aku tidak bisa"
"Lalu
apa masalahmu?"
"Aku
sulit menyesuaikan diri"
"Kau
hanya perlu percaya diri sayang, percayalah, kau bisa"
Ini
adalah hari pertama bagi Phoeby masuk ke universitas baru, tepatnya dia adalah
mahasiswa pindahan dari swiss, dan baru seminggu tinggal di Crow's Nest
bangunan sederhana, kokoh, putih, dengan ukuran menyesatkan karena jauh lebih
besar dari yang kelihatan.
Phoeby
sama sekali tidak menginginkan untuk pindah ke Kanada, suhu udara di musim
dingin cukup menyiksa dirinya seakan sumsum tulang ikut membeku. Sebenarnya
hari ini ia berencana tidak ikut kuliah dulu, karena ingin menikmati secangkir
vanilla latte untuk sekedar menghangatkan tubuhnya di sofa empuk kamarnya.
Keinginan
untuk memanjakan diri dimusim dingin hilang begitu saja, sekarang ia berada di
kursi kemudi bersama Laurent menuju Universitas Princeton, yang tidak terlalu
jauh dari jarak rumahnya.
Laurent
berulang kali memandang wajah putrinya itu yang tampak lesu. Wajah ovalnya
dengan dagunya yang panjang bertopang pada jendela yang tertutup, kedua matanya
ke arah jalan, melihat segala sesuatu yang dilewati mobil itu. Hanya rumput
berembun dengan kabut tipis yang sama sekali tak menyegarkan mata.
Laurent
memarkirkan mobilnya tepat di depan tangga
yang begitu luas menuju bangunan universitas princeton. Tepat di dekatnya
seorang wanita berambut pirang yang masih muda menunggu kedatangan Laurent.
"Ayo
turun sayang" Ucap
Laurent.
Laurent
berjabat tangan dengan wanita berambut pirang itu., lalu sedikit berbasa-basi
membuka obrolan mereka. Phoeby yang menyusul membaca name tag yang menempel di
baju wanita itu. Miss Sutcliffe.
"Hmm...
ya, ini dia" Mrs. Laurent memperkenalkan Phoeby pada Miss Sutcliffe yang
langsung memberikan senyuman ramah ke arahnya. Sementara Phoeby bermuka datar
dan menunduk.
"Selamat
datang di Universitas Princeton, semoga kau nyaman berada disini" Ucap
Miss Sutcliffe.
Phoeby
mendesah senyum tipis.
Karena
sikap Phoeby yang dingin itu merubah suasana menjadi sedikit canggung, Mrs.
laurent pun mengajak Miss Sutcliffe untuk sedikit menjauh darinya.
"Dia
butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri, dia sedikit anti sosial dan tipe
penyendiri" Bisik Mrs. Laurent.
Miss
Sutcliffe mengerti dengan keadaan gadis itu, ia mengetahuinya karena Mrs.
Laurent menceritakan tentang bagaimana keluarganya. Phoeby anak satu-satunya
Mrs. Laurent, ia gadis yang antisosial dan sering menyendiri, itu karena Phoeby
sering hidup dibawah tekanan keluarganya yang selalu bertengkar. Hubungan Mrs.
Laurent dengan suaminya memang tidak bisa dikatakan baik, rumah tangga mereka
hancur berantakkan karena ayah dari gadis itu seorang penjudi dan pemabuk. Dan
hal ini menjadi sebuah alasan kenapa mereka sekarang berada di Kanada,
kepindahan mereka adalah hal yang terbaik menurut Laurent agar tak lagi
berurusan dengan mantan suaminya. Itu info yang di dapatkan Miss Sutclife.
"Aku
akan berusaha membimbingnya, lagipula dia cukup manis, aku rasa orang-orang
akan menyukainya" Ucap Miss Sutclife sedikit meghibur Laurent.
"Ya,
semoga saja"
Tidak
sampai lima menit mereka berbincang, laurent akhirnya pamit pergi.
"Telpon
aku jika kau sudah pulang" Kata Laurent.
"Hem"
Balas Phoeby.
***
"Aku
dosen filsafat, jam ketiga aku akan berada di kelasmu, ayo akan kutunjukan
kelasmu di lantai tiga, aku yakin kau akan kerasan disana" Kata Miss
Sutcliffe diikuti langkah Phoeby di belakangnya.
***
Sir
Charles yang gagah memasuki sebuah labirin berhantu untuk menemukan petunjuk.
Labirin ini cukup menakutkan menurutnya, ini di desain seperti terowongan
berhantu dan cocok di jadikan lokasi shooting film horor. Tidak aneh banyak
wanita yang menjerit histeris saat memasukinya. Namun hantu properti yang
tersimpan disana begitu sempurna dengan mesin penggerak otomatis yang bakalan
sukses membuat pengunjung trauma.
Pria
dengan rambut beruban itu mengambil sebuah benda yang tertempel di dalam perut boneka zombie, itu semacam baut
yang tak menempel sempurna untuk sekedar menempelkan sesuatu di dalam boneka
itu.
Sir
Charles melanjutkan langkahnya untuk menemukan pintu keluar, labirin itu
memiliki belokan yang memusingkan, ia
sempat kembali ke tempat asal karena tak menemukan jalan keluar. Namun pada
akhirnya Sir Charles menemukan pintu keluar berwarna coklat tua bertuliskan
"You are the winning" dengan tulisan merah darah.
Pintu itu
ia buka dan sampai di taman tepat di depan hotel Rose Melfort, taman yang cukup
luas namun beranda hotel terhalang rumput tinggi yang di potong rapi membentuk
seperti tembok pembatas.
Sir
Charles menoleh ke arah kanan, ada pohon akasia yang tingginya sekitar lima
meter. Pandangan Sir Charles kini bergantian pada pintu keluar, dan pintu itu
berada di posisi akhir, artinya pintu sepuluh. Ia mencoba menempatkan diri
sebagai pelaku pembunuh setelah keluar dari pintu ia melangkah ke arah pohon
dan menyembunyikan tubuhnya.
Ia
mengarahkan pandangan ke arah lantai tiga hotel Rose Melfort, tepat pada posisi
dimana Menteri itu sedang berbincang dengan Kaisar. Ia menyadari sesuatu, pohon
ini cukup untuk menyembunyikan tubuh seseorang.
Tiba-tiba
ia merasa telah menginjak sesuatu. Selembar kertas. Sir Charles memungutnya, ia
tak khawatir meninggalkan sidik jari di kertas itu karena menggunakan sarung
tangan, dan membaca isinya.
Aku
menunggumu, permaisuriku. Adry.
***
"Heii,
apa kabar bung, kau meninggalkan beberapa mata kuliah akhir-akhir ini, apa
sekarang kau jadi detektif betulan?" Edgar merangkul sahabat karibnya,
Adry, saat ia sedang berjalan sendirian di koridor.
"Berisik,
jika kau mengatakan detektif dengan suara keras itu bukan detektif namanya,
bodoh"
Edgar
tertawa renyah. Ia satu-satunya orang yang tahu bahwa Adry terlibat dalam
kegiatan detektif. Ya, meski bukan anggota CIA, Adry cukup bisa di andalkan dan
pintar dalam urusan penyelidikan.
"Ahh
selain itu hari ini kelas kita kedatangan mahasiswi baru dari Swiss, kau hari
ini kau datang terlambat,
cepat-cepatlah mengajaknya kenalan, dari fisiknya dia tipemu, tapi
sayang-"
"Apa?"
Tanya Adry.
"Dia
suram sekali"
"Kalau
begitu dia bukan tipeku"
Sampai di
dalam kelas, Edgar mencari sosok Phoeby si mahasiswi pindahan itu. Dia tidak
ada di bangkunya, padahal lima menit lagi jam ke empat akan dimulai.
"Hai
Dri" Seorang wanita cantik menyapa Adry, namun yang disapa tak begitu
tertarik dan malas membalas sapaannya. Tapi Olivia Manders, wanita primadona
yang menjadi dambaan setiap pria. siapa yang tak kenal dia. Wanita yang
tingginya semampai dengan rambut pirang keemasan dan mata bulat kecoklatan
mampu melumpuhkan hati pria mana pun dengan penampilannya.
Tapi bagi
Adry tak ada yang menarik dari sosok Olivia Manders, terlalu "murah"
di mata lelaki, dia mau saja di ajak "ini dan itu".
"Hei
Nona Manders, apa kau melihat si gadis pindahan itu?" Tanya Edgar.
"Si
Suram maksudmu? heuh, jangan bertanya padaku, mengetahui keberadaannya sama
sekali tidak penting bagiku. Lagipula... bukankah dia itu pernah di
perbincangkan di koran ya, dia korban penculikan polisi FBI palsu, heuh, baru
dua minggu tinggal di Kanada dia sudah membunuh tujuh nyawa"
"Apa!
Aku tidak tahu soal itu!" Edgar terkejut.
"Jadi
dia ya" Ucap Adry.
Adry
kembali keluar kelas dengan langkah cepat.
"Hei,
mau kemana lagi?" Tanya Edgar menjajari langkah kaki Adry.
"Menemui
Sir Charles"
"Inspektur
tua itu? Oh ayolah, setidaknya kau bisa menunda kegiatan ini dulu"
"Ini
ada hubungannya dengan pembunuhan di labirin itu. Tidak,kau benar, aku tidak
akan menemui Sir Charles dulu. Aku harus bertemu dengan mahasiswi pindahan itu
dan menginterogasinya sekali lagi"
"Kau
benar, tapi aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi saat ini, tolong
jelaskan, dan biar aku membantumu"
"Dua
minggu yang lalu ada kabar terjadi penculikan pada seorang wanita muda dari
Swiss dan anehnya para penculik itu semuanya mati, sementara wanita itu tidak,
tepat seminggu kemudian setelah kejadian itu terjadi pembunuhan di hotel Rose
Melfort, permainan labirin yang menghadiahi 10 dollar dan berkencan denganku,
salah satu di antara mereka seorang mahasiswi"
"Jadi
menurutmu si mahasiswi dari Swiss itu pembunuhnya?"
