Senin, 07 November 2016

Cerpen action : Hidden, Oleh : Ola Erlinda Nathania


Hotel Rose Melfort adalah hotel yang paling sunyi di St. Mount Cambridge. Hotel megah yang bersembunyi di balik semak tinggi yang membentuk dinding, namun semak-semak itu di potong rapi seperti sengaja menyembunyikan hotel itu. Berseberangan dengan hotel yang terhalang oleh semak terdapat taman labirin yang luas, taman itu di setting sedemikian rupa membentuk sebuah bangunan tertutup.
Sementara di depan pintu masuk labirin, beberapa orang wanita menunggu pintu masuk labirin itu di buka. Ini permainan labirin berhantu, sebuah permainan yang di adakan oleh Adry Russel Sanders, seorang anak kaisar terkemuka di Kanada. Sebut saja ini permainan isengnya untuk menguji nyali para wanita yang berebut untuk berkencan dengannya malam ini.
Seorang wanita aneh menempati labirin nomor sepuluh setelah mengambil nomor dari seorang pria yang duduk di meja sebagai pembimbing mereka.
Wanita itu... datang paling terakhir yang membuat para wanita lain kesal, karena keterlambatannya membuat permainan ini semakin di undur.
 "Heu, kostum macam apa itu" Ucap wanita yang berada di sampingnya, sementara si lawan bicara tak menanggapi apapun, padahal ia sendiri merasa tak percaya diri dengan kostumnya. Tidak, ini bukan kostum, tapi pakaian biasa yang sudah ketinggalan zaman. Baju casual yang longgar, dengan rok berbahan katun yang panjangnya di bawah lutut dan kaki yang di balut sepatu kulit berwarna coklat tua, satu lagi, ia membawa tas selempang yang terlihat usang. Jelas kontras sekali dengan para wanita lain. Mereka mengenakan baju dan sepatu yang bermerk dan terlihat elegan, dan wajah bermake up seakan mereka telah siap membuka pintu di hadapannya untuk bertemu sang pangeran dari anak kaisar.
Gadis yang dikatai barusan hanya mendesah senyum, jelas itu bukan pintu untuk menemukan sang pangeran, itu adalah pintu mengerikan yang di dalamnya berupa labirin berhantu. Mereka akan terjebak di dalam sana dalam waktu 15 menit, sementara mereka harus menemukan jalan keluar sambil di ganggu para hantu labirin. Siapa yang berhasil keluar, maka ia mendapat kesempatan  berkencan semalam dengan pria tampan dari anak tunggal seorang Kaisar dan uang $10 dollar.
5 detik lagi pintu akan di buka. Gadis itu mehembus nafas panjang, pintu otomatis menggeser, para wanita itu masuk dengan percaya diri.
Gadis aneh itu sempat memperhatikan pintu masuk tadi, di desain seperti tembok labirin berwarna krem, sehingga tidak ada yang tahu bahwa itu pintu masuk atau bukan. baiklah, sekarang ia berada di tengah labirin yang mengarah ke kiri dan kanan. Tiba-tiba lampu mati, tak sampai 5 detik ia mendengar jeritan dari labirin sebelah kiri, itu pasti wanita yang mengatainya tadi.
"Kau boleh menjerit saat melihat hantu, heu, labirin berhantu pasti gelap, seharusnya kau tahu itu" Gumam gadis itu pelan, sambil berjalan ke arah kanan labirin.
Gadis itu berjalan perlahan sambil memperhatikan hantu-hantu yang mengganggunya yang telah di setting di dinding labirin, - hanya memperhatikan, bahwa hantu itu bukan hantu yang dimainkan manusia sungguhan, tetapi mesin. Ia merasa telah aman, meski begitu ia harus berhati-hati untuk melewati labirin selanjutnya ia tidak ingin terlambat dalam waktu 15 menit karena tersesat di labirin.
Sampai dilabairin terakhir, pintu yang bertuliskan "You are the winning"  terpampang dengan tulisan semerah darah. Gadis itu mendorong gagang pintu. Ia telah berada di luar labirin yang berupa taman kecil tepat di hadapan bangunan bertingkat 5. Bangunan itu bersinar karena ribuan lampu yang menyala di mana-mana.
Lalu ia menemukan sepucuk amplop merah  yang tergeletak di tanah. Ia memungutnya dan membuka isinya.
Aku menunggumu, permaisuriku. Adry.
gadis itu kembali meletakkan amplop itu seperti semula. tentu saja, ia tidak akan menemui pria itu. ia punya tujuan sendiri. Ia pun bersembunyi di balik pohon yang berada di pinggir labirin, ia segera membuka tas dan mengambil pistol. Kepalanya menyembul dari balik pohon. Dari kejauhan ia cukup melihat dengan baik dua orang pria dengan stelan jas sedang berbbincang di balkon lantai tiga. Pria paruh baya sang kaisar, dan seorang menteri baru yang berbahaya.
Gadis itu adalah seorang penembak profesional, ia hanya mengarahkan pistol itu ke arah pria yang menjadi targetnya. Ia siap menarik pelatuknya, sebuah peluru pun menembus jantung pria itu. Pria yang menjadi menteri baru dalam kekaisaran. Tampak pria itu jatuh tergeletak, sementara sang kaisar tterlihat sangat panik.
Gadis itu kembali memasukkan pistolnya ke dalam tas. Ia kembali ke dalam labirin, dan berpura-pura menjadi gadis malang yang terjebak didalamnya.

***
Phoeby menyetop taksi di hadapannya. Ia masuk ke dalam dan taksi itu lalu melaju sedang.  Saat berada di jalan tol sepi, taksi itu berhenti. Phoeby tahu alasan si sopir memberhentikan taksinya. 10 meter dari arah taksinya, 3 orang FBI  sedang menghajar seorang pria paruh baya yang sepertinya pemilik mobil sedan Yurke yang juga berhenti disitu.
Phoeby mengarahkan handycame ke arah mereka dan mereka kegiatan mereka di jalan tol. seorang polisi berambut pirang tanpa ragu menembak kepala si pria paruh baya itu hingga mati.
"Oh God" Gumam Phoeby. Ketiga polisi itu merampok harta benda pemilik mobil sedan Yurke. Tiba-tiba salah seorang polisi di antara mereka melihat ke arah taksi, Phoeby terkejut, ia langsung menyembunyikan handycamenya ke dalam tas. Dengan kasar polisi itu membuka pintu taksi dan menarik pengemudi. bersamaan dengan polisi yang kedua menarik Phoeby keluar dari kemudi.
"Orang-orang sialan!" Ucap polisi berambut pirang seraya menahan sopir taksi untuk membelakangi dan menahan kedua tangannya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Phoeby dengan panik.
"Tidak ada cara lain selain membunuhnya" Si pirang membunuh si sopir taksi.
"Nooo...!!!" Phoeby menjerit. Ia menangis histeris. "Apa yang kau lakukan, kau kan seorang polisi, kau bisa dihukum karena telah melakukan ini!"
"Berisik!" Polisi itu memukul kepala Phoeby dengan pistol hingga ia jatuh pingsan dengan kening yang mengeluarkan darah segar.
***
Phoeby membuka matanya perlahan-lahan, sekarang tangan dan kakinya diikat dan didudukan di kursi kayu, mulutnya di bekap dengan kain tali. ia berada di sebuah ruangan asing yang tampak ramai dengan beberapa orang lelaki dan perempuan sedang minum-minum. tiga di antara mereka adalah tiga polisi yang telah membunuh dua orang tak bersalah tadi siang. ternyata mereka hanya polisi gadungan yang memanfaatkan seragam FBI untuk merampok.
Phoeby mencoba berontak dari kursi itu.
"Hei, Nona, kau sudah sadar rupanya" Ucap si pirang yang tampaknya menjadi pemimpin diantara mereka.
"Mau bergabung dengan kami?" Tawar si pria berkulit coklat.
Phoeby berteriak dengan mulut di bekap, seakan meminta untuk melepaskan ikatannya. Si pirang mendekat dan mendekatkan wajahnya pada Phoeby.
"Aku menggeledah tasmu, di dalam ada handycame namun aku tidak menemukan chip di dalamnya, katakan, kau merekam kami siang itu dan kau menyembunyikannya?"
Phoeby terdiam.
"Bodoh, bagaimana bisa dia menjawab sementara mulutnya di bekap begitu" Ucap si perempuan.
Si pirang membuka kain yang membekap mulut Phoeby.
"Jawab"
"Camera itu memang tidak ada chipnya"
"Pembohong!"bentak si pirang
"Benar, aku sama sekali tidak merekamnya, dan tidak ada chip di dalamnya, percayalah"
"Dan bagaimana aku bisa percaya padamu, bahwa kau tidak akan melapor pada polisi setelah kubebaskan dirimu. Kalau kau macam-macam aku bisa membunuhmu kapan pun"
"Aku tidak akan macam-macam, lagipula aku tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan kalian, banyak yang harus kulakukan untuk masa depanku, tolong jangan bunuh aku" Phoeby meminta dengan panik.
"Bagus, gadis pintar" Pria itu mengacak rambut Phoeby dengan pelan "Kalau begitu kau bisa bebas tepat pukul 12 malam, selama kau pingsan aku telah menelpon ibumu untuk membawa uang sepuluh juta dollar"
Phoeby terkejut. Jadi ini pemerasan untuk mendapatkan uang.
Tengah malam, lima belas menit lagi ibunya akan datang menjemputnya dengan membawa sejumlah uang. Ketujuh orang penjahat itu masih teler di sofa sementara Si Pirang tampak berenergi menunggu nominal uang satu juga dollar.
***
"Jangan panik nyonya Laurent, aku yakin mereka tidak akan berani macam-macam selama mereka percaya bahwa kau membawa uangnya" Seorang polisi FBI bernama Daniel menenangkan laurent, Ibunya Phoeby.
"tetap saja, aku banar-benar panik sejak tadi siang"
Sampai di tempat tujuan, para polisi itu keluar dari mobil dan menyelinap ke seluruh bangunan. Laurent mengambil ponsel dan menghubungi nomor Phoeby, ia bisa mendengar suara di seberang sana, tanpa pikir panjang laurent segera berlari ke dalam bangunan itu dan menuju lantai dua dimana Phoeby berada. Ia langsung membuka ruangan itu.
"Nyonya Laurent, jangan gegabah!" Ucap Daniel, dengan sigap ia langsung menodongkan pistol saat masuk ke dalam ruangan. Namun apa yang sedang dia lihat, ia tak mampu berkata apa-apa, lidahnya kelu untuk berkata.
Ketujuh orang penjahat itu tergeletak di lantai dengan bersimbah darah, sepertinya seseorang telah membunuh mereka semua. Daniel melihat Laurent sedang berusaha membuka tali yang mengikat Phoeby di kursi dan membuka ikatan penutup matanya.
"Mom" Phoeby lega ibunya telah datang.
"Phoeby, sayang" Laurent memeluknya dengan erat hingga mereka jatuh terduduk di lantai "kau tidak apa-apa? Keningmu terluka" Ucap Laurent dengan cemas.
"AKu tidak apa-apa"
"Apa yang terjadi? Seseorang membunuh mereka semua, Phoeby, kau akan di interogasi"
"Apa maksudmu, Daniel. Tangan dan kaki Phoeby diikat, apa kau mencurigainya membunuh para penjahat itu hah!" Bentak laurent.
"Tidak, begini, aku tidak menuduh Phoeby sebagai pembunuh, tapi setidaknya dia lah petunjuk dari semua ini, seseorang membunuh mereka, dan hanya Phoeby yang selamat"
"Heh, jika kau sampai memberatkan anakku aku yang akan menuntutmu Mr. Daniel" Ancam Mrs. Laurent.
***
Phoeby di ruang interogasi bersama seorang polisi. gadis itu tampak tenang menjawab pertanyaan yang dilontarkan polisi. Sementara Mrs. laurent menyaksikan percakapan itu tanpa mendengar suaranya, karena ruangan itu terhalang oleh kaca anti peluru.
"Jadi kau menyaksikan pembunuhan FBI gadungan itu dan setelah itu kau pingsan"
"Ya, dan setelah sadar aku sudah di bekap, tangan dan kakiku sulit digerakkan karena diikat"
"Apa yang kau lihat di ruangan itu?"
"Hanya sebuah ruangan kecil, terlihat ruangan santai, mereka mabuk dihadapanku sampai malam"
"Bukankah kau tidak bisa melihat mereka karena kedua matamu di tutup?"
"Ya, tepat pada pukul 10 pria berambut pirang menutup kedua mataku dengan kain, katanya aku tidak boleh melihat karena mereka akan melakukan sex dengan wanita itu. Dan pada saat itu aku tertidur, aku terbangun saat mendengar suara tembakkan dan sangat berisik, wanita itu menjerit, lalu aku mendengar pecahan gelas jatuh atau apapun itu, aku pikir itu polisi yang datang untuk membekuk, tapi setelah itu aku tak mendengar apa-apa lagi, semuanya hening, hingga sekitar limat belas menit kemudian ibuku datang dan melepas kain penutup mata dan ikatanku"
"Apa kau mendengar ada orang lain baru yang masuk menghajar para penjahat itu"
"Aku tidak tahu, tidak ada tanda-tanda ada orang asing masuk. Aku berasumsi salah seorang di antara mereka menghajar temannya sendiri dan dia bunuh diri"
"Mengapa kau berasumsi seperti itu?"
"Ya, karna aku pikir... jika ada orang asing masuk mengapa dia tidak membunuhku juga, lagipula tidak mungkin tiba-tiba ada superhero menghajar penjahat tanpa memperlihatkan batang hidungnya padaku dan melepaskan ikatanku , dan tempat itu sangat terisolasi, berada di tengah hutan, tidak banyak orang yang tahu tempat itu, aku pikir"
Mr. Despard manggut-manggut seakan bisa menyimpulkan jawaban dari Phoeby.
"Kau bersih"
"jadi.. bagaimana kesimpulannya?"
"Asumsimu menurutku tidak masuk akal, salah satu dari mereka membunuh teman sendiri dan dia sendiri bunuh diri, sementara itu mereka menunggu ibumu membawa uang. Seharusnya ada motif yang membuat dia membunuh dan bunuh diri. Menurutku ada orang asing yang masuk dan membunuh para penjahat itu, jelas motifnya untuk menghukum para penjahat"
"Begitu,ya"
Mr. Despard memberi isyarat jempol kepada polisi yang menunggu mereka diluar, Laurent sendiri merasa lega karena Phoeby bisa melewati interogasi itu. Dua orang polisi masuk ke dalam ruang interogasi dan diikuti laurent. Ia memeluk putrinya dengan sayang.
"Syukurlah"
"Rasanya kasus ini biarkan saja, tidak ada petunjuk-petunjuk yang jelas dari kasus ini, Phoeby memang tidak tahu apa-apa soal pembunuhan penjahat itu. Jika kita menyelidikanya lebih lanjut rasanya hanya membuang-buang waktu saja" Ucap Mr. Despard.
"Pintar sekali pembunuh itu, tidak meninggalkan jejak dan sidik jari sedikit pun, aku rasa dia memang sudah berprofesional membunuh" Kata Mr. Daniel.
"Pembunuh membunuh pembunuh, aku tidak menemukan motif superhero membunuh penjahat itu, jika ia memang samasama sama penjahat seharusnya ia melindungi penjahat itu, bukan membunuhnya" Tambah Mr.Despard
"Jika ada kejadian yang sama kita pasti sedikit menemukan petunjuk" Ucap Mr.Despard.
"Ada. Kau lupa, kita masih mengurus kasus dua minggu yang lalu, pembunuhan menteri itu sangat misterius" Ucap Mr. Despard.
"Ya, kita harus memeriksa sepuluh wanita kandidat yang mengikuti permainan labirin berhantu itu"
"Baiklah, Mrs. Laurent, dan putrinya yang sangat cantik, maaf telah mengganggu waktu kalian, jika ada apa-apa, kalian bisa hubungi kami lagi"
"Baik, terimakasih" Kata laurent.
"Ya, semoga beruntung"
***
Pembunuhan misterius yang menimpa menteri raja kini banyak diperbincangkan netizen. pelaku pembunuhan masih dalam penyelelidikan, karena si pelaku tidak meninggalkan jejak sedikit pun di tempat itu. Namun kini polisi berasumsi bahwa si pelaku membunuh dari arah taman labirin, itu sudah di pastikan karena tempat itu di luar gerbang hotel sementara bagian dalam sudah di jaga ketat oleh polisi. Sasaran utama penyeledikkan polisi disibukkan dengan mencari sepuluh wanita kandidat yang mengikuti permainan labirin berhantu itu, sudah dipastikan pembunuhnya pasti ada di antara mereka.
"Pintu labirin nomor satu oleh wanita karir disebuah perusahaan, pintu nomor dua oleh seorang model, pintu ketiga oleh seorang dokter hewan, pintu nomor empat oleh seorang pemain teater..." Mr. Despard menyebutkan daftar nama yang mengikuti permainan labirin berhantu, sementara pria tampan sedang menyalin data nama-nama itu ke sebuah komputer.
"Dan yang terakhir... seorang mahasiswi dari universitas Stoland"
"Mahasiswi, heuh, patut dicurigai, gadis itu pasti pengecualian dari 9 gadis lain"
"Ya, dia satu-satunya mahasiswi. Justru aku tidak yakin bahwa dia pelakunya" kata Mr. Despard.
"Aku sendiri yang akan menyelidikinya" ucap Adry
"Baiklah-baiklah, jangan libatkan kasus ini dalam kehidupanmu, kau ini bukan anggota FBI apalagi CIA, pulanglah, Nak, kerjakan tugas-tugas kampusmu, atau kau mandi air hangat dengan bunga-bunga mawar yang disiapkan oleh para pelayanmu, jika kau terlibat dalam urusan ini dan kau terjadi apa-apa, mau tidak mau aku harus siap di eksekusi ayahmu" Ucap Despard sambil menepuk bahu Adry.
Adri beranjak dari kursinya dan mengenakan jaket kulit yang teronggok di meja "Aku memang tidak berminat  menjadi detektif, tapi memecahkan kasus yang misterius cukup menarik perhatianku, itu seperti sebuah puzzle yang harus disusun untuk menemukan jawaban, selain itu aku juga harus bertanggung jawab atas kasus ini, gara-gara permainan labirin itu semua menjadi rumit,"
Adry yang merasa bersalah ikut turun tangan dalam menyelesaikan kasus ini, dirinyalah yang diincar sepuluh gadis dalam permainan labirin berhantu itu. Dan ia yakin ada salah satu dari mereka yang lolos dari labirin itu, namun dia hanya berdiri di luar labirin, dan melakukan pembunuhan tersembunyi.
Adry merogoh ponselnya di saku.
"Edmun, polisi bilang kau sempat memeriksa tas mahasiswi itu, apa benar? - Temui aku di cafetaria biasa"
***
"Mahasiswi itu muncul paling terakhir, aku lihat wajahnya sangat pucat dan berkeringat. Dia bilang dia tersesat di dalam dan bingung mencari jalan keluar"
"Keluar paling terakhir bagiku mencurigakan, itu bisa kujadikan daftar bukti, lalu?"
"Ya, dia tampak kelelahan seperti yang lainnya, dia juga sempat berisrirahat sebentar sambil bersandar di bawah pohon"
"Yang kau lihat saat itu?"
"Aku tidak terlalu memerhatikan si mahasiswi, keadaan sangat kacau waktu itu, bahkan si wanita nomor sembilan  menangis histeris karena ada sesuatu yang membuatnya trauma saat berada di dalam. Tapi aku teratarik dengan si nomor tujuh, saat keluar dari labirin dia terlihat begitu tenang, tetapi dia sempat berkata padaku, bahwa permainan ini sangat menjijikan, setelah itu dia pergi mengendarai mobilnya"
Adry manggut-manggut, aneh dengan wanita nomor tujuh disaat semua kandidat panik dan ketakutan dia malah tenang, dan pergi begitu saja. Meski patut dicurigai tapi ia bukan objek penyelidikannya.
"Kau bilang di menenteng tas?"Tanya Adry
"Iya, tas selempang yang usang. Ah, aku lupa, mahasiswi itu cantik, tapi penampilannya benar-benar kuno, menurutku dia tidak pantas bertemu denganmu"
"Ya, atau dia memang tidak bermaksud untuk bertemu denganku, pasti ada tujuan lain" Adri mendapat daftar bukti kedua.
"Tapi dia bilang dia menyukaimu, dia akan berjuang agar memenangkan permainan ini dan kencan denganmu. Dia juga terlihat polos seperti mahasiswi biasa yang hanya punya urusan di kampus"
"Apa kau memeriksa tasnya?"
"Ya sebelum masuk aku sempat memeriksa barang-barang seluruh kandidat, kebanyakan dari mereka menyimpan tasnya di mobil, tapi mahasiswi itu pengecualian, di dalamnya hanya ada buku kecil seperti buku diary, buku catatan, pulpen, dan kotak perhiasan dan kotak make up"
"Kau membuka kotak perhiasannya?"
"Tidak, justru dia sendiri yang membukanya, saat ku tanya identitasnya dia sempat bercerita bahwa hari ini adalah ulangtahun ibunya, dia membelikan perhiasan itu untuknya, jujur saja dia antusias menceritakan hal itu, makanya dia tidak ingin menyimpan tasnya dan tetap membawanya ke dalam"
"Bagaimana bentuk kotak perhiasan itu?"
"Aku lupa, mungkin sekitar lima belas senti, sesuai dengan panjang perhiasan itu"
"Seharusnya kau minta untuk membuka kotak make upnya juga"
"Aku tidak bisa berbuat sejauh itu, aku pasti dianggap tidak sopan karena menuduh yang tidak-tidak sampai menggeledah kotak make upnya" Ucap Edmun.
***
Phoeby menghempaskan lembaran berkas bertuliskan Universitas Princeton di hadapan Laurent.
"Mom, kau benar-benar mendaftarkanku kesana ya?" Tanya Phoeby.
"Ya, tentu saja, jarak limakilo meter dari rumah itu membuatmu lebih mudah""
"Maksudku bukan itu, Mom, disana penghuninya jenius semua, lagipula itu kumpulan orang-orang populer se Kanada, tidak, aku tidak bisa"
"Lalu apa masalahmu?"
"Aku sulit menyesuaikan diri"
"Kau hanya perlu percaya diri sayang, percayalah, kau bisa"
Ini adalah hari pertama bagi Phoeby masuk ke universitas baru, tepatnya dia adalah mahasiswa pindahan dari swiss, dan baru seminggu tinggal di Crow's Nest bangunan sederhana, kokoh, putih, dengan ukuran menyesatkan karena jauh lebih besar dari yang kelihatan.
Phoeby sama sekali tidak menginginkan untuk pindah ke Kanada, suhu udara di musim dingin cukup menyiksa dirinya seakan sumsum tulang ikut membeku. Sebenarnya hari ini ia berencana tidak ikut kuliah dulu, karena ingin menikmati secangkir vanilla latte untuk sekedar menghangatkan tubuhnya di sofa empuk kamarnya.
Keinginan untuk memanjakan diri dimusim dingin hilang begitu saja, sekarang ia berada di kursi kemudi bersama Laurent menuju Universitas Princeton, yang tidak terlalu jauh dari jarak rumahnya.
Laurent berulang kali memandang wajah putrinya itu yang tampak lesu. Wajah ovalnya dengan dagunya yang panjang bertopang pada jendela yang tertutup, kedua matanya ke arah jalan, melihat segala sesuatu yang dilewati mobil itu. Hanya rumput berembun dengan kabut tipis yang sama sekali tak menyegarkan mata.
Laurent memarkirkan mobilnya tepat di depan  tangga yang begitu luas menuju bangunan universitas princeton. Tepat di dekatnya seorang wanita berambut pirang yang masih muda menunggu kedatangan Laurent.
"Ayo turun sayang"  Ucap Laurent.
Laurent berjabat tangan dengan wanita berambut pirang itu., lalu sedikit berbasa-basi membuka obrolan mereka. Phoeby yang menyusul membaca name tag yang menempel di baju wanita itu. Miss Sutcliffe.
"Hmm... ya, ini dia" Mrs. Laurent memperkenalkan Phoeby pada Miss Sutcliffe yang langsung memberikan senyuman ramah ke arahnya. Sementara Phoeby bermuka datar dan menunduk.
"Selamat datang di Universitas Princeton, semoga kau nyaman berada disini" Ucap Miss Sutcliffe.
Phoeby mendesah senyum tipis.
Karena sikap Phoeby yang dingin itu merubah suasana menjadi sedikit canggung, Mrs. laurent pun mengajak Miss Sutcliffe untuk sedikit menjauh darinya.
"Dia butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri, dia sedikit anti sosial dan tipe penyendiri" Bisik Mrs. Laurent.
Miss Sutcliffe mengerti dengan keadaan gadis itu, ia mengetahuinya karena Mrs. Laurent menceritakan tentang bagaimana keluarganya. Phoeby anak satu-satunya Mrs. Laurent, ia gadis yang antisosial dan sering menyendiri, itu karena Phoeby sering hidup dibawah tekanan keluarganya yang selalu bertengkar. Hubungan Mrs. Laurent dengan suaminya memang tidak bisa dikatakan baik, rumah tangga mereka hancur berantakkan karena ayah dari gadis itu seorang penjudi dan pemabuk. Dan hal ini menjadi sebuah alasan kenapa mereka sekarang berada di Kanada, kepindahan mereka adalah hal yang terbaik menurut Laurent agar tak lagi berurusan dengan mantan suaminya. Itu info yang di dapatkan Miss Sutclife.
"Aku akan berusaha membimbingnya, lagipula dia cukup manis, aku rasa orang-orang akan menyukainya" Ucap Miss Sutclife sedikit meghibur Laurent.
"Ya, semoga saja"
Tidak sampai lima menit mereka berbincang, laurent akhirnya pamit pergi.
"Telpon aku jika kau sudah pulang" Kata Laurent.
"Hem" Balas Phoeby.
***
"Aku dosen filsafat, jam ketiga aku akan berada di kelasmu, ayo akan kutunjukan kelasmu di lantai tiga, aku yakin kau akan kerasan disana" Kata Miss Sutcliffe diikuti langkah Phoeby di belakangnya.
 ***
Sir Charles yang gagah memasuki sebuah labirin berhantu untuk menemukan petunjuk. Labirin ini cukup menakutkan menurutnya, ini di desain seperti terowongan berhantu dan cocok di jadikan lokasi shooting film horor. Tidak aneh banyak wanita yang menjerit histeris saat memasukinya. Namun hantu properti yang tersimpan disana begitu sempurna dengan mesin penggerak otomatis yang bakalan sukses membuat pengunjung trauma.
Pria dengan rambut beruban itu mengambil sebuah benda yang tertempel di dalam  perut boneka zombie, itu semacam baut yang tak menempel sempurna untuk sekedar menempelkan sesuatu di dalam boneka itu.
Sir Charles melanjutkan langkahnya untuk menemukan pintu keluar, labirin itu memiliki belokan yang memusingkan,  ia sempat kembali ke tempat asal karena tak menemukan jalan keluar. Namun pada akhirnya Sir Charles menemukan pintu keluar berwarna coklat tua bertuliskan "You are the winning" dengan tulisan merah darah.
Pintu itu ia buka dan sampai di taman tepat di depan hotel Rose Melfort, taman yang cukup luas namun beranda hotel terhalang rumput tinggi yang di potong rapi membentuk seperti tembok  pembatas.
Sir Charles menoleh ke arah kanan, ada pohon akasia yang tingginya sekitar lima meter. Pandangan Sir Charles kini bergantian pada pintu keluar, dan pintu itu berada di posisi akhir, artinya pintu sepuluh. Ia mencoba menempatkan diri sebagai pelaku pembunuh setelah keluar dari pintu ia melangkah ke arah pohon dan menyembunyikan tubuhnya.
Ia mengarahkan pandangan ke arah lantai tiga hotel Rose Melfort, tepat pada posisi dimana Menteri itu sedang berbincang dengan Kaisar. Ia menyadari sesuatu, pohon ini cukup untuk menyembunyikan tubuh seseorang.
Tiba-tiba ia merasa telah menginjak sesuatu. Selembar kertas. Sir Charles memungutnya, ia tak khawatir meninggalkan sidik jari di kertas itu karena menggunakan sarung tangan, dan membaca isinya.
 Aku menunggumu, permaisuriku. Adry.
***
"Heii, apa kabar bung, kau meninggalkan beberapa mata kuliah akhir-akhir ini, apa sekarang kau jadi detektif betulan?" Edgar merangkul sahabat karibnya, Adry, saat ia sedang berjalan sendirian di koridor.
"Berisik, jika kau mengatakan detektif dengan suara keras itu bukan detektif namanya, bodoh"
Edgar tertawa renyah. Ia satu-satunya orang yang tahu bahwa Adry terlibat dalam kegiatan detektif. Ya, meski bukan anggota CIA, Adry cukup bisa di andalkan dan pintar dalam urusan penyelidikan.
"Ahh selain itu hari ini kelas kita kedatangan mahasiswi baru dari Swiss, kau hari ini  kau datang terlambat, cepat-cepatlah mengajaknya kenalan, dari fisiknya dia tipemu, tapi sayang-"
"Apa?" Tanya Adry.
"Dia suram sekali"
"Kalau begitu dia bukan tipeku"
Sampai di dalam kelas, Edgar mencari sosok Phoeby si mahasiswi pindahan itu. Dia tidak ada di bangkunya, padahal lima menit lagi jam ke empat akan dimulai.
"Hai Dri" Seorang wanita cantik menyapa Adry, namun yang disapa tak begitu tertarik dan malas membalas sapaannya. Tapi Olivia Manders, wanita primadona yang menjadi dambaan setiap pria. siapa yang tak kenal dia. Wanita yang tingginya semampai dengan rambut pirang keemasan dan mata bulat kecoklatan mampu melumpuhkan hati pria mana pun dengan penampilannya.
Tapi bagi Adry tak ada yang menarik dari sosok Olivia Manders, terlalu "murah" di mata lelaki, dia mau saja di ajak "ini dan itu".
"Hei Nona Manders, apa kau melihat si gadis pindahan itu?" Tanya Edgar.
"Si Suram maksudmu? heuh, jangan bertanya padaku, mengetahui keberadaannya sama sekali tidak penting bagiku. Lagipula... bukankah dia itu pernah di perbincangkan di koran ya, dia korban penculikan polisi FBI palsu, heuh, baru dua minggu tinggal di Kanada dia sudah membunuh tujuh nyawa"
"Apa! Aku tidak tahu soal itu!" Edgar terkejut.
"Jadi dia ya" Ucap Adry.
Adry kembali keluar kelas dengan langkah cepat.
"Hei, mau kemana lagi?" Tanya Edgar menjajari langkah kaki Adry.
"Menemui Sir Charles"
"Inspektur tua itu? Oh ayolah, setidaknya kau bisa menunda kegiatan ini dulu"
"Ini ada hubungannya dengan pembunuhan di labirin itu. Tidak,kau benar, aku tidak akan menemui Sir Charles dulu. Aku harus bertemu dengan mahasiswi pindahan itu dan menginterogasinya sekali lagi"
"Kau benar, tapi aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi saat ini, tolong jelaskan, dan biar aku membantumu"
"Dua minggu yang lalu ada kabar terjadi penculikan pada seorang wanita muda dari Swiss dan anehnya para penculik itu semuanya mati, sementara wanita itu tidak, tepat seminggu kemudian setelah kejadian itu terjadi pembunuhan di hotel Rose Melfort, permainan labirin yang menghadiahi 10 dollar dan berkencan denganku, salah satu di antara mereka seorang mahasiswi"
"Jadi menurutmu si mahasiswi dari Swiss itu pembunuhnya?"
"Aku  tidak bisa mengatakan itu. Setidaknya dia menjadi petunjuk bagiku, pasti ada sesuatu yang belum dia ceritakan pada Mr. Despard saat di interogasi"
"Intinya?"
"Ini dua kasus pembunuhan yang sama, membunuh secara misterius tanpa meninggalkan jejak dan sidik jari sedikit pun. Pembunuhan sempurna yang dilakukan oleh seseorang yang sudah berprofesional"
Edgar terdiam. Ia belum sepenuhnya mengerti dengan kasus ini, namun terkadang asumsi yang dilontarkan pria detektif itu terlalu kritis dan membingungkan yang mendengar.
"kau bilang kau mau membantuku?" Tanya Adry.
"Eeh...-" Edgar tiba-tiba menyesal kenapa harus menawarkan diri untuk membantu pria ini.
"Dekati gadis itu, cari tau informasinya, dan kalau bisa kau mendapatkan nomor hapenya?"
"What????"
***
"Si pembunuh meninggalkan isi amplop itu di bawah pohon" Sir Charles memperlihatkan lembaran kertas yang terlihat beberapa bekas lipatan tak beraturan dan noda tanah seperti terinjak sepatu. Kertas itu menjadi pusat perhatian orang-orang yang mengikuti rapat nonformal itu di sebuah ruangan kecil hotel Rose Melfort, beberaoa orang anggota CIA dan FBI ikut menyimknya, termasuk Adry dan para pegawai yang terlibat di permainan labirin berhantu.
"Kita akan melakukan beberapa percobaan untuk mengetahui pintu labirin mana dengan amplop kosong"
"Apa bisa? Bukankah amplop itu tersusun acak?" Tanya Mr. Despard.
"Tidak, Lucifer menyimpannya dengan baik, dia memungut amplop itu dari nomor satu dan meletakkannya paling atas. Artinya amplop itu berurutan"
Sir Charles meletakkan setumpuk amplop merah tua di meja, menatap amplop-amplop itu sejenak seakan jawaban teka-teki sudah ada di depan mata.
"Baik, aku akan membuka satu persatu amplop ini" Sir Charles mengambil satu amplop paling atas, ini milik wanita labirin nomor satu. Ia membuka isi amplop itu. Sir tak menunjukkan ekspresi apapun saat melihatnya artinya amlop itu tak mengundang keterkejutan apapun.
"Isinya utuh" Sir membuka lembaran kertas itu dan membaca kalimat yang sama. "Kau yang menulis semua ini?" Tanya Sir Charles pada Adry.
"Ya, aku membuat kalimat yang sama di sepuluh amplop dengan tulisan tanganku sendiri" Jawab Adry.
"Tulisanmu jelek"
"Hahhh" Adry mendesah sebal.
Sir Charles membuka amplop selanjutnya, hasil yang sama seperti amplop sebelumnya.
 Adegan ini sedikit menegangkan, meski Adry penasaran di pintu mana yang terdapat amplop kosong tapi ia merasa ada yang mengganjal. Adegan ini bisa saja menjawab siapa si pembunuh, atau bisa saja adegan ini justru tak ada petunjuk apapun. 
"Nomor enam" Kata Sir Charles yang akhirnya menemukan amplop kosong. Ia membuka lebar-lebar amlop itu dan memperlihatkan pada rekan-rekannya.
"Nomor enam, ya" ucap Mr. Despard.
"Siapa pemilik nomor enam?" Tanya Sir Charles pada Edmun.
Edmun dengan sigap dan tampak canggung membuka lembaran kertas yang berisi data-data nama wanita kandidat beserta profesinya.
"Miss Christie, seorang desaigner berumur 24 tahun"
"Tidak, Sir, tolong lanjutkan untuk membuka amplop sisanya" Pinta Adry, Sir Charles pun tak kan menolak dengan permintaan ini, maka ia membuka amplop selanjutnya. Hingga amplop terakhir...
"Mengejutkan, amplop sepuluh kosong"
"Itu dia" ucap Adry, seiring sesuatu yang mengganjal hilang begitu saja.
"Jadi.. ada dua amplop yang kosong, apa-apaan ini" Ucap Mr. daniel.
"Mahasiswi Universitas Stoland berumur 20 tahun, Amanda Milray" Lontar Edmun tanpa diminta, tapi itu jawaban yang dibutuhkan.
"Dan artinya pelaku pembunuhan dua orang?" Tanya Mr.Despard.
"Ini hanya mengecoh, ini sama sekali bukan yang di harapkan. Aku tidak yakin pelaku pembunuh si pemilik amplop kosong, bisa saja si pembunuh sengaja mengosongkan dua amlop dan dia berada di amplop yang utuh agar jejaknya tak di ketahui, atau justru kita menemukan jawaban bahwa pelaku pembunuh adalah nomor enam dan nomor sepuluh" Kata Sir Charles.
Semua terdiam, ada benarnya dengan dua asumsi Sir Charles. Mereka berpikir apa yang dipikirkan Charles, itu artinya mereka tidak menemukan jawaban sama sekali, namun prioritas utama adalah interogasi antara wanita nomor enam dan nomor sepuluh.