"Aku tidak bisa mengatakan itu. Setidaknya
dia menjadi petunjuk bagiku, pasti ada sesuatu yang belum dia ceritakan pada
Mr. Despard saat di interogasi"
"Intinya?"
"Ini
dua kasus pembunuhan yang sama, membunuh secara misterius tanpa meninggalkan
jejak dan sidik jari sedikit pun. Pembunuhan sempurna yang dilakukan oleh
seseorang yang sudah berprofesional"
Edgar
terdiam. Ia belum sepenuhnya mengerti dengan kasus ini, namun terkadang asumsi
yang dilontarkan pria detektif itu terlalu kritis dan membingungkan yang
mendengar.
"kau
bilang kau mau membantuku?" Tanya Adry.
"Eeh...-"
Edgar tiba-tiba menyesal kenapa harus menawarkan diri untuk membantu pria ini.
"Dekati
gadis itu, cari tau informasinya, dan kalau bisa kau mendapatkan nomor
hapenya?"
"What????"
***
"Si
pembunuh meninggalkan isi amplop itu di bawah pohon" Sir Charles
memperlihatkan lembaran kertas yang terlihat beberapa bekas lipatan tak
beraturan dan noda tanah seperti terinjak sepatu. Kertas itu menjadi pusat
perhatian orang-orang yang mengikuti rapat nonformal itu di sebuah ruangan
kecil hotel Rose Melfort, beberaoa orang anggota CIA dan FBI ikut menyimknya,
termasuk Adry dan para pegawai yang terlibat di permainan labirin berhantu.
"Kita
akan melakukan beberapa percobaan untuk mengetahui pintu labirin mana dengan
amplop kosong"
"Apa
bisa? Bukankah amplop itu tersusun acak?" Tanya Mr. Despard.
"Tidak,
Lucifer menyimpannya dengan baik, dia memungut amplop itu dari nomor satu dan
meletakkannya paling atas. Artinya amplop itu berurutan"
Sir
Charles meletakkan setumpuk amplop merah tua di meja, menatap amplop-amplop itu
sejenak seakan jawaban teka-teki sudah ada di depan mata.
"Baik,
aku akan membuka satu persatu amplop ini" Sir Charles mengambil satu
amplop paling atas, ini milik wanita labirin nomor satu. Ia membuka isi amplop
itu. Sir tak menunjukkan ekspresi apapun saat melihatnya artinya amlop itu tak
mengundang keterkejutan apapun.
"Isinya
utuh" Sir membuka lembaran kertas itu dan membaca kalimat yang sama.
"Kau yang menulis semua ini?" Tanya Sir Charles pada Adry.
"Ya,
aku membuat kalimat yang sama di sepuluh amplop dengan tulisan tanganku
sendiri" Jawab Adry.
"Tulisanmu
jelek"
"Hahhh"
Adry mendesah sebal.
Sir
Charles membuka amplop selanjutnya, hasil yang sama seperti amplop sebelumnya.
Adegan
ini sedikit menegangkan, meski Adry penasaran di pintu mana yang terdapat
amplop kosong tapi ia merasa ada yang mengganjal. Adegan ini bisa saja menjawab
siapa si pembunuh, atau bisa saja adegan ini justru tak ada petunjuk apapun.
"Nomor
enam" Kata Sir Charles yang akhirnya menemukan amplop kosong. Ia membuka
lebar-lebar amlop itu dan memperlihatkan pada rekan-rekannya.
"Nomor
enam, ya" ucap Mr. Despard.
"Siapa
pemilik nomor enam?" Tanya Sir Charles pada Edmun.
Edmun
dengan sigap dan tampak canggung membuka lembaran kertas yang berisi data-data
nama wanita kandidat beserta profesinya.
"Miss
Christie, seorang desaigner berumur 24 tahun"
"Tidak,
Sir, tolong lanjutkan untuk membuka amplop sisanya" Pinta Adry, Sir
Charles pun tak kan menolak dengan permintaan ini, maka ia membuka amplop
selanjutnya. Hingga amplop terakhir...
"Mengejutkan,
amplop sepuluh kosong"
"Itu
dia" ucap Adry, seiring sesuatu yang mengganjal hilang begitu saja.
"Jadi..
ada dua amplop yang kosong, apa-apaan ini" Ucap Mr. daniel.
"Mahasiswi
Universitas Stoland berumur 20 tahun, Amanda Milray" Lontar Edmun tanpa
diminta, tapi itu jawaban yang dibutuhkan.
"Dan
artinya pelaku pembunuhan dua orang?" Tanya Mr.Despard.
"Ini
hanya mengecoh, ini sama sekali bukan yang di harapkan. Aku tidak yakin pelaku
pembunuh si pemilik amplop kosong, bisa saja si pembunuh sengaja mengosongkan
dua amlop dan dia berada di amplop yang utuh agar jejaknya tak di ketahui, atau
justru kita menemukan jawaban bahwa pelaku pembunuh adalah nomor enam dan nomor
sepuluh" Kata Sir Charles.
Semua
terdiam, ada benarnya dengan dua asumsi Sir Charles. Mereka berpikir apa yang
dipikirkan Charles, itu artinya mereka tidak menemukan jawaban sama sekali,
namun prioritas utama adalah interogasi antara wanita nomor enam dan nomor
sepuluh.
Tiba-tiba
Adry tertawa keras, lalu ia menghempaskan punggungnya di sandaran sofa, dan
menatap langit-langit atap hotel.
"Pembunuh
itu... mempermainkan kita, dia sengaja membuat permainan ini agar kepolisian
menyelidikinya dengan banyak teka-teki dan
membuatnya kelabakan. Benar-benar trik hebat, ini permainan intelektual, dia
seperti menguji seberapa pintarkah kepolisian dan CIA dalam menyelidiki ini.
Aku jadi penasaran siapa pelakunya, dia pasti wanita yang menarik" Ucap
Adry, tiba-tiba ia semakin bersemangat dalam penyelidikan ini.
"Kau
tidak bisa memilikinya, Adry"
"Aku
tahu, dia permaisuriku si pembunuh, aku penasaran seperti apa dia, aku harap
aku yang akan mengeksekusinya nanti"
"Baiklah,
akhirnya dalam percobaan ini kita tidak menemukan jawaban sama sekali, yang
harus kita lakukan selanjutnya adalah membawa wanita itu satu persatu ke kepolisian kita akan melakukan
interogasi secepatnya" Ucap Sir Charles mengakhiri pertemuan mereka malam
itu.
***
"Ayah
sudah bilang untuk tidak ikut lagi dalam memecahkan kasus-kasus yang ada di
kepolisian" Ucap Feddy Dacres, kepada Adry yang pulang larut malam saat
itu.
"Ayah,
Ayah belum tidur?" Tanya Adry melihat ayahnya yang masih bersantai di
kursi menghadap ke jendela, tampak asp rokok mengepul di tengah keremangan
ruangan itu
"Ini
untuk yang terakhir Ayah, lagipula aku merasa terlibat dalam memecahkan kasus
ini, aku yang menginginkan permainan labirin itu, tapi akhirnya Mr. Franky mati
terbunuh, aku rasa ini tanggung jawabku. Apalagi Mr. Franky orang yang sangat
dipercayai Ayah, aku semakin ingin kasus ini cepat terselesaikan dan aku yang
ingin mengeksekusi pelakunya"
"Meski
ini yang terakhir, kau berada di ambang bahaya jika kau gegabah, dilihat dari
cara dia membunuh dia orang yang pintar dan tidak mudah di tebak. Bisa jadi dia
lebih pintar dari FBI maupun CIA"
"Aku
tau ayah, tenang saja aku akan selalu waspada untuk memecahkan kasus ini, aku
mohon, izinkan aku untuk melakukannya"
"Baiklah"
"Terimakasih,
Ayah" Adry membungkukan badan simbol penghormatan, lalu ia masuk ke
kamarnya yang berada di lantai atas.
Sampai di
kamar, ia merogoh ponselnya di saku, lalu menghubungi Edgar.
"Bagaimana,
kau mendapatkan nomer ponselnya?"
"Ah,
sebaiknya kau yang temui dia langsung, dia sulit di tangani"
"Aku
tidak mengerti"
"Dia
antisosial, bukan gadis ramah, lebih tepatnya... apa ya, selain bermuka suram
dia itu sulit di ajak bicara"
"Baiklah,
tapi akiu belum bisa menemuinya besok. Ada yang harus kulakukan" Adry
menatap selebaran kertas berisi identitas mahasiswa Universitas Princeton.
"Apalagi?"
"Itu
rahasia. Baiklah, selamat malam" Tanpa menunggu balasan Edgar, Adry
langsung memutuskan sambungannya. Ponselnya ia lempar ke ranjang yang empuk,
lalu ia melangkah ke jendela dan membukanya lebar-lebar.
Ia
membaca sekali lagi selembar kertas itu.
Amanda
Milray, 20 tahun, Mahasiswi Universitas STOLAND, St. Petroch Loomouth.
***
"Permisi,
Miss, apakah anda bisa mencari identitas nama ini?" Adry menyerahkan
selembaran kertas kepada seorang pegawai yang ada di kantor Universitas Stoland
"Baik,
sebentar" Wanita itu menerima selembaran kertas dari Adry dan mengetikkan
di komputer nama tertera disana.
"Anda
mendapatka nama ini dari mana?"
"Hmm..
sulit jika kuceritakan dari awal, dia memberikan identitas itu saat mengikuti
sebuah permainan, dan karena dia memenangkan permainan itu dia berhak
mendapatkan hadiahnya ,tetapi dia meninggalkannya, jadi saya mencarinya
kesini" Jawab Adry sedikit berbohong.
"Disini
sama sekali tidak ada yang bernama Amanda Milray, yang ada Milray Satterhwaite.
dia kelahiran 1994, itu artinya dia berumur 22 tahun, bukan 20 tahun"
"Tidak
mungkin dia berbohong, dia menyerahkan identitas aslinya saat pendaftaran,
semacam paspor" Ucap Adry.
"Jika
itu saya tidak tahu, bahkan saya penasaran dengan Amanda Milray, dia memalsukan
identitas dengan membawa universitas ini" Wanita itu tampak marah.
Wanita
itu kembali menyerahkan lembaran itu. Setelah itu dia kembali melanjutkan
aktivitas kerjanya yang sepertinya tidak ingin di ganggu lagi.
"Terimakasih,
maaf sudah mengganggu"
"Oke"
Adry
kembali masuk ke dalam mobilnya. meski Amanda Milray tidak di temukan , namun
ia yakin bahwa gadis inilah pelakunya. Edmun bilang dia menyerahkan identitas
asli berupa paspor. Jika gadis itu bisa memanipulasi identitas asli, maka tidak
diragukan, dia berada disini tidak sendiri, dengan kata lain, dia berada dalam
sebuah organisasi yang berkaitan dengan pembunuhan.
Mobil itu
melaju, menuju tempat berikutnya St. Petroch Loomouth. Ia pun membuka Google
Map di ponselnya. Alamat tersebut jauh dari kota dan membutuhkan waktu dua jam
untuk sampai kesana.
Mobil itu
melewati perbatasan kota, masuk ke wilayah St. Petroch 5KM dari arah kanannya.
jalan yang di lewati sunyi sepi seperti di tengah hutan, dan jalannya
berkelok-kelok dan sempit.
Sampai di
tempat tujuan Adry segera keluar dari mobilnya. tempat ini tidak begitu luas,
dan terdapat beberapa rumah dengan jarak yang terpisah-pisah, tampak sunyi
namun tentram dari kebisingan kota. Adry segera menghampiri salah seorang
penduduk di tempat itu, seorang nenek tua yang yang sedang berjalan di jalan
setapak berbatu dengan tongkatnya, lalu seorang kakek datang dan membantunya
berjalan.
"Permisi,
selamat siang" sapa Adry
"Selamat
siang" balas nenek itu dengan suara serak.
"Hmm...
boleh saya bertanya sesuatu"
"Yes,
of course"
"Apakah
gadis yang bernama Amanda Milray tinggal disini?"
Nenek dan
kakek itu saling pandang.
"Disini
tidak ada Amanda Milray" Jawab Kakek.
"Tapi
disini benar, alamatnya ST. Petroch Loomouth. Dan ini identitas asli"
"Disini
tidak ada Amanda Milray" Ucap Kakek itu sekali lagi.
"Tunggu,
rasanya aku masih ingat dengan nama itu" Ucap si nenek "Sejak kau
pergi ke Hoxton, ada seorang gadis yang datang kesini" Nenek itu berkata
pada si kakek.
"Ya,
ya, dia bernama Amanda Milray" Nenek itu mencoba mengingat ngingat.
"Dia gadis tersesat dengan mobilnya. Dia menumpang dirumahku, dia
bercerita banyak tentangnya. Tapi aku tidak bisa menangkap isi
pembicaraannya"
"Maaf
dia tidak bisa mengingat dengan baik" Ucap si kakek.
"Sayang
sekali,kapan dia kesini?" Tanya Adry
"Sekitar
beberapa minggu yang lalu"
"Bertepatan
hari apa?"
"Aku
lupa?"
"Jika
itu bertepatan saat aku ke hoxton maka pada hari itu adalah hari selasa"
ucap si kakek.
"Lalu
dari mana dia berasal?"
"Aku
yakin dia juga bilang padaku dimana dia tinggal dan kenapa tersesat, tapi aku
benar-benar tidak ingat. Aku hanya ingat kalimatnya yang membuatku terharu,
bahwa dia ingin hidup bebas seperti burung yang terbang di langit. kemana pun
dia pergi tidak akan ada yang melarangnya"
Adry akan
mengingat kalimatnya itu.
"Lalu
bagaimana ciri fisiknya?"
"Dia
gadis yang sangat cantik, dia ramah dan selalu tersenyum. Bola matanya hitam
seperti boneka, dia memiliki bentuk tulang pipi yang indah. Saat pagi tiba dia
menghilang begitu saja, tapi dia membuatkanku sepiring wafel, dan di pinggirnya
ada tulisan terimakasih dengan coklat" Jelas nenek itu.
"Jika
kau melihatnya, maka kau mengingatnya dengan baik" Ucap kakek yang tampak
senang, tampaknya si nenek memiliki ingatan yang baik sesuai dengan apa yang
dia lihat.
"Kalau
begitu... anda pasti tau dengan apa yang dia bawa"
"Dia
membawa tas ransel, namun aku tidak tahu apa isinya"
"Begitu
ya.."
"Ah,
seandainya gadis itu masih disini sekarang, akan ku kenalkan kau padanya, aku
yakin kau pasti menyukainya, kalian sangat cocok" ucap nenek itu.
Adry
tertawa kecil.
"Oh,
apa jangan-jangan kau adalah pacarnya? Tanya si nenek.
"Ah,
tidak, bukan, saya kesini ada urusan tertentu dengan gadis itu"
"Oh
begitu ya... kalau begitu kau bisa meninggalkan nomor ponselmu padaku, aku
yakin gadis itu akan kesini lagi" Pinta si nenek.
"Oh
ya, apa boleh?"
"Tentu
saja, kalian bisa bertemu nanti"
"Baiklah,
aku akan mencatat nomor ponsel ku disini" Adry menuliskan nomor ponselnya
di catatan kecil. lalu memberikannya pada si nenek.
"Aku
sangat menantikannya" UCap Adry.
"Ya,
akan ku telpon jika dia sedang berada disini"
Usai
berurusan dengan kedua lansia itu, Adry meninggalkan tempat itu dengan perasaan
puas. Meski ia tak berhasil menemukan gadis itu tapi ia sudah mendapatkan
banyak petunjuk. Dan Adry sangat menantikan kedatangan gadis itu lagi di St.
Petroch Loomouth.
Namun
yang dirasakan Adry tiba-tiba berbeda dia menunggu gadis itu untuk di eksekusi
atas pembunuhan menteri kepercayaan ayahnya. Menunggu gadis itu serasa
menegangkan namun ada sensasi didalamnya.
***
Mr.
Despard dan Mr Daniel mengawal seorang perempuan berpakaian modis ke kantor
kepolisian. Miss Meredith, si wanita pemain teater, tampaknya tidak suka jika
ia harus berurusan dengan kepolisian.
Saat
berada di ruang intergogasi ia berhadapan dengan Sir Charles.
"Miss
Meredith, benar?" Tanya Sir Charles.
'Ya, dan
aku kesini ingin bertanya langsung pada anda, saya tidak pernah melakukan
pembunuhan kepada menteri raja. Saya tersesat di labirin dengan hantu
menyeramkan dan saya heran kenapa harus di bawa ke kantor polisi?"
"Ah,
anda agresif sekali, saya belum melontarkan pertanyaan apapun pada anda. Santai
saja, ikuti aturan-aturan kami, maka saya akan memudahkan anda" Ucap Sir
Charles.
Miss
Meredith memasang muka sebal, sambil berpangku tangan.
"Ngomong-ngomong
Miss Meredith, anda pemain teater bukan? Saya pernah melihat anda sebagai
pemeran utama di teater Gadis pemeluk bulan. peran anda sangat bagus, tidak
aneh, anda banyak diincar acara tivi karena bakat anda yang sangat hebat"
Sir Charles berbasa basi agar suasana tak terlalu tegang.
Miss
Meredith menghembus nafas, ia terlihat sedikit tenang dengan pembawaan Sir
Charles yang santai, dan tidak menakutkan seperti yang ia kira.
"Bagaimana
menurutmu permainan labirin berhantu itu?" Tanya Sir Charles.
"Itu
penipuan, Adry Russel Sanders, itu hanya mempermainkan mental seorang wanita
dengan permainan yang menjijikan. Jika dia ingin berkencan dengan wanita bukan
seperti ini caranya, labirin sialan itu membuatku tidak bisa makan
berhari-hari" Ucap Miss Meredith dengan penuh emosi.
"Anda
mengetahui permainan labirin itu dari mana?"
"Itu
dari internet, dia mengumumkan permainan itu di fanspagenya"
"Oh,
anda mengikuti fanspagenya rupanya?" Sir Charles menggodanya.
"Ya,
pada awalnya aku memang menyukainya, dia salah satu pria yang selalu aku incar.
Tapi setelah aku mengikuti permainan labirinnya aku malah membencinya, apalagi
setelah itu terjadi pembunuhan yang tak di duga-duga, membuatku kaget
saja"
"Miss
Meredith, anda tidak menggunakan kedok teater anda disini kan?"
"Aku
bicara apa adanya, Sir, lagipula untuk apa aku membunuh menteri raja, tidak ada
untungnya bagiku"
"Kau
datang bersama siapa, Miss?"
"Aku
sendiri yang membawa mobilku, sebenarnya aku ingin di antar dengan sopir
pribadiku, tapi dia bilang dia mendadak sakit kepala dan tidak bisa
mengantarkanku malam itu di tempat teater"
"Dan
setelah sampai di tempat permainan labirin siapa saja yang kau lihat
disana?"
"Aku
tidak terlalu memperhatikan orang dan tidak terlalu suka berbicara, tapi disana
ada beberapa orang yang sedang menunggu kandidat lain, tampaknya mereka tidak
sabar untuk berkencan dengan Adry"
"Dan
setelah itu anda mengambil nomor labirin?"
"Ya
disana ada pria, yang duduk di meja menyiapkan lembaran-lembaran kertas yang
sulit kupahami. Lalu dia memberiku nomor 4, yang artinya aku harus menempati
labirin empat"
"Siapa
wanita yang sudah ada disana, apa mereka juga sudah mendapat nomor?"
"Nomor
tiga dan dua, lalu saat itu datang dua orang lagi yang langsung mengmpiri pria
di meja mengambil nomor, dan setelah itu aku lupa mereka nomor berapa"
"Berapa
lama anda menunggu sampai anda memasuki labirin itu?"
"Sekitar
tiga puluh menit, ini semua gara-gara wanita yang datang terlambat. Dari situ
aku mulai merasa sebal dan ingin pulang, tapi pria-pria disana tidak
mengizinkannya"
"Setelah
kau memasuki labirin itu, seberapa jauh kau berjalan di dalamnya, dan arah mana
yang anda ambil?"