Tiba-tiba Adry tertawa keras, lalu ia menghempaskan punggungnya di sandaran sofa, dan menatap langit-langit atap hotel.
"Pembunuh itu... mempermainkan kita, dia sengaja membuat permainan ini agar kepolisian menyelidikinya dengan banyak teka-teki  dan membuatnya kelabakan. Benar-benar trik hebat, ini permainan intelektual, dia seperti menguji seberapa pintarkah kepolisian dan CIA dalam menyelidiki ini. Aku jadi penasaran siapa pelakunya, dia pasti wanita yang menarik" Ucap Adry, tiba-tiba ia semakin bersemangat dalam penyelidikan ini.
"Kau tidak bisa memilikinya, Adry"
"Aku tahu, dia permaisuriku si pembunuh, aku penasaran seperti apa dia, aku harap aku yang akan mengeksekusinya nanti"
"Baiklah, akhirnya dalam percobaan ini kita tidak menemukan jawaban sama sekali, yang harus kita lakukan selanjutnya adalah membawa wanita itu satu persatu  ke kepolisian kita akan melakukan interogasi secepatnya" Ucap Sir Charles mengakhiri pertemuan mereka malam itu.
***
"Ayah sudah bilang untuk tidak ikut lagi dalam memecahkan kasus-kasus yang ada di kepolisian" Ucap Feddy Dacres, kepada Adry yang pulang larut malam saat itu.
"Ayah, Ayah belum tidur?" Tanya Adry melihat ayahnya yang masih bersantai di kursi menghadap ke jendela, tampak asp rokok mengepul di tengah keremangan ruangan itu
"Ini untuk yang terakhir Ayah, lagipula aku merasa terlibat dalam memecahkan kasus ini, aku yang menginginkan permainan labirin itu, tapi akhirnya Mr. Franky mati terbunuh, aku rasa ini tanggung jawabku. Apalagi Mr. Franky orang yang sangat dipercayai Ayah, aku semakin ingin kasus ini cepat terselesaikan dan aku yang ingin mengeksekusi pelakunya"
"Meski ini yang terakhir, kau berada di ambang bahaya jika kau gegabah, dilihat dari cara dia membunuh dia orang yang pintar dan tidak mudah di tebak. Bisa jadi dia lebih pintar dari FBI maupun CIA"
"Aku tau ayah, tenang saja aku akan selalu waspada untuk memecahkan kasus ini, aku mohon, izinkan aku untuk melakukannya"
"Baiklah"
"Terimakasih, Ayah" Adry membungkukan badan simbol penghormatan, lalu ia masuk ke kamarnya yang berada di lantai atas.
Sampai di kamar, ia merogoh ponselnya di saku, lalu menghubungi Edgar.
"Bagaimana, kau mendapatkan nomer ponselnya?"
"Ah, sebaiknya kau yang temui dia langsung, dia sulit di tangani"
"Aku tidak mengerti"
"Dia antisosial, bukan gadis ramah, lebih tepatnya... apa ya, selain bermuka suram dia itu sulit di ajak bicara"
"Baiklah, tapi akiu belum bisa menemuinya besok. Ada yang harus kulakukan" Adry menatap selebaran kertas berisi identitas mahasiswa Universitas Princeton.
"Apalagi?"
"Itu rahasia. Baiklah, selamat malam" Tanpa menunggu balasan Edgar, Adry langsung memutuskan sambungannya. Ponselnya ia lempar ke ranjang yang empuk, lalu ia melangkah ke jendela dan membukanya lebar-lebar.
Ia membaca sekali lagi selembar kertas itu.
Amanda Milray, 20 tahun, Mahasiswi Universitas STOLAND,  St. Petroch Loomouth.
***
"Permisi, Miss, apakah anda bisa mencari identitas nama ini?" Adry menyerahkan selembaran kertas kepada seorang pegawai yang ada di kantor Universitas Stoland
"Baik, sebentar" Wanita itu menerima selembaran kertas dari Adry dan mengetikkan di komputer nama tertera disana.
"Anda mendapatka nama ini dari mana?"
"Hmm.. sulit jika kuceritakan dari awal, dia memberikan identitas itu saat mengikuti sebuah permainan, dan karena dia memenangkan permainan itu dia berhak mendapatkan hadiahnya ,tetapi dia meninggalkannya, jadi saya mencarinya kesini" Jawab Adry sedikit berbohong.
"Disini sama sekali tidak ada yang bernama Amanda Milray, yang ada Milray Satterhwaite. dia kelahiran 1994, itu artinya dia berumur 22 tahun, bukan 20 tahun"
"Tidak mungkin dia berbohong, dia menyerahkan identitas aslinya saat pendaftaran, semacam paspor" Ucap Adry.
"Jika itu saya tidak tahu, bahkan saya penasaran dengan Amanda Milray, dia memalsukan identitas dengan membawa universitas ini" Wanita itu tampak marah.
Wanita itu kembali menyerahkan lembaran itu. Setelah itu dia kembali melanjutkan aktivitas kerjanya yang sepertinya tidak ingin di ganggu lagi.
"Terimakasih, maaf sudah mengganggu"
"Oke"
Adry kembali masuk ke dalam mobilnya. meski Amanda Milray tidak di temukan , namun ia yakin bahwa gadis inilah pelakunya. Edmun bilang dia menyerahkan identitas asli berupa paspor. Jika gadis itu bisa memanipulasi identitas asli, maka tidak diragukan, dia berada disini tidak sendiri, dengan kata lain, dia berada dalam sebuah organisasi yang berkaitan dengan  pembunuhan.
Mobil itu melaju, menuju tempat berikutnya St. Petroch Loomouth. Ia pun membuka Google Map di ponselnya. Alamat tersebut jauh dari kota dan membutuhkan waktu dua jam untuk sampai kesana.
Mobil itu melewati perbatasan kota, masuk ke wilayah St. Petroch 5KM dari arah kanannya. jalan yang di lewati sunyi sepi seperti di tengah hutan, dan jalannya berkelok-kelok dan sempit.
Sampai di tempat tujuan Adry segera keluar dari mobilnya. tempat ini tidak begitu luas, dan terdapat beberapa rumah dengan jarak yang terpisah-pisah, tampak sunyi namun tentram dari kebisingan kota. Adry segera menghampiri salah seorang penduduk di tempat itu, seorang nenek tua yang yang sedang berjalan di jalan setapak berbatu dengan tongkatnya, lalu seorang kakek datang dan membantunya berjalan.
"Permisi, selamat siang" sapa Adry
"Selamat siang" balas nenek itu dengan suara serak.
"Hmm... boleh saya bertanya sesuatu"
"Yes, of course"
"Apakah gadis yang bernama Amanda Milray tinggal disini?"
Nenek dan kakek itu saling pandang.
"Disini tidak ada Amanda Milray" Jawab Kakek.
"Tapi disini benar, alamatnya ST. Petroch Loomouth. Dan ini identitas asli"
"Disini tidak ada Amanda Milray" Ucap Kakek itu sekali lagi.
"Tunggu, rasanya aku masih ingat dengan nama itu" Ucap si nenek "Sejak kau pergi ke Hoxton, ada seorang gadis yang datang kesini" Nenek itu berkata pada si kakek.
"Ya, ya, dia bernama Amanda Milray" Nenek itu mencoba mengingat ngingat. "Dia gadis tersesat dengan mobilnya. Dia menumpang dirumahku, dia bercerita banyak tentangnya. Tapi aku tidak bisa menangkap isi pembicaraannya"
"Maaf dia tidak bisa mengingat dengan baik" Ucap si kakek.
"Sayang sekali,kapan dia kesini?" Tanya Adry
"Sekitar beberapa minggu yang lalu"
"Bertepatan hari apa?"
"Aku lupa?"
"Jika itu bertepatan saat aku ke hoxton maka pada hari itu adalah hari selasa" ucap si kakek.
"Lalu dari mana dia berasal?"
"Aku yakin dia juga bilang padaku dimana dia tinggal dan kenapa tersesat, tapi aku benar-benar tidak ingat. Aku hanya ingat kalimatnya yang membuatku terharu, bahwa dia ingin hidup bebas seperti burung yang terbang di langit. kemana pun dia pergi tidak akan ada yang melarangnya"
Adry akan mengingat kalimatnya itu.
"Lalu bagaimana ciri fisiknya?"
"Dia gadis yang sangat cantik, dia ramah dan selalu tersenyum. Bola matanya hitam seperti boneka, dia memiliki bentuk tulang pipi yang indah. Saat pagi tiba dia menghilang begitu saja, tapi dia membuatkanku sepiring wafel, dan di pinggirnya ada tulisan terimakasih dengan coklat" Jelas nenek itu.
"Jika kau melihatnya, maka kau mengingatnya dengan baik" Ucap kakek yang tampak senang, tampaknya si nenek memiliki ingatan yang baik sesuai dengan apa yang dia lihat.
"Kalau begitu... anda pasti tau dengan apa yang dia bawa"
"Dia membawa tas ransel, namun aku tidak tahu apa isinya"
"Begitu ya.."
"Ah, seandainya gadis itu masih disini sekarang, akan ku kenalkan kau padanya, aku yakin kau pasti menyukainya, kalian sangat cocok" ucap nenek itu.
Adry tertawa kecil.
"Oh, apa jangan-jangan kau adalah pacarnya? Tanya si nenek.
"Ah, tidak, bukan, saya kesini ada urusan tertentu dengan gadis itu"
"Oh begitu ya... kalau begitu kau bisa meninggalkan nomor ponselmu padaku, aku yakin gadis itu akan kesini lagi" Pinta si nenek.
"Oh ya, apa boleh?"
"Tentu saja, kalian bisa bertemu nanti"
"Baiklah, aku akan mencatat nomor ponsel ku disini" Adry menuliskan nomor ponselnya di catatan kecil. lalu memberikannya pada si nenek.
"Aku sangat menantikannya" UCap Adry.
"Ya, akan ku telpon jika dia sedang berada disini"
Usai berurusan dengan kedua lansia itu, Adry meninggalkan tempat itu dengan perasaan puas. Meski ia tak berhasil menemukan gadis itu tapi ia sudah mendapatkan banyak petunjuk. Dan Adry sangat menantikan kedatangan gadis itu lagi di St. Petroch Loomouth.
Namun yang dirasakan Adry tiba-tiba berbeda dia menunggu gadis itu untuk di eksekusi atas pembunuhan menteri kepercayaan ayahnya. Menunggu gadis itu serasa menegangkan namun ada sensasi didalamnya.
 ***
Mr. Despard dan Mr Daniel mengawal seorang perempuan berpakaian modis ke kantor kepolisian. Miss Meredith, si wanita pemain teater, tampaknya tidak suka jika ia harus berurusan dengan kepolisian.
Saat berada di ruang intergogasi ia berhadapan dengan Sir Charles.
"Miss Meredith, benar?" Tanya Sir Charles.
'Ya, dan aku kesini ingin bertanya langsung pada anda, saya tidak pernah melakukan pembunuhan kepada menteri raja. Saya tersesat di labirin dengan hantu menyeramkan dan saya heran kenapa harus di bawa ke kantor polisi?"
"Ah, anda agresif sekali, saya belum melontarkan pertanyaan apapun pada anda. Santai saja, ikuti aturan-aturan kami, maka saya akan memudahkan anda" Ucap Sir Charles.
Miss Meredith memasang muka sebal, sambil berpangku tangan.
"Ngomong-ngomong Miss Meredith, anda pemain teater bukan? Saya pernah melihat anda sebagai pemeran utama di teater Gadis pemeluk bulan. peran anda sangat bagus, tidak aneh, anda banyak diincar acara tivi karena bakat anda yang sangat hebat" Sir Charles berbasa basi agar suasana tak terlalu tegang.
Miss Meredith menghembus nafas, ia terlihat sedikit tenang dengan pembawaan Sir Charles yang santai, dan tidak menakutkan seperti yang ia kira.
"Bagaimana menurutmu permainan labirin berhantu itu?" Tanya Sir Charles.
"Itu penipuan, Adry Russel Sanders, itu hanya mempermainkan mental seorang wanita dengan permainan yang menjijikan. Jika dia ingin berkencan dengan wanita bukan seperti ini caranya, labirin sialan itu membuatku tidak bisa makan berhari-hari" Ucap Miss Meredith dengan penuh emosi.
"Anda mengetahui permainan labirin itu dari mana?"
"Itu dari internet, dia mengumumkan permainan itu di fanspagenya"
"Oh, anda mengikuti fanspagenya rupanya?" Sir Charles menggodanya.
"Ya, pada awalnya aku memang menyukainya, dia salah satu pria yang selalu aku incar. Tapi setelah aku mengikuti permainan labirinnya aku malah membencinya, apalagi setelah itu terjadi pembunuhan yang tak di duga-duga, membuatku kaget saja"
"Miss Meredith, anda tidak menggunakan kedok teater anda disini kan?"
"Aku bicara apa adanya, Sir, lagipula untuk apa aku membunuh menteri raja, tidak ada untungnya bagiku"
"Kau datang bersama siapa, Miss?"
"Aku sendiri yang membawa mobilku, sebenarnya aku ingin di antar dengan sopir pribadiku, tapi dia bilang dia mendadak sakit kepala dan tidak bisa mengantarkanku malam itu di tempat teater"
"Dan setelah sampai di tempat permainan labirin siapa saja yang kau lihat disana?"
"Aku tidak terlalu memperhatikan orang dan tidak terlalu suka berbicara, tapi disana ada beberapa orang yang sedang menunggu kandidat lain, tampaknya mereka tidak sabar untuk berkencan dengan Adry"
"Dan setelah itu anda mengambil nomor labirin?"
"Ya disana ada pria, yang duduk di meja menyiapkan lembaran-lembaran kertas yang sulit kupahami. Lalu dia memberiku nomor 4, yang artinya aku harus menempati labirin empat"
"Siapa wanita yang sudah ada disana, apa mereka juga sudah mendapat nomor?"
"Nomor tiga dan dua, lalu saat itu datang dua orang lagi yang langsung mengmpiri pria di meja mengambil nomor, dan setelah itu aku lupa mereka nomor berapa"
"Berapa lama anda menunggu sampai anda memasuki labirin itu?"
"Sekitar tiga puluh menit, ini semua gara-gara wanita yang datang terlambat. Dari situ aku mulai merasa sebal dan ingin pulang, tapi pria-pria disana tidak mengizinkannya"
"Setelah kau memasuki labirin itu, seberapa jauh kau berjalan di dalamnya, dan arah mana yang anda ambil?"
"Aku mengambil arah kiri, saat ada tikungan dan beberapa ruangan dengan belokan, aku melihat zombi sedang menjulurkan lidah dengan cairan yang menjijikan, aku tahu itu hanya boneka, tapi bagiku itu sangat menjijikan dan karena hal itu aku tidak ingin melanjutkan dan kembali ke tempat pintu masuk menunggu pintu itu di buka" Jelas Miss Meredith yang berusaha meyakinkan.
Sir Charles manggut-manggut. Ia merenung sejenak, Miss Meredith meski memiliki wajah yang menyebalkan tetapi dia terlihat sangat jujur, dia menceritakan semuanya dari awal, dan tidak tersendat-sendat dan lancer begitu saja.
"Dan setelah kau keluar?"
"Aku langsung berjalan ke pinggir dan duduk di kursi karena tiba-tiba perutku mual"
"Apa kau melihat yang lainnya, para wanita lain ketakutan sepertimu?"
"Ya mereka ketakutan sekali, dan yang paling parah si wanita berbaju merah menangis histeris dan hampir pingsan, ada yang bilang dia sangat takut pada zombi"
"Apa kau tahu siapa yang kembali paling terlambat?"
"Aku tidak tahu"
"Berapa lama kau duduk di kursi?"
"Sekitar limat menit, dan setelah itu aku pulang karena perutku tidak mual lagi"
"Kau tidak tahu ada petugas yang datang dan memberitahu bahwa telah terjadi penembakan?"
"Kalau itu saya tidak tahu sama sekali"
Sir Charles sejenak berpikir. Ia sudah menemukan keputusan untuk Miss Meredith.
"Ya, tidak ada alasan lagi bagiku untuk mencurigai anda"
"benarkah? Oh Thanks, God"
***
Adry bertemu kembali dengan Edgar di kampus. Ada sedikit perubahan pada Adry, hari ini terlihat begitu semangat dari biasanya, dia antusias menceritakan penyelidikannya pada Edgar, padahal Edgar sendiri heran biasanya Adry tidak terlalu buka-bukaan dengan kegiatannya di kepolisian karna takut ada yang dengar bahwa ia seorang detektif.
"Ya, jadi intinya kau seperti menunggu wanita yang membuatmu penasarankan, kau tau itu seperti saat kau sedang jatuh cinta dengan wanita yang menarik perhatianmu karena dia misterius" Ucap Edgar.
"Aku tidak bilang jatuh cinta padanya, aku hanya penasaran karena dia menarik perhatianku dengan cara dia membunuh"
"Yah, tipe macam apapun si pembunuh itu asalkan dia jangan membuatmu jatuh cinta, jika dia membuatmu jatuh cinta, aku benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti" Ucap Edgar.
"Ah kau ini"
"Ngomong-ngomong... Aku rasa dia juga akan membuatmu penasaran, kau bilang kau akan menemuinya langsungkan?" Edgar menunjuk kepada seorang gadis yang berjalan di depan mereka.
"Dia?"
"Phoeby, mahasiswi baru itu"
Adry memperhatikan Phoeby yang membelakanginya, ia pun mengikuti langkah Phoeby dan memanggilnya.
"Hei, Nona" Panggil Adry. Phoeby menghentikan langkah, lalu ia melanjutkannya lagi.
"Aku memanggilmu"
Langkah Phoeby semakin cepat, Adry mengimbanginya, lalu menarik lengannya.
"Don't touch me!" Phoeby menghempaskan tangannya, namun tanpa sengaja tangannya melayang ke arah pipi Adry, dan ia sedikit tersungkur.
"Ah!"
"Oh God!" Edgar terkejut, namun ia jadi ingint ertawa.
Phoeby terkejut setengah mati. Dilihatnya pria itu sedikit menoleh ke belakang efek tangannya yang tak sengaja menampar pipi pria itu.
Adry mengusap darah di bibirnya.
"Oh my God, I,m sorry, aku tidak sengaja, maaf-maaf" Kata Phoeby memohon, namun wajahnya tertunduk seakan tak ingin di tunjukkan. Phoeby pergi begitu saja meninggalkan Adry.
Lalu Edgar datang menertawakan Adry..
"Berisik" Ucap Adry.
"Sudah kubilang dia itu sulit di tangani"
"Apa dia juga menamparmu?"
"Tidak, hanya saja dia sulit diajak bicara, hei, dia maniskan? Apa kau tertarik padanya?"
***
Saat pulang kuliah Adry kembali memanggil Phoeby. tapi Phoeby tak terlalu menanggapinya sampai Adry berhasil menjejaki langkahnya.
"Ada perlu apa?"
"Aku perlu bicara padamu, ini soal penculikanmu beberapa minggu lalu"
"Kenapa kau ingin tanyakan itu?"
"AKu perlu petunjuk darimu"
"Aku tidak ingin  membahasnya, aku sudah selesai dengan itu semua"
"Ayolah, aku seorang detektif, aku sedang membantu kepolisian dalam kasus pembunuhan, dan aku rasa kasus ini ada hubungannya dengan pembunuhan polisi palsu itu"
Phoeby menggelengkan kepala, ia tampak tak mengerti dengan apa yang dikatakan Adry.
"Aku tidak punya waktu" Phoeby pergi.
"Kau pembunuhnya" Ucap Adry, Phoeby menghentikan langkah dan kembali berbalik.
"Kau bilang apa?" Tanya Phoeby dengan muka datar.
"Kau pembunuhnya"
"Aku bukan pembunuhnya, bagaimana bisa aku seorang pembunuh, aku sudah selesai dengan kepolisian, dan kepolisian sudah membebaskanku  dari tuduhan itu"
"kalau begitu buktikan sekali lagi dengan intogasi ringanku"
Phoeby menghembus nafas berat. Ia tahu Adry menuduhnya sebagai pembunuh agar ia menuruti semua keinginannya. Mereka pun pergi ke cafetaria untuk berbicara berdua.
Seorang waitress menyodorkan vanilla latte dan capucchino di meja. Phoeby langsung mengambil vanilla lattenya, bukan untuk di minum, hanya memegang cangkirnya dengan kedua tangannya. Ia menghangatkan tangannya yang dingin dan menempelkan ke cangkir panas itu.
"Kau tampak kedinginan, apakah di Swiss tidak sedingin ini?"
"Hem" Balas Phoeby, yang tatapannya tertuju pada vanilla latte di cangkirnya.
"Jangan tegang, aku tidak akan mengajukan pertanyaan sulit, lagipula aku sudah tahu hasil interogasi dengan Sir Charles, dan aku tidak akan mengajukan pertanyaan yang sama"
"lalu apa yang akan kau tanyakan lagi padaku?"
"Apa kau merasakan kehadiran orang asing saat penjahat itu sedang berkelahi?"
"Itu pertanyaan yang sama"
"Apa kau yakin dengan jawabanmu?"
Phoeby terdiam.
"Melihatmu diam kau seperti orang yang mencurigakan"
"Aku tidak merasakan ada orang asing, yang ku tahu aku mendengar suara berisik seperti lemparan gelas dan aku tak pernah tahu apa yang sedang diperbuat mereka" Jawab Phoeby.
"Apa kau merasakan ada orang asing?"
"Kenapa kau mengajukan pertanyaan itu lagi!" Suara Phoeby meninggi. Dan itu mengundang perhatian banyak orang di cafetaria. Adry menatapnya serius.
Nafas Phoeby memburu.
"Baiklah, aku akan menjawabnya dengan jujur, dan aku belum pernah mengatakkannya pada Sir Charles" Phoeby mengakui.
"Ya, katakan saja"
"Aku mendengar suara tembakkan beberapa kali, dan setelah itu keadaanpun menjadi hening, aku rasa tidak ada yang hidup lagi di antara mereka, tapi ada sesuatu yang membuatku takut, aku mendengar suara langkah kaki, seperti suara sepatu but. Dia semakin mendekat, dan saat itu...." Phoeby berbicara tak karuan dan tanpa jeda sedikit pun. Nafasnya semakin memburu dan terlihat ketakutan.
"Dia mengusap pipiku, dan dia berkata..." Lanjut Phoeby.
"Ya?" Tanya Adry penasaran.
"Dia bilang mereka pantas mati, nyawa harus di bayar dengan nyawa, dia menyuruhku untuk tidak mengatakkannya pada polisi, karena dia bilang dia akan melakukan pembunuhan yang lebih misterius lagi"
"Apa"
"Setelah itu dia menjauh, aku tidak mendengar dia membuka pintu keluar, aku tidak tahu dia pergi ke arah mana, yang jelas dia sudah tidak ada disana lagi, dan sepuluh menit kemudian ibuku datang bersama polisi"
"Sudah kuduga, pembunuhan di labirin itu pasti dia pelakunya, seorang perempuan, ya"
"Ya, dia memang seorang perempuan"
"Kau terlambat mengatakkannya, Phoeby" kata Adry dengan nada curiga.
"Dia sudah melarangku untuk tidak mengatakkannya pada siapapun, dan sekarang aku mengatakkannya pada seorang detektif yang akan memecahkan kasus pembunuhan, katakkan, apa setelah ini aku akan aman, jika pembunuh itu membunuhku apa yang akan kau lakukan?"
"Pertanyaanmu kritis sekali. kau menanyakan apa yang akan aku lakukan jika pembunuh itu membunuhmu, tentu saja, aku akan menemukannya dan mengeksekusinya" Jawab Adry.
Phoeby tak berkata apa-apa lagi.
"Tenang saja, wanita itu menyuruhmu untuk tidak mengatakkannya hanya pada polisi, dan aku bukan anggota FBI atau CIA, jadi kau tidak salah"
Phoeby menyeruput vanilla lattenya, tubuhnya perlahan menghangat. sesekali ia curi-curi pandang menatap pria  di hadapannya yang sedang meminum capucchinonya juga. Dia pria yang tampan, dan pintar, juga memiliki siluet yang indah saat pria itu menghadap ke arah samping, meski begitu menurut Phoeby dia tidak cocok menjadi seorang detektif, karena dia lebih memenuhi kriteria sebagai seorang model atau aktor.
"Apa sudah selesai? Aku harus pulang" Kata Phoeby,
"Aku akan mengantarmu"
"Tidak perlu, aku sudah mengirim pesan pada ibuku untuk menjemputku disini"
"Baiklah, Phoeby, terimakasih, maaf sudah mengganggu waktumu"
"Tidak apa-apa, lagipula... bukankah lebih baik jika aku mengatakkan hal yang sebenarnya padamu. Setidaknya ini bisa membantumu mencari si pembunuh itu, aku harap kasus ini segera terselesaikan"
"Ya, semoga saja"
"Apa kau masih mencurigaiku sebagai pembunuh?"
"Tentu saja tidak, maaf dengan perkataanku tadi siang, itu hanya untuk menarikmu agar kau bersedia berbicara denganku"
"Ah, sudah kuduga" Phoeby tertawa kecil.
Adry tiba-tiba terpaku, barusan Phoeby tertawa, ternyata gadis yang sering di sebut suram dan antisosial itu bisa tersenyum, dan ia tidak menyangka Phoeby memiliki senyuman yang sangat manis. Tapi senyuman itu hanya sekejap, Phoeby kembali murung seperti biasa.
"Adry, jika kau menemukan pembunuhnya, bisakah kau memotretnya dan menunjukan fotonya padaku, sebenarnya aku penasaran siapa yang sudah menyelamatkanku malam itu, aku sangat ingin tahu rupanya"
"Aku akan meminta kepolisian untuk mengizinkanmu bertemu dengannya"
"Kalau begitu aku akan mengucapkan terimakasih padanya"
"Phoeby, kau tak perlu mengatakan hal itu pada seorang pembunuh"
"Aku tahu dia pembunuh, mungkin dia sudah membunuh banyak nyawa dari yang kita duga, tapi tidak selamanya pembunuh selalu membunuh, dia pasti pernah melakukan hal yang baik pada orang lain, termasuk menyelamatkan nyawaku waktu itu"
"Baiklah, akan kuusahakan kau bisa bertemu dengannya"
Phoeby melihat ke arah luar, mobil sedan silver berhenti di depan cafe. "Ibuku sudah sampai, aku pulang dulu"
"Hem"
***
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, Mr. Albert masih sibuk dengan komputern di ruangannya. Ia tampak kelelahan terlihat dari guratan wajahnya yang sudah mulai menua. Ia adalah seorang kepala perusahaan Yotsuba, yang sedang menyiapkan materi presentasi besok diacara meeting dengan rekan kerjanya.
Konsentrasinya tiba-tiba terganggu setelah mendengar suara berisik di luar ruangan. ia pun tak menanggapinya, tanpa sengaja ia menjatuhkan pulpen ke bawah meja, lalu ia membungkuk untuk mengambilnya, saat kembali tegak, ia terkejut kedatangan seseorang berpenampilan misterius sudah berada diruangannya.
"Siapa kau?" Tanya Mr. Albert ketakutan.
Yang di ajak bicara menodongkan pistol dan menarik pelatuknya untuk bersiap menembak. manusia misterius itu berpakaian serba hitam, ia mengenakan jubah panjang yang menutupi kepalanya sehingga wajahnya tak terlihat.
"Seseorang yang akan membunuhmu"
"Apa, ti-tidak" Mr. Albert mengangkat tangannya.
Peluru itu pun menembus kening Mr. Albert dengan seketika ia mati dan tubuhnya terjatuh di kursi putarnya. Wanita itu mendekat, lalu meletakkan setangkai bunga mawar putih di meja.

Pagi itu, warga di buat geger dengan kematian Mr. Albert di tempat perusahaannya. Mayat Mr. Albert barusaja dimasukkan ke dalam mobil ambulance dan di bawa ke rumah sakit untuk di autopsi. Sir Charles bersama rekan FBI tampak sibuk menangani kasus ini.
Phoeby yang tengah berjalan di trotoar sempat melihat aktivitas kepolisian di depan halaman perusahaan, ia juga melihat Sir Charles dan Mr. Despard yang sedang berbincang.
"Apa yang sudah terjadi?" Tanya Phoeby bertanya pada salah seorang penduduk setempat.
"Seseorang membunuh Mr. Albert, pemimpin perusahaan Yotsuba tadi malam" Jawab wanita berumur paruh baya itu.
Phoeby berbalik arah untuk kembali pulang, di tengah jalan sebuah mobil berhenti, dan Adry keluar untuk menghampirinya.
"Kenapa kau balik lagi?" Tanya Adry.
"Adry, aku takut, pembunuhan terjadi lagi, kali ini pemimpin perusahaan Yotsuba"
"Aku tau, aku mendengar kabar ini tadi pagi, Mr. Despard mengirim pesan padaku. Tapi aku tidak akan pergi ke perusahaan sekarang, ayo, kita berangkat ke kampus sama-sama" Kata Adry.
"Tidak"
"Phoeby..." Adry memegang kedua bahunya. "Aku akan melindungimu, tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa"
"Bagaimana aku bisa yakin, sementara kemarin aku sudah mengatakan hal yang sebenarnya padamu, bagaimana kalau pembunuh itu tau bahwa aku membocorkan rahasia ini padamu"
"Dia tidak akan tahu bahwa kau mengatakkan hal sebenarnya padamu, meski dia tahu bahwa kau sudah mengatakkannya pembunuh itu tidak akan membunuhmu. Nyawa di bayar dengan nyawa. kau tidak pernah membunuh, Phoeby, dia tidak akan melakukannya padamu"
Phoeby merasa tenang saat Adry mengatakan hal  itu.
"Ayo, kita berangkat" Adry mengajak Phoeby masuk ke dalam mobil.
***
"Aku tersesat di labirin dan tidak bisa menemukan jalan keluar, bagaimana bisa aku membunuh menteri raja!" Bentak gadis itu yang tampak tak terima di interogasi dengan berbagai macam pertanyaan yang di lontarkan Mr.Despard.
"Baikla, baiklah, kau bisa menjawab pertanyaanmu tanpa berteriak, jika kau terus berteriak kau akan ku tetapkan sebagai tersangka"
"Apa!!"
Mr. Despard yang sibuk menginterogasi lain halnya dengan Sir Chales yang kelabakan menangani kasus pembunuhan selanjutnya.
"Bunga mawar identik dengan seorang perempuan, bisa jadi si pembunuhan ini dilakukan oleh orang yang sama di labirin itu"
"Mengapa harus mawar putih?"
"Entahlah, mawar putih diartikan sebagai lambang cinta dan keagungan hati. Pasti ada alasan tertentu yang tidak kita ketahui mengapa si pelaku  meletakan bunga mawar setelah ia membunuh"
"Permainan macam apa ini"
"Apa si pembunuh mencoba memberi pesan kepada kita? Tapi apa artinya?"
"Aku yakin pelakunya orang yang sama dengan pembunuhan di labirin itu. Semua akan terjawab secara akurat setelah usai interogasi seluruh wanita kandidat" Kata Sir Charles.
***
 "Sial, aku tidak menemukan namanya" Ucap Adry, tampaknya hasil pencarian di komputer tidak ada penduduk Kanada yang bernama Amanda Milray yang berumur 20 tahun. Adry menghempaskan punggungnya di senderan kursi putar, selama lebih dari dua jam ia berada di depan komputer hanya untuk mencari satu nama.
"Kalau kau tidak menemukannya sampai saat ini, aku akan membantumu, ingat batas penyelidikkan kita tiga minggu lagi, jika kita tak menemukan pelakunya maka kasus ini akan di hapus dan kita tidak akan pernah tahu siapa pelaku pembunuhannya" Kata Mrs. Daniel.
"Aku tidak akan menyerah"
"Oh ya. hasil inteogasi dari keenam orang mereka tidak terbukti bersalah. sisanya wanita labirin nomor tiga, lima,tujuh dan sepuluh. Sir Charles, Mr. Morgan dan Mr. Despard akan mengurus ketiga wanita itu, dan aku akan membantumu mencari si nomor sepuluh" Kata Mr. Daniel. "Baiklah, apa yang akan kau lakukan selanjutnya"
"Tidak ada. Aku masih menunggu kabar dari salah satu penduduk di St. Petroch Loomouth. Dia bilang Amanda Milray pernah kesana, dan dia akan menghubungiku jika dia kesana lagi"
"Dia wanita menyusahkan"
Lalu pintu ruangan di ketuk seseorang dari luar.  Mr. Daniel membukanya. Seorang polisi wanita dengan seseorang pria berumur 30-an membawa sebuah DVD.
"Dia membawa petunjuk baru" Ucap polwan itu.
Mr. Daniel memutar DVD itu di komputer, Adry bersama polwan dan pria bernama Eric ikut menyaksikan apa isi dari sebuah rekaman CCTV itu.
Layar komputer mempelihatkan sebuah sudut ruangan hinggga sepuluh detik kemudian sekelebat manusia berjubah hitam berjalan ke ruangan yang lain.
"Bisa tolong jelaskan?" Tanya Mr. Daniel.
"Ya, itu ruangan karyawan dan karyawati, tepat di depan ruangan Mr. Albert, karena CCTV itu dalam posisi tidak tepat jadi hanya sudut itu saja yang terekam. Sepertinya memang si pembunuh itu menuju ruangan Mr. Albert" Jelas Eric.
"Ada berapa jalan menuju kesana?" Tanya Mr. Daniel, yang terus mengulang rekaman itu
"samping kiri, kanan, depan, dan belakang, namun pintu di belakang sedang rusak sehingga tidak ada orang yang berhasil masuk kesana, ya, kemungkinan dia mengambil jalan dari arah antara ketiga pintu" Balas Eric.
"Miss Jeany, aku dengar kau ahli mikroekspresi, apa kau bisa membaca gerak-gerik orang ini?"
"Ya, setelah kuperhatikan baik-baik, dia berjalan dengan langkah kecil, namun seperti terburu-buru, tapi dia tidak terlihat waspada dengan disekitar, dia sangat percaya diri. Tapi- Tunggu, Mr. Daniel bisa kau pause dulu saat dia muncul?" Pinta Mr. Jeany.
Mr. Daniel mengulang video, dan memijit tombol spasi. Video itu memperlihatkan saat pelaku itu muncul di kamera.
"Perbesar di area wajah" Pinta Mr. Jeany. Gambar itu di perbesar di area wajah meski tertutup dengan tudung jubah, tapi masih terlihat di bagian dagu dan hidung, namun tidak begitu jelas.
"Itu seorang perempuan"
"Ya, aku pikir juga begitu" Kata Mr. Daniel.
"Dagunya terlihat panjang,  sepertinya efek dia sedang tersenyum dengan mulut yang sedikit terbuka, ini menandakan, seolah kematian Mr. Albert akan membuahkan hasil bagi dirinya sendiri" Kata Jeany.
"Jika kau benar, maka bisa dipastikan dia pembunuh bayaran yang disewa oleh salah satu perusahaan besar" Tiba-tiba Eric berasumsi.
Lalu semua memandang Eric dengan tatapan aneh.
"Itu tidak menutup kemungkinan, tapi apa keuntungan baginya?" Tanya Adry.
"Eeuu ituu, entahlah" Jawab Eric bingung.
"Oh ya ada sesuatu yang mengganjal, perbesar tangannya" Pinta Adry, lalu video memfokuskan dan memperbesar di area tangan, si pembunuh menggunakan sarung tangan dengan membawa pistol api.
"Ini pistol yang dia bawa, dia menggunakan sarung tangan agar tidak meninggalkan sidik jari" Ucap Mr. Daniel.
"Sepertinya pembunuhan ini dipersiapkan secara matang dan terencana, tapi... dari mana dia tahu bahwa Mr. Albert masih berada di kantornya?" Ucap Mr. Jeany, semuanya tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Petunjuk masih samar-samar, tapi setidaknya mereka sudah tau bagaimana rupa si pembunuh itu.
Di tengah keheningan semua dikejutkan dengan dering ponsel Adri disakunya. Nomor asing menghubunginya, Adri pun memijit tombol terima dan menempelkan ponselnya di telinga kiri.
"Ya?" Tanya Adri.
"A-Adri..." Itu suara seorang wanita, namun bagi Adri suara itu tidak asing lagi di telinganya.
"Phoeby?"
"Adry, tolong aku" Suara Phoeby gemetaran
"Kau ada dimana?"
"Toserba, di distrik ketiga"
"Aku harus menjemput seseorang" Adri menyambar kunci mobilnya di meja, lalu meninggalkan ruang kantor CIA.
***
"Phoeby" Panggil Adry.
"Adry"
"Ada apa?"