"Aku
mengambil arah kiri, saat ada tikungan dan beberapa ruangan dengan belokan, aku
melihat zombi sedang menjulurkan lidah dengan cairan yang menjijikan, aku tahu
itu hanya boneka, tapi bagiku itu sangat menjijikan dan karena hal itu aku
tidak ingin melanjutkan dan kembali ke tempat pintu masuk menunggu pintu itu di
buka" Jelas Miss Meredith yang berusaha meyakinkan.
Sir
Charles manggut-manggut. Ia merenung sejenak, Miss Meredith meski memiliki
wajah yang menyebalkan tetapi dia terlihat sangat jujur, dia menceritakan
semuanya dari awal, dan tidak tersendat-sendat dan lancer begitu saja.
"Dan
setelah kau keluar?"
"Aku
langsung berjalan ke pinggir dan duduk di kursi karena tiba-tiba perutku
mual"
"Apa
kau melihat yang lainnya, para wanita lain ketakutan sepertimu?"
"Ya
mereka ketakutan sekali, dan yang paling parah si wanita berbaju merah menangis
histeris dan hampir pingsan, ada yang bilang dia sangat takut pada zombi"
"Apa
kau tahu siapa yang kembali paling terlambat?"
"Aku
tidak tahu"
"Berapa
lama kau duduk di kursi?"
"Sekitar
limat menit, dan setelah itu aku pulang karena perutku tidak mual lagi"
"Kau
tidak tahu ada petugas yang datang dan memberitahu bahwa telah terjadi
penembakan?"
"Kalau
itu saya tidak tahu sama sekali"
Sir
Charles sejenak berpikir. Ia sudah menemukan keputusan untuk Miss Meredith.
"Ya,
tidak ada alasan lagi bagiku untuk mencurigai anda"
"benarkah?
Oh Thanks, God"
***
Adry
bertemu kembali dengan Edgar di kampus. Ada sedikit perubahan pada Adry, hari
ini terlihat begitu semangat dari biasanya, dia antusias menceritakan
penyelidikannya pada Edgar, padahal Edgar sendiri heran biasanya Adry tidak
terlalu buka-bukaan dengan kegiatannya di kepolisian karna takut ada yang
dengar bahwa ia seorang detektif.
"Ya,
jadi intinya kau seperti menunggu wanita yang membuatmu penasarankan, kau tau
itu seperti saat kau sedang jatuh cinta dengan wanita yang menarik perhatianmu
karena dia misterius" Ucap Edgar.
"Aku
tidak bilang jatuh cinta padanya, aku hanya penasaran karena dia menarik
perhatianku dengan cara dia membunuh"
"Yah,
tipe macam apapun si pembunuh itu asalkan dia jangan membuatmu jatuh cinta,
jika dia membuatmu jatuh cinta, aku benar-benar tidak bisa membayangkan apa
yang akan terjadi nanti" Ucap Edgar.
"Ah
kau ini"
"Ngomong-ngomong...
Aku rasa dia juga akan membuatmu penasaran, kau bilang kau akan menemuinya
langsungkan?" Edgar menunjuk kepada seorang gadis yang berjalan di depan
mereka.
"Dia?"
"Phoeby,
mahasiswi baru itu"
Adry
memperhatikan Phoeby yang membelakanginya, ia pun mengikuti langkah Phoeby dan
memanggilnya.
"Hei,
Nona" Panggil Adry. Phoeby menghentikan langkah, lalu ia melanjutkannya
lagi.
"Aku
memanggilmu"
Langkah
Phoeby semakin cepat, Adry mengimbanginya, lalu menarik lengannya.
"Don't
touch me!" Phoeby menghempaskan tangannya, namun tanpa sengaja tangannya
melayang ke arah pipi Adry, dan ia sedikit tersungkur.
"Ah!"
"Oh
God!" Edgar terkejut, namun ia jadi ingint ertawa.
Phoeby
terkejut setengah mati. Dilihatnya pria itu sedikit menoleh ke belakang efek
tangannya yang tak sengaja menampar pipi pria itu.
Adry
mengusap darah di bibirnya.
"Oh
my God, I,m sorry, aku tidak sengaja, maaf-maaf" Kata Phoeby memohon,
namun wajahnya tertunduk seakan tak ingin di tunjukkan. Phoeby pergi begitu
saja meninggalkan Adry.
Lalu
Edgar datang menertawakan Adry..
"Berisik"
Ucap Adry.
"Sudah
kubilang dia itu sulit di tangani"
"Apa
dia juga menamparmu?"
"Tidak,
hanya saja dia sulit diajak bicara, hei, dia maniskan? Apa kau tertarik
padanya?"
***
Saat
pulang kuliah Adry kembali memanggil Phoeby. tapi Phoeby tak terlalu
menanggapinya sampai Adry berhasil menjejaki langkahnya.
"Ada
perlu apa?"
"Aku
perlu bicara padamu, ini soal penculikanmu beberapa minggu lalu"
"Kenapa
kau ingin tanyakan itu?"
"AKu
perlu petunjuk darimu"
"Aku
tidak ingin membahasnya,
aku sudah selesai dengan itu semua"
"Ayolah,
aku seorang detektif, aku sedang membantu kepolisian dalam kasus pembunuhan,
dan aku rasa kasus ini ada hubungannya dengan pembunuhan polisi palsu itu"
Phoeby
menggelengkan kepala, ia tampak tak mengerti dengan apa yang dikatakan Adry.
"Aku
tidak punya waktu" Phoeby pergi.
"Kau
pembunuhnya" Ucap Adry, Phoeby menghentikan langkah dan kembali berbalik.
"Kau
bilang apa?" Tanya Phoeby dengan muka datar.
"Kau
pembunuhnya"
"Aku
bukan pembunuhnya, bagaimana bisa aku seorang pembunuh, aku sudah selesai
dengan kepolisian, dan kepolisian sudah membebaskanku dari tuduhan itu"
"kalau
begitu buktikan sekali lagi dengan intogasi ringanku"
Phoeby
menghembus nafas berat. Ia tahu Adry menuduhnya sebagai pembunuh agar ia
menuruti semua keinginannya. Mereka pun pergi ke cafetaria untuk berbicara
berdua.
Seorang
waitress menyodorkan vanilla latte dan capucchino di meja. Phoeby langsung
mengambil vanilla lattenya, bukan untuk di minum, hanya memegang cangkirnya
dengan kedua tangannya. Ia menghangatkan tangannya yang dingin dan menempelkan
ke cangkir panas itu.
"Kau
tampak kedinginan, apakah di Swiss tidak sedingin ini?"
"Hem"
Balas Phoeby, yang tatapannya tertuju pada vanilla latte di cangkirnya.
"Jangan
tegang, aku tidak akan mengajukan pertanyaan sulit, lagipula aku sudah tahu
hasil interogasi dengan Sir Charles, dan aku tidak akan mengajukan pertanyaan
yang sama"
"lalu
apa yang akan kau tanyakan lagi padaku?"
"Apa
kau merasakan kehadiran orang asing saat penjahat itu sedang berkelahi?"
"Itu
pertanyaan yang sama"
"Apa
kau yakin dengan jawabanmu?"
Phoeby
terdiam.
"Melihatmu
diam kau seperti orang yang mencurigakan"
"Aku
tidak merasakan ada orang asing, yang ku tahu aku mendengar suara berisik
seperti lemparan gelas dan aku tak pernah tahu apa yang sedang diperbuat
mereka" Jawab Phoeby.
"Apa
kau merasakan ada orang asing?"
"Kenapa
kau mengajukan pertanyaan itu lagi!" Suara Phoeby meninggi. Dan itu
mengundang perhatian banyak orang di cafetaria. Adry menatapnya serius.
Nafas
Phoeby memburu.
"Baiklah,
aku akan menjawabnya dengan jujur, dan aku belum pernah mengatakkannya pada Sir
Charles" Phoeby mengakui.
"Ya,
katakan saja"
"Aku
mendengar suara tembakkan beberapa kali, dan setelah itu keadaanpun menjadi
hening, aku rasa tidak ada yang hidup lagi di antara mereka, tapi ada sesuatu
yang membuatku takut, aku mendengar suara langkah kaki, seperti suara sepatu
but. Dia semakin mendekat, dan saat itu...." Phoeby berbicara tak karuan
dan tanpa jeda sedikit pun. Nafasnya semakin memburu dan terlihat ketakutan.
"Dia
mengusap pipiku, dan dia berkata..." Lanjut Phoeby.
"Ya?"
Tanya Adry penasaran.
"Dia
bilang mereka pantas mati, nyawa harus di bayar dengan nyawa, dia menyuruhku
untuk tidak mengatakkannya pada polisi, karena dia bilang dia akan melakukan
pembunuhan yang lebih misterius lagi"
"Apa"
"Setelah
itu dia menjauh, aku tidak mendengar dia membuka pintu keluar, aku tidak tahu
dia pergi ke arah mana, yang jelas dia sudah tidak ada disana lagi, dan sepuluh
menit kemudian ibuku datang bersama polisi"
"Sudah
kuduga, pembunuhan di labirin itu pasti dia pelakunya, seorang perempuan,
ya"
"Ya,
dia memang seorang perempuan"
"Kau
terlambat mengatakkannya, Phoeby" kata Adry dengan nada curiga.
"Dia
sudah melarangku untuk tidak mengatakkannya pada siapapun, dan sekarang aku
mengatakkannya pada seorang detektif yang akan memecahkan kasus pembunuhan,
katakkan, apa setelah ini aku akan aman, jika pembunuh itu membunuhku apa yang
akan kau lakukan?"
"Pertanyaanmu
kritis sekali. kau menanyakan apa yang akan aku lakukan jika pembunuh itu
membunuhmu, tentu saja, aku akan menemukannya dan mengeksekusinya" Jawab
Adry.
Phoeby
tak berkata apa-apa lagi.
"Tenang
saja, wanita itu menyuruhmu untuk tidak mengatakkannya hanya pada polisi, dan
aku bukan anggota FBI atau CIA, jadi kau tidak salah"
Phoeby
menyeruput vanilla lattenya, tubuhnya perlahan menghangat. sesekali ia
curi-curi pandang menatap pria di
hadapannya yang sedang meminum capucchinonya juga. Dia pria yang tampan, dan
pintar, juga memiliki siluet yang indah saat pria itu menghadap ke arah
samping, meski begitu menurut Phoeby dia tidak cocok menjadi seorang detektif,
karena dia lebih memenuhi kriteria sebagai seorang model atau aktor.
"Apa
sudah selesai? Aku harus pulang" Kata Phoeby,
"Aku
akan mengantarmu"
"Tidak
perlu, aku sudah mengirim pesan pada ibuku untuk menjemputku disini"
"Baiklah,
Phoeby, terimakasih, maaf sudah mengganggu waktumu"
"Tidak
apa-apa, lagipula... bukankah lebih baik jika aku mengatakkan hal yang
sebenarnya padamu. Setidaknya ini bisa membantumu mencari si pembunuh itu, aku
harap kasus ini segera terselesaikan"
"Ya,
semoga saja"
"Apa
kau masih mencurigaiku sebagai pembunuh?"
"Tentu
saja tidak, maaf dengan perkataanku tadi siang, itu hanya untuk menarikmu agar
kau bersedia berbicara denganku"
"Ah,
sudah kuduga" Phoeby tertawa kecil.
Adry
tiba-tiba terpaku, barusan Phoeby tertawa, ternyata gadis yang sering di sebut
suram dan antisosial itu bisa tersenyum, dan ia tidak menyangka Phoeby memiliki
senyuman yang sangat manis. Tapi senyuman itu hanya sekejap, Phoeby kembali
murung seperti biasa.
"Adry,
jika kau menemukan pembunuhnya, bisakah kau memotretnya dan menunjukan fotonya
padaku, sebenarnya aku penasaran siapa yang sudah menyelamatkanku malam itu,
aku sangat ingin tahu rupanya"
"Aku
akan meminta kepolisian untuk mengizinkanmu bertemu dengannya"
"Kalau
begitu aku akan mengucapkan terimakasih padanya"
"Phoeby,
kau tak perlu mengatakan hal itu pada seorang pembunuh"
"Aku
tahu dia pembunuh, mungkin dia sudah membunuh banyak nyawa dari yang kita duga,
tapi tidak selamanya pembunuh selalu membunuh, dia pasti pernah melakukan hal
yang baik pada orang lain, termasuk menyelamatkan nyawaku waktu itu"
"Baiklah,
akan kuusahakan kau bisa bertemu dengannya"
Phoeby
melihat ke arah luar, mobil sedan silver berhenti di depan cafe. "Ibuku
sudah sampai, aku pulang dulu"
"Hem"
***
Jam
menunjukkan pukul sepuluh malam, Mr. Albert masih sibuk dengan komputern di
ruangannya. Ia tampak kelelahan terlihat dari guratan wajahnya yang sudah mulai
menua. Ia adalah seorang kepala perusahaan Yotsuba, yang sedang menyiapkan
materi presentasi besok diacara meeting dengan rekan kerjanya.
Konsentrasinya
tiba-tiba terganggu setelah mendengar suara berisik di luar ruangan. ia pun tak
menanggapinya, tanpa sengaja ia menjatuhkan pulpen ke bawah meja, lalu ia
membungkuk untuk mengambilnya, saat kembali tegak, ia terkejut kedatangan
seseorang berpenampilan misterius sudah berada diruangannya.
"Siapa
kau?" Tanya Mr. Albert ketakutan.
Yang di
ajak bicara menodongkan pistol dan menarik pelatuknya untuk bersiap menembak.
manusia misterius itu berpakaian serba hitam, ia mengenakan jubah panjang yang
menutupi kepalanya sehingga wajahnya tak terlihat.
"Seseorang
yang akan membunuhmu"
"Apa,
ti-tidak" Mr. Albert mengangkat tangannya.
Peluru
itu pun menembus kening Mr. Albert dengan seketika ia mati dan tubuhnya terjatuh
di kursi putarnya. Wanita itu mendekat, lalu meletakkan setangkai bunga mawar
putih di meja.
Pagi itu,
warga di buat geger dengan kematian Mr. Albert di tempat perusahaannya. Mayat
Mr. Albert barusaja dimasukkan ke dalam mobil ambulance dan di bawa ke rumah
sakit untuk di autopsi. Sir Charles bersama rekan FBI tampak sibuk menangani
kasus ini.
Phoeby
yang tengah berjalan di trotoar sempat melihat aktivitas kepolisian di depan
halaman perusahaan, ia juga melihat Sir Charles dan Mr. Despard yang sedang
berbincang.
"Apa
yang sudah terjadi?" Tanya Phoeby bertanya pada salah seorang penduduk
setempat.
"Seseorang
membunuh Mr. Albert, pemimpin perusahaan Yotsuba tadi malam" Jawab wanita
berumur paruh baya itu.
Phoeby
berbalik arah untuk kembali pulang, di tengah jalan sebuah mobil berhenti, dan
Adry keluar untuk menghampirinya.
"Kenapa
kau balik lagi?" Tanya Adry.
"Adry,
aku takut, pembunuhan terjadi lagi, kali ini pemimpin perusahaan Yotsuba"
"Aku
tau, aku mendengar kabar ini tadi pagi, Mr. Despard mengirim pesan padaku. Tapi
aku tidak akan pergi ke perusahaan sekarang, ayo, kita berangkat ke kampus
sama-sama" Kata Adry.
"Tidak"
"Phoeby..."
Adry memegang kedua bahunya. "Aku akan melindungimu, tenang saja, tidak akan
terjadi apa-apa"
"Bagaimana
aku bisa yakin, sementara kemarin aku sudah mengatakan hal yang sebenarnya
padamu, bagaimana kalau pembunuh itu tau bahwa aku membocorkan rahasia ini
padamu"
"Dia
tidak akan tahu bahwa kau mengatakkan hal sebenarnya padamu, meski dia tahu
bahwa kau sudah mengatakkannya pembunuh itu tidak akan membunuhmu. Nyawa di
bayar dengan nyawa. kau tidak pernah membunuh, Phoeby, dia tidak akan
melakukannya padamu"
Phoeby
merasa tenang saat Adry mengatakan hal itu.
"Ayo,
kita berangkat" Adry mengajak Phoeby masuk ke dalam mobil.
***
"Aku
tersesat di labirin dan tidak bisa menemukan jalan keluar, bagaimana bisa aku
membunuh menteri raja!" Bentak gadis itu yang tampak tak terima di
interogasi dengan berbagai macam pertanyaan yang di lontarkan Mr.Despard.
"Baikla,
baiklah, kau bisa menjawab pertanyaanmu tanpa berteriak, jika kau terus
berteriak kau akan ku tetapkan sebagai tersangka"
"Apa!!"
Mr.
Despard yang sibuk menginterogasi lain halnya dengan Sir Chales yang kelabakan
menangani kasus pembunuhan selanjutnya.
"Bunga
mawar identik dengan seorang perempuan, bisa jadi si pembunuhan ini dilakukan
oleh orang yang sama di labirin itu"
"Mengapa
harus mawar putih?"
"Entahlah,
mawar putih diartikan sebagai lambang cinta dan keagungan hati. Pasti ada
alasan tertentu yang tidak kita ketahui mengapa si pelaku meletakan bunga mawar setelah ia
membunuh"
"Permainan
macam apa ini"
"Apa
si pembunuh mencoba memberi pesan kepada kita? Tapi apa artinya?"
"Aku
yakin pelakunya orang yang sama dengan pembunuhan di labirin itu. Semua akan
terjawab secara akurat setelah usai interogasi seluruh wanita kandidat"
Kata Sir Charles.
***
"Sial,
aku tidak menemukan namanya" Ucap Adry, tampaknya hasil pencarian di
komputer tidak ada penduduk Kanada yang bernama Amanda Milray yang berumur 20
tahun. Adry menghempaskan punggungnya di senderan kursi putar, selama lebih
dari dua jam ia berada di depan komputer hanya untuk mencari satu nama.
"Kalau
kau tidak menemukannya sampai saat ini, aku akan membantumu, ingat batas
penyelidikkan kita tiga minggu lagi, jika kita tak menemukan pelakunya maka
kasus ini akan di hapus dan kita tidak akan pernah tahu siapa pelaku
pembunuhannya" Kata Mrs. Daniel.
"Aku
tidak akan menyerah"
"Oh
ya. hasil inteogasi dari keenam orang mereka tidak terbukti bersalah. sisanya
wanita labirin nomor tiga, lima,tujuh dan sepuluh. Sir Charles, Mr. Morgan dan
Mr. Despard akan mengurus ketiga wanita itu, dan aku akan membantumu mencari si
nomor sepuluh" Kata Mr. Daniel. "Baiklah, apa yang akan kau lakukan
selanjutnya"
"Tidak
ada. Aku masih menunggu kabar dari salah satu penduduk di St. Petroch Loomouth.
Dia bilang Amanda Milray pernah kesana, dan dia akan menghubungiku jika dia
kesana lagi"
"Dia
wanita menyusahkan"
Lalu
pintu ruangan di ketuk seseorang dari luar. Mr. Daniel membukanya. Seorang polisi
wanita dengan seseorang pria berumur 30-an membawa sebuah DVD.
"Dia
membawa petunjuk baru" Ucap polwan itu.
Mr.
Daniel memutar DVD itu di komputer, Adry bersama polwan dan pria bernama Eric
ikut menyaksikan apa isi dari sebuah rekaman CCTV itu.
Layar
komputer mempelihatkan sebuah sudut ruangan hinggga sepuluh detik kemudian
sekelebat manusia berjubah hitam berjalan ke ruangan yang lain.
"Bisa
tolong jelaskan?" Tanya Mr. Daniel.
"Ya,
itu ruangan karyawan dan karyawati, tepat di depan ruangan Mr. Albert, karena
CCTV itu dalam posisi tidak tepat jadi hanya sudut itu saja yang terekam.
Sepertinya memang si pembunuh itu menuju ruangan Mr. Albert" Jelas Eric.