"Laki-laki itu,aku tidak tahu sejak kapan dia mengikutiku, tapi aku baru menyadari saat berada di Mademoissel, dan dia mengikutiku sampai kesini" Phoeby menunjuk ke arah pria yang berdiri di dekat gang yang berada sepuluh meter dari arah toserba.
"Sudah berapa lama kau disini?"
"Sudah tiga puluh menit yang lalu"
"Kalau begitu dia benar-benar menguntitmu"
"Aku tidak tahu harus bagaimana selain menghubungimu, telpon ibuku sedang tidak aktif, aku hanya mempunyai dua nomor di ponselku, kau dan ibuku"
"Tenang saja, kau sudah bersamaku sekarang, ayo kita pulang" Adry menggamit tangan Phoeby, dan membawanya keluar.
"AKu takut dia bertindak macam-macam, bagaimana jika pria itu berbahaya
"Jika dia bertindak macam-macam aku akan menghajarnya, yang penting sekarang aku harus mengantarmu pulang, kau akan aman setelah berada di rumah"
Mobil itu mengantarkan tempat dimana Phoeby tinggal, barulah lima belas menit kemudian mereka sampai di Crow's Nest sederhana di sekitar Green Lock Street.
"Jadi ini rumahmu" Ucap Adry saat mengantarkan gadis itu sampai di depan pintu.
"Hem, jika kau tidak sibuk, kau bisa mencicipi poutline dan sandwich buatanku"
***
Ketika Phoeby sibuk mengeluarkan belanjaannya di dapur, Adry yang berada di ruangan keluarga memperhatikan sekeliling ruangan. Jika dari luar rumah ini terlihat kecil, tapi berbanding terbalik dengan yang di dalam, ruangan ini terbilang sangat luas, namun tidak terlalu banyak barang disana. Hanya beberapa sofa santai di depan televisi, sebuah patung seorang wanita di bawah tangga, dan lukisan yang menghiasi dinding.
Adry mendekat dan memperhatikan lukisan itu. Tidak terlalu memiliki nilai seni tinggi, tetapi meninggalkan kesan di dalamnya. Lukisan wajah seorang wanita dengan mata terpejam namun menjatuhkan air mata di pipinya, wajah itu menengadah ke langit. Adry membaca tulisan kecil di sudut kiri kanvas. A.M,Swiss, .
Adry kembali memperhatikan lukisan itu, mirip wajah Phoeby. Hidungnya dan dagunya tampak tidak asing baginya jika dilihat dari samping. Gadis itu benar-benar cantik. Batin Adry.
"Apa itu lukisanmu?"
"Oh lukisan itu? Itu memang wajahku, tapi bukan aku yang buat. Di sudut kiri kau akan menemukan tulisan AM, Swiss, 20-7-2014"
"Ya aku melihatnya"
"Angel Mademoissel, salah satu teman kampusku di Swiss, ah tidak, aku tidak punya teman, pokoknya saat itu sedang praktik melukis, entah mengapa dia melukis wajahku, dia bilang itu hanya iseng dan mengejekku lewat lukisan. Aku yang pemurung yang menengadah ke arah langit seakan mengharapkan sebuah kebahagiaan. Entah kenapa aku malah menyukainya, dan dia memberikanku lukisan itu seperti sampah"
"Dan aku akan bertanya padamu, kenapa kau tidak pernah memiliki teman dan bersikap antisosial, Phoeby"
Phoeby mengangkat bahu "Aku sulit menjawabnya"
"Katakan saja apa yang kau rasakan"
"Aku memiliki masalalu yang buruk, ini ada hubungannya dengan kepindahanku ke Kanada. Dari sejak kecil aku hidup di bawah asuhan ayahku yang otoriter, dengan sikapnya yang keras itu dan sempat menyiksaku, akhirnya aku terbiasa begini. Menurutku hidup dengan seseorang akan menyusahkan, berbeda dengan hidup sendiri, serasa bebas melakukan apapun"
"Kenapa orang tuamu...- ah tidak, aku tidak akan menanyakannya terlalu jauh, aku tau kau tidak ingin mengatakkannya padaku, iyakan?"
"Hem, terlalu rumit, itu membuatku kembali ke masalalu"
"Aku mengerti"
"Oh ya, bagaimana dengan penyeledikanmu, sudah ada kemajuan?" Tanya Phoeby.
"Ya, sudah ada beberapa petunjuk, aku sempat kelabakan mengurusnya, masih di bawah lima puluh persen untuk menemukan jawaban siapa pelakunya"
"Lalu bagaimana dengan pembunuhan di perusahaan Yotsuba itu? Apa disana juga menemukan petunjuk?"
"Dia menyimpan bunga mawar putih di meja Mr. Albert, tapi kepolisian belum menemukan motif pembunuh dan arti dari mawar itu"
"Petunjuk yang aneh, pembunuh menyimpan bunga mawar itu adalah hal yang langka"
Adri tertawa kecil "Ya, kau benar"
"Kau tampak mahir memainkan pisau ya" Ucap Adry dengan nada yang dibuat curiga saat melihat tangan terampil mengupas kulit kentang.
"nadamu itu seperti menuduhku seorang pembunuh" Balas Phoeby dengan nada bercanda. Lalu ia mencuci tangannya di wastafel.
"Oh ya" Phoeby berdiri tepat di hadapan Adry, gadis itu sedikit mendongak memandang Adry dan menatapnya dengan wajah manis. "Kau adalah seorang detektif yang menyelidiki kasus pembunuhan, tapi kau bukan FBI atau CIA, katakan apa yang akan kau lakukan jika aku adalah pembunuh itu, aku ingin tahu?"
Adry menatap balik gadis itu. Menatapnya lama.
"Aku akan menciummu"
Phoeby tertawa renyah "Jangan bercanda"
"Kau juga sedang bercanda"
"Ya aku tahu-aku tahu,,, jika aku adalah pembunuh, kau akan mengeksekusiku tanpa ampun, kau akan mengambil pistolmu dan menembakkannya tepat dikepalaku, atau kau..."
"Atau aku akan membunuhmu dengan pisau dapur" Adry melanjutkan.
"Ya-ya kau benar" Phoeby tertawa.
"Kau bahagia denganku"
Tiba-tiba tawa Phoeby terhenti.
"Aku penasaran kapan kau terakhir tertawa seperti itu, Phoeby. apa kau sering tertawa?" Tanya Adry sambil menatapnya dalam-dalam. Lalu menggenggam kedua tangan Phoeby yang dingin.
"Sejak pertama bertemu denganmu, sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan wanita yang antisosial, dia terlihat angkuh dan egois, aku tahu kau memiliki sikap seperti itu, kadang aku ingin kau bisa tersenyum kepada orang-orang disekitarmu, dan mencoba berbicara banyak pada orang yang peduli padamu. Aku ingin kau melakukannya, tapi setelah aku sadar, aku ingin hanya aku yang tahu senyuman itu, aku hanya ingin hanya aku yang tau suara tawamu, aku ingin memilikinya, hanya aku, Phoeby... aku jatuh cinta padamu. Jangan berikan senyuman itu pada orang lain, kecuali aku"
"A-Adry"
Wajah Adry tepat di depan wajahnya, sepertinya sebentar lagi akan terjadi sesuatu. Phoeby bisa merasakan nafas Adry yang hangat, dan tangannya menggenggam erat.
"Jangan jatuh cinta padaku" Ucap Phoeby pelan.
"Aku sudah jatuh cinta padamu, dan aku tidak ingin kau melarangku"
"Tidak, aku mohon jangan jatuh cinta padaku. Pada akhirnya kau hanya akan menyakitiku Adry, semua pria selalu menyakiti wanita, seperti yang dilakukan ayah  padaku dan ibuku"
"Kenapa kau beranggapan seperti itu Phoeby, kau tidak tahu apa arti cinta sesungguhnya, kau barusaja tertawa denganku, aku tahu kau bahagia jika aku berada di dekatmu, iyakan"
Phoeby terdiam.
"Aku tahu kau kesepian selama ini karena selalu sendiri. Aku mohon, beri sedikit ruang untukku" Adry memegang pinggang gadis itu, dan memberikan ciuman lembut pada bibirnya.
Keduanya di kejutkan saat pintu depan yang di buka. Laurent barusaja sampai dan tak sengaja menyaksikan adegan mengejutkan itu di dapur. Tapi Laurent berusaha bersikap tenang kepada mereka, padahal dalam hati ia senang, akhirnya Phoeby yang pemurung bisa jatuh cinta.
"Aku pikir siapa, tidak biasanya ada mobil yang terparkir di depan" Ucap laurent dengan ramah.
"Mom, kau sudah pulang, hemm... ini Adry dia teman kampusku, Adry dia ibuku"
"Adry"
Mereka berjabat tangan.
"laurent. Teman?" laurent bertanya sesuatu.
"Hem ya, kami barusaja berpacaran" ucap Adry.
"Tidak- kami tidak pacaran, Mom, yang barusan itu...-"
"Ah syukurlah, mama tidak menyangka pria setampan ini akan menjadi pacarmu, mama senang mendengarnya"
"Tidak-" Phoeby berusaha mengelak.
"Uh, aroma poutline, apa kau membuat poutline?" Laurent mengalihkan pembicaraan seraya berjalan ke dapur. Dimeja tersaji sepiring besar kentang dengan taburan keju dan tiga sandwich yang cukup mengenyangkan.
"Ya, aku membuatnya dengan Adry, aku sengaja membuatkan tiga sandwich untuk kita"
"Baiklah, malam ini kita akan makan bersama" Laurent dengan antusias membawa makanan itu ke ruang keluarga sambil menyalakan televisi.
***
Hujan deras di luar belum juga berhenti. Hawa dingin yang menyeruak akhirnya membuat Restoran di sekitar Maam Cross menjadi sasaran orang-orang untuk sekedar menunggu hujan reda sambil  meminum coffe.
Sir Charles menyimpan makanannya di atas meja, Shish Taouk dan smoked meat sandwich siap dilahap oleh Inspektur paruh baya itu. Ia mengambil potongan daging dengan garpu lalu menjejalkannya ke dalam mulut.
"Disini sangat ramai sekali, aku hampir kehabisan tempat duduk" Ucap pria asing bertopi bundar dan mengenakan mantel yang sangat tebal. Sir Charles menatap tajam, menurutnya itu sangat tidak sopan seorang yang duduk tanpa dipersilahkan dahulu.
"Aku melihatmu di televisi, sepertinya FBI dan CIA sangat sibuk akhir-akhir ini" Ucap pria asing itu, setelah menyadari bahwa Sir Charles berseragam kepolisian. Sir Charles tak menaggapi, ia hanya tidak suka di ganggu saat makan, apalagi saat dirinya - dan Shish Taouk favoritnya.
"Tapi sepertinya kasus ini sulit untuk dipecahkan,bukan?" kata pria asing itu.
"Jika ingin bicara denganku tunggu sampai aku menyelesaikan makananku" Balas Sir Charles tanpa memandangnya.
Pria asing itu tertawa "Kau terlalu santai dalam menangani kasus ini, tidak kusangka, FBI dan CIA kelabakan hanya dengan satu orang wanita"
Sir Charles menatap wajah pria itu dengan serius.  "Apa maumu?"
"Baiklah, untuk membuatmu jelas" Pria itu menyerahkan identitasnya "Aku anggota kepolisian"
Sir Charles menatap identitas kepolisian itu di meja. Namun identitas itu bukan dari negara Kanada. Sir Charles kembali memandang pria asing itu.
"Aku sedang menjalankan tugas, ah, kau pasti kenal dengan foto ini" Pria asing itu meletakkan sebuah foto di meja.
"Kau pasti kenal dengan orang ini, dan setelah memperlihatkan foto ini kau pasti tahu aku berasal dari kepolisian mana" Kata pria itu mengejutkan Sir Charles, namun Sir Charles tak menunjukkannya. "Dia adalah buronan kami. Pembunuh bayaran yang sangat profesional dalam hal menembak"
Lama, Sir Charles memandang foto itu.
"Dia satu-satunya anak buah Pater Kardinal Rooney dan teman-temannya berjumlah 3 orang. Pater tersangka yang sudah kami bebaskan 15 tahun yang lalu, dia terbukti melakukan pembunuhan dan perampokkan di sebuah bank. Dan untuk melanjutkan kejahatannya dia merekrut gadis ini untuk melakukannya" Jelas pria itu.
"Ayo, kita bekerja sama mencarinya. Amanda Milray"  Lanjut pria itu.
***
Istana kaisar bukan main megahnya, bangunan yang berdiri beberapa hektar itu tampak bersinar di pinggir kota. Istana itu menjadi pusat perhatian banyak orang. Ya, malam ini banyak sekali orang yang berdatangan, para pejabat tinggi dan tokoh ternama mendatangi istana untuk merayakan sebuah pesta yang di adakan oleh Freddy Sanders. Pesta yang diadakan setiap satu tahun sekali tepat di musim dingin. Pesta ulang tahun Freddy Sanders.
"Selamat berulang tahun, Yang Mulia" Seorang pejabat tinggi menjabat tangan Freddy dengan bangga. "Ah, dan Nyonya Sanders" ia juga menjabat istri Freddy.
"Thank you" Ucap Nyonya Sanders ramah. Dia wanita berumur setengah abad, mengenakan gaun yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang masih segar di pandang mata. Dia sangat perfeksionis dalam hal apapun terutama penampilannya, karena hal itulah dia masih saja cantik dan garis-garis keriput di wajah nyaris tak terlihat.
Mereka berbincang selama beberapa menit dan berfoto bersama. Nyonya Sanders memperhatikan anak semata wayangnya yang berdiri di samping jendela, sedari tadi ia seperti menunggu seseorang. Nyonya Sanders mendekat.
"Jangan hanya berdiri saja, kau bisa berdansa dengan gadis cantik yang berada disini" ucap Nyonya Sanders.
"Aku sedang menunggu seseorang, Mom" ucap Adri.
"Dia pacarmu?"
"Entahlah"
Nyonya Sanders tertawa kecil "Apa gadis itu menolakmu?"
"Dia belum merespon apa-apa, aku harap malam ini aku bisa menemukan jawabannya"
"Tidak biasanya ada gadis yang tidak langsung menjawab pernyataan cintamu itu, aku jadi penasaran gadis seperti apa dia, apa dia cantik?"
"Hem, dia tipeku"
"Baiklah, kenalkan dia padaku"
***
Adry menyembunyikan seikat bunga mawar di balik punggungnya. ia menaiki tangga untuk menuju ke lantai tiga. Phoeby, sudah menunggunya disana.
Sampai di lorong yang terang benderang, dan angin semilir dari luar tampak Phoeby sedang memandang ke arah luar, rambutnya sesekali tertiup angin menambah ketertarikan siluetnya. Apalagi lekuk tubuhnya yang indah dengan balutan gaun sifon berwarna putih tanpa lengan, membuat Adry semakin ingin memilikinya.
"Apa kau menunggu lama?" Tanya Adry.
"Tidak, maaf aku datang terlambat"
"Kau pintar bersembunyi, aku menunggumu di bawah, diam-diam kau kesini sendirian ya"
"Aku hanya tidak suka keramaian, dan kalau aku menemuimu di bawah, sepertinya aku akan jadi pusat perhatian"
"Dan kau juga tidak suka diperhatikan banyak orang. Phoeby, banyak sekali yang tak aku ketahui tentang kamu" Ucap Adri. Adry memperhatikan wajah Phoeby yang sedikit bermake up, tidak terlalu tebal namun natural, bibirnya yang kecil mengkilap dengan polesan lip gloss. Phoeby benar-benar cantik malam ini.
Adry menyerahkan seikat bunga mawar merah pada Phoeby. Phoeby menatapnya tanpa ekspresi, tapi lalu dia tersenyum.
"Aku tidak menyangka kau bisa bertindak manis seperti ini. Tapi... aku tidak suka mawar"
"Oh ya? Sayang sekali. Baiklah, jika kau tidak menyukainya aku akan melemparnya keluar"
Phoeby menahan tangan Adry, lalu ia menerima bunganya "Tunggu, aku akan membawanya. Hal yang langka menerima bunga dari seorang detektif"
Tiba-tiba Adry menarik tubuh Phoeby ke dalam pelukannya.
"Mulai malam ini kau adalah milikku, Phoeby"
Phoeby terdiam sejenak.
"Sudah ku bilang, jangan jatuh cinta padaku, Adry-"
Pelukan Adry semakin erat. dan membelai rambutnya dengan sayang.
"Aku tidak akan menyakitimu Phoeby, dan aku akan melindungimu. Percayalah"
"Janji?"
"AKu berjanji"
"Aku belum bisa memberimu jawaban, aku butuh beberapa menit untuk memikirkannya"
Adry melepas pelukannya. "Baiklah. Aku mau mengambil minuman dulu"
"Ya"
Adry meninggalkan Phoeby di lorong, ia pun pergi ke lantai dasar untuk mengambil dua gelas minuman. Tak di sangka, Sir Charles dan pria tak di kenalinya datang. Mereka mengenakan stelan jas yang sangat rapi seperti tamu yang lain, dan itu sangat membuat Adry terkejut.
"Sir, kau datang juga?" Tanya Adry.
"Adry, aku sama sekali tidak ingin merusak acara ini. Tapi... ini demi kebaikan kita semua, aku sengaja datang kesini tanpa seragam kepolisian agar dia tidak mengetahui bahwa CIA ada disini"
"Maksudmu dia?"
"Aku sudah menemukan si pembunuh misterius itu, dia ada disini, oh kenalkan dia Sir Philips, partner baruku untuk membantu penyelidikan ini"
"Tunggu, maksudmu apa, dia ada disini, siapa?"
"Amanda Milray"
Adry tertegun.
"Kau juga mengenalnya dengan baik, Amanda Milray, ah, bukan, dia Phoeby. Ya, Phoeby adalah Amanda Milray"
Adry tertawa "Tidak jangan bercanda, malam ini aku dengan PHoeby sedang berkencan, jangan membawa-bawa Phoeby dalam penyelidikkan"
"Kau terlalu percaya padanya, aku membawa kepolisian dari Swiss, bukankah Phoeby dari Swiss, benarkan? Dia mencari gadis itu, dia adalah buronan"
"Tidak-"
"Katakan dimana dia?"
Adry, Sir Charles dan Philips menuju balkon lantai tiga. Saat sampai langkah mereka seketika berhenti. Dihadapan mereka, Phoeby dengan refleks menodongkan pistol ke arah mereka, bersamaan dengan Sir Charles juga menodongkan pistol padanya.
"Phoeby" Kata Adry pelan, ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Phoeby menurunkan ponsel dari telinganya. Sepertinya seseorang sudah memberitahu Phoeby bahwa Sir pHilips sedang mencarinya. Ya, Laurent memberitahunya. Setelah Phoeby pergi ke pesta Sir Charles datang menanyakan Phoeby. Laurent pun di tahan di kepolisian diam-diam ia menelpon Phoeby dengan ponsel yang ia sembunyikan. Saat itulah Phoeby mengerti keadaan, ia akan bertemu Sir Philips malam ini.
"Sir Philips. Benar?" Tanya Phoeby tenang, namun terdengar angkuh.
"Senang bertemu denganmu, Miss Milray" Balas Sir Philips.
Phoeby mendesah sinis. "Aku terkejut kau bisa sampai kesini,"
"Tentu saja, aku membawakan berita baik untukmu. Besok lusa, Pater akan di eksekusi"
"Apa?"
"Apa lagi yang akan kau perbuat? Atasanmu akan mati, akan lebih bagus kau juga menyerahkan diri pada kepolisian, jangan menghancurkan keamanan negara ini, Milray"
"Phoeby, katakan, ini tidak serius kan, kau bukan Amanda Milray"
"Jangan berkata polos seperti itu, detektif. Aku memang Amanda Milray, aku yang membunuh polisi palsu di bangunan terisolasi ,labirin, dan yotsuba. Itu aku. AKu memaklumi keterlambatanmu menyelidiki Amanda Milray, karna kau sama sekali bukan anggota CIA. Kau sudah mengetahuinya sekarang, yang jelas aku sudah melarangmu untuk jatuh cinta padaku, Adry Russel Sanders"
Entah kenapa, meskipun itu Phoeby tapi Adry tak mengenal nada suara seperti itu. Itu kebalikan dari sikap Phoeby yang lembut dan dingin. Sekarang dihadapannya bukan Phoeby lagi, tapi Amanda Milray, gadis pembunuh yang selama ini ia cari.
Phoeby menarik pelatuk tanpa ragu dan siap menembak mereka.
"Sir, turunkan senjatamu" Pinta Philips pada Sir Charles. Sir Charles terkejut dengan permintaan Philips itu.
"Dia penembak profesional, dia bisa menembak dari sembarang arah dan selalu tepat sasaran"
"Tidak mungkin, wanita seperti dia bisa melakukan hal yang tak bisa dilakukan oleh FBI" Balas Sir Charles pelan, ia pun menurunkan senjatanya.
Sir Philips mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
"Ayo lakukan" Ucap Sir Philips agar keduanya mengangkat tangan juga, Sir Charles menurutinya, namun Adry masih tak percaya dan keras kepala.
"Phoeby-"
"Berbalik" Ucap Phoeby.
"Dia gadis berbahaya, ikuti saja kata-katanya" Ucap Philips, yang seakan tak bisa berbuat apa-apa menghadapi gadis ini.
Ketiganya berbalik membelakangi Phoeby, sementara itu Phoeby menurunkan senjatanya. Sampai beberapa detik, tak terdengar suara dari belakang mereka. Saat mencoba berbalik  ke arah Phoeby, dia sudah tidak ada disana lagi. Meninggalkan bunga mawar dan hand bagnya.
Sir Charles menuju jendela dan memandang ke arah luar. Tidak ada Phoeby disana.
"Menghilang"
Adry melesat menuruni tangga, diikuti Philips dan Sir Charles, tentu saja, untuk mencari Phoeby.
Mereka bertiga menyebar keseluruh ruangan dasar, untuk berjaga-jaga bahwa Phoeby tak melakukan pembunuhan disini. Adry keluar dari istana memandang ke sekeliling taman, tidak ada tanda-tanda Phoeby disana. Beberapa orang penjaga pun terlihat aman mengawasi lingkungan.
"Apa kau melihat gadis mengenakan baju putih yang keluar dari istana?" Tanya Adry ke seorang penjaga keamanan istana.
"Kami belum melihat tamu manapun yang keluar dari istana, Tuan muda"
Ia pun mencari ke tempat lain disamping istana. Tidak ada Phoeby disana. Tak lama datang Sir Charles dan Philips.
"Kau menemukannya?" Tanya Philips.
"Dia kabur dengan sempurna" Jawabnya.
"Gadis itu benar-benar diluar logika. Bagaimana bisa dia melakukannya tanpa ada jejak" Ucap SIr Charles.
"Ya, ini salah satu alasan kenapa kepolisian Swiss tak pernah berhasil menangkapnya, gadis itu seperti tikus yang pintar menyelinap dan bersembunyi" Kata Philips
"Dia belum lama pergi dari sini, ayo kita lanjutkan pencarian keluar istana"
"Aku ikut" Ucap Adry.
"Tidak, kau harus tetap berada di istana, gadis itu bisa berada dimana saja, jaga saja ayahmu" Ucap Sir Charles.
AKhirnya kedua polisi itu pergi dari istana dengan mobilnya.
***
Pagi itu, Adri memandang seikat bunga mawar dan hand bag di meja. Melihat kedua benda itu membuat hatinya terasa sakit, apalagi mengingat tadi malam Phoeby yang terlihat polos tiba-tiba menodongkan pistol ke arahnya. Meski perasaannya hancur, tapi Adry tetap konsisten menjalankan tugasnya, tentu saja, untuk memenuhi janji pada ayahnya, menemukan dan mengeksekusi gadis itu.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Nomor tak di kenal menghubunginya.
"Ya?" Ucap Adry.
Mengetahui isi pembicaraan seseorang di seberang Adry langsung mengambil kunci mobil dan pergi meninggalkan istana, ia juga mengh

Hotel Rose Melfort adalah hotel yang paling sunyi di St. Mount Cambridge. Hotel megah yang bersembunyi di balik semak tinggi yang membentuk dinding, namun semak-semak itu di potong rapi seperti sengaja menyembunyikan hotel itu. Berseberangan dengan hotel yang terhalang oleh semak terdapat taman labirin yang luas, taman itu di setting sedemikian rupa membentuk sebuah bangunan tertutup.
Sementara di depan pintu masuk labirin, beberapa orang wanita menunggu pintu masuk labirin itu di buka. Ini permainan labirin berhantu, sebuah permainan yang di adakan oleh Adry Russel Sanders, seorang anak kaisar terkemuka di Kanada. Sebut saja ini permainan isengnya untuk menguji nyali para wanita yang berebut untuk berkencan dengannya malam ini.
Seorang wanita aneh menempati labirin nomor sepuluh setelah mengambil nomor dari seorang pria yang duduk di meja sebagai pembimbing mereka.
Wanita itu... datang paling terakhir yang membuat para wanita lain kesal, karena keterlambatannya membuat permainan ini semakin di undur.
 "Heu, kostum macam apa itu" Ucap wanita yang berada di sampingnya, sementara si lawan bicara tak menanggapi apapun, padahal ia sendiri merasa tak percaya diri dengan kostumnya. Tidak, ini bukan kostum, tapi pakaian biasa yang sudah ketinggalan zaman. Baju casual yang longgar, dengan rok berbahan katun yang panjangnya di bawah lutut dan kaki yang di balut sepatu kulit berwarna coklat tua, satu lagi, ia membawa tas selempang yang terlihat usang. Jelas kontras sekali dengan para wanita lain. Mereka mengenakan baju dan sepatu yang bermerk dan terlihat elegan, dan wajah bermake up seakan mereka telah siap membuka pintu di hadapannya untuk bertemu sang pangeran dari anak kaisar.
Gadis yang dikatai barusan hanya mendesah senyum, jelas itu bukan pintu untuk menemukan sang pangeran, itu adalah pintu mengerikan yang di dalamnya berupa labirin berhantu. Mereka akan terjebak di dalam sana dalam waktu 15 menit, sementara mereka harus menemukan jalan keluar sambil di ganggu para hantu labirin. Siapa yang berhasil keluar, maka ia mendapat kesempatan  berkencan semalam dengan pria tampan dari anak tunggal seorang Kaisar dan uang $10 dollar.
5 detik lagi pintu akan di buka. Gadis itu mehembus nafas panjang, pintu otomatis menggeser, para wanita itu masuk dengan percaya diri.
Gadis aneh itu sempat memperhatikan pintu masuk tadi, di desain seperti tembok labirin berwarna krem, sehingga tidak ada yang tahu bahwa itu pintu masuk atau bukan. baiklah, sekarang ia berada di tengah labirin yang mengarah ke kiri dan kanan. Tiba-tiba lampu mati, tak sampai 5 detik ia mendengar jeritan dari labirin sebelah kiri, itu pasti wanita yang mengatainya tadi.
"Kau boleh menjerit saat melihat hantu, heu, labirin berhantu pasti gelap, seharusnya kau tahu itu" Gumam gadis itu pelan, sambil berjalan ke arah kanan labirin.
Gadis itu berjalan perlahan sambil memperhatikan hantu-hantu yang mengganggunya yang telah di setting di dinding labirin, - hanya memperhatikan, bahwa hantu itu bukan hantu yang dimainkan manusia sungguhan, tetapi mesin. Ia merasa telah aman, meski begitu ia harus berhati-hati untuk melewati labirin selanjutnya ia tidak ingin terlambat dalam waktu 15 menit karena tersesat di labirin.
Sampai dilabairin terakhir, pintu yang bertuliskan "You are the winning"  terpampang dengan tulisan semerah darah. Gadis itu mendorong gagang pintu. Ia telah berada di luar labirin yang berupa taman kecil tepat di hadapan bangunan bertingkat 5. Bangunan itu bersinar karena ribuan lampu yang menyala di mana-mana.
Lalu ia menemukan sepucuk amplop merah  yang tergeletak di tanah. Ia memungutnya dan membuka isinya.
Aku menunggumu, permaisuriku. Adry.
gadis itu kembali meletakkan amplop itu seperti semula. tentu saja, ia tidak akan menemui pria itu. ia punya tujuan sendiri. Ia pun bersembunyi di balik pohon yang berada di pinggir labirin, ia segera membuka tas dan mengambil pistol. Kepalanya menyembul dari balik pohon. Dari kejauhan ia cukup melihat dengan baik dua orang pria dengan stelan jas sedang berbbincang di balkon lantai tiga. Pria paruh baya sang kaisar, dan seorang menteri baru yang berbahaya.
Gadis itu adalah seorang penembak profesional, ia hanya mengarahkan pistol itu ke arah pria yang menjadi targetnya. Ia siap menarik pelatuknya, sebuah peluru pun menembus jantung pria itu. Pria yang menjadi menteri baru dalam kekaisaran. Tampak pria itu jatuh tergeletak, sementara sang kaisar tterlihat sangat panik.
Gadis itu kembali memasukkan pistolnya ke dalam tas. Ia kembali ke dalam labirin, dan berpura-pura menjadi gadis malang yang terjebak didalamnya.

***
Phoeby menyetop taksi di hadapannya. Ia masuk ke dalam dan taksi itu lalu melaju sedang.  Saat berada di jalan tol sepi, taksi itu berhenti. Phoeby tahu alasan si sopir memberhentikan taksinya. 10 meter dari arah taksinya, 3 orang FBI  sedang menghajar seorang pria paruh baya yang sepertinya pemilik mobil sedan Yurke yang juga berhenti disitu.
Phoeby mengarahkan handycame ke arah mereka dan mereka kegiatan mereka di jalan tol. seorang polisi berambut pirang tanpa ragu menembak kepala si pria paruh baya itu hingga mati.
"Oh God" Gumam Phoeby. Ketiga polisi itu merampok harta benda pemilik mobil sedan Yurke. Tiba-tiba salah seorang polisi di antara mereka melihat ke arah taksi, Phoeby terkejut, ia langsung menyembunyikan handycamenya ke dalam tas. Dengan kasar polisi itu membuka pintu taksi dan menarik pengemudi. bersamaan dengan polisi yang kedua menarik Phoeby keluar dari kemudi.
"Orang-orang sialan!" Ucap polisi berambut pirang seraya menahan sopir taksi untuk membelakangi dan menahan kedua tangannya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Phoeby dengan panik.
"Tidak ada cara lain selain membunuhnya" Si pirang membunuh si sopir taksi.
"Nooo...!!!" Phoeby menjerit. Ia menangis histeris. "Apa yang kau lakukan, kau kan seorang polisi, kau bisa dihukum karena telah melakukan ini!"
"Berisik!" Polisi itu memukul kepala Phoeby dengan pistol hingga ia jatuh pingsan dengan kening yang mengeluarkan darah segar.
***
Phoeby membuka matanya perlahan-lahan, sekarang tangan dan kakinya diikat dan didudukan di kursi kayu, mulutnya di bekap dengan kain tali. ia berada di sebuah ruangan asing yang tampak ramai dengan beberapa orang lelaki dan perempuan sedang minum-minum. tiga di antara mereka adalah tiga polisi yang telah membunuh dua orang tak bersalah tadi siang. ternyata mereka hanya polisi gadungan yang memanfaatkan seragam FBI untuk merampok.
Phoeby mencoba berontak dari kursi itu.
"Hei, Nona, kau sudah sadar rupanya" Ucap si pirang yang tampaknya menjadi pemimpin diantara mereka.
"Mau bergabung dengan kami?" Tawar si pria berkulit coklat.
Phoeby berteriak dengan mulut di bekap, seakan meminta untuk melepaskan ikatannya. Si pirang mendekat dan mendekatkan wajahnya pada Phoeby.
"Aku menggeledah tasmu, di dalam ada handycame namun aku tidak menemukan chip di dalamnya, katakan, kau merekam kami siang itu dan kau menyembunyikannya?"
Phoeby terdiam.
"Bodoh, bagaimana bisa dia menjawab sementara mulutnya di bekap begitu" Ucap si perempuan.
Si pirang membuka kain yang membekap mulut Phoeby.
"Jawab"
"Camera itu memang tidak ada chipnya"
"Pembohong!"bentak si pirang
"Benar, aku sama sekali tidak merekamnya, dan tidak ada chip di dalamnya, percayalah"
"Dan bagaimana aku bisa percaya padamu, bahwa kau tidak akan melapor pada polisi setelah kubebaskan dirimu. Kalau kau macam-macam aku bisa membunuhmu kapan pun"
"Aku tidak akan macam-macam, lagipula aku tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan kalian, banyak yang harus kulakukan untuk masa depanku, tolong jangan bunuh aku" Phoeby meminta dengan panik.
"Bagus, gadis pintar" Pria itu mengacak rambut Phoeby dengan pelan "Kalau begitu kau bisa bebas tepat pukul 12 malam, selama kau pingsan aku telah menelpon ibumu untuk membawa uang sepuluh juta dollar"
Phoeby terkejut. Jadi ini pemerasan untuk mendapatkan uang.
Tengah malam, lima belas menit lagi ibunya akan datang menjemputnya dengan membawa sejumlah uang. Ketujuh orang penjahat itu masih teler di sofa sementara Si Pirang tampak berenergi menunggu nominal uang satu juga dollar.
***
"Jangan panik nyonya Laurent, aku yakin mereka tidak akan berani macam-macam selama mereka percaya bahwa kau membawa uangnya" Seorang polisi FBI bernama Daniel menenangkan laurent, Ibunya Phoeby.
"tetap saja, aku banar-benar panik sejak tadi siang"
Sampai di tempat tujuan, para polisi itu keluar dari mobil dan menyelinap ke seluruh bangunan. Laurent mengambil ponsel dan menghubungi nomor Phoeby, ia bisa mendengar suara di seberang sana, tanpa pikir panjang laurent segera berlari ke dalam bangunan itu dan menuju lantai dua dimana Phoeby berada. Ia langsung membuka ruangan itu.
"Nyonya Laurent, jangan gegabah!" Ucap Daniel, dengan sigap ia langsung menodongkan pistol saat masuk ke dalam ruangan. Namun apa yang sedang dia lihat, ia tak mampu berkata apa-apa, lidahnya kelu untuk berkata.
Ketujuh orang penjahat itu tergeletak di lantai dengan bersimbah darah, sepertinya seseorang telah membunuh mereka semua. Daniel melihat Laurent sedang berusaha membuka tali yang mengikat Phoeby di kursi dan membuka ikatan penutup matanya.
"Mom" Phoeby lega ibunya telah datang.
"Phoeby, sayang" Laurent memeluknya dengan erat hingga mereka jatuh terduduk di lantai "kau tidak apa-apa? Keningmu terluka" Ucap Laurent dengan cemas.
"AKu tidak apa-apa"
"Apa yang terjadi? Seseorang membunuh mereka semua, Phoeby, kau akan di interogasi"
"Apa maksudmu, Daniel. Tangan dan kaki Phoeby diikat, apa kau mencurigainya membunuh para penjahat itu hah!" Bentak laurent.
"Tidak, begini, aku tidak menuduh Phoeby sebagai pembunuh, tapi setidaknya dia lah petunjuk dari semua ini, seseorang membunuh mereka, dan hanya Phoeby yang selamat"
"Heh, jika kau sampai memberatkan anakku aku yang akan menuntutmu Mr. Daniel" Ancam Mrs. Laurent.
***
Phoeby di ruang interogasi bersama seorang polisi. gadis itu tampak tenang menjawab pertanyaan yang dilontarkan polisi. Sementara Mrs. laurent menyaksikan percakapan itu tanpa mendengar suaranya, karena ruangan itu terhalang oleh kaca anti peluru.
"Jadi kau menyaksikan pembunuhan FBI gadungan itu dan setelah itu kau pingsan"
"Ya, dan setelah sadar aku sudah di bekap, tangan dan kakiku sulit digerakkan karena diikat"
"Apa yang kau lihat di ruangan itu?"
"Hanya sebuah ruangan kecil, terlihat ruangan santai, mereka mabuk dihadapanku sampai malam"
"Bukankah kau tidak bisa melihat mereka karena kedua matamu di tutup?"
"Ya, tepat pada pukul 10 pria berambut pirang menutup kedua mataku dengan kain, katanya aku tidak boleh melihat karena mereka akan melakukan sex dengan wanita itu. Dan pada saat itu aku tertidur, aku terbangun saat mendengar suara tembakkan dan sangat berisik, wanita itu menjerit, lalu aku mendengar pecahan gelas jatuh atau apapun itu, aku pikir itu polisi yang datang untuk membekuk, tapi setelah itu aku tak mendengar apa-apa lagi, semuanya hening, hingga sekitar limat belas menit kemudian ibuku datang dan melepas kain penutup mata dan ikatanku"
"Apa kau mendengar ada orang lain baru yang masuk menghajar para penjahat itu"
"Aku tidak tahu, tidak ada tanda-tanda ada orang asing masuk. Aku berasumsi salah seorang di antara mereka menghajar temannya sendiri dan dia bunuh diri"
"Mengapa kau berasumsi seperti itu?"