"Ada
berapa jalan menuju kesana?" Tanya Mr. Daniel, yang terus mengulang
rekaman itu
"samping
kiri, kanan, depan, dan belakang, namun pintu di belakang sedang rusak sehingga
tidak ada orang yang berhasil masuk kesana, ya, kemungkinan dia mengambil jalan
dari arah antara ketiga pintu" Balas Eric.
"Miss
Jeany, aku dengar kau ahli mikroekspresi, apa kau bisa membaca gerak-gerik
orang ini?"
"Ya,
setelah kuperhatikan baik-baik, dia berjalan dengan langkah kecil, namun
seperti terburu-buru, tapi dia tidak terlihat waspada dengan disekitar, dia
sangat percaya diri. Tapi- Tunggu, Mr. Daniel bisa kau pause dulu saat dia
muncul?" Pinta Mr. Jeany.
Mr.
Daniel mengulang video, dan memijit tombol spasi. Video itu memperlihatkan saat
pelaku itu muncul di kamera.
"Perbesar
di area wajah" Pinta Mr. Jeany. Gambar itu di perbesar di area wajah meski
tertutup dengan tudung jubah, tapi masih terlihat di bagian dagu dan hidung,
namun tidak begitu jelas.
"Itu
seorang perempuan"
"Ya,
aku pikir juga begitu" Kata Mr. Daniel.
"Dagunya
terlihat panjang, sepertinya
efek dia sedang tersenyum dengan mulut yang sedikit terbuka, ini menandakan,
seolah kematian Mr. Albert akan membuahkan hasil bagi dirinya sendiri"
Kata Jeany.
"Jika
kau benar, maka bisa dipastikan dia pembunuh bayaran yang disewa oleh salah
satu perusahaan besar" Tiba-tiba Eric berasumsi.
Lalu
semua memandang Eric dengan tatapan aneh.
"Itu
tidak menutup kemungkinan, tapi apa keuntungan baginya?" Tanya Adry.
"Eeuu
ituu, entahlah" Jawab Eric bingung.
"Oh
ya ada sesuatu yang mengganjal, perbesar tangannya" Pinta Adry, lalu video
memfokuskan dan memperbesar di area tangan, si pembunuh menggunakan sarung
tangan dengan membawa pistol api.
"Ini
pistol yang dia bawa, dia menggunakan sarung tangan agar tidak meninggalkan
sidik jari" Ucap Mr. Daniel.
"Sepertinya
pembunuhan ini dipersiapkan secara matang dan terencana, tapi... dari mana dia
tahu bahwa Mr. Albert masih berada di kantornya?" Ucap Mr. Jeany, semuanya
tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Petunjuk masih samar-samar, tapi
setidaknya mereka sudah tau bagaimana rupa si pembunuh itu.
Di tengah
keheningan semua dikejutkan dengan dering ponsel Adri disakunya. Nomor asing
menghubunginya, Adri pun memijit tombol terima dan menempelkan ponselnya di
telinga kiri.
"Ya?"
Tanya Adri.
"A-Adri..."
Itu suara seorang wanita, namun bagi Adri suara itu tidak asing lagi di
telinganya.
"Phoeby?"
"Adry,
tolong aku" Suara Phoeby gemetaran
"Kau
ada dimana?"
"Toserba,
di distrik ketiga"
"Aku
harus menjemput seseorang" Adri menyambar kunci mobilnya di meja, lalu
meninggalkan ruang kantor CIA.
***
"Phoeby"
Panggil Adry.
"Adry"
"Ada
apa?"
"Laki-laki
itu,aku tidak tahu sejak kapan dia mengikutiku, tapi aku baru menyadari saat
berada di Mademoissel, dan dia mengikutiku sampai kesini" Phoeby menunjuk
ke arah pria yang berdiri di dekat gang yang berada sepuluh meter dari arah
toserba.
"Sudah
berapa lama kau disini?"
"Sudah
tiga puluh menit yang lalu"
"Kalau
begitu dia benar-benar menguntitmu"
"Aku
tidak tahu harus bagaimana selain menghubungimu, telpon ibuku sedang tidak
aktif, aku hanya mempunyai dua nomor di ponselku, kau dan ibuku"
"Tenang
saja, kau sudah bersamaku sekarang, ayo kita pulang" Adry menggamit tangan
Phoeby, dan membawanya keluar.
"AKu
takut dia bertindak macam-macam, bagaimana jika pria itu berbahaya
"Jika
dia bertindak macam-macam aku akan menghajarnya, yang penting sekarang aku
harus mengantarmu pulang, kau akan aman setelah berada di rumah"
Mobil itu
mengantarkan tempat dimana Phoeby tinggal, barulah lima belas menit kemudian
mereka sampai di Crow's Nest sederhana di sekitar Green Lock Street.
"Jadi
ini rumahmu" Ucap Adry saat mengantarkan gadis itu sampai di depan pintu.
"Hem,
jika kau tidak sibuk, kau bisa mencicipi poutline dan sandwich buatanku"
***
Ketika
Phoeby sibuk mengeluarkan belanjaannya di dapur, Adry yang berada di ruangan
keluarga memperhatikan sekeliling ruangan. Jika dari luar rumah ini terlihat
kecil, tapi berbanding terbalik dengan yang di dalam, ruangan ini terbilang
sangat luas, namun tidak terlalu banyak barang disana. Hanya beberapa sofa
santai di depan televisi, sebuah patung seorang wanita di bawah tangga, dan
lukisan yang menghiasi dinding.
Adry
mendekat dan memperhatikan lukisan itu. Tidak terlalu memiliki nilai seni
tinggi, tetapi meninggalkan kesan di dalamnya. Lukisan wajah seorang wanita
dengan mata terpejam namun menjatuhkan air mata di pipinya, wajah itu
menengadah ke langit. Adry membaca tulisan kecil di sudut kiri kanvas.
A.M,Swiss, .
Adry
kembali memperhatikan lukisan itu, mirip wajah Phoeby. Hidungnya dan dagunya
tampak tidak asing baginya jika dilihat dari samping. Gadis itu benar-benar
cantik. Batin Adry.
"Apa
itu lukisanmu?"
"Oh
lukisan itu? Itu memang wajahku, tapi bukan aku yang buat. Di sudut kiri kau
akan menemukan tulisan AM, Swiss, 20-7-2014"
"Ya
aku melihatnya"
"Angel
Mademoissel, salah satu teman kampusku di Swiss, ah tidak, aku tidak punya
teman, pokoknya saat itu sedang praktik melukis, entah mengapa dia melukis
wajahku, dia bilang itu hanya iseng dan mengejekku lewat lukisan. Aku yang
pemurung yang menengadah ke arah langit seakan mengharapkan sebuah kebahagiaan.
Entah kenapa aku malah menyukainya, dan dia memberikanku lukisan itu seperti
sampah"
"Dan
aku akan bertanya padamu, kenapa kau tidak pernah memiliki teman dan bersikap
antisosial, Phoeby"
Phoeby
mengangkat bahu "Aku sulit menjawabnya"
"Katakan
saja apa yang kau rasakan"
"Aku
memiliki masalalu yang buruk, ini ada hubungannya dengan kepindahanku ke
Kanada. Dari sejak kecil aku hidup di bawah asuhan ayahku yang otoriter, dengan
sikapnya yang keras itu dan sempat menyiksaku, akhirnya aku terbiasa begini.
Menurutku hidup dengan seseorang akan menyusahkan, berbeda dengan hidup
sendiri, serasa bebas melakukan apapun"
"Kenapa
orang tuamu...- ah tidak, aku tidak akan menanyakannya terlalu jauh, aku tau
kau tidak ingin mengatakkannya padaku, iyakan?"
"Hem,
terlalu rumit, itu membuatku kembali ke masalalu"
"Aku
mengerti"
"Oh
ya, bagaimana dengan penyeledikanmu, sudah ada kemajuan?" Tanya Phoeby.
"Ya,
sudah ada beberapa petunjuk, aku sempat kelabakan mengurusnya, masih di bawah
lima puluh persen untuk menemukan jawaban siapa pelakunya"
"Lalu
bagaimana dengan pembunuhan di perusahaan Yotsuba itu? Apa disana juga
menemukan petunjuk?"
"Dia
menyimpan bunga mawar putih di meja Mr. Albert, tapi kepolisian belum menemukan
motif pembunuh dan arti dari mawar itu"
"Petunjuk
yang aneh, pembunuh menyimpan bunga mawar itu adalah hal yang langka"
Adri
tertawa kecil "Ya, kau benar"
"Kau
tampak mahir memainkan pisau ya" Ucap Adry dengan nada yang dibuat curiga
saat melihat tangan terampil mengupas kulit kentang.
"nadamu
itu seperti menuduhku seorang pembunuh" Balas Phoeby dengan nada bercanda.
Lalu ia mencuci tangannya di wastafel.
"Oh
ya" Phoeby berdiri tepat di hadapan Adry, gadis itu sedikit mendongak
memandang Adry dan menatapnya dengan wajah manis. "Kau adalah seorang
detektif yang menyelidiki kasus pembunuhan, tapi kau bukan FBI atau CIA,
katakan apa yang akan kau lakukan jika aku adalah pembunuh itu, aku ingin
tahu?"
Adry
menatap balik gadis itu. Menatapnya lama.
"Aku
akan menciummu"
Phoeby
tertawa renyah "Jangan bercanda"
"Kau
juga sedang bercanda"
"Ya
aku tahu-aku tahu,,, jika aku adalah pembunuh, kau akan mengeksekusiku tanpa
ampun, kau akan mengambil pistolmu dan menembakkannya tepat dikepalaku, atau
kau..."
"Atau
aku akan membunuhmu dengan pisau dapur" Adry melanjutkan.
"Ya-ya
kau benar" Phoeby tertawa.
"Kau
bahagia denganku"
Tiba-tiba
tawa Phoeby terhenti.
"Aku
penasaran kapan kau terakhir tertawa seperti itu, Phoeby. apa kau sering
tertawa?" Tanya Adry sambil menatapnya dalam-dalam. Lalu menggenggam kedua
tangan Phoeby yang dingin.
"Sejak
pertama bertemu denganmu, sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan wanita yang
antisosial, dia terlihat angkuh dan egois, aku tahu kau memiliki sikap seperti
itu, kadang aku ingin kau bisa tersenyum kepada orang-orang disekitarmu, dan
mencoba berbicara banyak pada orang yang peduli padamu. Aku ingin kau
melakukannya, tapi setelah aku sadar, aku ingin hanya aku yang tahu senyuman
itu, aku hanya ingin hanya aku yang tau suara tawamu, aku ingin memilikinya,
hanya aku, Phoeby... aku jatuh cinta padamu. Jangan berikan senyuman itu pada
orang lain, kecuali aku"
"A-Adry"
Wajah
Adry tepat di depan wajahnya, sepertinya sebentar lagi akan terjadi sesuatu.
Phoeby bisa merasakan nafas Adry yang hangat, dan tangannya menggenggam erat.
"Jangan
jatuh cinta padaku" Ucap Phoeby pelan.
"Aku
sudah jatuh cinta padamu, dan aku tidak ingin kau melarangku"
"Tidak,
aku mohon jangan jatuh cinta padaku. Pada akhirnya kau hanya akan menyakitiku
Adry, semua pria selalu menyakiti wanita, seperti yang dilakukan ayah padaku dan ibuku"
"Kenapa
kau beranggapan seperti itu Phoeby, kau tidak tahu apa arti cinta sesungguhnya,
kau barusaja tertawa denganku, aku tahu kau bahagia jika aku berada di dekatmu,
iyakan"
Phoeby
terdiam.
"Aku
tahu kau kesepian selama ini karena selalu sendiri. Aku mohon, beri sedikit
ruang untukku" Adry memegang pinggang gadis itu, dan memberikan ciuman
lembut pada bibirnya.
Keduanya
di kejutkan saat pintu depan yang di buka. Laurent barusaja sampai dan tak
sengaja menyaksikan adegan mengejutkan itu di dapur. Tapi Laurent berusaha
bersikap tenang kepada mereka, padahal dalam hati ia senang, akhirnya Phoeby
yang pemurung bisa jatuh cinta.
"Aku
pikir siapa, tidak biasanya ada mobil yang terparkir di depan" Ucap
laurent dengan ramah.
"Mom,
kau sudah pulang, hemm... ini Adry dia teman kampusku, Adry dia ibuku"
"Adry"
Mereka
berjabat tangan.
"laurent.
Teman?" laurent bertanya sesuatu.
"Hem
ya, kami barusaja berpacaran" ucap Adry.
"Tidak-
kami tidak pacaran, Mom, yang barusan itu...-"
"Ah
syukurlah, mama tidak menyangka pria setampan ini akan menjadi pacarmu, mama
senang mendengarnya"
"Tidak-"
Phoeby berusaha mengelak.
"Uh,
aroma poutline, apa kau membuat poutline?" Laurent mengalihkan pembicaraan
seraya berjalan ke dapur. Dimeja tersaji sepiring besar kentang dengan taburan
keju dan tiga sandwich yang cukup mengenyangkan.
"Ya,
aku membuatnya dengan Adry, aku sengaja membuatkan tiga sandwich untuk
kita"
"Baiklah,
malam ini kita akan makan bersama" Laurent dengan antusias membawa makanan
itu ke ruang keluarga sambil menyalakan televisi.
***
Hujan
deras di luar belum juga berhenti. Hawa dingin yang menyeruak akhirnya membuat
Restoran di sekitar Maam Cross menjadi sasaran orang-orang untuk sekedar
menunggu hujan reda sambil meminum
coffe.
Sir
Charles menyimpan makanannya di atas meja, Shish Taouk dan smoked meat sandwich
siap dilahap oleh Inspektur paruh baya itu. Ia mengambil potongan daging dengan
garpu lalu menjejalkannya ke dalam mulut.
"Disini
sangat ramai sekali, aku hampir kehabisan tempat duduk" Ucap pria asing
bertopi bundar dan mengenakan mantel yang sangat tebal. Sir Charles menatap
tajam, menurutnya itu sangat tidak sopan seorang yang duduk tanpa dipersilahkan
dahulu.
"Aku
melihatmu di televisi, sepertinya FBI dan CIA sangat sibuk akhir-akhir
ini" Ucap pria asing itu, setelah menyadari bahwa Sir Charles berseragam
kepolisian. Sir Charles tak menaggapi, ia hanya tidak suka di ganggu saat
makan, apalagi saat dirinya - dan Shish Taouk favoritnya.
"Tapi
sepertinya kasus ini sulit untuk dipecahkan,bukan?" kata pria asing itu.
"Jika
ingin bicara denganku tunggu sampai aku menyelesaikan makananku" Balas Sir
Charles tanpa memandangnya.
Pria
asing itu tertawa "Kau terlalu santai dalam menangani kasus ini, tidak
kusangka, FBI dan CIA kelabakan hanya dengan satu orang wanita"
Sir
Charles menatap wajah pria itu dengan serius. "Apa maumu?"
"Baiklah,
untuk membuatmu jelas" Pria itu menyerahkan identitasnya "Aku anggota
kepolisian"
Sir
Charles menatap identitas kepolisian itu di meja. Namun identitas itu bukan
dari negara Kanada. Sir Charles kembali memandang pria asing itu.
"Aku
sedang menjalankan tugas, ah, kau pasti kenal dengan foto ini" Pria asing
itu meletakkan sebuah foto di meja.
"Kau
pasti kenal dengan orang ini, dan setelah memperlihatkan foto ini kau pasti
tahu aku berasal dari kepolisian mana" Kata pria itu mengejutkan Sir
Charles, namun Sir Charles tak menunjukkannya. "Dia adalah buronan kami.
Pembunuh bayaran yang sangat profesional dalam hal menembak"
Lama, Sir
Charles memandang foto itu.
"Dia
satu-satunya anak buah Pater Kardinal Rooney dan teman-temannya berjumlah 3
orang. Pater tersangka yang sudah kami bebaskan 15 tahun yang lalu, dia
terbukti melakukan pembunuhan dan perampokkan di sebuah bank. Dan untuk
melanjutkan kejahatannya dia merekrut gadis ini untuk melakukannya" Jelas
pria itu.
"Ayo,
kita bekerja sama mencarinya. Amanda Milray" Lanjut pria itu.
***
Istana
kaisar bukan main megahnya, bangunan yang berdiri beberapa hektar itu tampak
bersinar di pinggir kota. Istana itu menjadi pusat perhatian banyak orang. Ya,
malam ini banyak sekali orang yang berdatangan, para pejabat tinggi dan tokoh
ternama mendatangi istana untuk merayakan sebuah pesta yang di adakan oleh
Freddy Sanders. Pesta yang diadakan setiap satu tahun sekali tepat di musim
dingin. Pesta ulang tahun Freddy Sanders.
"Selamat
berulang tahun, Yang Mulia" Seorang pejabat tinggi menjabat tangan Freddy
dengan bangga. "Ah, dan Nyonya Sanders" ia juga menjabat istri
Freddy.
"Thank
you" Ucap Nyonya Sanders ramah. Dia wanita berumur setengah abad,
mengenakan gaun yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang masih segar di pandang
mata. Dia sangat perfeksionis dalam hal apapun terutama penampilannya, karena
hal itulah dia masih saja cantik dan garis-garis keriput di wajah nyaris tak
terlihat.
Mereka
berbincang selama beberapa menit dan berfoto bersama. Nyonya Sanders
memperhatikan anak semata wayangnya yang berdiri di samping jendela, sedari
tadi ia seperti menunggu seseorang. Nyonya Sanders mendekat.
"Jangan
hanya berdiri saja, kau bisa berdansa dengan gadis cantik yang berada
disini" ucap Nyonya Sanders.
"Aku
sedang menunggu seseorang, Mom" ucap Adri.
"Dia
pacarmu?"
"Entahlah"
Nyonya
Sanders tertawa kecil "Apa gadis itu menolakmu?"
"Dia
belum merespon apa-apa, aku harap malam ini aku bisa menemukan jawabannya"
"Tidak
biasanya ada gadis yang tidak langsung menjawab pernyataan cintamu itu, aku
jadi penasaran gadis seperti apa dia, apa dia cantik?"
"Hem,
dia tipeku"
"Baiklah,
kenalkan dia padaku"
***
Adry
menyembunyikan seikat bunga mawar di balik punggungnya. ia menaiki tangga untuk
menuju ke lantai tiga. Phoeby, sudah menunggunya disana.
Sampai di
lorong yang terang benderang, dan angin semilir dari luar tampak Phoeby sedang
memandang ke arah luar, rambutnya sesekali tertiup angin menambah ketertarikan
siluetnya. Apalagi lekuk tubuhnya yang indah dengan balutan gaun sifon berwarna
putih tanpa lengan, membuat Adry semakin ingin memilikinya.
"Apa
kau menunggu lama?" Tanya Adry.
"Tidak,
maaf aku datang terlambat"
"Kau
pintar bersembunyi, aku menunggumu di bawah, diam-diam kau kesini sendirian
ya"
"Aku
hanya tidak suka keramaian, dan kalau aku menemuimu di bawah, sepertinya aku
akan jadi pusat perhatian"
"Dan
kau juga tidak suka diperhatikan banyak orang. Phoeby, banyak sekali yang tak
aku ketahui tentang kamu" Ucap Adri. Adry memperhatikan wajah Phoeby yang
sedikit bermake up, tidak terlalu tebal namun natural, bibirnya yang kecil
mengkilap dengan polesan lip gloss. Phoeby benar-benar cantik malam ini.
Adry
menyerahkan seikat bunga mawar merah pada Phoeby. Phoeby menatapnya tanpa
ekspresi, tapi lalu dia tersenyum.
"Aku
tidak menyangka kau bisa bertindak manis seperti ini. Tapi... aku tidak suka
mawar"
"Oh
ya? Sayang sekali. Baiklah, jika kau tidak menyukainya aku akan melemparnya
keluar"
Phoeby
menahan tangan Adry, lalu ia menerima bunganya "Tunggu, aku akan
membawanya. Hal yang langka menerima bunga dari seorang detektif"
Tiba-tiba
Adry menarik tubuh Phoeby ke dalam pelukannya.