"Ya, karna aku pikir... jika ada orang asing masuk mengapa dia tidak membunuhku juga, lagipula tidak mungkin tiba-tiba ada superhero menghajar penjahat tanpa memperlihatkan batang hidungnya padaku dan melepaskan ikatanku , dan tempat itu sangat terisolasi, berada di tengah hutan, tidak banyak orang yang tahu tempat itu, aku pikir"
Mr. Despard manggut-manggut seakan bisa menyimpulkan jawaban dari Phoeby.
"Kau bersih"
"jadi.. bagaimana kesimpulannya?"
"Asumsimu menurutku tidak masuk akal, salah satu dari mereka membunuh teman sendiri dan dia sendiri bunuh diri, sementara itu mereka menunggu ibumu membawa uang. Seharusnya ada motif yang membuat dia membunuh dan bunuh diri. Menurutku ada orang asing yang masuk dan membunuh para penjahat itu, jelas motifnya untuk menghukum para penjahat"
"Begitu,ya"
Mr. Despard memberi isyarat jempol kepada polisi yang menunggu mereka diluar, Laurent sendiri merasa lega karena Phoeby bisa melewati interogasi itu. Dua orang polisi masuk ke dalam ruang interogasi dan diikuti laurent. Ia memeluk putrinya dengan sayang.
"Syukurlah"
"Rasanya kasus ini biarkan saja, tidak ada petunjuk-petunjuk yang jelas dari kasus ini, Phoeby memang tidak tahu apa-apa soal pembunuhan penjahat itu. Jika kita menyelidikanya lebih lanjut rasanya hanya membuang-buang waktu saja" Ucap Mr. Despard.
"Pintar sekali pembunuh itu, tidak meninggalkan jejak dan sidik jari sedikit pun, aku rasa dia memang sudah berprofesional membunuh" Kata Mr. Daniel.
"Pembunuh membunuh pembunuh, aku tidak menemukan motif superhero membunuh penjahat itu, jika ia memang samasama sama penjahat seharusnya ia melindungi penjahat itu, bukan membunuhnya" Tambah Mr.Despard
"Jika ada kejadian yang sama kita pasti sedikit menemukan petunjuk" Ucap Mr.Despard.
"Ada. Kau lupa, kita masih mengurus kasus dua minggu yang lalu, pembunuhan menteri itu sangat misterius" Ucap Mr. Despard.
"Ya, kita harus memeriksa sepuluh wanita kandidat yang mengikuti permainan labirin berhantu itu"
"Baiklah, Mrs. Laurent, dan putrinya yang sangat cantik, maaf telah mengganggu waktu kalian, jika ada apa-apa, kalian bisa hubungi kami lagi"
"Baik, terimakasih" Kata laurent.
"Ya, semoga beruntung"
***
Pembunuhan misterius yang menimpa menteri raja kini banyak diperbincangkan netizen. pelaku pembunuhan masih dalam penyelelidikan, karena si pelaku tidak meninggalkan jejak sedikit pun di tempat itu. Namun kini polisi berasumsi bahwa si pelaku membunuh dari arah taman labirin, itu sudah di pastikan karena tempat itu di luar gerbang hotel sementara bagian dalam sudah di jaga ketat oleh polisi. Sasaran utama penyeledikkan polisi disibukkan dengan mencari sepuluh wanita kandidat yang mengikuti permainan labirin berhantu itu, sudah dipastikan pembunuhnya pasti ada di antara mereka.
"Pintu labirin nomor satu oleh wanita karir disebuah perusahaan, pintu nomor dua oleh seorang model, pintu ketiga oleh seorang dokter hewan, pintu nomor empat oleh seorang pemain teater..." Mr. Despard menyebutkan daftar nama yang mengikuti permainan labirin berhantu, sementara pria tampan sedang menyalin data nama-nama itu ke sebuah komputer.
"Dan yang terakhir... seorang mahasiswi dari universitas Stoland"
"Mahasiswi, heuh, patut dicurigai, gadis itu pasti pengecualian dari 9 gadis lain"
"Ya, dia satu-satunya mahasiswi. Justru aku tidak yakin bahwa dia pelakunya" kata Mr. Despard.
"Aku sendiri yang akan menyelidikinya" ucap Adry
"Baiklah-baiklah, jangan libatkan kasus ini dalam kehidupanmu, kau ini bukan anggota FBI apalagi CIA, pulanglah, Nak, kerjakan tugas-tugas kampusmu, atau kau mandi air hangat dengan bunga-bunga mawar yang disiapkan oleh para pelayanmu, jika kau terlibat dalam urusan ini dan kau terjadi apa-apa, mau tidak mau aku harus siap di eksekusi ayahmu" Ucap Despard sambil menepuk bahu Adry.
Adri beranjak dari kursinya dan mengenakan jaket kulit yang teronggok di meja "Aku memang tidak berminat  menjadi detektif, tapi memecahkan kasus yang misterius cukup menarik perhatianku, itu seperti sebuah puzzle yang harus disusun untuk menemukan jawaban, selain itu aku juga harus bertanggung jawab atas kasus ini, gara-gara permainan labirin itu semua menjadi rumit,"
Adry yang merasa bersalah ikut turun tangan dalam menyelesaikan kasus ini, dirinyalah yang diincar sepuluh gadis dalam permainan labirin berhantu itu. Dan ia yakin ada salah satu dari mereka yang lolos dari labirin itu, namun dia hanya berdiri di luar labirin, dan melakukan pembunuhan tersembunyi.
Adry merogoh ponselnya di saku.
"Edmun, polisi bilang kau sempat memeriksa tas mahasiswi itu, apa benar? - Temui aku di cafetaria biasa"
***
"Mahasiswi itu muncul paling terakhir, aku lihat wajahnya sangat pucat dan berkeringat. Dia bilang dia tersesat di dalam dan bingung mencari jalan keluar"
"Keluar paling terakhir bagiku mencurigakan, itu bisa kujadikan daftar bukti, lalu?"
"Ya, dia tampak kelelahan seperti yang lainnya, dia juga sempat berisrirahat sebentar sambil bersandar di bawah pohon"
"Yang kau lihat saat itu?"
"Aku tidak terlalu memerhatikan si mahasiswi, keadaan sangat kacau waktu itu, bahkan si wanita nomor sembilan  menangis histeris karena ada sesuatu yang membuatnya trauma saat berada di dalam. Tapi aku teratarik dengan si nomor tujuh, saat keluar dari labirin dia terlihat begitu tenang, tetapi dia sempat berkata padaku, bahwa permainan ini sangat menjijikan, setelah itu dia pergi mengendarai mobilnya"
Adry manggut-manggut, aneh dengan wanita nomor tujuh disaat semua kandidat panik dan ketakutan dia malah tenang, dan pergi begitu saja. Meski patut dicurigai tapi ia bukan objek penyelidikannya.
"Kau bilang di menenteng tas?"Tanya Adry
"Iya, tas selempang yang usang. Ah, aku lupa, mahasiswi itu cantik, tapi penampilannya benar-benar kuno, menurutku dia tidak pantas bertemu denganmu"
"Ya, atau dia memang tidak bermaksud untuk bertemu denganku, pasti ada tujuan lain" Adri mendapat daftar bukti kedua.
"Tapi dia bilang dia menyukaimu, dia akan berjuang agar memenangkan permainan ini dan kencan denganmu. Dia juga terlihat polos seperti mahasiswi biasa yang hanya punya urusan di kampus"
"Apa kau memeriksa tasnya?"
"Ya sebelum masuk aku sempat memeriksa barang-barang seluruh kandidat, kebanyakan dari mereka menyimpan tasnya di mobil, tapi mahasiswi itu pengecualian, di dalamnya hanya ada buku kecil seperti buku diary, buku catatan, pulpen, dan kotak perhiasan dan kotak make up"
"Kau membuka kotak perhiasannya?"
"Tidak, justru dia sendiri yang membukanya, saat ku tanya identitasnya dia sempat bercerita bahwa hari ini adalah ulangtahun ibunya, dia membelikan perhiasan itu untuknya, jujur saja dia antusias menceritakan hal itu, makanya dia tidak ingin menyimpan tasnya dan tetap membawanya ke dalam"
"Bagaimana bentuk kotak perhiasan itu?"
"Aku lupa, mungkin sekitar lima belas senti, sesuai dengan panjang perhiasan itu"
"Seharusnya kau minta untuk membuka kotak make upnya juga"
"Aku tidak bisa berbuat sejauh itu, aku pasti dianggap tidak sopan karena menuduh yang tidak-tidak sampai menggeledah kotak make upnya" Ucap Edmun.
***
Phoeby menghempaskan lembaran berkas bertuliskan Universitas Princeton di hadapan Laurent.
"Mom, kau benar-benar mendaftarkanku kesana ya?" Tanya Phoeby.
"Ya, tentu saja, jarak limakilo meter dari rumah itu membuatmu lebih mudah""
"Maksudku bukan itu, Mom, disana penghuninya jenius semua, lagipula itu kumpulan orang-orang populer se Kanada, tidak, aku tidak bisa"
"Lalu apa masalahmu?"
"Aku sulit menyesuaikan diri"
"Kau hanya perlu percaya diri sayang, percayalah, kau bisa"
Ini adalah hari pertama bagi Phoeby masuk ke universitas baru, tepatnya dia adalah mahasiswa pindahan dari swiss, dan baru seminggu tinggal di Crow's Nest bangunan sederhana, kokoh, putih, dengan ukuran menyesatkan karena jauh lebih besar dari yang kelihatan.
Phoeby sama sekali tidak menginginkan untuk pindah ke Kanada, suhu udara di musim dingin cukup menyiksa dirinya seakan sumsum tulang ikut membeku. Sebenarnya hari ini ia berencana tidak ikut kuliah dulu, karena ingin menikmati secangkir vanilla latte untuk sekedar menghangatkan tubuhnya di sofa empuk kamarnya.
Keinginan untuk memanjakan diri dimusim dingin hilang begitu saja, sekarang ia berada di kursi kemudi bersama Laurent menuju Universitas Princeton, yang tidak terlalu jauh dari jarak rumahnya.
Laurent berulang kali memandang wajah putrinya itu yang tampak lesu. Wajah ovalnya dengan dagunya yang panjang bertopang pada jendela yang tertutup, kedua matanya ke arah jalan, melihat segala sesuatu yang dilewati mobil itu. Hanya rumput berembun dengan kabut tipis yang sama sekali tak menyegarkan mata.
Laurent memarkirkan mobilnya tepat di depan  tangga yang begitu luas menuju bangunan universitas princeton. Tepat di dekatnya seorang wanita berambut pirang yang masih muda menunggu kedatangan Laurent.
"Ayo turun sayang"  Ucap Laurent.
Laurent berjabat tangan dengan wanita berambut pirang itu., lalu sedikit berbasa-basi membuka obrolan mereka. Phoeby yang menyusul membaca name tag yang menempel di baju wanita itu. Miss Sutcliffe.
"Hmm... ya, ini dia" Mrs. Laurent memperkenalkan Phoeby pada Miss Sutcliffe yang langsung memberikan senyuman ramah ke arahnya. Sementara Phoeby bermuka datar dan menunduk.
"Selamat datang di Universitas Princeton, semoga kau nyaman berada disini" Ucap Miss Sutcliffe.
Phoeby mendesah senyum tipis.
Karena sikap Phoeby yang dingin itu merubah suasana menjadi sedikit canggung, Mrs. laurent pun mengajak Miss Sutcliffe untuk sedikit menjauh darinya.
"Dia butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri, dia sedikit anti sosial dan tipe penyendiri" Bisik Mrs. Laurent.
Miss Sutcliffe mengerti dengan keadaan gadis itu, ia mengetahuinya karena Mrs. Laurent menceritakan tentang bagaimana keluarganya. Phoeby anak satu-satunya Mrs. Laurent, ia gadis yang antisosial dan sering menyendiri, itu karena Phoeby sering hidup dibawah tekanan keluarganya yang selalu bertengkar. Hubungan Mrs. Laurent dengan suaminya memang tidak bisa dikatakan baik, rumah tangga mereka hancur berantakkan karena ayah dari gadis itu seorang penjudi dan pemabuk. Dan hal ini menjadi sebuah alasan kenapa mereka sekarang berada di Kanada, kepindahan mereka adalah hal yang terbaik menurut Laurent agar tak lagi berurusan dengan mantan suaminya. Itu info yang di dapatkan Miss Sutclife.
"Aku akan berusaha membimbingnya, lagipula dia cukup manis, aku rasa orang-orang akan menyukainya" Ucap Miss Sutclife sedikit meghibur Laurent.
"Ya, semoga saja"
Tidak sampai lima menit mereka berbincang, laurent akhirnya pamit pergi.
"Telpon aku jika kau sudah pulang" Kata Laurent.
"Hem" Balas Phoeby.
***
"Aku dosen filsafat, jam ketiga aku akan berada di kelasmu, ayo akan kutunjukan kelasmu di lantai tiga, aku yakin kau akan kerasan disana" Kata Miss Sutcliffe diikuti langkah Phoeby di belakangnya.
 ***
Sir Charles yang gagah memasuki sebuah labirin berhantu untuk menemukan petunjuk. Labirin ini cukup menakutkan menurutnya, ini di desain seperti terowongan berhantu dan cocok di jadikan lokasi shooting film horor. Tidak aneh banyak wanita yang menjerit histeris saat memasukinya. Namun hantu properti yang tersimpan disana begitu sempurna dengan mesin penggerak otomatis yang bakalan sukses membuat pengunjung trauma.
Pria dengan rambut beruban itu mengambil sebuah benda yang tertempel di dalam  perut boneka zombie, itu semacam baut yang tak menempel sempurna untuk sekedar menempelkan sesuatu di dalam boneka itu.
Sir Charles melanjutkan langkahnya untuk menemukan pintu keluar, labirin itu memiliki belokan yang memusingkan,  ia sempat kembali ke tempat asal karena tak menemukan jalan keluar. Namun pada akhirnya Sir Charles menemukan pintu keluar berwarna coklat tua bertuliskan "You are the winning" dengan tulisan merah darah.
Pintu itu ia buka dan sampai di taman tepat di depan hotel Rose Melfort, taman yang cukup luas namun beranda hotel terhalang rumput tinggi yang di potong rapi membentuk seperti tembok  pembatas.
Sir Charles menoleh ke arah kanan, ada pohon akasia yang tingginya sekitar lima meter. Pandangan Sir Charles kini bergantian pada pintu keluar, dan pintu itu berada di posisi akhir, artinya pintu sepuluh. Ia mencoba menempatkan diri sebagai pelaku pembunuh setelah keluar dari pintu ia melangkah ke arah pohon dan menyembunyikan tubuhnya.
Ia mengarahkan pandangan ke arah lantai tiga hotel Rose Melfort, tepat pada posisi dimana Menteri itu sedang berbincang dengan Kaisar. Ia menyadari sesuatu, pohon ini cukup untuk menyembunyikan tubuh seseorang.
Tiba-tiba ia merasa telah menginjak sesuatu. Selembar kertas. Sir Charles memungutnya, ia tak khawatir meninggalkan sidik jari di kertas itu karena menggunakan sarung tangan, dan membaca isinya.
 Aku menunggumu, permaisuriku. Adry.
***
"Heii, apa kabar bung, kau meninggalkan beberapa mata kuliah akhir-akhir ini, apa sekarang kau jadi detektif betulan?" Edgar merangkul sahabat karibnya, Adry, saat ia sedang berjalan sendirian di koridor.
"Berisik, jika kau mengatakan detektif dengan suara keras itu bukan detektif namanya, bodoh"
Edgar tertawa renyah. Ia satu-satunya orang yang tahu bahwa Adry terlibat dalam kegiatan detektif. Ya, meski bukan anggota CIA, Adry cukup bisa di andalkan dan pintar dalam urusan penyelidikan.
"Ahh selain itu hari ini kelas kita kedatangan mahasiswi baru dari Swiss, kau hari ini  kau datang terlambat, cepat-cepatlah mengajaknya kenalan, dari fisiknya dia tipemu, tapi sayang-"
"Apa?" Tanya Adry.
"Dia suram sekali"
"Kalau begitu dia bukan tipeku"
Sampai di dalam kelas, Edgar mencari sosok Phoeby si mahasiswi pindahan itu. Dia tidak ada di bangkunya, padahal lima menit lagi jam ke empat akan dimulai.
"Hai Dri" Seorang wanita cantik menyapa Adry, namun yang disapa tak begitu tertarik dan malas membalas sapaannya. Tapi Olivia Manders, wanita primadona yang menjadi dambaan setiap pria. siapa yang tak kenal dia. Wanita yang tingginya semampai dengan rambut pirang keemasan dan mata bulat kecoklatan mampu melumpuhkan hati pria mana pun dengan penampilannya.
Tapi bagi Adry tak ada yang menarik dari sosok Olivia Manders, terlalu "murah" di mata lelaki, dia mau saja di ajak "ini dan itu".
"Hei Nona Manders, apa kau melihat si gadis pindahan itu?" Tanya Edgar.
"Si Suram maksudmu? heuh, jangan bertanya padaku, mengetahui keberadaannya sama sekali tidak penting bagiku. Lagipula... bukankah dia itu pernah di perbincangkan di koran ya, dia korban penculikan polisi FBI palsu, heuh, baru dua minggu tinggal di Kanada dia sudah membunuh tujuh nyawa"
"Apa! Aku tidak tahu soal itu!" Edgar terkejut.
"Jadi dia ya" Ucap Adry.
Adry kembali keluar kelas dengan langkah cepat.
"Hei, mau kemana lagi?" Tanya Edgar menjajari langkah kaki Adry.
"Menemui Sir Charles"
"Inspektur tua itu? Oh ayolah, setidaknya kau bisa menunda kegiatan ini dulu"
"Ini ada hubungannya dengan pembunuhan di labirin itu. Tidak,kau benar, aku tidak akan menemui Sir Charles dulu. Aku harus bertemu dengan mahasiswi pindahan itu dan menginterogasinya sekali lagi"
"Kau benar, tapi aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi saat ini, tolong jelaskan, dan biar aku membantumu"
"Dua minggu yang lalu ada kabar terjadi penculikan pada seorang wanita muda dari Swiss dan anehnya para penculik itu semuanya mati, sementara wanita itu tidak, tepat seminggu kemudian setelah kejadian itu terjadi pembunuhan di hotel Rose Melfort, permainan labirin yang menghadiahi 10 dollar dan berkencan denganku, salah satu di antara mereka seorang mahasiswi"
"Jadi menurutmu si mahasiswi dari Swiss itu pembunuhnya?"
"Aku  tidak bisa mengatakan itu. Setidaknya dia menjadi petunjuk bagiku, pasti ada sesuatu yang belum dia ceritakan pada Mr. Despard saat di interogasi"
"Intinya?"
"Ini dua kasus pembunuhan yang sama, membunuh secara misterius tanpa meninggalkan jejak dan sidik jari sedikit pun. Pembunuhan sempurna yang dilakukan oleh seseorang yang sudah berprofesional"
Edgar terdiam. Ia belum sepenuhnya mengerti dengan kasus ini, namun terkadang asumsi yang dilontarkan pria detektif itu terlalu kritis dan membingungkan yang mendengar.
"kau bilang kau mau membantuku?" Tanya Adry.
"Eeh...-" Edgar tiba-tiba menyesal kenapa harus menawarkan diri untuk membantu pria ini.
"Dekati gadis itu, cari tau informasinya, dan kalau bisa kau mendapatkan nomor hapenya?"
"What????"
***
"Si pembunuh meninggalkan isi amplop itu di bawah pohon" Sir Charles memperlihatkan lembaran kertas yang terlihat beberapa bekas lipatan tak beraturan dan noda tanah seperti terinjak sepatu. Kertas itu menjadi pusat perhatian orang-orang yang mengikuti rapat nonformal itu di sebuah ruangan kecil hotel Rose Melfort, beberaoa orang anggota CIA dan FBI ikut menyimknya, termasuk Adry dan para pegawai yang terlibat di permainan labirin berhantu.
"Kita akan melakukan beberapa percobaan untuk mengetahui pintu labirin mana dengan amplop kosong"
"Apa bisa? Bukankah amplop itu tersusun acak?" Tanya Mr. Despard.
"Tidak, Lucifer menyimpannya dengan baik, dia memungut amplop itu dari nomor satu dan meletakkannya paling atas. Artinya amplop itu berurutan"
Sir Charles meletakkan setumpuk amplop merah tua di meja, menatap amplop-amplop itu sejenak seakan jawaban teka-teki sudah ada di depan mata.
"Baik, aku akan membuka satu persatu amplop ini" Sir Charles mengambil satu amplop paling atas, ini milik wanita labirin nomor satu. Ia membuka isi amplop itu. Sir tak menunjukkan ekspresi apapun saat melihatnya artinya amlop itu tak mengundang keterkejutan apapun.
"Isinya utuh" Sir membuka lembaran kertas itu dan membaca kalimat yang sama. "Kau yang menulis semua ini?" Tanya Sir Charles pada Adry.
"Ya, aku membuat kalimat yang sama di sepuluh amplop dengan tulisan tanganku sendiri" Jawab Adry.
"Tulisanmu jelek"
"Hahhh" Adry mendesah sebal.
Sir Charles membuka amplop selanjutnya, hasil yang sama seperti amplop sebelumnya.
 Adegan ini sedikit menegangkan, meski Adry penasaran di pintu mana yang terdapat amplop kosong tapi ia merasa ada yang mengganjal. Adegan ini bisa saja menjawab siapa si pembunuh, atau bisa saja adegan ini justru tak ada petunjuk apapun. 
"Nomor enam" Kata Sir Charles yang akhirnya menemukan amplop kosong. Ia membuka lebar-lebar amlop itu dan memperlihatkan pada rekan-rekannya.
"Nomor enam, ya" ucap Mr. Despard.
"Siapa pemilik nomor enam?" Tanya Sir Charles pada Edmun.
Edmun dengan sigap dan tampak canggung membuka lembaran kertas yang berisi data-data nama wanita kandidat beserta profesinya.
"Miss Christie, seorang desaigner berumur 24 tahun"
"Tidak, Sir, tolong lanjutkan untuk membuka amplop sisanya" Pinta Adry, Sir Charles pun tak kan menolak dengan permintaan ini, maka ia membuka amplop selanjutnya. Hingga amplop terakhir...
"Mengejutkan, amplop sepuluh kosong"
"Itu dia" ucap Adry, seiring sesuatu yang mengganjal hilang begitu saja.
"Jadi.. ada dua amplop yang kosong, apa-apaan ini" Ucap Mr. daniel.
"Mahasiswi Universitas Stoland berumur 20 tahun, Amanda Milray" Lontar Edmun tanpa diminta, tapi itu jawaban yang dibutuhkan.
"Dan artinya pelaku pembunuhan dua orang?" Tanya Mr.Despard.
"Ini hanya mengecoh, ini sama sekali bukan yang di harapkan. Aku tidak yakin pelaku pembunuh si pemilik amplop kosong, bisa saja si pembunuh sengaja mengosongkan dua amlop dan dia berada di amplop yang utuh agar jejaknya tak di ketahui, atau justru kita menemukan jawaban bahwa pelaku pembunuh adalah nomor enam dan nomor sepuluh" Kata Sir Charles.
Semua terdiam, ada benarnya dengan dua asumsi Sir Charles. Mereka berpikir apa yang dipikirkan Charles, itu artinya mereka tidak menemukan jawaban sama sekali, namun prioritas utama adalah interogasi antara wanita nomor enam dan nomor sepuluh.
Tiba-tiba Adry tertawa keras, lalu ia menghempaskan punggungnya di sandaran sofa, dan menatap langit-langit atap hotel.
"Pembunuh itu... mempermainkan kita, dia sengaja membuat permainan ini agar kepolisian menyelidikinya dengan banyak teka-teki  dan membuatnya kelabakan. Benar-benar trik hebat, ini permainan intelektual, dia seperti menguji seberapa pintarkah kepolisian dan CIA dalam menyelidiki ini. Aku jadi penasaran siapa pelakunya, dia pasti wanita yang menarik" Ucap Adry, tiba-tiba ia semakin bersemangat dalam penyelidikan ini.
"Kau tidak bisa memilikinya, Adry"
"Aku tahu, dia permaisuriku si pembunuh, aku penasaran seperti apa dia, aku harap aku yang akan mengeksekusinya nanti"
"Baiklah, akhirnya dalam percobaan ini kita tidak menemukan jawaban sama sekali, yang harus kita lakukan selanjutnya adalah membawa wanita itu satu persatu  ke kepolisian kita akan melakukan interogasi secepatnya" Ucap Sir Charles mengakhiri pertemuan mereka malam itu.
***
"Ayah sudah bilang untuk tidak ikut lagi dalam memecahkan kasus-kasus yang ada di kepolisian" Ucap Feddy Dacres, kepada Adry yang pulang larut malam saat itu.
"Ayah, Ayah belum tidur?" Tanya Adry melihat ayahnya yang masih bersantai di kursi menghadap ke jendela, tampak asp rokok mengepul di tengah keremangan ruangan itu
"Ini untuk yang terakhir Ayah, lagipula aku merasa terlibat dalam memecahkan kasus ini, aku yang menginginkan permainan labirin itu, tapi akhirnya Mr. Franky mati terbunuh, aku rasa ini tanggung jawabku. Apalagi Mr. Franky orang yang sangat dipercayai Ayah, aku semakin ingin kasus ini cepat terselesaikan dan aku yang ingin mengeksekusi pelakunya"
"Meski ini yang terakhir, kau berada di ambang bahaya jika kau gegabah, dilihat dari cara dia membunuh dia orang yang pintar dan tidak mudah di tebak. Bisa jadi dia lebih pintar dari FBI maupun CIA"
"Aku tau ayah, tenang saja aku akan selalu waspada untuk memecahkan kasus ini, aku mohon, izinkan aku untuk melakukannya"
"Baiklah"
"Terimakasih, Ayah" Adry membungkukan badan simbol penghormatan, lalu ia masuk ke kamarnya yang berada di lantai atas.
Sampai di kamar, ia merogoh ponselnya di saku, lalu menghubungi Edgar.
"Bagaimana, kau mendapatkan nomer ponselnya?"
"Ah, sebaiknya kau yang temui dia langsung, dia sulit di tangani"
"Aku tidak mengerti"
"Dia antisosial, bukan gadis ramah, lebih tepatnya... apa ya, selain bermuka suram dia itu sulit di ajak bicara"
"Baiklah, tapi akiu belum bisa menemuinya besok. Ada yang harus kulakukan" Adry menatap selebaran kertas berisi identitas mahasiswa Universitas Princeton.
"Apalagi?"
"Itu rahasia. Baiklah, selamat malam" Tanpa menunggu balasan Edgar, Adry langsung memutuskan sambungannya. Ponselnya ia lempar ke ranjang yang empuk, lalu ia melangkah ke jendela dan membukanya lebar-lebar.
Ia membaca sekali lagi selembar kertas itu.
Amanda Milray, 20 tahun, Mahasiswi Universitas STOLAND,  St. Petroch Loomouth.
***
"Permisi, Miss, apakah anda bisa mencari identitas nama ini?" Adry menyerahkan selembaran kertas kepada seorang pegawai yang ada di kantor Universitas Stoland
"Baik, sebentar" Wanita itu menerima selembaran kertas dari Adry dan mengetikkan di komputer nama tertera disana.
"Anda mendapatka nama ini dari mana?"
"Hmm.. sulit jika kuceritakan dari awal, dia memberikan identitas itu saat mengikuti sebuah permainan, dan karena dia memenangkan permainan itu dia berhak mendapatkan hadiahnya ,tetapi dia meninggalkannya, jadi saya mencarinya kesini" Jawab Adry sedikit berbohong.
"Disini sama sekali tidak ada yang bernama Amanda Milray, yang ada Milray Satterhwaite. dia kelahiran 1994, itu artinya dia berumur 22 tahun, bukan 20 tahun"
"Tidak mungkin dia berbohong, dia menyerahkan identitas aslinya saat pendaftaran, semacam paspor" Ucap Adry.
"Jika itu saya tidak tahu, bahkan saya penasaran dengan Amanda Milray, dia memalsukan identitas dengan membawa universitas ini" Wanita itu tampak marah.
Wanita itu kembali menyerahkan lembaran itu. Setelah itu dia kembali melanjutkan aktivitas kerjanya yang sepertinya tidak ingin di ganggu lagi.
"Terimakasih, maaf sudah mengganggu"
"Oke"
Adry kembali masuk ke dalam mobilnya. meski Amanda Milray tidak di temukan , namun ia yakin bahwa gadis inilah pelakunya. Edmun bilang dia menyerahkan identitas asli berupa paspor. Jika gadis itu bisa memanipulasi identitas asli, maka tidak diragukan, dia berada disini tidak sendiri, dengan kata lain, dia berada dalam sebuah organisasi yang berkaitan dengan  pembunuhan.
Mobil itu melaju, menuju tempat berikutnya St. Petroch Loomouth. Ia pun membuka Google Map di ponselnya. Alamat tersebut jauh dari kota dan membutuhkan waktu dua jam untuk sampai kesana.
Mobil itu melewati perbatasan kota, masuk ke wilayah St. Petroch 5KM dari arah kanannya. jalan yang di lewati sunyi sepi seperti di tengah hutan, dan jalannya berkelok-kelok dan sempit.
Sampai di tempat tujuan Adry segera keluar dari mobilnya. tempat ini tidak begitu luas, dan terdapat beberapa rumah dengan jarak yang terpisah-pisah, tampak sunyi namun tentram dari kebisingan kota. Adry segera menghampiri salah seorang penduduk di tempat itu, seorang nenek tua yang yang sedang berjalan di jalan setapak berbatu dengan tongkatnya, lalu seorang kakek datang dan membantunya berjalan.
"Permisi, selamat siang" sapa Adry
"Selamat siang" balas nenek itu dengan suara serak.
"Hmm... boleh saya bertanya sesuatu"
"Yes, of course"
"Apakah gadis yang bernama Amanda Milray tinggal disini?"
Nenek dan kakek itu saling pandang.
"Disini tidak ada Amanda Milray" Jawab Kakek.
"Tapi disini benar, alamatnya ST. Petroch Loomouth. Dan ini identitas asli"
"Disini tidak ada Amanda Milray" Ucap Kakek itu sekali lagi.
"Tunggu, rasanya aku masih ingat dengan nama itu" Ucap si nenek "Sejak kau pergi ke Hoxton, ada seorang gadis yang datang kesini" Nenek itu berkata pada si kakek.
"Ya, ya, dia bernama Amanda Milray" Nenek itu mencoba mengingat ngingat. "Dia gadis tersesat dengan mobilnya. Dia menumpang dirumahku, dia bercerita banyak tentangnya. Tapi aku tidak bisa menangkap isi pembicaraannya"
"Maaf dia tidak bisa mengingat dengan baik" Ucap si kakek.
"Sayang sekali,kapan dia kesini?" Tanya Adry
"Sekitar beberapa minggu yang lalu"
"Bertepatan hari apa?"
"Aku lupa?"
"Jika itu bertepatan saat aku ke hoxton maka pada hari itu adalah hari selasa" ucap si kakek.
"Lalu dari mana dia berasal?"
"Aku yakin dia juga bilang padaku dimana dia tinggal dan kenapa tersesat, tapi aku benar-benar tidak ingat. Aku hanya ingat kalimatnya yang membuatku terharu, bahwa dia ingin hidup bebas seperti burung yang terbang di langit. kemana pun dia pergi tidak akan ada yang melarangnya"
Adry akan mengingat kalimatnya itu.
"Lalu bagaimana ciri fisiknya?"
"Dia gadis yang sangat cantik, dia ramah dan selalu tersenyum. Bola matanya hitam seperti boneka, dia memiliki bentuk tulang pipi yang indah. Saat pagi tiba dia menghilang begitu saja, tapi dia membuatkanku sepiring wafel, dan di pinggirnya ada tulisan terimakasih dengan coklat" Jelas nenek itu.
"Jika kau melihatnya, maka kau mengingatnya dengan baik" Ucap kakek yang tampak senang, tampaknya si nenek memiliki ingatan yang baik sesuai dengan apa yang dia lihat.
"Kalau begitu... anda pasti tau dengan apa yang dia bawa"
"Dia membawa tas ransel, namun aku tidak tahu apa isinya"
"Begitu ya.."
"Ah, seandainya gadis itu masih disini sekarang, akan ku kenalkan kau padanya, aku yakin kau pasti menyukainya, kalian sangat cocok" ucap nenek itu.
Adry tertawa kecil.
"Oh, apa jangan-jangan kau adalah pacarnya? Tanya si nenek.
"Ah, tidak, bukan, saya kesini ada urusan tertentu dengan gadis itu"
"Oh begitu ya... kalau begitu kau bisa meninggalkan nomor ponselmu padaku, aku yakin gadis itu akan kesini lagi" Pinta si nenek.
"Oh ya, apa boleh?"
"Tentu saja, kalian bisa bertemu nanti"
"Baiklah, aku akan mencatat nomor ponsel ku disini" Adry menuliskan nomor ponselnya di catatan kecil. lalu memberikannya pada si nenek.
"Aku sangat menantikannya" UCap Adry.
"Ya, akan ku telpon jika dia sedang berada disini"
Usai berurusan dengan kedua lansia itu, Adry meninggalkan tempat itu dengan perasaan puas. Meski ia tak berhasil menemukan gadis itu tapi ia sudah mendapatkan banyak petunjuk. Dan Adry sangat menantikan kedatangan gadis itu lagi di St. Petroch Loomouth.
Namun yang dirasakan Adry tiba-tiba berbeda dia menunggu gadis itu untuk di eksekusi atas pembunuhan menteri kepercayaan ayahnya. Menunggu gadis itu serasa menegangkan namun ada sensasi didalamnya.
 ***
Mr. Despard dan Mr Daniel mengawal seorang perempuan berpakaian modis ke kantor kepolisian. Miss Meredith, si wanita pemain teater, tampaknya tidak suka jika ia harus berurusan dengan kepolisian.
Saat berada di ruang intergogasi ia berhadapan dengan Sir Charles.
"Miss Meredith, benar?" Tanya Sir Charles.
'Ya, dan aku kesini ingin bertanya langsung pada anda, saya tidak pernah melakukan pembunuhan kepada menteri raja. Saya tersesat di labirin dengan hantu menyeramkan dan saya heran kenapa harus di bawa ke kantor polisi?"
"Ah, anda agresif sekali, saya belum melontarkan pertanyaan apapun pada anda. Santai saja, ikuti aturan-aturan kami, maka saya akan memudahkan anda" Ucap Sir Charles.
Miss Meredith memasang muka sebal, sambil berpangku tangan.
"Ngomong-ngomong Miss Meredith, anda pemain teater bukan? Saya pernah melihat anda sebagai pemeran utama di teater Gadis pemeluk bulan. peran anda sangat bagus, tidak aneh, anda banyak diincar acara tivi karena bakat anda yang sangat hebat" Sir Charles berbasa basi agar suasana tak terlalu tegang.
Miss Meredith menghembus nafas, ia terlihat sedikit tenang dengan pembawaan Sir Charles yang santai, dan tidak menakutkan seperti yang ia kira.
"Bagaimana menurutmu permainan labirin berhantu itu?" Tanya Sir Charles.
"Itu penipuan, Adry Russel Sanders, itu hanya mempermainkan mental seorang wanita dengan permainan yang menjijikan. Jika dia ingin berkencan dengan wanita bukan seperti ini caranya, labirin sialan itu membuatku tidak bisa makan berhari-hari" Ucap Miss Meredith dengan penuh emosi.
"Anda mengetahui permainan labirin itu dari mana?"
"Itu dari internet, dia mengumumkan permainan itu di fanspagenya"
"Oh, anda mengikuti fanspagenya rupanya?" Sir Charles menggodanya.
"Ya, pada awalnya aku memang menyukainya, dia salah satu pria yang selalu aku incar. Tapi setelah aku mengikuti permainan labirinnya aku malah membencinya, apalagi setelah itu terjadi pembunuhan yang tak di duga-duga, membuatku kaget saja"
"Miss Meredith, anda tidak menggunakan kedok teater anda disini kan?"
"Aku bicara apa adanya, Sir, lagipula untuk apa aku membunuh menteri raja, tidak ada untungnya bagiku"
"Kau datang bersama siapa, Miss?"