"Mulai
malam ini kau adalah milikku, Phoeby"
Phoeby
terdiam sejenak.
"Sudah
ku bilang, jangan jatuh cinta padaku, Adry-"
Pelukan
Adry semakin erat. dan membelai rambutnya dengan sayang.
"Aku
tidak akan menyakitimu Phoeby, dan aku akan melindungimu. Percayalah"
"Janji?"
"AKu
berjanji"
"Aku
belum bisa memberimu jawaban, aku butuh beberapa menit untuk
memikirkannya"
Adry
melepas pelukannya. "Baiklah. Aku mau mengambil minuman dulu"
"Ya"
Adry
meninggalkan Phoeby di lorong, ia pun pergi ke lantai dasar untuk mengambil dua
gelas minuman. Tak di sangka, Sir Charles dan pria tak di kenalinya datang.
Mereka mengenakan stelan jas yang sangat rapi seperti tamu yang lain, dan itu
sangat membuat Adry terkejut.
"Sir,
kau datang juga?" Tanya Adry.
"Adry,
aku sama sekali tidak ingin merusak acara ini. Tapi... ini demi kebaikan kita
semua, aku sengaja datang kesini tanpa seragam kepolisian agar dia tidak
mengetahui bahwa CIA ada disini"
"Maksudmu
dia?"
"Aku
sudah menemukan si pembunuh misterius itu, dia ada disini, oh kenalkan dia Sir
Philips, partner baruku untuk membantu penyelidikan ini"
"Tunggu,
maksudmu apa, dia ada disini, siapa?"
"Amanda
Milray"
Adry
tertegun.
"Kau
juga mengenalnya dengan baik, Amanda Milray, ah, bukan, dia Phoeby. Ya, Phoeby
adalah Amanda Milray"
Adry
tertawa "Tidak jangan bercanda, malam ini aku dengan PHoeby sedang
berkencan, jangan membawa-bawa Phoeby dalam penyelidikkan"
"Kau
terlalu percaya padanya, aku membawa kepolisian dari Swiss, bukankah Phoeby
dari Swiss, benarkan? Dia mencari gadis itu, dia adalah buronan"
"Tidak-"
"Katakan
dimana dia?"
Adry, Sir
Charles dan Philips menuju balkon lantai tiga. Saat sampai langkah mereka
seketika berhenti. Dihadapan mereka, Phoeby dengan refleks menodongkan pistol
ke arah mereka, bersamaan dengan Sir Charles juga menodongkan pistol padanya.
"Phoeby"
Kata Adry pelan, ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Phoeby
menurunkan ponsel dari telinganya. Sepertinya seseorang sudah memberitahu
Phoeby bahwa Sir pHilips sedang mencarinya. Ya, Laurent memberitahunya. Setelah
Phoeby pergi ke pesta Sir Charles datang menanyakan Phoeby. Laurent pun di
tahan di kepolisian diam-diam ia menelpon Phoeby dengan ponsel yang ia
sembunyikan. Saat itulah Phoeby mengerti keadaan, ia akan bertemu Sir Philips
malam ini.
"Sir
Philips. Benar?" Tanya Phoeby tenang, namun terdengar angkuh.
"Senang
bertemu denganmu, Miss Milray" Balas Sir Philips.
Phoeby
mendesah sinis. "Aku terkejut kau bisa sampai kesini,"
"Tentu
saja, aku membawakan berita baik untukmu. Besok lusa, Pater akan di
eksekusi"
"Apa?"
"Apa
lagi yang akan kau perbuat? Atasanmu akan mati, akan lebih bagus kau juga
menyerahkan diri pada kepolisian, jangan menghancurkan keamanan negara ini,
Milray"
"Phoeby,
katakan, ini tidak serius kan, kau bukan Amanda Milray"
"Jangan
berkata polos seperti itu, detektif. Aku memang Amanda Milray, aku yang
membunuh polisi palsu di bangunan terisolasi ,labirin, dan yotsuba. Itu aku.
AKu memaklumi keterlambatanmu menyelidiki Amanda Milray, karna kau sama sekali
bukan anggota CIA. Kau sudah mengetahuinya sekarang, yang jelas aku sudah
melarangmu untuk jatuh cinta padaku, Adry Russel Sanders"
Entah
kenapa, meskipun itu Phoeby tapi Adry tak mengenal nada suara seperti itu. Itu
kebalikan dari sikap Phoeby yang lembut dan dingin. Sekarang dihadapannya bukan
Phoeby lagi, tapi Amanda Milray, gadis pembunuh yang selama ini ia cari.
Phoeby
menarik pelatuk tanpa ragu dan siap menembak mereka.
"Sir,
turunkan senjatamu" Pinta Philips pada Sir Charles. Sir Charles terkejut
dengan permintaan Philips itu.
"Dia
penembak profesional, dia bisa menembak dari sembarang arah dan selalu tepat
sasaran"
"Tidak
mungkin, wanita seperti dia bisa melakukan hal yang tak bisa dilakukan oleh
FBI" Balas Sir Charles pelan, ia pun menurunkan senjatanya.
Sir
Philips mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
"Ayo
lakukan" Ucap Sir Philips agar keduanya mengangkat tangan juga, Sir
Charles menurutinya, namun Adry masih tak percaya dan keras kepala.
"Phoeby-"
"Berbalik"
Ucap Phoeby.
"Dia
gadis berbahaya, ikuti saja kata-katanya" Ucap Philips, yang seakan tak
bisa berbuat apa-apa menghadapi gadis ini.
Ketiganya
berbalik membelakangi Phoeby, sementara itu Phoeby menurunkan senjatanya.
Sampai beberapa detik, tak terdengar suara dari belakang mereka. Saat mencoba
berbalik ke arah Phoeby,
dia sudah tidak ada disana lagi. Meninggalkan bunga mawar dan hand bagnya.
Sir
Charles menuju jendela dan memandang ke arah luar. Tidak ada Phoeby disana.
"Menghilang"
Adry
melesat menuruni tangga, diikuti Philips dan Sir Charles, tentu saja, untuk
mencari Phoeby.
Mereka
bertiga menyebar keseluruh ruangan dasar, untuk berjaga-jaga bahwa Phoeby tak
melakukan pembunuhan disini. Adry keluar dari istana memandang ke sekeliling
taman, tidak ada tanda-tanda Phoeby disana. Beberapa orang penjaga pun terlihat
aman mengawasi lingkungan.
"Apa
kau melihat gadis mengenakan baju putih yang keluar dari istana?" Tanya
Adry ke seorang penjaga keamanan istana.
"Kami
belum melihat tamu manapun yang keluar dari istana, Tuan muda"
Ia pun
mencari ke tempat lain disamping istana. Tidak ada Phoeby disana. Tak lama
datang Sir Charles dan Philips.
"Kau
menemukannya?" Tanya Philips.
"Dia
kabur dengan sempurna" Jawabnya.
"Gadis
itu benar-benar diluar logika. Bagaimana bisa dia melakukannya tanpa ada
jejak" Ucap SIr Charles.
"Ya,
ini salah satu alasan kenapa kepolisian Swiss tak pernah berhasil menangkapnya,
gadis itu seperti tikus yang pintar menyelinap dan bersembunyi" Kata
Philips
"Dia
belum lama pergi dari sini, ayo kita lanjutkan pencarian keluar istana"
"Aku
ikut" Ucap Adry.
"Tidak,
kau harus tetap berada di istana, gadis itu bisa berada dimana saja, jaga saja
ayahmu" Ucap Sir Charles.
AKhirnya
kedua polisi itu pergi dari istana dengan mobilnya.
***
Pagi itu,
Adri memandang seikat bunga mawar dan hand bag di meja. Melihat kedua benda itu
membuat hatinya terasa sakit, apalagi mengingat tadi malam Phoeby yang terlihat
polos tiba-tiba menodongkan pistol ke arahnya. Meski perasaannya hancur, tapi
Adry tetap konsisten menjalankan tugasnya, tentu saja, untuk memenuhi janji
pada ayahnya, menemukan dan mengeksekusi gadis itu.
Tiba-tiba
ponselnya bergetar. Nomor tak di kenal menghubunginya.
"Ya?"
Ucap Adry.
Mengetahui
isi pembicaraan seseorang di seberang Adry langsung mengambil kunci mobil dan
pergi meninggalkan istana, ia juga menghubungi Sir Charles.
"Dia
berada di Street Petroch Loomouth"
***
Phoeby
memandang Nenek Lucy yang meletakkan kembali telepon rumahnya. Nenek Lucy baru
saja memberitahu seseorang keberadaan dirinya di St. Petroch Loomouth.
"Nenek,
kau baru saja menelpon polisi, apa yang kau lakukan?" Tanya Phoeby.
Nenek
Lucy kaget lalu berbalik. Ia memegang bahu gadis itu.
"Seseorang
ingin menemuimu, dia pria yang sangat baik dan tampan, kau pasti menyukainya,
pria itu juga menanyakan keberadaanmu. Aku akan mempertemukan kalian berdua,
kalian akan saling jatuh cinta"
Phoeby
menatap Nenek Lucy dengan tajam.
BERSAMBUNG...
Phoeby
menatap Nenek Lucy dengan tajam.
BERSAMBUNG...
ubungi Sir Charles.
"Dia
berada di Street Petroch Loomouth"
***
Phoeby
memandang Nenek Lucy yang meletakkan kembali telepon rumahnya. Nenek Lucy baru
saja memberitahu seseorang keberadaan dirinya di St. Petroch Loomouth.
"Nenek,
kau baru saja menelpon polisi, apa yang kau lakukan?" Tanya Phoeby.
Nenek
Lucy kaget lalu berbalik. Ia memegang bahu gadis itu.
"Seseorang
ingin menemuimu, dia pria yang sangat baik dan tampan, kau pasti menyukainya,
pria itu juga menanyakan keberadaanmu. Aku akan mempertemukan kalian berdua,
kalian akan saling jatuh cinta"
Phoeby
menatap Nenek Lucy dengan tajam.
BERSAMBUNG...