"Aku sendiri yang membawa mobilku, sebenarnya aku ingin di antar dengan sopir pribadiku, tapi dia bilang dia mendadak sakit kepala dan tidak bisa mengantarkanku malam itu di tempat teater"
"Dan setelah sampai di tempat permainan labirin siapa saja yang kau lihat disana?"
"Aku tidak terlalu memperhatikan orang dan tidak terlalu suka berbicara, tapi disana ada beberapa orang yang sedang menunggu kandidat lain, tampaknya mereka tidak sabar untuk berkencan dengan Adry"
"Dan setelah itu anda mengambil nomor labirin?"
"Ya disana ada pria, yang duduk di meja menyiapkan lembaran-lembaran kertas yang sulit kupahami. Lalu dia memberiku nomor 4, yang artinya aku harus menempati labirin empat"
"Siapa wanita yang sudah ada disana, apa mereka juga sudah mendapat nomor?"
"Nomor tiga dan dua, lalu saat itu datang dua orang lagi yang langsung mengmpiri pria di meja mengambil nomor, dan setelah itu aku lupa mereka nomor berapa"
"Berapa lama anda menunggu sampai anda memasuki labirin itu?"
"Sekitar tiga puluh menit, ini semua gara-gara wanita yang datang terlambat. Dari situ aku mulai merasa sebal dan ingin pulang, tapi pria-pria disana tidak mengizinkannya"
"Setelah kau memasuki labirin itu, seberapa jauh kau berjalan di dalamnya, dan arah mana yang anda ambil?"
"Aku mengambil arah kiri, saat ada tikungan dan beberapa ruangan dengan belokan, aku melihat zombi sedang menjulurkan lidah dengan cairan yang menjijikan, aku tahu itu hanya boneka, tapi bagiku itu sangat menjijikan dan karena hal itu aku tidak ingin melanjutkan dan kembali ke tempat pintu masuk menunggu pintu itu di buka" Jelas Miss Meredith yang berusaha meyakinkan.
Sir Charles manggut-manggut. Ia merenung sejenak, Miss Meredith meski memiliki wajah yang menyebalkan tetapi dia terlihat sangat jujur, dia menceritakan semuanya dari awal, dan tidak tersendat-sendat dan lancer begitu saja.
"Dan setelah kau keluar?"
"Aku langsung berjalan ke pinggir dan duduk di kursi karena tiba-tiba perutku mual"
"Apa kau melihat yang lainnya, para wanita lain ketakutan sepertimu?"
"Ya mereka ketakutan sekali, dan yang paling parah si wanita berbaju merah menangis histeris dan hampir pingsan, ada yang bilang dia sangat takut pada zombi"
"Apa kau tahu siapa yang kembali paling terlambat?"
"Aku tidak tahu"
"Berapa lama kau duduk di kursi?"
"Sekitar limat menit, dan setelah itu aku pulang karena perutku tidak mual lagi"
"Kau tidak tahu ada petugas yang datang dan memberitahu bahwa telah terjadi penembakan?"
"Kalau itu saya tidak tahu sama sekali"
Sir Charles sejenak berpikir. Ia sudah menemukan keputusan untuk Miss Meredith.
"Ya, tidak ada alasan lagi bagiku untuk mencurigai anda"
"benarkah? Oh Thanks, God"
***
Adry bertemu kembali dengan Edgar di kampus. Ada sedikit perubahan pada Adry, hari ini terlihat begitu semangat dari biasanya, dia antusias menceritakan penyelidikannya pada Edgar, padahal Edgar sendiri heran biasanya Adry tidak terlalu buka-bukaan dengan kegiatannya di kepolisian karna takut ada yang dengar bahwa ia seorang detektif.
"Ya, jadi intinya kau seperti menunggu wanita yang membuatmu penasarankan, kau tau itu seperti saat kau sedang jatuh cinta dengan wanita yang menarik perhatianmu karena dia misterius" Ucap Edgar.
"Aku tidak bilang jatuh cinta padanya, aku hanya penasaran karena dia menarik perhatianku dengan cara dia membunuh"
"Yah, tipe macam apapun si pembunuh itu asalkan dia jangan membuatmu jatuh cinta, jika dia membuatmu jatuh cinta, aku benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti" Ucap Edgar.
"Ah kau ini"
"Ngomong-ngomong... Aku rasa dia juga akan membuatmu penasaran, kau bilang kau akan menemuinya langsungkan?" Edgar menunjuk kepada seorang gadis yang berjalan di depan mereka.
"Dia?"
"Phoeby, mahasiswi baru itu"
Adry memperhatikan Phoeby yang membelakanginya, ia pun mengikuti langkah Phoeby dan memanggilnya.
"Hei, Nona" Panggil Adry. Phoeby menghentikan langkah, lalu ia melanjutkannya lagi.
"Aku memanggilmu"
Langkah Phoeby semakin cepat, Adry mengimbanginya, lalu menarik lengannya.
"Don't touch me!" Phoeby menghempaskan tangannya, namun tanpa sengaja tangannya melayang ke arah pipi Adry, dan ia sedikit tersungkur.
"Ah!"
"Oh God!" Edgar terkejut, namun ia jadi ingint ertawa.
Phoeby terkejut setengah mati. Dilihatnya pria itu sedikit menoleh ke belakang efek tangannya yang tak sengaja menampar pipi pria itu.
Adry mengusap darah di bibirnya.
"Oh my God, I,m sorry, aku tidak sengaja, maaf-maaf" Kata Phoeby memohon, namun wajahnya tertunduk seakan tak ingin di tunjukkan. Phoeby pergi begitu saja meninggalkan Adry.
Lalu Edgar datang menertawakan Adry..
"Berisik" Ucap Adry.
"Sudah kubilang dia itu sulit di tangani"
"Apa dia juga menamparmu?"
"Tidak, hanya saja dia sulit diajak bicara, hei, dia maniskan? Apa kau tertarik padanya?"
***
Saat pulang kuliah Adry kembali memanggil Phoeby. tapi Phoeby tak terlalu menanggapinya sampai Adry berhasil menjejaki langkahnya.
"Ada perlu apa?"
"Aku perlu bicara padamu, ini soal penculikanmu beberapa minggu lalu"
"Kenapa kau ingin tanyakan itu?"
"AKu perlu petunjuk darimu"
"Aku tidak ingin  membahasnya, aku sudah selesai dengan itu semua"
"Ayolah, aku seorang detektif, aku sedang membantu kepolisian dalam kasus pembunuhan, dan aku rasa kasus ini ada hubungannya dengan pembunuhan polisi palsu itu"
Phoeby menggelengkan kepala, ia tampak tak mengerti dengan apa yang dikatakan Adry.
"Aku tidak punya waktu" Phoeby pergi.
"Kau pembunuhnya" Ucap Adry, Phoeby menghentikan langkah dan kembali berbalik.
"Kau bilang apa?" Tanya Phoeby dengan muka datar.
"Kau pembunuhnya"
"Aku bukan pembunuhnya, bagaimana bisa aku seorang pembunuh, aku sudah selesai dengan kepolisian, dan kepolisian sudah membebaskanku  dari tuduhan itu"
"kalau begitu buktikan sekali lagi dengan intogasi ringanku"
Phoeby menghembus nafas berat. Ia tahu Adry menuduhnya sebagai pembunuh agar ia menuruti semua keinginannya. Mereka pun pergi ke cafetaria untuk berbicara berdua.
Seorang waitress menyodorkan vanilla latte dan capucchino di meja. Phoeby langsung mengambil vanilla lattenya, bukan untuk di minum, hanya memegang cangkirnya dengan kedua tangannya. Ia menghangatkan tangannya yang dingin dan menempelkan ke cangkir panas itu.
"Kau tampak kedinginan, apakah di Swiss tidak sedingin ini?"
"Hem" Balas Phoeby, yang tatapannya tertuju pada vanilla latte di cangkirnya.
"Jangan tegang, aku tidak akan mengajukan pertanyaan sulit, lagipula aku sudah tahu hasil interogasi dengan Sir Charles, dan aku tidak akan mengajukan pertanyaan yang sama"
"lalu apa yang akan kau tanyakan lagi padaku?"
"Apa kau merasakan kehadiran orang asing saat penjahat itu sedang berkelahi?"
"Itu pertanyaan yang sama"
"Apa kau yakin dengan jawabanmu?"
Phoeby terdiam.
"Melihatmu diam kau seperti orang yang mencurigakan"
"Aku tidak merasakan ada orang asing, yang ku tahu aku mendengar suara berisik seperti lemparan gelas dan aku tak pernah tahu apa yang sedang diperbuat mereka" Jawab Phoeby.
"Apa kau merasakan ada orang asing?"
"Kenapa kau mengajukan pertanyaan itu lagi!" Suara Phoeby meninggi. Dan itu mengundang perhatian banyak orang di cafetaria. Adry menatapnya serius.
Nafas Phoeby memburu.
"Baiklah, aku akan menjawabnya dengan jujur, dan aku belum pernah mengatakkannya pada Sir Charles" Phoeby mengakui.
"Ya, katakan saja"
"Aku mendengar suara tembakkan beberapa kali, dan setelah itu keadaanpun menjadi hening, aku rasa tidak ada yang hidup lagi di antara mereka, tapi ada sesuatu yang membuatku takut, aku mendengar suara langkah kaki, seperti suara sepatu but. Dia semakin mendekat, dan saat itu...." Phoeby berbicara tak karuan dan tanpa jeda sedikit pun. Nafasnya semakin memburu dan terlihat ketakutan.
"Dia mengusap pipiku, dan dia berkata..." Lanjut Phoeby.
"Ya?" Tanya Adry penasaran.
"Dia bilang mereka pantas mati, nyawa harus di bayar dengan nyawa, dia menyuruhku untuk tidak mengatakkannya pada polisi, karena dia bilang dia akan melakukan pembunuhan yang lebih misterius lagi"
"Apa"
"Setelah itu dia menjauh, aku tidak mendengar dia membuka pintu keluar, aku tidak tahu dia pergi ke arah mana, yang jelas dia sudah tidak ada disana lagi, dan sepuluh menit kemudian ibuku datang bersama polisi"
"Sudah kuduga, pembunuhan di labirin itu pasti dia pelakunya, seorang perempuan, ya"
"Ya, dia memang seorang perempuan"
"Kau terlambat mengatakkannya, Phoeby" kata Adry dengan nada curiga.
"Dia sudah melarangku untuk tidak mengatakkannya pada siapapun, dan sekarang aku mengatakkannya pada seorang detektif yang akan memecahkan kasus pembunuhan, katakkan, apa setelah ini aku akan aman, jika pembunuh itu membunuhku apa yang akan kau lakukan?"
"Pertanyaanmu kritis sekali. kau menanyakan apa yang akan aku lakukan jika pembunuh itu membunuhmu, tentu saja, aku akan menemukannya dan mengeksekusinya" Jawab Adry.
Phoeby tak berkata apa-apa lagi.
"Tenang saja, wanita itu menyuruhmu untuk tidak mengatakkannya hanya pada polisi, dan aku bukan anggota FBI atau CIA, jadi kau tidak salah"
Phoeby menyeruput vanilla lattenya, tubuhnya perlahan menghangat. sesekali ia curi-curi pandang menatap pria  di hadapannya yang sedang meminum capucchinonya juga. Dia pria yang tampan, dan pintar, juga memiliki siluet yang indah saat pria itu menghadap ke arah samping, meski begitu menurut Phoeby dia tidak cocok menjadi seorang detektif, karena dia lebih memenuhi kriteria sebagai seorang model atau aktor.
"Apa sudah selesai? Aku harus pulang" Kata Phoeby,
"Aku akan mengantarmu"
"Tidak perlu, aku sudah mengirim pesan pada ibuku untuk menjemputku disini"
"Baiklah, Phoeby, terimakasih, maaf sudah mengganggu waktumu"
"Tidak apa-apa, lagipula... bukankah lebih baik jika aku mengatakkan hal yang sebenarnya padamu. Setidaknya ini bisa membantumu mencari si pembunuh itu, aku harap kasus ini segera terselesaikan"
"Ya, semoga saja"
"Apa kau masih mencurigaiku sebagai pembunuh?"
"Tentu saja tidak, maaf dengan perkataanku tadi siang, itu hanya untuk menarikmu agar kau bersedia berbicara denganku"
"Ah, sudah kuduga" Phoeby tertawa kecil.
Adry tiba-tiba terpaku, barusan Phoeby tertawa, ternyata gadis yang sering di sebut suram dan antisosial itu bisa tersenyum, dan ia tidak menyangka Phoeby memiliki senyuman yang sangat manis. Tapi senyuman itu hanya sekejap, Phoeby kembali murung seperti biasa.
"Adry, jika kau menemukan pembunuhnya, bisakah kau memotretnya dan menunjukan fotonya padaku, sebenarnya aku penasaran siapa yang sudah menyelamatkanku malam itu, aku sangat ingin tahu rupanya"
"Aku akan meminta kepolisian untuk mengizinkanmu bertemu dengannya"
"Kalau begitu aku akan mengucapkan terimakasih padanya"
"Phoeby, kau tak perlu mengatakan hal itu pada seorang pembunuh"
"Aku tahu dia pembunuh, mungkin dia sudah membunuh banyak nyawa dari yang kita duga, tapi tidak selamanya pembunuh selalu membunuh, dia pasti pernah melakukan hal yang baik pada orang lain, termasuk menyelamatkan nyawaku waktu itu"
"Baiklah, akan kuusahakan kau bisa bertemu dengannya"
Phoeby melihat ke arah luar, mobil sedan silver berhenti di depan cafe. "Ibuku sudah sampai, aku pulang dulu"
"Hem"
***
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, Mr. Albert masih sibuk dengan komputern di ruangannya. Ia tampak kelelahan terlihat dari guratan wajahnya yang sudah mulai menua. Ia adalah seorang kepala perusahaan Yotsuba, yang sedang menyiapkan materi presentasi besok diacara meeting dengan rekan kerjanya.
Konsentrasinya tiba-tiba terganggu setelah mendengar suara berisik di luar ruangan. ia pun tak menanggapinya, tanpa sengaja ia menjatuhkan pulpen ke bawah meja, lalu ia membungkuk untuk mengambilnya, saat kembali tegak, ia terkejut kedatangan seseorang berpenampilan misterius sudah berada diruangannya.
"Siapa kau?" Tanya Mr. Albert ketakutan.
Yang di ajak bicara menodongkan pistol dan menarik pelatuknya untuk bersiap menembak. manusia misterius itu berpakaian serba hitam, ia mengenakan jubah panjang yang menutupi kepalanya sehingga wajahnya tak terlihat.
"Seseorang yang akan membunuhmu"
"Apa, ti-tidak" Mr. Albert mengangkat tangannya.
Peluru itu pun menembus kening Mr. Albert dengan seketika ia mati dan tubuhnya terjatuh di kursi putarnya. Wanita itu mendekat, lalu meletakkan setangkai bunga mawar putih di meja.

Pagi itu, warga di buat geger dengan kematian Mr. Albert di tempat perusahaannya. Mayat Mr. Albert barusaja dimasukkan ke dalam mobil ambulance dan di bawa ke rumah sakit untuk di autopsi. Sir Charles bersama rekan FBI tampak sibuk menangani kasus ini.
Phoeby yang tengah berjalan di trotoar sempat melihat aktivitas kepolisian di depan halaman perusahaan, ia juga melihat Sir Charles dan Mr. Despard yang sedang berbincang.
"Apa yang sudah terjadi?" Tanya Phoeby bertanya pada salah seorang penduduk setempat.
"Seseorang membunuh Mr. Albert, pemimpin perusahaan Yotsuba tadi malam" Jawab wanita berumur paruh baya itu.
Phoeby berbalik arah untuk kembali pulang, di tengah jalan sebuah mobil berhenti, dan Adry keluar untuk menghampirinya.
"Kenapa kau balik lagi?" Tanya Adry.
"Adry, aku takut, pembunuhan terjadi lagi, kali ini pemimpin perusahaan Yotsuba"
"Aku tau, aku mendengar kabar ini tadi pagi, Mr. Despard mengirim pesan padaku. Tapi aku tidak akan pergi ke perusahaan sekarang, ayo, kita berangkat ke kampus sama-sama" Kata Adry.
"Tidak"
"Phoeby..." Adry memegang kedua bahunya. "Aku akan melindungimu, tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa"
"Bagaimana aku bisa yakin, sementara kemarin aku sudah mengatakan hal yang sebenarnya padamu, bagaimana kalau pembunuh itu tau bahwa aku membocorkan rahasia ini padamu"
"Dia tidak akan tahu bahwa kau mengatakkan hal sebenarnya padamu, meski dia tahu bahwa kau sudah mengatakkannya pembunuh itu tidak akan membunuhmu. Nyawa di bayar dengan nyawa. kau tidak pernah membunuh, Phoeby, dia tidak akan melakukannya padamu"
Phoeby merasa tenang saat Adry mengatakan hal  itu.
"Ayo, kita berangkat" Adry mengajak Phoeby masuk ke dalam mobil.
***
"Aku tersesat di labirin dan tidak bisa menemukan jalan keluar, bagaimana bisa aku membunuh menteri raja!" Bentak gadis itu yang tampak tak terima di interogasi dengan berbagai macam pertanyaan yang di lontarkan Mr.Despard.
"Baikla, baiklah, kau bisa menjawab pertanyaanmu tanpa berteriak, jika kau terus berteriak kau akan ku tetapkan sebagai tersangka"
"Apa!!"
Mr. Despard yang sibuk menginterogasi lain halnya dengan Sir Chales yang kelabakan menangani kasus pembunuhan selanjutnya.
"Bunga mawar identik dengan seorang perempuan, bisa jadi si pembunuhan ini dilakukan oleh orang yang sama di labirin itu"
"Mengapa harus mawar putih?"
"Entahlah, mawar putih diartikan sebagai lambang cinta dan keagungan hati. Pasti ada alasan tertentu yang tidak kita ketahui mengapa si pelaku  meletakan bunga mawar setelah ia membunuh"
"Permainan macam apa ini"
"Apa si pembunuh mencoba memberi pesan kepada kita? Tapi apa artinya?"
"Aku yakin pelakunya orang yang sama dengan pembunuhan di labirin itu. Semua akan terjawab secara akurat setelah usai interogasi seluruh wanita kandidat" Kata Sir Charles.
***
 "Sial, aku tidak menemukan namanya" Ucap Adry, tampaknya hasil pencarian di komputer tidak ada penduduk Kanada yang bernama Amanda Milray yang berumur 20 tahun. Adry menghempaskan punggungnya di senderan kursi putar, selama lebih dari dua jam ia berada di depan komputer hanya untuk mencari satu nama.
"Kalau kau tidak menemukannya sampai saat ini, aku akan membantumu, ingat batas penyelidikkan kita tiga minggu lagi, jika kita tak menemukan pelakunya maka kasus ini akan di hapus dan kita tidak akan pernah tahu siapa pelaku pembunuhannya" Kata Mrs. Daniel.
"Aku tidak akan menyerah"
"Oh ya. hasil inteogasi dari keenam orang mereka tidak terbukti bersalah. sisanya wanita labirin nomor tiga, lima,tujuh dan sepuluh. Sir Charles, Mr. Morgan dan Mr. Despard akan mengurus ketiga wanita itu, dan aku akan membantumu mencari si nomor sepuluh" Kata Mr. Daniel. "Baiklah, apa yang akan kau lakukan selanjutnya"
"Tidak ada. Aku masih menunggu kabar dari salah satu penduduk di St. Petroch Loomouth. Dia bilang Amanda Milray pernah kesana, dan dia akan menghubungiku jika dia kesana lagi"
"Dia wanita menyusahkan"
Lalu pintu ruangan di ketuk seseorang dari luar.  Mr. Daniel membukanya. Seorang polisi wanita dengan seseorang pria berumur 30-an membawa sebuah DVD.
"Dia membawa petunjuk baru" Ucap polwan itu.
Mr. Daniel memutar DVD itu di komputer, Adry bersama polwan dan pria bernama Eric ikut menyaksikan apa isi dari sebuah rekaman CCTV itu.
Layar komputer mempelihatkan sebuah sudut ruangan hinggga sepuluh detik kemudian sekelebat manusia berjubah hitam berjalan ke ruangan yang lain.
"Bisa tolong jelaskan?" Tanya Mr. Daniel.
"Ya, itu ruangan karyawan dan karyawati, tepat di depan ruangan Mr. Albert, karena CCTV itu dalam posisi tidak tepat jadi hanya sudut itu saja yang terekam. Sepertinya memang si pembunuh itu menuju ruangan Mr. Albert" Jelas Eric.
"Ada berapa jalan menuju kesana?" Tanya Mr. Daniel, yang terus mengulang rekaman itu
"samping kiri, kanan, depan, dan belakang, namun pintu di belakang sedang rusak sehingga tidak ada orang yang berhasil masuk kesana, ya, kemungkinan dia mengambil jalan dari arah antara ketiga pintu" Balas Eric.
"Miss Jeany, aku dengar kau ahli mikroekspresi, apa kau bisa membaca gerak-gerik orang ini?"
"Ya, setelah kuperhatikan baik-baik, dia berjalan dengan langkah kecil, namun seperti terburu-buru, tapi dia tidak terlihat waspada dengan disekitar, dia sangat percaya diri. Tapi- Tunggu, Mr. Daniel bisa kau pause dulu saat dia muncul?" Pinta Mr. Jeany.
Mr. Daniel mengulang video, dan memijit tombol spasi. Video itu memperlihatkan saat pelaku itu muncul di kamera.
"Perbesar di area wajah" Pinta Mr. Jeany. Gambar itu di perbesar di area wajah meski tertutup dengan tudung jubah, tapi masih terlihat di bagian dagu dan hidung, namun tidak begitu jelas.
"Itu seorang perempuan"
"Ya, aku pikir juga begitu" Kata Mr. Daniel.
"Dagunya terlihat panjang,  sepertinya efek dia sedang tersenyum dengan mulut yang sedikit terbuka, ini menandakan, seolah kematian Mr. Albert akan membuahkan hasil bagi dirinya sendiri" Kata Jeany.
"Jika kau benar, maka bisa dipastikan dia pembunuh bayaran yang disewa oleh salah satu perusahaan besar" Tiba-tiba Eric berasumsi.
Lalu semua memandang Eric dengan tatapan aneh.
"Itu tidak menutup kemungkinan, tapi apa keuntungan baginya?" Tanya Adry.
"Eeuu ituu, entahlah" Jawab Eric bingung.
"Oh ya ada sesuatu yang mengganjal, perbesar tangannya" Pinta Adry, lalu video memfokuskan dan memperbesar di area tangan, si pembunuh menggunakan sarung tangan dengan membawa pistol api.
"Ini pistol yang dia bawa, dia menggunakan sarung tangan agar tidak meninggalkan sidik jari" Ucap Mr. Daniel.
"Sepertinya pembunuhan ini dipersiapkan secara matang dan terencana, tapi... dari mana dia tahu bahwa Mr. Albert masih berada di kantornya?" Ucap Mr. Jeany, semuanya tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Petunjuk masih samar-samar, tapi setidaknya mereka sudah tau bagaimana rupa si pembunuh itu.
Di tengah keheningan semua dikejutkan dengan dering ponsel Adri disakunya. Nomor asing menghubunginya, Adri pun memijit tombol terima dan menempelkan ponselnya di telinga kiri.
"Ya?" Tanya Adri.
"A-Adri..." Itu suara seorang wanita, namun bagi Adri suara itu tidak asing lagi di telinganya.
"Phoeby?"
"Adry, tolong aku" Suara Phoeby gemetaran
"Kau ada dimana?"
"Toserba, di distrik ketiga"
"Aku harus menjemput seseorang" Adri menyambar kunci mobilnya di meja, lalu meninggalkan ruang kantor CIA.
***
"Phoeby" Panggil Adry.
"Adry"
"Ada apa?"
"Laki-laki itu,aku tidak tahu sejak kapan dia mengikutiku, tapi aku baru menyadari saat berada di Mademoissel, dan dia mengikutiku sampai kesini" Phoeby menunjuk ke arah pria yang berdiri di dekat gang yang berada sepuluh meter dari arah toserba.
"Sudah berapa lama kau disini?"
"Sudah tiga puluh menit yang lalu"
"Kalau begitu dia benar-benar menguntitmu"
"Aku tidak tahu harus bagaimana selain menghubungimu, telpon ibuku sedang tidak aktif, aku hanya mempunyai dua nomor di ponselku, kau dan ibuku"
"Tenang saja, kau sudah bersamaku sekarang, ayo kita pulang" Adry menggamit tangan Phoeby, dan membawanya keluar.
"AKu takut dia bertindak macam-macam, bagaimana jika pria itu berbahaya
"Jika dia bertindak macam-macam aku akan menghajarnya, yang penting sekarang aku harus mengantarmu pulang, kau akan aman setelah berada di rumah"
Mobil itu mengantarkan tempat dimana Phoeby tinggal, barulah lima belas menit kemudian mereka sampai di Crow's Nest sederhana di sekitar Green Lock Street.
"Jadi ini rumahmu" Ucap Adry saat mengantarkan gadis itu sampai di depan pintu.
"Hem, jika kau tidak sibuk, kau bisa mencicipi poutline dan sandwich buatanku"
***
Ketika Phoeby sibuk mengeluarkan belanjaannya di dapur, Adry yang berada di ruangan keluarga memperhatikan sekeliling ruangan. Jika dari luar rumah ini terlihat kecil, tapi berbanding terbalik dengan yang di dalam, ruangan ini terbilang sangat luas, namun tidak terlalu banyak barang disana. Hanya beberapa sofa santai di depan televisi, sebuah patung seorang wanita di bawah tangga, dan lukisan yang menghiasi dinding.
Adry mendekat dan memperhatikan lukisan itu. Tidak terlalu memiliki nilai seni tinggi, tetapi meninggalkan kesan di dalamnya. Lukisan wajah seorang wanita dengan mata terpejam namun menjatuhkan air mata di pipinya, wajah itu menengadah ke langit. Adry membaca tulisan kecil di sudut kiri kanvas. A.M,Swiss, .
Adry kembali memperhatikan lukisan itu, mirip wajah Phoeby. Hidungnya dan dagunya tampak tidak asing baginya jika dilihat dari samping. Gadis itu benar-benar cantik. Batin Adry.
"Apa itu lukisanmu?"
"Oh lukisan itu? Itu memang wajahku, tapi bukan aku yang buat. Di sudut kiri kau akan menemukan tulisan AM, Swiss, 20-7-2014"
"Ya aku melihatnya"
"Angel Mademoissel, salah satu teman kampusku di Swiss, ah tidak, aku tidak punya teman, pokoknya saat itu sedang praktik melukis, entah mengapa dia melukis wajahku, dia bilang itu hanya iseng dan mengejekku lewat lukisan. Aku yang pemurung yang menengadah ke arah langit seakan mengharapkan sebuah kebahagiaan. Entah kenapa aku malah menyukainya, dan dia memberikanku lukisan itu seperti sampah"
"Dan aku akan bertanya padamu, kenapa kau tidak pernah memiliki teman dan bersikap antisosial, Phoeby"
Phoeby mengangkat bahu "Aku sulit menjawabnya"
"Katakan saja apa yang kau rasakan"
"Aku memiliki masalalu yang buruk, ini ada hubungannya dengan kepindahanku ke Kanada. Dari sejak kecil aku hidup di bawah asuhan ayahku yang otoriter, dengan sikapnya yang keras itu dan sempat menyiksaku, akhirnya aku terbiasa begini. Menurutku hidup dengan seseorang akan menyusahkan, berbeda dengan hidup sendiri, serasa bebas melakukan apapun"
"Kenapa orang tuamu...- ah tidak, aku tidak akan menanyakannya terlalu jauh, aku tau kau tidak ingin mengatakkannya padaku, iyakan?"
"Hem, terlalu rumit, itu membuatku kembali ke masalalu"
"Aku mengerti"
"Oh ya, bagaimana dengan penyeledikanmu, sudah ada kemajuan?" Tanya Phoeby.
"Ya, sudah ada beberapa petunjuk, aku sempat kelabakan mengurusnya, masih di bawah lima puluh persen untuk menemukan jawaban siapa pelakunya"
"Lalu bagaimana dengan pembunuhan di perusahaan Yotsuba itu? Apa disana juga menemukan petunjuk?"
"Dia menyimpan bunga mawar putih di meja Mr. Albert, tapi kepolisian belum menemukan motif pembunuh dan arti dari mawar itu"
"Petunjuk yang aneh, pembunuh menyimpan bunga mawar itu adalah hal yang langka"
Adri tertawa kecil "Ya, kau benar"
"Kau tampak mahir memainkan pisau ya" Ucap Adry dengan nada yang dibuat curiga saat melihat tangan terampil mengupas kulit kentang.
"nadamu itu seperti menuduhku seorang pembunuh" Balas Phoeby dengan nada bercanda. Lalu ia mencuci tangannya di wastafel.
"Oh ya" Phoeby berdiri tepat di hadapan Adry, gadis itu sedikit mendongak memandang Adry dan menatapnya dengan wajah manis. "Kau adalah seorang detektif yang menyelidiki kasus pembunuhan, tapi kau bukan FBI atau CIA, katakan apa yang akan kau lakukan jika aku adalah pembunuh itu, aku ingin tahu?"
Adry menatap balik gadis itu. Menatapnya lama.
"Aku akan menciummu"
Phoeby tertawa renyah "Jangan bercanda"
"Kau juga sedang bercanda"
"Ya aku tahu-aku tahu,,, jika aku adalah pembunuh, kau akan mengeksekusiku tanpa ampun, kau akan mengambil pistolmu dan menembakkannya tepat dikepalaku, atau kau..."
"Atau aku akan membunuhmu dengan pisau dapur" Adry melanjutkan.
"Ya-ya kau benar" Phoeby tertawa.
"Kau bahagia denganku"
Tiba-tiba tawa Phoeby terhenti.
"Aku penasaran kapan kau terakhir tertawa seperti itu, Phoeby. apa kau sering tertawa?" Tanya Adry sambil menatapnya dalam-dalam. Lalu menggenggam kedua tangan Phoeby yang dingin.
"Sejak pertama bertemu denganmu, sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan wanita yang antisosial, dia terlihat angkuh dan egois, aku tahu kau memiliki sikap seperti itu, kadang aku ingin kau bisa tersenyum kepada orang-orang disekitarmu, dan mencoba berbicara banyak pada orang yang peduli padamu. Aku ingin kau melakukannya, tapi setelah aku sadar, aku ingin hanya aku yang tahu senyuman itu, aku hanya ingin hanya aku yang tau suara tawamu, aku ingin memilikinya, hanya aku, Phoeby... aku jatuh cinta padamu. Jangan berikan senyuman itu pada orang lain, kecuali aku"
"A-Adry"
Wajah Adry tepat di depan wajahnya, sepertinya sebentar lagi akan terjadi sesuatu. Phoeby bisa merasakan nafas Adry yang hangat, dan tangannya menggenggam erat.
"Jangan jatuh cinta padaku" Ucap Phoeby pelan.
"Aku sudah jatuh cinta padamu, dan aku tidak ingin kau melarangku"
"Tidak, aku mohon jangan jatuh cinta padaku. Pada akhirnya kau hanya akan menyakitiku Adry, semua pria selalu menyakiti wanita, seperti yang dilakukan ayah  padaku dan ibuku"
"Kenapa kau beranggapan seperti itu Phoeby, kau tidak tahu apa arti cinta sesungguhnya, kau barusaja tertawa denganku, aku tahu kau bahagia jika aku berada di dekatmu, iyakan"
Phoeby terdiam.
"Aku tahu kau kesepian selama ini karena selalu sendiri. Aku mohon, beri sedikit ruang untukku" Adry memegang pinggang gadis itu, dan memberikan ciuman lembut pada bibirnya.
Keduanya di kejutkan saat pintu depan yang di buka. Laurent barusaja sampai dan tak sengaja menyaksikan adegan mengejutkan itu di dapur. Tapi Laurent berusaha bersikap tenang kepada mereka, padahal dalam hati ia senang, akhirnya Phoeby yang pemurung bisa jatuh cinta.
"Aku pikir siapa, tidak biasanya ada mobil yang terparkir di depan" Ucap laurent dengan ramah.
"Mom, kau sudah pulang, hemm... ini Adry dia teman kampusku, Adry dia ibuku"
"Adry"
Mereka berjabat tangan.
"laurent. Teman?" laurent bertanya sesuatu.
"Hem ya, kami barusaja berpacaran" ucap Adry.
"Tidak- kami tidak pacaran, Mom, yang barusan itu...-"
"Ah syukurlah, mama tidak menyangka pria setampan ini akan menjadi pacarmu, mama senang mendengarnya"
"Tidak-" Phoeby berusaha mengelak.
"Uh, aroma poutline, apa kau membuat poutline?" Laurent mengalihkan pembicaraan seraya berjalan ke dapur. Dimeja tersaji sepiring besar kentang dengan taburan keju dan tiga sandwich yang cukup mengenyangkan.
"Ya, aku membuatnya dengan Adry, aku sengaja membuatkan tiga sandwich untuk kita"
"Baiklah, malam ini kita akan makan bersama" Laurent dengan antusias membawa makanan itu ke ruang keluarga sambil menyalakan televisi.
***
Hujan deras di luar belum juga berhenti. Hawa dingin yang menyeruak akhirnya membuat Restoran di sekitar Maam Cross menjadi sasaran orang-orang untuk sekedar menunggu hujan reda sambil  meminum coffe.
Sir Charles menyimpan makanannya di atas meja, Shish Taouk dan smoked meat sandwich siap dilahap oleh Inspektur paruh baya itu. Ia mengambil potongan daging dengan garpu lalu menjejalkannya ke dalam mulut.
"Disini sangat ramai sekali, aku hampir kehabisan tempat duduk" Ucap pria asing bertopi bundar dan mengenakan mantel yang sangat tebal. Sir Charles menatap tajam, menurutnya itu sangat tidak sopan seorang yang duduk tanpa dipersilahkan dahulu.
"Aku melihatmu di televisi, sepertinya FBI dan CIA sangat sibuk akhir-akhir ini" Ucap pria asing itu, setelah menyadari bahwa Sir Charles berseragam kepolisian. Sir Charles tak menaggapi, ia hanya tidak suka di ganggu saat makan, apalagi saat dirinya - dan Shish Taouk favoritnya.
"Tapi sepertinya kasus ini sulit untuk dipecahkan,bukan?" kata pria asing itu.
"Jika ingin bicara denganku tunggu sampai aku menyelesaikan makananku" Balas Sir Charles tanpa memandangnya.
Pria asing itu tertawa "Kau terlalu santai dalam menangani kasus ini, tidak kusangka, FBI dan CIA kelabakan hanya dengan satu orang wanita"
Sir Charles menatap wajah pria itu dengan serius.  "Apa maumu?"
"Baiklah, untuk membuatmu jelas" Pria itu menyerahkan identitasnya "Aku anggota kepolisian"
Sir Charles menatap identitas kepolisian itu di meja. Namun identitas itu bukan dari negara Kanada. Sir Charles kembali memandang pria asing itu.
"Aku sedang menjalankan tugas, ah, kau pasti kenal dengan foto ini" Pria asing itu meletakkan sebuah foto di meja.
"Kau pasti kenal dengan orang ini, dan setelah memperlihatkan foto ini kau pasti tahu aku berasal dari kepolisian mana" Kata pria itu mengejutkan Sir Charles, namun Sir Charles tak menunjukkannya. "Dia adalah buronan kami. Pembunuh bayaran yang sangat profesional dalam hal menembak"
Lama, Sir Charles memandang foto itu.
"Dia satu-satunya anak buah Pater Kardinal Rooney dan teman-temannya berjumlah 3 orang. Pater tersangka yang sudah kami bebaskan 15 tahun yang lalu, dia terbukti melakukan pembunuhan dan perampokkan di sebuah bank. Dan untuk melanjutkan kejahatannya dia merekrut gadis ini untuk melakukannya" Jelas pria itu.
"Ayo, kita bekerja sama mencarinya. Amanda Milray"  Lanjut pria itu.
***
Istana kaisar bukan main megahnya, bangunan yang berdiri beberapa hektar itu tampak bersinar di pinggir kota. Istana itu menjadi pusat perhatian banyak orang. Ya, malam ini banyak sekali orang yang berdatangan, para pejabat tinggi dan tokoh ternama mendatangi istana untuk merayakan sebuah pesta yang di adakan oleh Freddy Sanders. Pesta yang diadakan setiap satu tahun sekali tepat di musim dingin. Pesta ulang tahun Freddy Sanders.
"Selamat berulang tahun, Yang Mulia" Seorang pejabat tinggi menjabat tangan Freddy dengan bangga. "Ah, dan Nyonya Sanders" ia juga menjabat istri Freddy.
"Thank you" Ucap Nyonya Sanders ramah. Dia wanita berumur setengah abad, mengenakan gaun yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang masih segar di pandang mata. Dia sangat perfeksionis dalam hal apapun terutama penampilannya, karena hal itulah dia masih saja cantik dan garis-garis keriput di wajah nyaris tak terlihat.
Mereka berbincang selama beberapa menit dan berfoto bersama. Nyonya Sanders memperhatikan anak semata wayangnya yang berdiri di samping jendela, sedari tadi ia seperti menunggu seseorang. Nyonya Sanders mendekat.
"Jangan hanya berdiri saja, kau bisa berdansa dengan gadis cantik yang berada disini" ucap Nyonya Sanders.
"Aku sedang menunggu seseorang, Mom" ucap Adri.
"Dia pacarmu?"
"Entahlah"
Nyonya Sanders tertawa kecil "Apa gadis itu menolakmu?"
"Dia belum merespon apa-apa, aku harap malam ini aku bisa menemukan jawabannya"
"Tidak biasanya ada gadis yang tidak langsung menjawab pernyataan cintamu itu, aku jadi penasaran gadis seperti apa dia, apa dia cantik?"
"Hem, dia tipeku"
"Baiklah, kenalkan dia padaku"
***
Adry menyembunyikan seikat bunga mawar di balik punggungnya. ia menaiki tangga untuk menuju ke lantai tiga. Phoeby, sudah menunggunya disana.
Sampai di lorong yang terang benderang, dan angin semilir dari luar tampak Phoeby sedang memandang ke arah luar, rambutnya sesekali tertiup angin menambah ketertarikan siluetnya. Apalagi lekuk tubuhnya yang indah dengan balutan gaun sifon berwarna putih tanpa lengan, membuat Adry semakin ingin memilikinya.
"Apa kau menunggu lama?" Tanya Adry.
"Tidak, maaf aku datang terlambat"
"Kau pintar bersembunyi, aku menunggumu di bawah, diam-diam kau kesini sendirian ya"
"Aku hanya tidak suka keramaian, dan kalau aku menemuimu di bawah, sepertinya aku akan jadi pusat perhatian"
"Dan kau juga tidak suka diperhatikan banyak orang. Phoeby, banyak sekali yang tak aku ketahui tentang kamu" Ucap Adri. Adry memperhatikan wajah Phoeby yang sedikit bermake up, tidak terlalu tebal namun natural, bibirnya yang kecil mengkilap dengan polesan lip gloss. Phoeby benar-benar cantik malam ini.
Adry menyerahkan seikat bunga mawar merah pada Phoeby. Phoeby menatapnya tanpa ekspresi, tapi lalu dia tersenyum.
"Aku tidak menyangka kau bisa bertindak manis seperti ini. Tapi... aku tidak suka mawar"
"Oh ya? Sayang sekali. Baiklah, jika kau tidak menyukainya aku akan melemparnya keluar"
Phoeby menahan tangan Adry, lalu ia menerima bunganya "Tunggu, aku akan membawanya. Hal yang langka menerima bunga dari seorang detektif"
Tiba-tiba Adry menarik tubuh Phoeby ke dalam pelukannya.
"Mulai malam ini kau adalah milikku, Phoeby"
Phoeby terdiam sejenak.
"Sudah ku bilang, jangan jatuh cinta padaku, Adry-"
Pelukan Adry semakin erat. dan membelai rambutnya dengan sayang.
"Aku tidak akan menyakitimu Phoeby, dan aku akan melindungimu. Percayalah"
"Janji?"
"AKu berjanji"
"Aku belum bisa memberimu jawaban, aku butuh beberapa menit untuk memikirkannya"
Adry melepas pelukannya. "Baiklah. Aku mau mengambil minuman dulu"
"Ya"
Adry meninggalkan Phoeby di lorong, ia pun pergi ke lantai dasar untuk mengambil dua gelas minuman. Tak di sangka, Sir Charles dan pria tak di kenalinya datang. Mereka mengenakan stelan jas yang sangat rapi seperti tamu yang lain, dan itu sangat membuat Adry terkejut.
"Sir, kau datang juga?" Tanya Adry.
"Adry, aku sama sekali tidak ingin merusak acara ini. Tapi... ini demi kebaikan kita semua, aku sengaja datang kesini tanpa seragam kepolisian agar dia tidak mengetahui bahwa CIA ada disini"
"Maksudmu dia?"
"Aku sudah menemukan si pembunuh misterius itu, dia ada disini, oh kenalkan dia Sir Philips, partner baruku untuk membantu penyelidikan ini"
"Tunggu, maksudmu apa, dia ada disini, siapa?"
"Amanda Milray"
Adry tertegun.
"Kau juga mengenalnya dengan baik, Amanda Milray, ah, bukan, dia Phoeby. Ya, Phoeby adalah Amanda Milray"
Adry tertawa "Tidak jangan bercanda, malam ini aku dengan PHoeby sedang berkencan, jangan membawa-bawa Phoeby dalam penyelidikkan"
"Kau terlalu percaya padanya, aku membawa kepolisian dari Swiss, bukankah Phoeby dari Swiss, benarkan? Dia mencari gadis itu, dia adalah buronan"
"Tidak-"
"Katakan dimana dia?"
Adry, Sir Charles dan Philips menuju balkon lantai tiga. Saat sampai langkah mereka seketika berhenti. Dihadapan mereka, Phoeby dengan refleks menodongkan pistol ke arah mereka, bersamaan dengan Sir Charles juga menodongkan pistol padanya.
"Phoeby" Kata Adry pelan, ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Phoeby menurunkan ponsel dari telinganya. Sepertinya seseorang sudah memberitahu Phoeby bahwa Sir pHilips sedang mencarinya. Ya, Laurent memberitahunya. Setelah Phoeby pergi ke pesta Sir Charles datang menanyakan Phoeby. Laurent pun di tahan di kepolisian diam-diam ia menelpon Phoeby dengan ponsel yang ia sembunyikan. Saat itulah Phoeby mengerti keadaan, ia akan bertemu Sir Philips malam ini.
"Sir Philips. Benar?" Tanya Phoeby tenang, namun terdengar angkuh.
"Senang bertemu denganmu, Miss Milray" Balas Sir Philips.
Phoeby mendesah sinis. "Aku terkejut kau bisa sampai kesini,"
"Tentu saja, aku membawakan berita baik untukmu. Besok lusa, Pater akan di eksekusi"
"Apa?"
"Apa lagi yang akan kau perbuat? Atasanmu akan mati, akan lebih bagus kau juga menyerahkan diri pada kepolisian, jangan menghancurkan keamanan negara ini, Milray"
"Phoeby, katakan, ini tidak serius kan, kau bukan Amanda Milray"
"Jangan berkata polos seperti itu, detektif. Aku memang Amanda Milray, aku yang membunuh polisi palsu di bangunan terisolasi ,labirin, dan yotsuba. Itu aku. AKu memaklumi keterlambatanmu menyelidiki Amanda Milray, karna kau sama sekali bukan anggota CIA. Kau sudah mengetahuinya sekarang, yang jelas aku sudah melarangmu untuk jatuh cinta padaku, Adry Russel Sanders"
Entah kenapa, meskipun itu Phoeby tapi Adry tak mengenal nada suara seperti itu. Itu kebalikan dari sikap Phoeby yang lembut dan dingin. Sekarang dihadapannya bukan Phoeby lagi, tapi Amanda Milray, gadis pembunuh yang selama ini ia cari.
Phoeby menarik pelatuk tanpa ragu dan siap menembak mereka.
"Sir, turunkan senjatamu" Pinta Philips pada Sir Charles. Sir Charles terkejut dengan permintaan Philips itu.
"Dia penembak profesional, dia bisa menembak dari sembarang arah dan selalu tepat sasaran"
"Tidak mungkin, wanita seperti dia bisa melakukan hal yang tak bisa dilakukan oleh FBI" Balas Sir Charles pelan, ia pun menurunkan senjatanya.
Sir Philips mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
"Ayo lakukan" Ucap Sir Philips agar keduanya mengangkat tangan juga, Sir Charles menurutinya, namun Adry masih tak percaya dan keras kepala.
"Phoeby-"
"Berbalik" Ucap Phoeby.
"Dia gadis berbahaya, ikuti saja kata-katanya" Ucap Philips, yang seakan tak bisa berbuat apa-apa menghadapi gadis ini.
Ketiganya berbalik membelakangi Phoeby, sementara itu Phoeby menurunkan senjatanya. Sampai beberapa detik, tak terdengar suara dari belakang mereka. Saat mencoba berbalik  ke arah Phoeby, dia sudah tidak ada disana lagi. Meninggalkan bunga mawar dan hand bagnya.
Sir Charles menuju jendela dan memandang ke arah luar. Tidak ada Phoeby disana.
"Menghilang"
Adry melesat menuruni tangga, diikuti Philips dan Sir Charles, tentu saja, untuk mencari Phoeby.
Mereka bertiga menyebar keseluruh ruangan dasar, untuk berjaga-jaga bahwa Phoeby tak melakukan pembunuhan disini. Adry keluar dari istana memandang ke sekeliling taman, tidak ada tanda-tanda Phoeby disana. Beberapa orang penjaga pun terlihat aman mengawasi lingkungan.
"Apa kau melihat gadis mengenakan baju putih yang keluar dari istana?" Tanya Adry ke seorang penjaga keamanan istana.
"Kami belum melihat tamu manapun yang keluar dari istana, Tuan muda"
Ia pun mencari ke tempat lain disamping istana. Tidak ada Phoeby disana. Tak lama datang Sir Charles dan Philips.
"Kau menemukannya?" Tanya Philips.
"Dia kabur dengan sempurna" Jawabnya.
"Gadis itu benar-benar diluar logika. Bagaimana bisa dia melakukannya tanpa ada jejak" Ucap SIr Charles.
"Ya, ini salah satu alasan kenapa kepolisian Swiss tak pernah berhasil menangkapnya, gadis itu seperti tikus yang pintar menyelinap dan bersembunyi" Kata Philips
"Dia belum lama pergi dari sini, ayo kita lanjutkan pencarian keluar istana"
"Aku ikut" Ucap Adry.
"Tidak, kau harus tetap berada di istana, gadis itu bisa berada dimana saja, jaga saja ayahmu" Ucap Sir Charles.
AKhirnya kedua polisi itu pergi dari istana dengan mobilnya.
***
Pagi itu, Adri memandang seikat bunga mawar dan hand bag di meja. Melihat kedua benda itu membuat hatinya terasa sakit, apalagi mengingat tadi malam Phoeby yang terlihat polos tiba-tiba menodongkan pistol ke arahnya. Meski perasaannya hancur, tapi Adry tetap konsisten menjalankan tugasnya, tentu saja, untuk memenuhi janji pada ayahnya, menemukan dan mengeksekusi gadis itu.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Nomor tak di kenal menghubunginya.
"Ya?" Ucap Adry.
Mengetahui isi pembicaraan seseorang di seberang Adry langsung mengambil kunci mobil dan pergi meninggalkan istana, ia juga menghubungi Sir Charles.
"Dia berada di Street Petroch Loomouth"
***
Phoeby memandang Nenek Lucy yang meletakkan kembali telepon rumahnya. Nenek Lucy baru saja memberitahu seseorang keberadaan dirinya di St. Petroch Loomouth.
"Nenek, kau baru saja menelpon polisi, apa yang kau lakukan?" Tanya Phoeby.
Nenek Lucy kaget lalu berbalik. Ia memegang bahu gadis itu.
"Seseorang ingin menemuimu, dia pria yang sangat baik dan tampan, kau pasti menyukainya, pria itu juga menanyakan keberadaanmu. Aku akan mempertemukan kalian berdua, kalian akan saling jatuh cinta"

Hotel Rose Melfort adalah hotel yang paling sunyi di St. Mount Cambridge. Hotel megah yang bersembunyi di balik semak tinggi yang membentuk dinding, namun semak-semak itu di potong rapi seperti sengaja menyembunyikan hotel itu. Berseberangan dengan hotel yang terhalang oleh semak terdapat taman labirin yang luas, taman itu di setting sedemikian rupa membentuk sebuah bangunan tertutup.
Sementara di depan pintu masuk labirin, beberapa orang wanita menunggu pintu masuk labirin itu di buka. Ini permainan labirin berhantu, sebuah permainan yang di adakan oleh Adry Russel Sanders, seorang anak kaisar terkemuka di Kanada. Sebut saja ini permainan isengnya untuk menguji nyali para wanita yang berebut untuk berkencan dengannya malam ini.
Seorang wanita aneh menempati labirin nomor sepuluh setelah mengambil nomor dari seorang pria yang duduk di meja sebagai pembimbing mereka.
Wanita itu... datang paling terakhir yang membuat para wanita lain kesal, karena keterlambatannya membuat permainan ini semakin di undur.
 "Heu, kostum macam apa itu" Ucap wanita yang berada di sampingnya, sementara si lawan bicara tak menanggapi apapun, padahal ia sendiri merasa tak percaya diri dengan kostumnya. Tidak, ini bukan kostum, tapi pakaian biasa yang sudah ketinggalan zaman. Baju casual yang longgar, dengan rok berbahan katun yang panjangnya di bawah lutut dan kaki yang di balut sepatu kulit berwarna coklat tua, satu lagi, ia membawa tas selempang yang terlihat usang. Jelas kontras sekali dengan para wanita lain. Mereka mengenakan baju dan sepatu yang bermerk dan terlihat elegan, dan wajah bermake up seakan mereka telah siap membuka pintu di hadapannya untuk bertemu sang pangeran dari anak kaisar.
Gadis yang dikatai barusan hanya mendesah senyum, jelas itu bukan pintu untuk menemukan sang pangeran, itu adalah pintu mengerikan yang di dalamnya berupa labirin berhantu. Mereka akan terjebak di dalam sana dalam waktu 15 menit, sementara mereka harus menemukan jalan keluar sambil di ganggu para hantu labirin. Siapa yang berhasil keluar, maka ia mendapat kesempatan  berkencan semalam dengan pria tampan dari anak tunggal seorang Kaisar dan uang $10 dollar.
5 detik lagi pintu akan di buka. Gadis itu mehembus nafas panjang, pintu otomatis menggeser, para wanita itu masuk dengan percaya diri.
Gadis aneh itu sempat memperhatikan pintu masuk tadi, di desain seperti tembok labirin berwarna krem, sehingga tidak ada yang tahu bahwa itu pintu masuk atau bukan. baiklah, sekarang ia berada di tengah labirin yang mengarah ke kiri dan kanan. Tiba-tiba lampu mati, tak sampai 5 detik ia mendengar jeritan dari labirin sebelah kiri, itu pasti wanita yang mengatainya tadi.
"Kau boleh menjerit saat melihat hantu, heu, labirin berhantu pasti gelap, seharusnya kau tahu itu" Gumam gadis itu pelan, sambil berjalan ke arah kanan labirin.
Gadis itu berjalan perlahan sambil memperhatikan hantu-hantu yang mengganggunya yang telah di setting di dinding labirin, - hanya memperhatikan, bahwa hantu itu bukan hantu yang dimainkan manusia sungguhan, tetapi mesin. Ia merasa telah aman, meski begitu ia harus berhati-hati untuk melewati labirin selanjutnya ia tidak ingin terlambat dalam waktu 15 menit karena tersesat di labirin.
Sampai dilabairin terakhir, pintu yang bertuliskan "You are the winning"  terpampang dengan tulisan semerah darah. Gadis itu mendorong gagang pintu. Ia telah berada di luar labirin yang berupa taman kecil tepat di hadapan bangunan bertingkat 5. Bangunan itu bersinar karena ribuan lampu yang menyala di mana-mana.
Lalu ia menemukan sepucuk amplop merah  yang tergeletak di tanah. Ia memungutnya dan membuka isinya.
Aku menunggumu, permaisuriku. Adry.
gadis itu kembali meletakkan amplop itu seperti semula. tentu saja, ia tidak akan menemui pria itu. ia punya tujuan sendiri. Ia pun bersembunyi di balik pohon yang berada di pinggir labirin, ia segera membuka tas dan mengambil pistol. Kepalanya menyembul dari balik pohon. Dari kejauhan ia cukup melihat dengan baik dua orang pria dengan stelan jas sedang berbbincang di balkon lantai tiga. Pria paruh baya sang kaisar, dan seorang menteri baru yang berbahaya.
Gadis itu adalah seorang penembak profesional, ia hanya mengarahkan pistol itu ke arah pria yang menjadi targetnya. Ia siap menarik pelatuknya, sebuah peluru pun menembus jantung pria itu. Pria yang menjadi menteri baru dalam kekaisaran. Tampak pria itu jatuh tergeletak, sementara sang kaisar tterlihat sangat panik.
Gadis itu kembali memasukkan pistolnya ke dalam tas. Ia kembali ke dalam labirin, dan berpura-pura menjadi gadis malang yang terjebak didalamnya.

***
Phoeby menyetop taksi di hadapannya. Ia masuk ke dalam dan taksi itu lalu melaju sedang.  Saat berada di jalan tol sepi, taksi itu berhenti. Phoeby tahu alasan si sopir memberhentikan taksinya. 10 meter dari arah taksinya, 3 orang FBI  sedang menghajar seorang pria paruh baya yang sepertinya pemilik mobil sedan Yurke yang juga berhenti disitu.
Phoeby mengarahkan handycame ke arah mereka dan mereka kegiatan mereka di jalan tol. seorang polisi berambut pirang tanpa ragu menembak kepala si pria paruh baya itu hingga mati.
"Oh God" Gumam Phoeby. Ketiga polisi itu merampok harta benda pemilik mobil sedan Yurke. Tiba-tiba salah seorang polisi di antara mereka melihat ke arah taksi, Phoeby terkejut, ia langsung menyembunyikan handycamenya ke dalam tas. Dengan kasar polisi itu membuka pintu taksi dan menarik pengemudi. bersamaan dengan polisi yang kedua menarik Phoeby keluar dari kemudi.
"Orang-orang sialan!" Ucap polisi berambut pirang seraya menahan sopir taksi untuk membelakangi dan menahan kedua tangannya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Phoeby dengan panik.
"Tidak ada cara lain selain membunuhnya" Si pirang membunuh si sopir taksi.
"Nooo...!!!" Phoeby menjerit. Ia menangis histeris. "Apa yang kau lakukan, kau kan seorang polisi, kau bisa dihukum karena telah melakukan ini!"
"Berisik!" Polisi itu memukul kepala Phoeby dengan pistol hingga ia jatuh pingsan dengan kening yang mengeluarkan darah segar.
***
Phoeby membuka matanya perlahan-lahan, sekarang tangan dan kakinya diikat dan didudukan di kursi kayu, mulutnya di bekap dengan kain tali. ia berada di sebuah ruangan asing yang tampak ramai dengan beberapa orang lelaki dan perempuan sedang minum-minum. tiga di antara mereka adalah tiga polisi yang telah membunuh dua orang tak bersalah tadi siang. ternyata mereka hanya polisi gadungan yang memanfaatkan seragam FBI untuk merampok.
Phoeby mencoba berontak dari kursi itu.
"Hei, Nona, kau sudah sadar rupanya" Ucap si pirang yang tampaknya menjadi pemimpin diantara mereka.
"Mau bergabung dengan kami?" Tawar si pria berkulit coklat.
Phoeby berteriak dengan mulut di bekap, seakan meminta untuk melepaskan ikatannya. Si pirang mendekat dan mendekatkan wajahnya pada Phoeby.
"Aku menggeledah tasmu, di dalam ada handycame namun aku tidak menemukan chip di dalamnya, katakan, kau merekam kami siang itu dan kau menyembunyikannya?"
Phoeby terdiam.
"Bodoh, bagaimana bisa dia menjawab sementara mulutnya di bekap begitu" Ucap si perempuan.
Si pirang membuka kain yang membekap mulut Phoeby.
"Jawab"
"Camera itu memang tidak ada chipnya"
"Pembohong!"bentak si pirang
"Benar, aku sama sekali tidak merekamnya, dan tidak ada chip di dalamnya, percayalah"
"Dan bagaimana aku bisa percaya padamu, bahwa kau tidak akan melapor pada polisi setelah kubebaskan dirimu. Kalau kau macam-macam aku bisa membunuhmu kapan pun"
"Aku tidak akan macam-macam, lagipula aku tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan kalian, banyak yang harus kulakukan untuk masa depanku, tolong jangan bunuh aku" Phoeby meminta dengan panik.
"Bagus, gadis pintar" Pria itu mengacak rambut Phoeby dengan pelan "Kalau begitu kau bisa bebas tepat pukul 12 malam, selama kau pingsan aku telah menelpon ibumu untuk membawa uang sepuluh juta dollar"
Phoeby terkejut. Jadi ini pemerasan untuk mendapatkan uang.
Tengah malam, lima belas menit lagi ibunya akan datang menjemputnya dengan membawa sejumlah uang. Ketujuh orang penjahat itu masih teler di sofa sementara Si Pirang tampak berenergi menunggu nominal uang satu juga dollar.
***
"Jangan panik nyonya Laurent, aku yakin mereka tidak akan berani macam-macam selama mereka percaya bahwa kau membawa uangnya" Seorang polisi FBI bernama Daniel menenangkan laurent, Ibunya Phoeby.
"tetap saja, aku banar-benar panik sejak tadi siang"
Sampai di tempat tujuan, para polisi itu keluar dari mobil dan menyelinap ke seluruh bangunan. Laurent mengambil ponsel dan menghubungi nomor Phoeby, ia bisa mendengar suara di seberang sana, tanpa pikir panjang laurent segera berlari ke dalam bangunan itu dan menuju lantai dua dimana Phoeby berada. Ia langsung membuka ruangan itu.
"Nyonya Laurent, jangan gegabah!" Ucap Daniel, dengan sigap ia langsung menodongkan pistol saat masuk ke dalam ruangan. Namun apa yang sedang dia lihat, ia tak mampu berkata apa-apa, lidahnya kelu untuk berkata.
Ketujuh orang penjahat itu tergeletak di lantai dengan bersimbah darah, sepertinya seseorang telah membunuh mereka semua. Daniel melihat Laurent sedang berusaha membuka tali yang mengikat Phoeby di kursi dan membuka ikatan penutup matanya.
"Mom" Phoeby lega ibunya telah datang.
"Phoeby, sayang" Laurent memeluknya dengan erat hingga mereka jatuh terduduk di lantai "kau tidak apa-apa? Keningmu terluka" Ucap Laurent dengan cemas.
"AKu tidak apa-apa"
"Apa yang terjadi? Seseorang membunuh mereka semua, Phoeby, kau akan di interogasi"
"Apa maksudmu, Daniel. Tangan dan kaki Phoeby diikat, apa kau mencurigainya membunuh para penjahat itu hah!" Bentak laurent.
"Tidak, begini, aku tidak menuduh Phoeby sebagai pembunuh, tapi setidaknya dia lah petunjuk dari semua ini, seseorang membunuh mereka, dan hanya Phoeby yang selamat"
"Heh, jika kau sampai memberatkan anakku aku yang akan menuntutmu Mr. Daniel" Ancam Mrs. Laurent.
***
Phoeby di ruang interogasi bersama seorang polisi. gadis itu tampak tenang menjawab pertanyaan yang dilontarkan polisi. Sementara Mrs. laurent menyaksikan percakapan itu tanpa mendengar suaranya, karena ruangan itu terhalang oleh kaca anti peluru.
"Jadi kau menyaksikan pembunuhan FBI gadungan itu dan setelah itu kau pingsan"
"Ya, dan setelah sadar aku sudah di bekap, tangan dan kakiku sulit digerakkan karena diikat"
"Apa yang kau lihat di ruangan itu?"
"Hanya sebuah ruangan kecil, terlihat ruangan santai, mereka mabuk dihadapanku sampai malam"
"Bukankah kau tidak bisa melihat mereka karena kedua matamu di tutup?"
"Ya, tepat pada pukul 10 pria berambut pirang menutup kedua mataku dengan kain, katanya aku tidak boleh melihat karena mereka akan melakukan sex dengan wanita itu. Dan pada saat itu aku tertidur, aku terbangun saat mendengar suara tembakkan dan sangat berisik, wanita itu menjerit, lalu aku mendengar pecahan gelas jatuh atau apapun itu, aku pikir itu polisi yang datang untuk membekuk, tapi setelah itu aku tak mendengar apa-apa lagi, semuanya hening, hingga sekitar limat belas menit kemudian ibuku datang dan melepas kain penutup mata dan ikatanku"
"Apa kau mendengar ada orang lain baru yang masuk menghajar para penjahat itu"
"Aku tidak tahu, tidak ada tanda-tanda ada orang asing masuk. Aku berasumsi salah seorang di antara mereka menghajar temannya sendiri dan dia bunuh diri"
"Mengapa kau berasumsi seperti itu?"
"Ya, karna aku pikir... jika ada orang asing masuk mengapa dia tidak membunuhku juga, lagipula tidak mungkin tiba-tiba ada superhero menghajar penjahat tanpa memperlihatkan batang hidungnya padaku dan melepaskan ikatanku , dan tempat itu sangat terisolasi, berada di tengah hutan, tidak banyak orang yang tahu tempat itu, aku pikir"
Mr. Despard manggut-manggut seakan bisa menyimpulkan jawaban dari Phoeby.
"Kau bersih"
"jadi.. bagaimana kesimpulannya?"
"Asumsimu menurutku tidak masuk akal, salah satu dari mereka membunuh teman sendiri dan dia sendiri bunuh diri, sementara itu mereka menunggu ibumu membawa uang. Seharusnya ada motif yang membuat dia membunuh dan bunuh diri. Menurutku ada orang asing yang masuk dan membunuh para penjahat itu, jelas motifnya untuk menghukum para penjahat"
"Begitu,ya"
Mr. Despard memberi isyarat jempol kepada polisi yang menunggu mereka diluar, Laurent sendiri merasa lega karena Phoeby bisa melewati interogasi itu. Dua orang polisi masuk ke dalam ruang interogasi dan diikuti laurent. Ia memeluk putrinya dengan sayang.
"Syukurlah"
"Rasanya kasus ini biarkan saja, tidak ada petunjuk-petunjuk yang jelas dari kasus ini, Phoeby memang tidak tahu apa-apa soal pembunuhan penjahat itu. Jika kita menyelidikanya lebih lanjut rasanya hanya membuang-buang waktu saja" Ucap Mr. Despard.
"Pintar sekali pembunuh itu, tidak meninggalkan jejak dan sidik jari sedikit pun, aku rasa dia memang sudah berprofesional membunuh" Kata Mr. Daniel.
"Pembunuh membunuh pembunuh, aku tidak menemukan motif superhero membunuh penjahat itu, jika ia memang samasama sama penjahat seharusnya ia melindungi penjahat itu, bukan membunuhnya" Tambah Mr.Despard
"Jika ada kejadian yang sama kita pasti sedikit menemukan petunjuk" Ucap Mr.Despard.
"Ada. Kau lupa, kita masih mengurus kasus dua minggu yang lalu, pembunuhan menteri itu sangat misterius" Ucap Mr. Despard.
"Ya, kita harus memeriksa sepuluh wanita kandidat yang mengikuti permainan labirin berhantu itu"
"Baiklah, Mrs. Laurent, dan putrinya yang sangat cantik, maaf telah mengganggu waktu kalian, jika ada apa-apa, kalian bisa hubungi kami lagi"
"Baik, terimakasih" Kata laurent.
"Ya, semoga beruntung"
***
Pembunuhan misterius yang menimpa menteri raja kini banyak diperbincangkan netizen. pelaku pembunuhan masih dalam penyelelidikan, karena si pelaku tidak meninggalkan jejak sedikit pun di tempat itu. Namun kini polisi berasumsi bahwa si pelaku membunuh dari arah taman labirin, itu sudah di pastikan karena tempat itu di luar gerbang hotel sementara bagian dalam sudah di jaga ketat oleh polisi. Sasaran utama penyeledikkan polisi disibukkan dengan mencari sepuluh wanita kandidat yang mengikuti permainan labirin berhantu itu, sudah dipastikan pembunuhnya pasti ada di antara mereka.
"Pintu labirin nomor satu oleh wanita karir disebuah perusahaan, pintu nomor dua oleh seorang model, pintu ketiga oleh seorang dokter hewan, pintu nomor empat oleh seorang pemain teater..." Mr. Despard menyebutkan daftar nama yang mengikuti permainan labirin berhantu, sementara pria tampan sedang menyalin data nama-nama itu ke sebuah komputer.
"Dan yang terakhir... seorang mahasiswi dari universitas Stoland"
"Mahasiswi, heuh, patut dicurigai, gadis itu pasti pengecualian dari 9 gadis lain"
"Ya, dia satu-satunya mahasiswi. Justru aku tidak yakin bahwa dia pelakunya" kata Mr. Despard.
"Aku sendiri yang akan menyelidikinya" ucap Adry
"Baiklah-baiklah, jangan libatkan kasus ini dalam kehidupanmu, kau ini bukan anggota FBI apalagi CIA, pulanglah, Nak, kerjakan tugas-tugas kampusmu, atau kau mandi air hangat dengan bunga-bunga mawar yang disiapkan oleh para pelayanmu, jika kau terlibat dalam urusan ini dan kau terjadi apa-apa, mau tidak mau aku harus siap di eksekusi ayahmu" Ucap Despard sambil menepuk bahu Adry.
Adri beranjak dari kursinya dan mengenakan jaket kulit yang teronggok di meja "Aku memang tidak berminat  menjadi detektif, tapi memecahkan kasus yang misterius cukup menarik perhatianku, itu seperti sebuah puzzle yang harus disusun untuk menemukan jawaban, selain itu aku juga harus bertanggung jawab atas kasus ini, gara-gara permainan labirin itu semua menjadi rumit,"
Adry yang merasa bersalah ikut turun tangan dalam menyelesaikan kasus ini, dirinyalah yang diincar sepuluh gadis dalam permainan labirin berhantu itu. Dan ia yakin ada salah satu dari mereka yang lolos dari labirin itu, namun dia hanya berdiri di luar labirin, dan melakukan pembunuhan tersembunyi.
Adry merogoh ponselnya di saku.
"Edmun, polisi bilang kau sempat memeriksa tas mahasiswi itu, apa benar? - Temui aku di cafetaria biasa"
***
"Mahasiswi itu muncul paling terakhir, aku lihat wajahnya sangat pucat dan berkeringat. Dia bilang dia tersesat di dalam dan bingung mencari jalan keluar"
"Keluar paling terakhir bagiku mencurigakan, itu bisa kujadikan daftar bukti, lalu?"
"Ya, dia tampak kelelahan seperti yang lainnya, dia juga sempat berisrirahat sebentar sambil bersandar di bawah pohon"
"Yang kau lihat saat itu?"
"Aku tidak terlalu memerhatikan si mahasiswi, keadaan sangat kacau waktu itu, bahkan si wanita nomor sembilan  menangis histeris karena ada sesuatu yang membuatnya trauma saat berada di dalam. Tapi aku teratarik dengan si nomor tujuh, saat keluar dari labirin dia terlihat begitu tenang, tetapi dia sempat berkata padaku, bahwa permainan ini sangat menjijikan, setelah itu dia pergi mengendarai mobilnya"
Adry manggut-manggut, aneh dengan wanita nomor tujuh disaat semua kandidat panik dan ketakutan dia malah tenang, dan pergi begitu saja. Meski patut dicurigai tapi ia bukan objek penyelidikannya.
"Kau bilang di menenteng tas?"Tanya Adry
"Iya, tas selempang yang usang. Ah, aku lupa, mahasiswi itu cantik, tapi penampilannya benar-benar kuno, menurutku dia tidak pantas bertemu denganmu"
"Ya, atau dia memang tidak bermaksud untuk bertemu denganku, pasti ada tujuan lain" Adri mendapat daftar bukti kedua.
"Tapi dia bilang dia menyukaimu, dia akan berjuang agar memenangkan permainan ini dan kencan denganmu. Dia juga terlihat polos seperti mahasiswi biasa yang hanya punya urusan di kampus"
"Apa kau memeriksa tasnya?"
"Ya sebelum masuk aku sempat memeriksa barang-barang seluruh kandidat, kebanyakan dari mereka menyimpan tasnya di mobil, tapi mahasiswi itu pengecualian, di dalamnya hanya ada buku kecil seperti buku diary, buku catatan, pulpen, dan kotak perhiasan dan kotak make up"
"Kau membuka kotak perhiasannya?"
"Tidak, justru dia sendiri yang membukanya, saat ku tanya identitasnya dia sempat bercerita bahwa hari ini adalah ulangtahun ibunya, dia membelikan perhiasan itu untuknya, jujur saja dia antusias menceritakan hal itu, makanya dia tidak ingin menyimpan tasnya dan tetap membawanya ke dalam"
"Bagaimana bentuk kotak perhiasan itu?"
"Aku lupa, mungkin sekitar lima belas senti, sesuai dengan panjang perhiasan itu"
"Seharusnya kau minta untuk membuka kotak make upnya juga"
"Aku tidak bisa berbuat sejauh itu, aku pasti dianggap tidak sopan karena menuduh yang tidak-tidak sampai menggeledah kotak make upnya" Ucap Edmun.
***
Phoeby menghempaskan lembaran berkas bertuliskan Universitas Princeton di hadapan Laurent.
"Mom, kau benar-benar mendaftarkanku kesana ya?" Tanya Phoeby.
"Ya, tentu saja, jarak limakilo meter dari rumah itu membuatmu lebih mudah""
"Maksudku bukan itu, Mom, disana penghuninya jenius semua, lagipula itu kumpulan orang-orang populer se Kanada, tidak, aku tidak bisa"
"Lalu apa masalahmu?"
"Aku sulit menyesuaikan diri"
"Kau hanya perlu percaya diri sayang, percayalah, kau bisa"
Ini adalah hari pertama bagi Phoeby masuk ke universitas baru, tepatnya dia adalah mahasiswa pindahan dari swiss, dan baru seminggu tinggal di Crow's Nest bangunan sederhana, kokoh, putih, dengan ukuran menyesatkan karena jauh lebih besar dari yang kelihatan.
Phoeby sama sekali tidak menginginkan untuk pindah ke Kanada, suhu udara di musim dingin cukup menyiksa dirinya seakan sumsum tulang ikut membeku. Sebenarnya hari ini ia berencana tidak ikut kuliah dulu, karena ingin menikmati secangkir vanilla latte untuk sekedar menghangatkan tubuhnya di sofa empuk kamarnya.
Keinginan untuk memanjakan diri dimusim dingin hilang begitu saja, sekarang ia berada di kursi kemudi bersama Laurent menuju Universitas Princeton, yang tidak terlalu jauh dari jarak rumahnya.
Laurent berulang kali memandang wajah putrinya itu yang tampak lesu. Wajah ovalnya dengan dagunya yang panjang bertopang pada jendela yang tertutup, kedua matanya ke arah jalan, melihat segala sesuatu yang dilewati mobil itu. Hanya rumput berembun dengan kabut tipis yang sama sekali tak menyegarkan mata.
Laurent memarkirkan mobilnya tepat di depan  tangga yang begitu luas menuju bangunan universitas princeton. Tepat di dekatnya seorang wanita berambut pirang yang masih muda menunggu kedatangan Laurent.
"Ayo turun sayang"  Ucap Laurent.
Laurent berjabat tangan dengan wanita berambut pirang itu., lalu sedikit berbasa-basi membuka obrolan mereka. Phoeby yang menyusul membaca name tag yang menempel di baju wanita itu. Miss Sutcliffe.
"Hmm... ya, ini dia" Mrs. Laurent memperkenalkan Phoeby pada Miss Sutcliffe yang langsung memberikan senyuman ramah ke arahnya. Sementara Phoeby bermuka datar dan menunduk.
"Selamat datang di Universitas Princeton, semoga kau nyaman berada disini" Ucap Miss Sutcliffe.
Phoeby mendesah senyum tipis.
Karena sikap Phoeby yang dingin itu merubah suasana menjadi sedikit canggung, Mrs. laurent pun mengajak Miss Sutcliffe untuk sedikit menjauh darinya.
"Dia butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri, dia sedikit anti sosial dan tipe penyendiri" Bisik Mrs. Laurent.
Miss Sutcliffe mengerti dengan keadaan gadis itu, ia mengetahuinya karena Mrs. Laurent menceritakan tentang bagaimana keluarganya. Phoeby anak satu-satunya Mrs. Laurent, ia gadis yang antisosial dan sering menyendiri, itu karena Phoeby sering hidup dibawah tekanan keluarganya yang selalu bertengkar. Hubungan Mrs. Laurent dengan suaminya memang tidak bisa dikatakan baik, rumah tangga mereka hancur berantakkan karena ayah dari gadis itu seorang penjudi dan pemabuk. Dan hal ini menjadi sebuah alasan kenapa mereka sekarang berada di Kanada, kepindahan mereka adalah hal yang terbaik menurut Laurent agar tak lagi berurusan dengan mantan suaminya. Itu info yang di dapatkan Miss Sutclife.
"Aku akan berusaha membimbingnya, lagipula dia cukup manis, aku rasa orang-orang akan menyukainya" Ucap Miss Sutclife sedikit meghibur Laurent.
"Ya, semoga saja"
Tidak sampai lima menit mereka berbincang, laurent akhirnya pamit pergi.
"Telpon aku jika kau sudah pulang" Kata Laurent.
"Hem" Balas Phoeby.
***
"Aku dosen filsafat, jam ketiga aku akan berada di kelasmu, ayo akan kutunjukan kelasmu di lantai tiga, aku yakin kau akan kerasan disana" Kata Miss Sutcliffe diikuti langkah Phoeby di belakangnya.
 ***
Sir Charles yang gagah memasuki sebuah labirin berhantu untuk menemukan petunjuk. Labirin ini cukup menakutkan menurutnya, ini di desain seperti terowongan berhantu dan cocok di jadikan lokasi shooting film horor. Tidak aneh banyak wanita yang menjerit histeris saat memasukinya. Namun hantu properti yang tersimpan disana begitu sempurna dengan mesin penggerak otomatis yang bakalan sukses membuat pengunjung trauma.
Pria dengan rambut beruban itu mengambil sebuah benda yang tertempel di dalam  perut boneka zombie, itu semacam baut yang tak menempel sempurna untuk sekedar menempelkan sesuatu di dalam boneka itu.
Sir Charles melanjutkan langkahnya untuk menemukan pintu keluar, labirin itu memiliki belokan yang memusingkan,  ia sempat kembali ke tempat asal karena tak menemukan jalan keluar. Namun pada akhirnya Sir Charles menemukan pintu keluar berwarna coklat tua bertuliskan "You are the winning" dengan tulisan merah darah.
Pintu itu ia buka dan sampai di taman tepat di depan hotel Rose Melfort, taman yang cukup luas namun beranda hotel terhalang rumput tinggi yang di potong rapi membentuk seperti tembok  pembatas.
Sir Charles menoleh ke arah kanan, ada pohon akasia yang tingginya sekitar lima meter. Pandangan Sir Charles kini bergantian pada pintu keluar, dan pintu itu berada di posisi akhir, artinya pintu sepuluh. Ia mencoba menempatkan diri sebagai pelaku pembunuh setelah keluar dari pintu ia melangkah ke arah pohon dan menyembunyikan tubuhnya.
Ia mengarahkan pandangan ke arah lantai tiga hotel Rose Melfort, tepat pada posisi dimana Menteri itu sedang berbincang dengan Kaisar. Ia menyadari sesuatu, pohon ini cukup untuk menyembunyikan tubuh seseorang.
Tiba-tiba ia merasa telah menginjak sesuatu. Selembar kertas. Sir Charles memungutnya, ia tak khawatir meninggalkan sidik jari di kertas itu karena menggunakan sarung tangan, dan membaca isinya.
 Aku menunggumu, permaisuriku. Adry.
***
"Heii, apa kabar bung, kau meninggalkan beberapa mata kuliah akhir-akhir ini, apa sekarang kau jadi detektif betulan?" Edgar merangkul sahabat karibnya, Adry, saat ia sedang berjalan sendirian di koridor.
"Berisik, jika kau mengatakan detektif dengan suara keras itu bukan detektif namanya, bodoh"
Edgar tertawa renyah. Ia satu-satunya orang yang tahu bahwa Adry terlibat dalam kegiatan detektif. Ya, meski bukan anggota CIA, Adry cukup bisa di andalkan dan pintar dalam urusan penyelidikan.
"Ahh selain itu hari ini kelas kita kedatangan mahasiswi baru dari Swiss, kau hari ini  kau datang terlambat, cepat-cepatlah mengajaknya kenalan, dari fisiknya dia tipemu, tapi sayang-"
"Apa?" Tanya Adry.
"Dia suram sekali"
"Kalau begitu dia bukan tipeku"
Sampai di dalam kelas, Edgar mencari sosok Phoeby si mahasiswi pindahan itu. Dia tidak ada di bangkunya, padahal lima menit lagi jam ke empat akan dimulai.
"Hai Dri" Seorang wanita cantik menyapa Adry, namun yang disapa tak begitu tertarik dan malas membalas sapaannya. Tapi Olivia Manders, wanita primadona yang menjadi dambaan setiap pria. siapa yang tak kenal dia. Wanita yang tingginya semampai dengan rambut pirang keemasan dan mata bulat kecoklatan mampu melumpuhkan hati pria mana pun dengan penampilannya.
Tapi bagi Adry tak ada yang menarik dari sosok Olivia Manders, terlalu "murah" di mata lelaki, dia mau saja di ajak "ini dan itu".
"Hei Nona Manders, apa kau melihat si gadis pindahan itu?" Tanya Edgar.
"Si Suram maksudmu? heuh, jangan bertanya padaku, mengetahui keberadaannya sama sekali tidak penting bagiku. Lagipula... bukankah dia itu pernah di perbincangkan di koran ya, dia korban penculikan polisi FBI palsu, heuh, baru dua minggu tinggal di Kanada dia sudah membunuh tujuh nyawa"
"Apa! Aku tidak tahu soal itu!" Edgar terkejut.
"Jadi dia ya" Ucap Adry.
Adry kembali keluar kelas dengan langkah cepat.
"Hei, mau kemana lagi?" Tanya Edgar menjajari langkah kaki Adry.
"Menemui Sir Charles"
"Inspektur tua itu? Oh ayolah, setidaknya kau bisa menunda kegiatan ini dulu"
"Ini ada hubungannya dengan pembunuhan di labirin itu. Tidak,kau benar, aku tidak akan menemui Sir Charles dulu. Aku harus bertemu dengan mahasiswi pindahan itu dan menginterogasinya sekali lagi"
"Kau benar, tapi aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi saat ini, tolong jelaskan, dan biar aku membantumu"
"Dua minggu yang lalu ada kabar terjadi penculikan pada seorang wanita muda dari Swiss dan anehnya para penculik itu semuanya mati, sementara wanita itu tidak, tepat seminggu kemudian setelah kejadian itu terjadi pembunuhan di hotel Rose Melfort, permainan labirin yang menghadiahi 10 dollar dan berkencan denganku, salah satu di antara mereka seorang mahasiswi"
"Jadi menurutmu si mahasiswi dari Swiss itu pembunuhnya?"
"Aku  tidak bisa mengatakan itu. Setidaknya dia menjadi petunjuk bagiku, pasti ada sesuatu yang belum dia ceritakan pada Mr. Despard saat di interogasi"
"Intinya?"
"Ini dua kasus pembunuhan yang sama, membunuh secara misterius tanpa meninggalkan jejak dan sidik jari sedikit pun. Pembunuhan sempurna yang dilakukan oleh seseorang yang sudah berprofesional"
Edgar terdiam. Ia belum sepenuhnya mengerti dengan kasus ini, namun terkadang asumsi yang dilontarkan pria detektif itu terlalu kritis dan membingungkan yang mendengar.
"kau bilang kau mau membantuku?" Tanya Adry.
"Eeh...-" Edgar tiba-tiba menyesal kenapa harus menawarkan diri untuk membantu pria ini.
"Dekati gadis itu, cari tau informasinya, dan kalau bisa kau mendapatkan nomor hapenya?"
"What????"
***
"Si pembunuh meninggalkan isi amplop itu di bawah pohon" Sir Charles memperlihatkan lembaran kertas yang terlihat beberapa bekas lipatan tak beraturan dan noda tanah seperti terinjak sepatu. Kertas itu menjadi pusat perhatian orang-orang yang mengikuti rapat nonformal itu di sebuah ruangan kecil hotel Rose Melfort, beberaoa orang anggota CIA dan FBI ikut menyimknya, termasuk Adry dan para pegawai yang terlibat di permainan labirin berhantu.
"Kita akan melakukan beberapa percobaan untuk mengetahui pintu labirin mana dengan amplop kosong"
"Apa bisa? Bukankah amplop itu tersusun acak?" Tanya Mr. Despard.
"Tidak, Lucifer menyimpannya dengan baik, dia memungut amplop itu dari nomor satu dan meletakkannya paling atas. Artinya amplop itu berurutan"
Sir Charles meletakkan setumpuk amplop merah tua di meja, menatap amplop-amplop itu sejenak seakan jawaban teka-teki sudah ada di depan mata.
"Baik, aku akan membuka satu persatu amplop ini" Sir Charles mengambil satu amplop paling atas, ini milik wanita labirin nomor satu. Ia membuka isi amplop itu. Sir tak menunjukkan ekspresi apapun saat melihatnya artinya amlop itu tak mengundang keterkejutan apapun.
"Isinya utuh" Sir membuka lembaran kertas itu dan membaca kalimat yang sama. "Kau yang menulis semua ini?" Tanya Sir Charles pada Adry.
"Ya, aku membuat kalimat yang sama di sepuluh amplop dengan tulisan tanganku sendiri" Jawab Adry.
"Tulisanmu jelek"
"Hahhh" Adry mendesah sebal.
Sir Charles membuka amplop selanjutnya, hasil yang sama seperti amplop sebelumnya.
 Adegan ini sedikit menegangkan, meski Adry penasaran di pintu mana yang terdapat amplop kosong tapi ia merasa ada yang mengganjal. Adegan ini bisa saja menjawab siapa si pembunuh, atau bisa saja adegan ini justru tak ada petunjuk apapun. 
"Nomor enam" Kata Sir Charles yang akhirnya menemukan amplop kosong. Ia membuka lebar-lebar amlop itu dan memperlihatkan pada rekan-rekannya.
"Nomor enam, ya" ucap Mr. Despard.
"Siapa pemilik nomor enam?" Tanya Sir Charles pada Edmun.
Edmun dengan sigap dan tampak canggung membuka lembaran kertas yang berisi data-data nama wanita kandidat beserta profesinya.
"Miss Christie, seorang desaigner berumur 24 tahun"
"Tidak, Sir, tolong lanjutkan untuk membuka amplop sisanya" Pinta Adry, Sir Charles pun tak kan menolak dengan permintaan ini, maka ia membuka amplop selanjutnya. Hingga amplop terakhir...
"Mengejutkan, amplop sepuluh kosong"
"Itu dia" ucap Adry, seiring sesuatu yang mengganjal hilang begitu saja.
"Jadi.. ada dua amplop yang kosong, apa-apaan ini" Ucap Mr. daniel.
"Mahasiswi Universitas Stoland berumur 20 tahun, Amanda Milray" Lontar Edmun tanpa diminta, tapi itu jawaban yang dibutuhkan.
"Dan artinya pelaku pembunuhan dua orang?" Tanya Mr.Despard.
"Ini hanya mengecoh, ini sama sekali bukan yang di harapkan. Aku tidak yakin pelaku pembunuh si pemilik amplop kosong, bisa saja si pembunuh sengaja mengosongkan dua amlop dan dia berada di amplop yang utuh agar jejaknya tak di ketahui, atau justru kita menemukan jawaban bahwa pelaku pembunuh adalah nomor enam dan nomor sepuluh" Kata Sir Charles.
Semua terdiam, ada benarnya dengan dua asumsi Sir Charles. Mereka berpikir apa yang dipikirkan Charles, itu artinya mereka tidak menemukan jawaban sama sekali, namun prioritas utama adalah interogasi antara wanita nomor enam dan nomor sepuluh.
Tiba-tiba Adry tertawa keras, lalu ia menghempaskan punggungnya di sandaran sofa, dan menatap langit-langit atap hotel.
"Pembunuh itu... mempermainkan kita, dia sengaja membuat permainan ini agar kepolisian menyelidikinya dengan banyak teka-teki  dan membuatnya kelabakan. Benar-benar trik hebat, ini permainan intelektual, dia seperti menguji seberapa pintarkah kepolisian dan CIA dalam menyelidiki ini. Aku jadi penasaran siapa pelakunya, dia pasti wanita yang menarik" Ucap Adry, tiba-tiba ia semakin bersemangat dalam penyelidikan ini.
"Kau tidak bisa memilikinya, Adry"
"Aku tahu, dia permaisuriku si pembunuh, aku penasaran seperti apa dia, aku harap aku yang akan mengeksekusinya nanti"
"Baiklah, akhirnya dalam percobaan ini kita tidak menemukan jawaban sama sekali, yang harus kita lakukan selanjutnya adalah membawa wanita itu satu persatu  ke kepolisian kita akan melakukan interogasi secepatnya" Ucap Sir Charles mengakhiri pertemuan mereka malam itu.
***
"Ayah sudah bilang untuk tidak ikut lagi dalam memecahkan kasus-kasus yang ada di kepolisian" Ucap Feddy Dacres, kepada Adry yang pulang larut malam saat itu.
"Ayah, Ayah belum tidur?" Tanya Adry melihat ayahnya yang masih bersantai di kursi menghadap ke jendela, tampak asp rokok mengepul di tengah keremangan ruangan itu
"Ini untuk yang terakhir Ayah, lagipula aku merasa terlibat dalam memecahkan kasus ini, aku yang menginginkan permainan labirin itu, tapi akhirnya Mr. Franky mati terbunuh, aku rasa ini tanggung jawabku. Apalagi Mr. Franky orang yang sangat dipercayai Ayah, aku semakin ingin kasus ini cepat terselesaikan dan aku yang ingin mengeksekusi pelakunya"
"Meski ini yang terakhir, kau berada di ambang bahaya jika kau gegabah, dilihat dari cara dia membunuh dia orang yang pintar dan tidak mudah di tebak. Bisa jadi dia lebih pintar dari FBI maupun CIA"
"Aku tau ayah, tenang saja aku akan selalu waspada untuk memecahkan kasus ini, aku mohon, izinkan aku untuk melakukannya"
"Baiklah"
"Terimakasih, Ayah" Adry membungkukan badan simbol penghormatan, lalu ia masuk ke kamarnya yang berada di lantai atas.
Sampai di kamar, ia merogoh ponselnya di saku, lalu menghubungi Edgar.
"Bagaimana, kau mendapatkan nomer ponselnya?"
"Ah, sebaiknya kau yang temui dia langsung, dia sulit di tangani"
"Aku tidak mengerti"
"Dia antisosial, bukan gadis ramah, lebih tepatnya... apa ya, selain bermuka suram dia itu sulit di ajak bicara"
"Baiklah, tapi akiu belum bisa menemuinya besok. Ada yang harus kulakukan" Adry menatap selebaran kertas berisi identitas mahasiswa Universitas Princeton.
"Apalagi?"
"Itu rahasia. Baiklah, selamat malam" Tanpa menunggu balasan Edgar, Adry langsung memutuskan sambungannya. Ponselnya ia lempar ke ranjang yang empuk, lalu ia melangkah ke jendela dan membukanya lebar-lebar.
Ia membaca sekali lagi selembar kertas itu.
Amanda Milray, 20 tahun, Mahasiswi Universitas STOLAND,  St. Petroch Loomouth.
***
"Permisi, Miss, apakah anda bisa mencari identitas nama ini?" Adry menyerahkan selembaran kertas kepada seorang pegawai yang ada di kantor Universitas Stoland
"Baik, sebentar" Wanita itu menerima selembaran kertas dari Adry dan mengetikkan di komputer nama tertera disana.
"Anda mendapatka nama ini dari mana?"
"Hmm.. sulit jika kuceritakan dari awal, dia memberikan identitas itu saat mengikuti sebuah permainan, dan karena dia memenangkan permainan itu dia berhak mendapatkan hadiahnya ,tetapi dia meninggalkannya, jadi saya mencarinya kesini" Jawab Adry sedikit berbohong.
"Disini sama sekali tidak ada yang bernama Amanda Milray, yang ada Milray Satterhwaite. dia kelahiran 1994, itu artinya dia berumur 22 tahun, bukan 20 tahun"
"Tidak mungkin dia berbohong, dia menyerahkan identitas aslinya saat pendaftaran, semacam paspor" Ucap Adry.
"Jika itu saya tidak tahu, bahkan saya penasaran dengan Amanda Milray, dia memalsukan identitas dengan membawa universitas ini" Wanita itu tampak marah.
Wanita itu kembali menyerahkan lembaran itu. Setelah itu dia kembali melanjutkan aktivitas kerjanya yang sepertinya tidak ingin di ganggu lagi.
"Terimakasih, maaf sudah mengganggu"
"Oke"
Adry kembali masuk ke dalam mobilnya. meski Amanda Milray tidak di temukan , namun ia yakin bahwa gadis inilah pelakunya. Edmun bilang dia menyerahkan identitas asli berupa paspor. Jika gadis itu bisa memanipulasi identitas asli, maka tidak diragukan, dia berada disini tidak sendiri, dengan kata lain, dia berada dalam sebuah organisasi yang berkaitan dengan  pembunuhan.
Mobil itu melaju, menuju tempat berikutnya St. Petroch Loomouth. Ia pun membuka Google Map di ponselnya. Alamat tersebut jauh dari kota dan membutuhkan waktu dua jam untuk sampai kesana.
Mobil itu melewati perbatasan kota, masuk ke wilayah St. Petroch 5KM dari arah kanannya. jalan yang di lewati sunyi sepi seperti di tengah hutan, dan jalannya berkelok-kelok dan sempit.
Sampai di tempat tujuan Adry segera keluar dari mobilnya. tempat ini tidak begitu luas, dan terdapat beberapa rumah dengan jarak yang terpisah-pisah, tampak sunyi namun tentram dari kebisingan kota. Adry segera menghampiri salah seorang penduduk di tempat itu, seorang nenek tua yang yang sedang berjalan di jalan setapak berbatu dengan tongkatnya, lalu seorang kakek datang dan membantunya berjalan.
"Permisi, selamat siang" sapa Adry
"Selamat siang" balas nenek itu dengan suara serak.
"Hmm... boleh saya bertanya sesuatu"
"Yes, of course"
"Apakah gadis yang bernama Amanda Milray tinggal disini?"
Nenek dan kakek itu saling pandang.
"Disini tidak ada Amanda Milray" Jawab Kakek.
"Tapi disini benar, alamatnya ST. Petroch Loomouth. Dan ini identitas asli"
"Disini tidak ada Amanda Milray" Ucap Kakek itu sekali lagi.
"Tunggu, rasanya aku masih ingat dengan nama itu" Ucap si nenek "Sejak kau pergi ke Hoxton, ada seorang gadis yang datang kesini" Nenek itu berkata pada si kakek.
"Ya, ya, dia bernama Amanda Milray" Nenek itu mencoba mengingat ngingat. "Dia gadis tersesat dengan mobilnya. Dia menumpang dirumahku, dia bercerita banyak tentangnya. Tapi aku tidak bisa menangkap isi pembicaraannya"
"Maaf dia tidak bisa mengingat dengan baik" Ucap si kakek.
"Sayang sekali,kapan dia kesini?" Tanya Adry
"Sekitar beberapa minggu yang lalu"
"Bertepatan hari apa?"
"Aku lupa?"
"Jika itu bertepatan saat aku ke hoxton maka pada hari itu adalah hari selasa" ucap si kakek.
"Lalu dari mana dia berasal?"
"Aku yakin dia juga bilang padaku dimana dia tinggal dan kenapa tersesat, tapi aku benar-benar tidak ingat. Aku hanya ingat kalimatnya yang membuatku terharu, bahwa dia ingin hidup bebas seperti burung yang terbang di langit. kemana pun dia pergi tidak akan ada yang melarangnya"
Adry akan mengingat kalimatnya itu.
"Lalu bagaimana ciri fisiknya?"
"Dia gadis yang sangat cantik, dia ramah dan selalu tersenyum. Bola matanya hitam seperti boneka, dia memiliki bentuk tulang pipi yang indah. Saat pagi tiba dia menghilang begitu saja, tapi dia membuatkanku sepiring wafel, dan di pinggirnya ada tulisan terimakasih dengan coklat" Jelas nenek itu.
"Jika kau melihatnya, maka kau mengingatnya dengan baik" Ucap kakek yang tampak senang, tampaknya si nenek memiliki ingatan yang baik sesuai dengan apa yang dia lihat.
"Kalau begitu... anda pasti tau dengan apa yang dia bawa"
"Dia membawa tas ransel, namun aku tidak tahu apa isinya"
"Begitu ya.."
"Ah, seandainya gadis itu masih disini sekarang, akan ku kenalkan kau padanya, aku yakin kau pasti menyukainya, kalian sangat cocok" ucap nenek itu.
Adry tertawa kecil.
"Oh, apa jangan-jangan kau adalah pacarnya? Tanya si nenek.
"Ah, tidak, bukan, saya kesini ada urusan tertentu dengan gadis itu"
"Oh begitu ya... kalau begitu kau bisa meninggalkan nomor ponselmu padaku, aku yakin gadis itu akan kesini lagi" Pinta si nenek.
"Oh ya, apa boleh?"
"Tentu saja, kalian bisa bertemu nanti"
"Baiklah, aku akan mencatat nomor ponsel ku disini" Adry menuliskan nomor ponselnya di catatan kecil. lalu memberikannya pada si nenek.
"Aku sangat menantikannya" UCap Adry.
"Ya, akan ku telpon jika dia sedang berada disini"
Usai berurusan dengan kedua lansia itu, Adry meninggalkan tempat itu dengan perasaan puas. Meski ia tak berhasil menemukan gadis itu tapi ia sudah mendapatkan banyak petunjuk. Dan Adry sangat menantikan kedatangan gadis itu lagi di St. Petroch Loomouth.
Namun yang dirasakan Adry tiba-tiba berbeda dia menunggu gadis itu untuk di eksekusi atas pembunuhan menteri kepercayaan ayahnya. Menunggu gadis itu serasa menegangkan namun ada sensasi didalamnya.
 ***
Mr. Despard dan Mr Daniel mengawal seorang perempuan berpakaian modis ke kantor kepolisian. Miss Meredith, si wanita pemain teater, tampaknya tidak suka jika ia harus berurusan dengan kepolisian.
Saat berada di ruang intergogasi ia berhadapan dengan Sir Charles.
"Miss Meredith, benar?" Tanya Sir Charles.
'Ya, dan aku kesini ingin bertanya langsung pada anda, saya tidak pernah melakukan pembunuhan kepada menteri raja. Saya tersesat di labirin dengan hantu menyeramkan dan saya heran kenapa harus di bawa ke kantor polisi?"
"Ah, anda agresif sekali, saya belum melontarkan pertanyaan apapun pada anda. Santai saja, ikuti aturan-aturan kami, maka saya akan memudahkan anda" Ucap Sir Charles.
Miss Meredith memasang muka sebal, sambil berpangku tangan.
"Ngomong-ngomong Miss Meredith, anda pemain teater bukan? Saya pernah melihat anda sebagai pemeran utama di teater Gadis pemeluk bulan. peran anda sangat bagus, tidak aneh, anda banyak diincar acara tivi karena bakat anda yang sangat hebat" Sir Charles berbasa basi agar suasana tak terlalu tegang.
Miss Meredith menghembus nafas, ia terlihat sedikit tenang dengan pembawaan Sir Charles yang santai, dan tidak menakutkan seperti yang ia kira.
"Bagaimana menurutmu permainan labirin berhantu itu?" Tanya Sir Charles.
"Itu penipuan, Adry Russel Sanders, itu hanya mempermainkan mental seorang wanita dengan permainan yang menjijikan. Jika dia ingin berkencan dengan wanita bukan seperti ini caranya, labirin sialan itu membuatku tidak bisa makan berhari-hari" Ucap Miss Meredith dengan penuh emosi.
"Anda mengetahui permainan labirin itu dari mana?"
"Itu dari internet, dia mengumumkan permainan itu di fanspagenya"
"Oh, anda mengikuti fanspagenya rupanya?" Sir Charles menggodanya.
"Ya, pada awalnya aku memang menyukainya, dia salah satu pria yang selalu aku incar. Tapi setelah aku mengikuti permainan labirinnya aku malah membencinya, apalagi setelah itu terjadi pembunuhan yang tak di duga-duga, membuatku kaget saja"
"Miss Meredith, anda tidak menggunakan kedok teater anda disini kan?"
"Aku bicara apa adanya, Sir, lagipula untuk apa aku membunuh menteri raja, tidak ada untungnya bagiku"
"Kau datang bersama siapa, Miss?"
"Aku sendiri yang membawa mobilku, sebenarnya aku ingin di antar dengan sopir pribadiku, tapi dia bilang dia mendadak sakit kepala dan tidak bisa mengantarkanku malam itu di tempat teater"
"Dan setelah sampai di tempat permainan labirin siapa saja yang kau lihat disana?"
"Aku tidak terlalu memperhatikan orang dan tidak terlalu suka berbicara, tapi disana ada beberapa orang yang sedang menunggu kandidat lain, tampaknya mereka tidak sabar untuk berkencan dengan Adry"
"Dan setelah itu anda mengambil nomor labirin?"
"Ya disana ada pria, yang duduk di meja menyiapkan lembaran-lembaran kertas yang sulit kupahami. Lalu dia memberiku nomor 4, yang artinya aku harus menempati labirin empat"
"Siapa wanita yang sudah ada disana, apa mereka juga sudah mendapat nomor?"
"Nomor tiga dan dua, lalu saat itu datang dua orang lagi yang langsung mengmpiri pria di meja mengambil nomor, dan setelah itu aku lupa mereka nomor berapa"
"Berapa lama anda menunggu sampai anda memasuki labirin itu?"
"Sekitar tiga puluh menit, ini semua gara-gara wanita yang datang terlambat. Dari situ aku mulai merasa sebal dan ingin pulang, tapi pria-pria disana tidak mengizinkannya"
"Setelah kau memasuki labirin itu, seberapa jauh kau berjalan di dalamnya, dan arah mana yang anda ambil?"
"Aku mengambil arah kiri, saat ada tikungan dan beberapa ruangan dengan belokan, aku melihat zombi sedang menjulurkan lidah dengan cairan yang menjijikan, aku tahu itu hanya boneka, tapi bagiku itu sangat menjijikan dan karena hal itu aku tidak ingin melanjutkan dan kembali ke tempat pintu masuk menunggu pintu itu di buka" Jelas Miss Meredith yang berusaha meyakinkan.
Sir Charles manggut-manggut. Ia merenung sejenak, Miss Meredith meski memiliki wajah yang menyebalkan tetapi dia terlihat sangat jujur, dia menceritakan semuanya dari awal, dan tidak tersendat-sendat dan lancer begitu saja.
"Dan setelah kau keluar?"
"Aku langsung berjalan ke pinggir dan duduk di kursi karena tiba-tiba perutku mual"
"Apa kau melihat yang lainnya, para wanita lain ketakutan sepertimu?"
"Ya mereka ketakutan sekali, dan yang paling parah si wanita berbaju merah menangis histeris dan hampir pingsan, ada yang bilang dia sangat takut pada zombi"
"Apa kau tahu siapa yang kembali paling terlambat?"
"Aku tidak tahu"
"Berapa lama kau duduk di kursi?"
"Sekitar limat menit, dan setelah itu aku pulang karena perutku tidak mual lagi"
"Kau tidak tahu ada petugas yang datang dan memberitahu bahwa telah terjadi penembakan?"
"Kalau itu saya tidak tahu sama sekali"
Sir Charles sejenak berpikir. Ia sudah menemukan keputusan untuk Miss Meredith.
"Ya, tidak ada alasan lagi bagiku untuk mencurigai anda"
"benarkah? Oh Thanks, God"
***
Adry bertemu kembali dengan Edgar di kampus. Ada sedikit perubahan pada Adry, hari ini terlihat begitu semangat dari biasanya, dia antusias menceritakan penyelidikannya pada Edgar, padahal Edgar sendiri heran biasanya Adry tidak terlalu buka-bukaan dengan kegiatannya di kepolisian karna takut ada yang dengar bahwa ia seorang detektif.
"Ya, jadi intinya kau seperti menunggu wanita yang membuatmu penasarankan, kau tau itu seperti saat kau sedang jatuh cinta dengan wanita yang menarik perhatianmu karena dia misterius" Ucap Edgar.
"Aku tidak bilang jatuh cinta padanya, aku hanya penasaran karena dia menarik perhatianku dengan cara dia membunuh"
"Yah, tipe macam apapun si pembunuh itu asalkan dia jangan membuatmu jatuh cinta, jika dia membuatmu jatuh cinta, aku benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti" Ucap Edgar.
"Ah kau ini"
"Ngomong-ngomong... Aku rasa dia juga akan membuatmu penasaran, kau bilang kau akan menemuinya langsungkan?" Edgar menunjuk kepada seorang gadis yang berjalan di depan mereka.
"Dia?"
"Phoeby, mahasiswi baru itu"
Adry memperhatikan Phoeby yang membelakanginya, ia pun mengikuti langkah Phoeby dan memanggilnya.
"Hei, Nona" Panggil Adry. Phoeby menghentikan langkah, lalu ia melanjutkannya lagi.
"Aku memanggilmu"
Langkah Phoeby semakin cepat, Adry mengimbanginya, lalu menarik lengannya.
"Don't touch me!" Phoeby menghempaskan tangannya, namun tanpa sengaja tangannya melayang ke arah pipi Adry, dan ia sedikit tersungkur.
"Ah!"
"Oh God!" Edgar terkejut, namun ia jadi ingint ertawa.
Phoeby terkejut setengah mati. Dilihatnya pria itu sedikit menoleh ke belakang efek tangannya yang tak sengaja menampar pipi pria itu.
Adry mengusap darah di bibirnya.
"Oh my God, I,m sorry, aku tidak sengaja, maaf-maaf" Kata Phoeby memohon, namun wajahnya tertunduk seakan tak ingin di tunjukkan. Phoeby pergi begitu saja meninggalkan Adry.
Lalu Edgar datang menertawakan Adry..
"Berisik" Ucap Adry.
"Sudah kubilang dia itu sulit di tangani"
"Apa dia juga menamparmu?"
"Tidak, hanya saja dia sulit diajak bicara, hei, dia maniskan? Apa kau tertarik padanya?"
***
Saat pulang kuliah Adry kembali memanggil Phoeby. tapi Phoeby tak terlalu menanggapinya sampai Adry berhasil menjejaki langkahnya.
"Ada perlu apa?"
"Aku perlu bicara padamu, ini soal penculikanmu beberapa minggu lalu"
"Kenapa kau ingin tanyakan itu?"
"AKu perlu petunjuk darimu"
"Aku tidak ingin  membahasnya, aku sudah selesai dengan itu semua"
"Ayolah, aku seorang detektif, aku sedang membantu kepolisian dalam kasus pembunuhan, dan aku rasa kasus ini ada hubungannya dengan pembunuhan polisi palsu itu"
Phoeby menggelengkan kepala, ia tampak tak mengerti dengan apa yang dikatakan Adry.
"Aku tidak punya waktu" Phoeby pergi.
"Kau pembunuhnya" Ucap Adry, Phoeby menghentikan langkah dan kembali berbalik.
"Kau bilang apa?" Tanya Phoeby dengan muka datar.
"Kau pembunuhnya"
"Aku bukan pembunuhnya, bagaimana bisa aku seorang pembunuh, aku sudah selesai dengan kepolisian, dan kepolisian sudah membebaskanku  dari tuduhan itu"
"kalau begitu buktikan sekali lagi dengan intogasi ringanku"
Phoeby menghembus nafas berat. Ia tahu Adry menuduhnya sebagai pembunuh agar ia menuruti semua keinginannya. Mereka pun pergi ke cafetaria untuk berbicara berdua.
Seorang waitress menyodorkan vanilla latte dan capucchino di meja. Phoeby langsung mengambil vanilla lattenya, bukan untuk di minum, hanya memegang cangkirnya dengan kedua tangannya. Ia menghangatkan tangannya yang dingin dan menempelkan ke cangkir panas itu.
"Kau tampak kedinginan, apakah di Swiss tidak sedingin ini?"
"Hem" Balas Phoeby, yang tatapannya tertuju pada vanilla latte di cangkirnya.
"Jangan tegang, aku tidak akan mengajukan pertanyaan sulit, lagipula aku sudah tahu hasil interogasi dengan Sir Charles, dan aku tidak akan mengajukan pertanyaan yang sama"
"lalu apa yang akan kau tanyakan lagi padaku?"
"Apa kau merasakan kehadiran orang asing saat penjahat itu sedang berkelahi?"
"Itu pertanyaan yang sama"
"Apa kau yakin dengan jawabanmu?"
Phoeby terdiam.
"Melihatmu diam kau seperti orang yang mencurigakan"
"Aku tidak merasakan ada orang asing, yang ku tahu aku mendengar suara berisik seperti lemparan gelas dan aku tak pernah tahu apa yang sedang diperbuat mereka" Jawab Phoeby.
"Apa kau merasakan ada orang asing?"
"Kenapa kau mengajukan pertanyaan itu lagi!" Suara Phoeby meninggi. Dan itu mengundang perhatian banyak orang di cafetaria. Adry menatapnya serius.
Nafas Phoeby memburu.
"Baiklah, aku akan menjawabnya dengan jujur, dan aku belum pernah mengatakkannya pada Sir Charles" Phoeby mengakui.
"Ya, katakan saja"
"Aku mendengar suara tembakkan beberapa kali, dan setelah itu keadaanpun menjadi hening, aku rasa tidak ada yang hidup lagi di antara mereka, tapi ada sesuatu yang membuatku takut, aku mendengar suara langkah kaki, seperti suara sepatu but. Dia semakin mendekat, dan saat itu...." Phoeby berbicara tak karuan dan tanpa jeda sedikit pun. Nafasnya semakin memburu dan terlihat ketakutan.
"Dia mengusap pipiku, dan dia berkata..." Lanjut Phoeby.
"Ya?" Tanya Adry penasaran.
"Dia bilang mereka pantas mati, nyawa harus di bayar dengan nyawa, dia menyuruhku untuk tidak mengatakkannya pada polisi, karena dia bilang dia akan melakukan pembunuhan yang lebih misterius lagi"
"Apa"
"Setelah itu dia menjauh, aku tidak mendengar dia membuka pintu keluar, aku tidak tahu dia pergi ke arah mana, yang jelas dia sudah tidak ada disana lagi, dan sepuluh menit kemudian ibuku datang bersama polisi"
"Sudah kuduga, pembunuhan di labirin itu pasti dia pelakunya, seorang perempuan, ya"
"Ya, dia memang seorang perempuan"
"Kau terlambat mengatakkannya, Phoeby" kata Adry dengan nada curiga.
"Dia sudah melarangku untuk tidak mengatakkannya pada siapapun, dan sekarang aku mengatakkannya pada seorang detektif yang akan memecahkan kasus pembunuhan, katakkan, apa setelah ini aku akan aman, jika pembunuh itu membunuhku apa yang akan kau lakukan?"
"Pertanyaanmu kritis sekali. kau menanyakan apa yang akan aku lakukan jika pembunuh itu membunuhmu, tentu saja, aku akan menemukannya dan mengeksekusinya" Jawab Adry.
Phoeby tak berkata apa-apa lagi.
"Tenang saja, wanita itu menyuruhmu untuk tidak mengatakkannya hanya pada polisi, dan aku bukan anggota FBI atau CIA, jadi kau tidak salah"
Phoeby menyeruput vanilla lattenya, tubuhnya perlahan menghangat. sesekali ia curi-curi pandang menatap pria  di hadapannya yang sedang meminum capucchinonya juga. Dia pria yang tampan, dan pintar, juga memiliki siluet yang indah saat pria itu menghadap ke arah samping, meski begitu menurut Phoeby dia tidak cocok menjadi seorang detektif, karena dia lebih memenuhi kriteria sebagai seorang model atau aktor.
"Apa sudah selesai? Aku harus pulang" Kata Phoeby,
"Aku akan mengantarmu"
"Tidak perlu, aku sudah mengirim pesan pada ibuku untuk menjemputku disini"
"Baiklah, Phoeby, terimakasih, maaf sudah mengganggu waktumu"
"Tidak apa-apa, lagipula... bukankah lebih baik jika aku mengatakkan hal yang sebenarnya padamu. Setidaknya ini bisa membantumu mencari si pembunuh itu, aku harap kasus ini segera terselesaikan"
"Ya, semoga saja"
"Apa kau masih mencurigaiku sebagai pembunuh?"
"Tentu saja tidak, maaf dengan perkataanku tadi siang, itu hanya untuk menarikmu agar kau bersedia berbicara denganku"
"Ah, sudah kuduga" Phoeby tertawa kecil.
Adry tiba-tiba terpaku, barusan Phoeby tertawa, ternyata gadis yang sering di sebut suram dan antisosial itu bisa tersenyum, dan ia tidak menyangka Phoeby memiliki senyuman yang sangat manis. Tapi senyuman itu hanya sekejap, Phoeby kembali murung seperti biasa.
"Adry, jika kau menemukan pembunuhnya, bisakah kau memotretnya dan menunjukan fotonya padaku, sebenarnya aku penasaran siapa yang sudah menyelamatkanku malam itu, aku sangat ingin tahu rupanya"
"Aku akan meminta kepolisian untuk mengizinkanmu bertemu dengannya"
"Kalau begitu aku akan mengucapkan terimakasih padanya"
"Phoeby, kau tak perlu mengatakan hal itu pada seorang pembunuh"
"Aku tahu dia pembunuh, mungkin dia sudah membunuh banyak nyawa dari yang kita duga, tapi tidak selamanya pembunuh selalu membunuh, dia pasti pernah melakukan hal yang baik pada orang lain, termasuk menyelamatkan nyawaku waktu itu"
"Baiklah, akan kuusahakan kau bisa bertemu dengannya"
Phoeby melihat ke arah luar, mobil sedan silver berhenti di depan cafe. "Ibuku sudah sampai, aku pulang dulu"
"Hem"
***
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, Mr. Albert masih sibuk dengan komputern di ruangannya. Ia tampak kelelahan terlihat dari guratan wajahnya yang sudah mulai menua. Ia adalah seorang kepala perusahaan Yotsuba, yang sedang menyiapkan materi presentasi besok diacara meeting dengan rekan kerjanya.
Konsentrasinya tiba-tiba terganggu setelah mendengar suara berisik di luar ruangan. ia pun tak menanggapinya, tanpa sengaja ia menjatuhkan pulpen ke bawah meja, lalu ia membungkuk untuk mengambilnya, saat kembali tegak, ia terkejut kedatangan seseorang berpenampilan misterius sudah berada diruangannya.
"Siapa kau?" Tanya Mr. Albert ketakutan.
Yang di ajak bicara menodongkan pistol dan menarik pelatuknya untuk bersiap menembak. manusia misterius itu berpakaian serba hitam, ia mengenakan jubah panjang yang menutupi kepalanya sehingga wajahnya tak terlihat.
"Seseorang yang akan membunuhmu"
"Apa, ti-tidak" Mr. Albert mengangkat tangannya.
Peluru itu pun menembus kening Mr. Albert dengan seketika ia mati dan tubuhnya terjatuh di kursi putarnya. Wanita itu mendekat, lalu meletakkan setangkai bunga mawar putih di meja.

Pagi itu, warga di buat geger dengan kematian Mr. Albert di tempat perusahaannya. Mayat Mr. Albert barusaja dimasukkan ke dalam mobil ambulance dan di bawa ke rumah sakit untuk di autopsi. Sir Charles bersama rekan FBI tampak sibuk menangani kasus ini.
Phoeby yang tengah berjalan di trotoar sempat melihat aktivitas kepolisian di depan halaman perusahaan, ia juga melihat Sir Charles dan Mr. Despard yang sedang berbincang.
"Apa yang sudah terjadi?" Tanya Phoeby bertanya pada salah seorang penduduk setempat.
"Seseorang membunuh Mr. Albert, pemimpin perusahaan Yotsuba tadi malam" Jawab wanita berumur paruh baya itu.
Phoeby berbalik arah untuk kembali pulang, di tengah jalan sebuah mobil berhenti, dan Adry keluar untuk menghampirinya.
"Kenapa kau balik lagi?" Tanya Adry.
"Adry, aku takut, pembunuhan terjadi lagi, kali ini pemimpin perusahaan Yotsuba"
"Aku tau, aku mendengar kabar ini tadi pagi, Mr. Despard mengirim pesan padaku. Tapi aku tidak akan pergi ke perusahaan sekarang, ayo, kita berangkat ke kampus sama-sama" Kata Adry.
"Tidak"
"Phoeby..." Adry memegang kedua bahunya. "Aku akan melindungimu, tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa"
"Bagaimana aku bisa yakin, sementara kemarin aku sudah mengatakan hal yang sebenarnya padamu, bagaimana kalau pembunuh itu tau bahwa aku membocorkan rahasia ini padamu"
"Dia tidak akan tahu bahwa kau mengatakkan hal sebenarnya padamu, meski dia tahu bahwa kau sudah mengatakkannya pembunuh itu tidak akan membunuhmu. Nyawa di bayar dengan nyawa. kau tidak pernah membunuh, Phoeby, dia tidak akan melakukannya padamu"
Phoeby merasa tenang saat Adry mengatakan hal  itu.
"Ayo, kita berangkat" Adry mengajak Phoeby masuk ke dalam mobil.
***
"Aku tersesat di labirin dan tidak bisa menemukan jalan keluar, bagaimana bisa aku membunuh menteri raja!" Bentak gadis itu yang tampak tak terima di interogasi dengan berbagai macam pertanyaan yang di lontarkan Mr.Despard.
"Baikla, baiklah, kau bisa menjawab pertanyaanmu tanpa berteriak, jika kau terus berteriak kau akan ku tetapkan sebagai tersangka"
"Apa!!"
Mr. Despard yang sibuk menginterogasi lain halnya dengan Sir Chales yang kelabakan menangani kasus pembunuhan selanjutnya.
"Bunga mawar identik dengan seorang perempuan, bisa jadi si pembunuhan ini dilakukan oleh orang yang sama di labirin itu"
"Mengapa harus mawar putih?"
"Entahlah, mawar putih diartikan sebagai lambang cinta dan keagungan hati. Pasti ada alasan tertentu yang tidak kita ketahui mengapa si pelaku  meletakan bunga mawar setelah ia membunuh"
"Permainan macam apa ini"
"Apa si pembunuh mencoba memberi pesan kepada kita? Tapi apa artinya?"
"Aku yakin pelakunya orang yang sama dengan pembunuhan di labirin itu. Semua akan terjawab secara akurat setelah usai interogasi seluruh wanita kandidat" Kata Sir Charles.
***
 "Sial, aku tidak menemukan namanya" Ucap Adry, tampaknya hasil pencarian di komputer tidak ada penduduk Kanada yang bernama Amanda Milray yang berumur 20 tahun. Adry menghempaskan punggungnya di senderan kursi putar, selama lebih dari dua jam ia berada di depan komputer hanya untuk mencari satu nama.
"Kalau kau tidak menemukannya sampai saat ini, aku akan membantumu, ingat batas penyelidikkan kita tiga minggu lagi, jika kita tak menemukan pelakunya maka kasus ini akan di hapus dan kita tidak akan pernah tahu siapa pelaku pembunuhannya" Kata Mrs. Daniel.
"Aku tidak akan menyerah"
"Oh ya. hasil inteogasi dari keenam orang mereka tidak terbukti bersalah. sisanya wanita labirin nomor tiga, lima,tujuh dan sepuluh. Sir Charles, Mr. Morgan dan Mr. Despard akan mengurus ketiga wanita itu, dan aku akan membantumu mencari si nomor sepuluh" Kata Mr. Daniel. "Baiklah, apa yang akan kau lakukan selanjutnya"
"Tidak ada. Aku masih menunggu kabar dari salah satu penduduk di St. Petroch Loomouth. Dia bilang Amanda Milray pernah kesana, dan dia akan menghubungiku jika dia kesana lagi"
"Dia wanita menyusahkan"
Lalu pintu ruangan di ketuk seseorang dari luar.  Mr. Daniel membukanya. Seorang polisi wanita dengan seseorang pria berumur 30-an membawa sebuah DVD.
"Dia membawa petunjuk baru" Ucap polwan itu.
Mr. Daniel memutar DVD itu di komputer, Adry bersama polwan dan pria bernama Eric ikut menyaksikan apa isi dari sebuah rekaman CCTV itu.
Layar komputer mempelihatkan sebuah sudut ruangan hinggga sepuluh detik kemudian sekelebat manusia berjubah hitam berjalan ke ruangan yang lain.
"Bisa tolong jelaskan?" Tanya Mr. Daniel.
"Ya, itu ruangan karyawan dan karyawati, tepat di depan ruangan Mr. Albert, karena CCTV itu dalam posisi tidak tepat jadi hanya sudut itu saja yang terekam. Sepertinya memang si pembunuh itu menuju ruangan Mr. Albert" Jelas Eric.
"Ada berapa jalan menuju kesana?" Tanya Mr. Daniel, yang terus mengulang rekaman itu
"samping kiri, kanan, depan, dan belakang, namun pintu di belakang sedang rusak sehingga tidak ada orang yang berhasil masuk kesana, ya, kemungkinan dia mengambil jalan dari arah antara ketiga pintu" Balas Eric.
"Miss Jeany, aku dengar kau ahli mikroekspresi, apa kau bisa membaca gerak-gerik orang ini?"
"Ya, setelah kuperhatikan baik-baik, dia berjalan dengan langkah kecil, namun seperti terburu-buru, tapi dia tidak terlihat waspada dengan disekitar, dia sangat percaya diri. Tapi- Tunggu, Mr. Daniel bisa kau pause dulu saat dia muncul?" Pinta Mr. Jeany.
Mr. Daniel mengulang video, dan memijit tombol spasi. Video itu memperlihatkan saat pelaku itu muncul di kamera.
"Perbesar di area wajah" Pinta Mr. Jeany. Gambar itu di perbesar di area wajah meski tertutup dengan tudung jubah, tapi masih terlihat di bagian dagu dan hidung, namun tidak begitu jelas.
"Itu seorang perempuan"
"Ya, aku pikir juga begitu" Kata Mr. Daniel.
"Dagunya terlihat panjang,  sepertinya efek dia sedang tersenyum dengan mulut yang sedikit terbuka, ini menandakan, seolah kematian Mr. Albert akan membuahkan hasil bagi dirinya sendiri" Kata Jeany.
"Jika kau benar, maka bisa dipastikan dia pembunuh bayaran yang disewa oleh salah satu perusahaan besar" Tiba-tiba Eric berasumsi.
Lalu semua memandang Eric dengan tatapan aneh.
"Itu tidak menutup kemungkinan, tapi apa keuntungan baginya?" Tanya Adry.
"Eeuu ituu, entahlah" Jawab Eric bingung.
"Oh ya ada sesuatu yang mengganjal, perbesar tangannya" Pinta Adry, lalu video memfokuskan dan memperbesar di area tangan, si pembunuh menggunakan sarung tangan dengan membawa pistol api.
"Ini pistol yang dia bawa, dia menggunakan sarung tangan agar tidak meninggalkan sidik jari" Ucap Mr. Daniel.
"Sepertinya pembunuhan ini dipersiapkan secara matang dan terencana, tapi... dari mana dia tahu bahwa Mr. Albert masih berada di kantornya?" Ucap Mr. Jeany, semuanya tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Petunjuk masih samar-samar, tapi setidaknya mereka sudah tau bagaimana rupa si pembunuh itu.
Di tengah keheningan semua dikejutkan dengan dering ponsel Adri disakunya. Nomor asing menghubunginya, Adri pun memijit tombol terima dan menempelkan ponselnya di telinga kiri.
"Ya?" Tanya Adri.
"A-Adri..." Itu suara seorang wanita, namun bagi Adri suara itu tidak asing lagi di telinganya.
"Phoeby?"
"Adry, tolong aku" Suara Phoeby gemetaran
"Kau ada dimana?"
"Toserba, di distrik ketiga"
"Aku harus menjemput seseorang" Adri menyambar kunci mobilnya di meja, lalu meninggalkan ruang kantor CIA.
***
"Phoeby" Panggil Adry.
"Adry"
"Ada apa?"
"Laki-laki itu,aku tidak tahu sejak kapan dia mengikutiku, tapi aku baru menyadari saat berada di Mademoissel, dan dia mengikutiku sampai kesini" Phoeby menunjuk ke arah pria yang berdiri di dekat gang yang berada sepuluh meter dari arah toserba.
"Sudah berapa lama kau disini?"
"Sudah tiga puluh menit yang lalu"
"Kalau begitu dia benar-benar menguntitmu"
"Aku tidak tahu harus bagaimana selain menghubungimu, telpon ibuku sedang tidak aktif, aku hanya mempunyai dua nomor di ponselku, kau dan ibuku"
"Tenang saja, kau sudah bersamaku sekarang, ayo kita pulang" Adry menggamit tangan Phoeby, dan membawanya keluar.
"AKu takut dia bertindak macam-macam, bagaimana jika pria itu berbahaya
"Jika dia bertindak macam-macam aku akan menghajarnya, yang penting sekarang aku harus mengantarmu pulang, kau akan aman setelah berada di rumah"
Mobil itu mengantarkan tempat dimana Phoeby tinggal, barulah lima belas menit kemudian mereka sampai di Crow's Nest sederhana di sekitar Green Lock Street.
"Jadi ini rumahmu" Ucap Adry saat mengantarkan gadis itu sampai di depan pintu.
"Hem, jika kau tidak sibuk, kau bisa mencicipi poutline dan sandwich buatanku"
***
Ketika Phoeby sibuk mengeluarkan belanjaannya di dapur, Adry yang berada di ruangan keluarga memperhatikan sekeliling ruangan. Jika dari luar rumah ini terlihat kecil, tapi berbanding terbalik dengan yang di dalam, ruangan ini terbilang sangat luas, namun tidak terlalu banyak barang disana. Hanya beberapa sofa santai di depan televisi, sebuah patung seorang wanita di bawah tangga, dan lukisan yang menghiasi dinding.
Adry mendekat dan memperhatikan lukisan itu. Tidak terlalu memiliki nilai seni tinggi, tetapi meninggalkan kesan di dalamnya. Lukisan wajah seorang wanita dengan mata terpejam namun menjatuhkan air mata di pipinya, wajah itu menengadah ke langit. Adry membaca tulisan kecil di sudut kiri kanvas. A.M,Swiss, .
Adry kembali memperhatikan lukisan itu, mirip wajah Phoeby. Hidungnya dan dagunya tampak tidak asing baginya jika dilihat dari samping. Gadis itu benar-benar cantik. Batin Adry.
"Apa itu lukisanmu?"
"Oh lukisan itu? Itu memang wajahku, tapi bukan aku yang buat. Di sudut kiri kau akan menemukan tulisan AM, Swiss, 20-7-2014"
"Ya aku melihatnya"
"Angel Mademoissel, salah satu teman kampusku di Swiss, ah tidak, aku tidak punya teman, pokoknya saat itu sedang praktik melukis, entah mengapa dia melukis wajahku, dia bilang itu hanya iseng dan mengejekku lewat lukisan. Aku yang pemurung yang menengadah ke arah langit seakan mengharapkan sebuah kebahagiaan. Entah kenapa aku malah menyukainya, dan dia memberikanku lukisan itu seperti sampah"
"Dan aku akan bertanya padamu, kenapa kau tidak pernah memiliki teman dan bersikap antisosial, Phoeby"
Phoeby mengangkat bahu "Aku sulit menjawabnya"
"Katakan saja apa yang kau rasakan"
"Aku memiliki masalalu yang buruk, ini ada hubungannya dengan kepindahanku ke Kanada. Dari sejak kecil aku hidup di bawah asuhan ayahku yang otoriter, dengan sikapnya yang keras itu dan sempat menyiksaku, akhirnya aku terbiasa begini. Menurutku hidup dengan seseorang akan menyusahkan, berbeda dengan hidup sendiri, serasa bebas melakukan apapun"
"Kenapa orang tuamu...- ah tidak, aku tidak akan menanyakannya terlalu jauh, aku tau kau tidak ingin mengatakkannya padaku, iyakan?"
"Hem, terlalu rumit, itu membuatku kembali ke masalalu"
"Aku mengerti"
"Oh ya, bagaimana dengan penyeledikanmu, sudah ada kemajuan?" Tanya Phoeby.
"Ya, sudah ada beberapa petunjuk, aku sempat kelabakan mengurusnya, masih di bawah lima puluh persen untuk menemukan jawaban siapa pelakunya"
"Lalu bagaimana dengan pembunuhan di perusahaan Yotsuba itu? Apa disana juga menemukan petunjuk?"
"Dia menyimpan bunga mawar putih di meja Mr. Albert, tapi kepolisian belum menemukan motif pembunuh dan arti dari mawar itu"
"Petunjuk yang aneh, pembunuh menyimpan bunga mawar itu adalah hal yang langka"
Adri tertawa kecil "Ya, kau benar"
"Kau tampak mahir memainkan pisau ya" Ucap Adry dengan nada yang dibuat curiga saat melihat tangan terampil mengupas kulit kentang.
"nadamu itu seperti menuduhku seorang pembunuh" Balas Phoeby dengan nada bercanda. Lalu ia mencuci tangannya di wastafel.
"Oh ya" Phoeby berdiri tepat di hadapan Adry, gadis itu sedikit mendongak memandang Adry dan menatapnya dengan wajah manis. "Kau adalah seorang detektif yang menyelidiki kasus pembunuhan, tapi kau bukan FBI atau CIA, katakan apa yang akan kau lakukan jika aku adalah pembunuh itu, aku ingin tahu?"
Adry menatap balik gadis itu. Menatapnya lama.
"Aku akan menciummu"
Phoeby tertawa renyah "Jangan bercanda"
"Kau juga sedang bercanda"
"Ya aku tahu-aku tahu,,, jika aku adalah pembunuh, kau akan mengeksekusiku tanpa ampun, kau akan mengambil pistolmu dan menembakkannya tepat dikepalaku, atau kau..."
"Atau aku akan membunuhmu dengan pisau dapur" Adry melanjutkan.
"Ya-ya kau benar" Phoeby tertawa.
"Kau bahagia denganku"
Tiba-tiba tawa Phoeby terhenti.
"Aku penasaran kapan kau terakhir tertawa seperti itu, Phoeby. apa kau sering tertawa?" Tanya Adry sambil menatapnya dalam-dalam. Lalu menggenggam kedua tangan Phoeby yang dingin.
"Sejak pertama bertemu denganmu, sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan wanita yang antisosial, dia terlihat angkuh dan egois, aku tahu kau memiliki sikap seperti itu, kadang aku ingin kau bisa tersenyum kepada orang-orang disekitarmu, dan mencoba berbicara banyak pada orang yang peduli padamu. Aku ingin kau melakukannya, tapi setelah aku sadar, aku ingin hanya aku yang tahu senyuman itu, aku hanya ingin hanya aku yang tau suara tawamu, aku ingin memilikinya, hanya aku, Phoeby... aku jatuh cinta padamu. Jangan berikan senyuman itu pada orang lain, kecuali aku"
"A-Adry"
Wajah Adry tepat di depan wajahnya, sepertinya sebentar lagi akan terjadi sesuatu. Phoeby bisa merasakan nafas Adry yang hangat, dan tangannya menggenggam erat.
"Jangan jatuh cinta padaku" Ucap Phoeby pelan.
"Aku sudah jatuh cinta padamu, dan aku tidak ingin kau melarangku"
"Tidak, aku mohon jangan jatuh cinta padaku. Pada akhirnya kau hanya akan menyakitiku Adry, semua pria selalu menyakiti wanita, seperti yang dilakukan ayah  padaku dan ibuku"
"Kenapa kau beranggapan seperti itu Phoeby, kau tidak tahu apa arti cinta sesungguhnya, kau barusaja tertawa denganku, aku tahu kau bahagia jika aku berada di dekatmu, iyakan"
Phoeby terdiam.
"Aku tahu kau kesepian selama ini karena selalu sendiri. Aku mohon, beri sedikit ruang untukku" Adry memegang pinggang gadis itu, dan memberikan ciuman lembut pada bibirnya.
Keduanya di kejutkan saat pintu depan yang di buka. Laurent barusaja sampai dan tak sengaja menyaksikan adegan mengejutkan itu di dapur. Tapi Laurent berusaha bersikap tenang kepada mereka, padahal dalam hati ia senang, akhirnya Phoeby yang pemurung bisa jatuh cinta.
"Aku pikir siapa, tidak biasanya ada mobil yang terparkir di depan" Ucap laurent dengan ramah.
"Mom, kau sudah pulang, hemm... ini Adry dia teman kampusku, Adry dia ibuku"
"Adry"
Mereka berjabat tangan.
"laurent. Teman?" laurent bertanya sesuatu.
"Hem ya, kami barusaja berpacaran" ucap Adry.
"Tidak- kami tidak pacaran, Mom, yang barusan itu...-"
"Ah syukurlah, mama tidak menyangka pria setampan ini akan menjadi pacarmu, mama senang mendengarnya"
"Tidak-" Phoeby berusaha mengelak.
"Uh, aroma poutline, apa kau membuat poutline?" Laurent mengalihkan pembicaraan seraya berjalan ke dapur. Dimeja tersaji sepiring besar kentang dengan taburan keju dan tiga sandwich yang cukup mengenyangkan.
"Ya, aku membuatnya dengan Adry, aku sengaja membuatkan tiga sandwich untuk kita"
"Baiklah, malam ini kita akan makan bersama" Laurent dengan antusias membawa makanan itu ke ruang keluarga sambil menyalakan televisi.
***
Hujan deras di luar belum juga berhenti. Hawa dingin yang menyeruak akhirnya membuat Restoran di sekitar Maam Cross menjadi sasaran orang-orang untuk sekedar menunggu hujan reda sambil  meminum coffe.
Sir Charles menyimpan makanannya di atas meja, Shish Taouk dan smoked meat sandwich siap dilahap oleh Inspektur paruh baya itu. Ia mengambil potongan daging dengan garpu lalu menjejalkannya ke dalam mulut.
"Disini sangat ramai sekali, aku hampir kehabisan tempat duduk" Ucap pria asing bertopi bundar dan mengenakan mantel yang sangat tebal. Sir Charles menatap tajam, menurutnya itu sangat tidak sopan seorang yang duduk tanpa dipersilahkan dahulu.
"Aku melihatmu di televisi, sepertinya FBI dan CIA sangat sibuk akhir-akhir ini" Ucap pria asing itu, setelah menyadari bahwa Sir Charles berseragam kepolisian. Sir Charles tak menaggapi, ia hanya tidak suka di ganggu saat makan, apalagi saat dirinya - dan Shish Taouk favoritnya.
"Tapi sepertinya kasus ini sulit untuk dipecahkan,bukan?" kata pria asing itu.
"Jika ingin bicara denganku tunggu sampai aku menyelesaikan makananku" Balas Sir Charles tanpa memandangnya.
Pria asing itu tertawa "Kau terlalu santai dalam menangani kasus ini, tidak kusangka, FBI dan CIA kelabakan hanya dengan satu orang wanita"
Sir Charles menatap wajah pria itu dengan serius.  "Apa maumu?"
"Baiklah, untuk membuatmu jelas" Pria itu menyerahkan identitasnya "Aku anggota kepolisian"
Sir Charles menatap identitas kepolisian itu di meja. Namun identitas itu bukan dari negara Kanada. Sir Charles kembali memandang pria asing itu.
"Aku sedang menjalankan tugas, ah, kau pasti kenal dengan foto ini" Pria asing itu meletakkan sebuah foto di meja.
"Kau pasti kenal dengan orang ini, dan setelah memperlihatkan foto ini kau pasti tahu aku berasal dari kepolisian mana" Kata pria itu mengejutkan Sir Charles, namun Sir Charles tak menunjukkannya. "Dia adalah buronan kami. Pembunuh bayaran yang sangat profesional dalam hal menembak"
Lama, Sir Charles memandang foto itu.
"Dia satu-satunya anak buah Pater Kardinal Rooney dan teman-temannya berjumlah 3 orang. Pater tersangka yang sudah kami bebaskan 15 tahun yang lalu, dia terbukti melakukan pembunuhan dan perampokkan di sebuah bank. Dan untuk melanjutkan kejahatannya dia merekrut gadis ini untuk melakukannya" Jelas pria itu.
"Ayo, kita bekerja sama mencarinya. Amanda Milray"  Lanjut pria itu.
***
Istana kaisar bukan main megahnya, bangunan yang berdiri beberapa hektar itu tampak bersinar di pinggir kota. Istana itu menjadi pusat perhatian banyak orang. Ya, malam ini banyak sekali orang yang berdatangan, para pejabat tinggi dan tokoh ternama mendatangi istana untuk merayakan sebuah pesta yang di adakan oleh Freddy Sanders. Pesta yang diadakan setiap satu tahun sekali tepat di musim dingin. Pesta ulang tahun Freddy Sanders.
"Selamat berulang tahun, Yang Mulia" Seorang pejabat tinggi menjabat tangan Freddy dengan bangga. "Ah, dan Nyonya Sanders" ia juga menjabat istri Freddy.
"Thank you" Ucap Nyonya Sanders ramah. Dia wanita berumur setengah abad, mengenakan gaun yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang masih segar di pandang mata. Dia sangat perfeksionis dalam hal apapun terutama penampilannya, karena hal itulah dia masih saja cantik dan garis-garis keriput di wajah nyaris tak terlihat.
Mereka berbincang selama beberapa menit dan berfoto bersama. Nyonya Sanders memperhatikan anak semata wayangnya yang berdiri di samping jendela, sedari tadi ia seperti menunggu seseorang. Nyonya Sanders mendekat.
"Jangan hanya berdiri saja, kau bisa berdansa dengan gadis cantik yang berada disini" ucap Nyonya Sanders.
"Aku sedang menunggu seseorang, Mom" ucap Adri.
"Dia pacarmu?"
"Entahlah"
Nyonya Sanders tertawa kecil "Apa gadis itu menolakmu?"
"Dia belum merespon apa-apa, aku harap malam ini aku bisa menemukan jawabannya"
"Tidak biasanya ada gadis yang tidak langsung menjawab pernyataan cintamu itu, aku jadi penasaran gadis seperti apa dia, apa dia cantik?"
"Hem, dia tipeku"
"Baiklah, kenalkan dia padaku"
***
Adry menyembunyikan seikat bunga mawar di balik punggungnya. ia menaiki tangga untuk menuju ke lantai tiga. Phoeby, sudah menunggunya disana.
Sampai di lorong yang terang benderang, dan angin semilir dari luar tampak Phoeby sedang memandang ke arah luar, rambutnya sesekali tertiup angin menambah ketertarikan siluetnya. Apalagi lekuk tubuhnya yang indah dengan balutan gaun sifon berwarna putih tanpa lengan, membuat Adry semakin ingin memilikinya.
"Apa kau menunggu lama?" Tanya Adry.
"Tidak, maaf aku datang terlambat"
"Kau pintar bersembunyi, aku menunggumu di bawah, diam-diam kau kesini sendirian ya"
"Aku hanya tidak suka keramaian, dan kalau aku menemuimu di bawah, sepertinya aku akan jadi pusat perhatian"
"Dan kau juga tidak suka diperhatikan banyak orang. Phoeby, banyak sekali yang tak aku ketahui tentang kamu" Ucap Adri. Adry memperhatikan wajah Phoeby yang sedikit bermake up, tidak terlalu tebal namun natural, bibirnya yang kecil mengkilap dengan polesan lip gloss. Phoeby benar-benar cantik malam ini.
Adry menyerahkan seikat bunga mawar merah pada Phoeby. Phoeby menatapnya tanpa ekspresi, tapi lalu dia tersenyum.
"Aku tidak menyangka kau bisa bertindak manis seperti ini. Tapi... aku tidak suka mawar"
"Oh ya? Sayang sekali. Baiklah, jika kau tidak menyukainya aku akan melemparnya keluar"
Phoeby menahan tangan Adry, lalu ia menerima bunganya "Tunggu, aku akan membawanya. Hal yang langka menerima bunga dari seorang detektif"
Tiba-tiba Adry menarik tubuh Phoeby ke dalam pelukannya.
"Mulai malam ini kau adalah milikku, Phoeby"
Phoeby terdiam sejenak.
"Sudah ku bilang, jangan jatuh cinta padaku, Adry-"
Pelukan Adry semakin erat. dan membelai rambutnya dengan sayang.
"Aku tidak akan menyakitimu Phoeby, dan aku akan melindungimu. Percayalah"
"Janji?"
"AKu berjanji"
"Aku belum bisa memberimu jawaban, aku butuh beberapa menit untuk memikirkannya"
Adry melepas pelukannya. "Baiklah. Aku mau mengambil minuman dulu"
"Ya"
Adry meninggalkan Phoeby di lorong, ia pun pergi ke lantai dasar untuk mengambil dua gelas minuman. Tak di sangka, Sir Charles dan pria tak di kenalinya datang. Mereka mengenakan stelan jas yang sangat rapi seperti tamu yang lain, dan itu sangat membuat Adry terkejut.
"Sir, kau datang juga?" Tanya Adry.
"Adry, aku sama sekali tidak ingin merusak acara ini. Tapi... ini demi kebaikan kita semua, aku sengaja datang kesini tanpa seragam kepolisian agar dia tidak mengetahui bahwa CIA ada disini"
"Maksudmu dia?"
"Aku sudah menemukan si pembunuh misterius itu, dia ada disini, oh kenalkan dia Sir Philips, partner baruku untuk membantu penyelidikan ini"
"Tunggu, maksudmu apa, dia ada disini, siapa?"
"Amanda Milray"
Adry tertegun.
"Kau juga mengenalnya dengan baik, Amanda Milray, ah, bukan, dia Phoeby. Ya, Phoeby adalah Amanda Milray"
Adry tertawa "Tidak jangan bercanda, malam ini aku dengan PHoeby sedang berkencan, jangan membawa-bawa Phoeby dalam penyelidikkan"
"Kau terlalu percaya padanya, aku membawa kepolisian dari Swiss, bukankah Phoeby dari Swiss, benarkan? Dia mencari gadis itu, dia adalah buronan"
"Tidak-"
"Katakan dimana dia?"
Adry, Sir Charles dan Philips menuju balkon lantai tiga. Saat sampai langkah mereka seketika berhenti. Dihadapan mereka, Phoeby dengan refleks menodongkan pistol ke arah mereka, bersamaan dengan Sir Charles juga menodongkan pistol padanya.
"Phoeby" Kata Adry pelan, ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Phoeby menurunkan ponsel dari telinganya. Sepertinya seseorang sudah memberitahu Phoeby bahwa Sir pHilips sedang mencarinya. Ya, Laurent memberitahunya. Setelah Phoeby pergi ke pesta Sir Charles datang menanyakan Phoeby. Laurent pun di tahan di kepolisian diam-diam ia menelpon Phoeby dengan ponsel yang ia sembunyikan. Saat itulah Phoeby mengerti keadaan, ia akan bertemu Sir Philips malam ini.
"Sir Philips. Benar?" Tanya Phoeby tenang, namun terdengar angkuh.
"Senang bertemu denganmu, Miss Milray" Balas Sir Philips.
Phoeby mendesah sinis. "Aku terkejut kau bisa sampai kesini,"
"Tentu saja, aku membawakan berita baik untukmu. Besok lusa, Pater akan di eksekusi"
"Apa?"
"Apa lagi yang akan kau perbuat? Atasanmu akan mati, akan lebih bagus kau juga menyerahkan diri pada kepolisian, jangan menghancurkan keamanan negara ini, Milray"
"Phoeby, katakan, ini tidak serius kan, kau bukan Amanda Milray"
"Jangan berkata polos seperti itu, detektif. Aku memang Amanda Milray, aku yang membunuh polisi palsu di bangunan terisolasi ,labirin, dan yotsuba. Itu aku. AKu memaklumi keterlambatanmu menyelidiki Amanda Milray, karna kau sama sekali bukan anggota CIA. Kau sudah mengetahuinya sekarang, yang jelas aku sudah melarangmu untuk jatuh cinta padaku, Adry Russel Sanders"
Entah kenapa, meskipun itu Phoeby tapi Adry tak mengenal nada suara seperti itu. Itu kebalikan dari sikap Phoeby yang lembut dan dingin. Sekarang dihadapannya bukan Phoeby lagi, tapi Amanda Milray, gadis pembunuh yang selama ini ia cari.
Phoeby menarik pelatuk tanpa ragu dan siap menembak mereka.
"Sir, turunkan senjatamu" Pinta Philips pada Sir Charles. Sir Charles terkejut dengan permintaan Philips itu.
"Dia penembak profesional, dia bisa menembak dari sembarang arah dan selalu tepat sasaran"
"Tidak mungkin, wanita seperti dia bisa melakukan hal yang tak bisa dilakukan oleh FBI" Balas Sir Charles pelan, ia pun menurunkan senjatanya.
Sir Philips mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
"Ayo lakukan" Ucap Sir Philips agar keduanya mengangkat tangan juga, Sir Charles menurutinya, namun Adry masih tak percaya dan keras kepala.
"Phoeby-"
"Berbalik" Ucap Phoeby.
"Dia gadis berbahaya, ikuti saja kata-katanya" Ucap Philips, yang seakan tak bisa berbuat apa-apa menghadapi gadis ini.
Ketiganya berbalik membelakangi Phoeby, sementara itu Phoeby menurunkan senjatanya. Sampai beberapa detik, tak terdengar suara dari belakang mereka. Saat mencoba berbalik  ke arah Phoeby, dia sudah tidak ada disana lagi. Meninggalkan bunga mawar dan hand bagnya.
Sir Charles menuju jendela dan memandang ke arah luar. Tidak ada Phoeby disana.
"Menghilang"
Adry melesat menuruni tangga, diikuti Philips dan Sir Charles, tentu saja, untuk mencari Phoeby.
Mereka bertiga menyebar keseluruh ruangan dasar, untuk berjaga-jaga bahwa Phoeby tak melakukan pembunuhan disini. Adry keluar dari istana memandang ke sekeliling taman, tidak ada tanda-tanda Phoeby disana. Beberapa orang penjaga pun terlihat aman mengawasi lingkungan.
"Apa kau melihat gadis mengenakan baju putih yang keluar dari istana?" Tanya Adry ke seorang penjaga keamanan istana.
"Kami belum melihat tamu manapun yang keluar dari istana, Tuan muda"
Ia pun mencari ke tempat lain disamping istana. Tidak ada Phoeby disana. Tak lama datang Sir Charles dan Philips.
"Kau menemukannya?" Tanya Philips.
"Dia kabur dengan sempurna" Jawabnya.
"Gadis itu benar-benar diluar logika. Bagaimana bisa dia melakukannya tanpa ada jejak" Ucap SIr Charles.
"Ya, ini salah satu alasan kenapa kepolisian Swiss tak pernah berhasil menangkapnya, gadis itu seperti tikus yang pintar menyelinap dan bersembunyi" Kata Philips
"Dia belum lama pergi dari sini, ayo kita lanjutkan pencarian keluar istana"
"Aku ikut" Ucap Adry.
"Tidak, kau harus tetap berada di istana, gadis itu bisa berada dimana saja, jaga saja ayahmu" Ucap Sir Charles.
AKhirnya kedua polisi itu pergi dari istana dengan mobilnya.
***
Pagi itu, Adri memandang seikat bunga mawar dan hand bag di meja. Melihat kedua benda itu membuat hatinya terasa sakit, apalagi mengingat tadi malam Phoeby yang terlihat polos tiba-tiba menodongkan pistol ke arahnya. Meski perasaannya hancur, tapi Adry tetap konsisten menjalankan tugasnya, tentu saja, untuk memenuhi janji pada ayahnya, menemukan dan mengeksekusi gadis itu.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Nomor tak di kenal menghubunginya.
"Ya?" Ucap Adry.
Mengetahui isi pembicaraan seseorang di seberang Adry langsung mengambil kunci mobil dan pergi meninggalkan istana, ia juga menghubungi Sir Charles.
"Dia berada di Street Petroch Loomouth"
***
Phoeby memandang Nenek Lucy yang meletakkan kembali telepon rumahnya. Nenek Lucy baru saja memberitahu seseorang keberadaan dirinya di St. Petroch Loomouth.
"Nenek, kau baru saja menelpon polisi, apa yang kau lakukan?" Tanya Phoeby.
Nenek Lucy kaget lalu berbalik. Ia memegang bahu gadis itu.
"Seseorang ingin menemuimu, dia pria yang sangat baik dan tampan, kau pasti menyukainya, pria itu juga menanyakan keberadaanmu. Aku akan mempertemukan kalian berdua, kalian akan saling jatuh cinta"
Phoeby menatap Nenek Lucy dengan tajam.

BERSAMBUNG...

Phoeby menatap Nenek Lucy dengan tajam.

BERSAMBUNG...
 ubungi Sir Charles.
"Dia berada di Street Petroch Loomouth"
***
Phoeby memandang Nenek Lucy yang meletakkan kembali telepon rumahnya. Nenek Lucy baru saja memberitahu seseorang keberadaan dirinya di St. Petroch Loomouth.
"Nenek, kau baru saja menelpon polisi, apa yang kau lakukan?" Tanya Phoeby.
Nenek Lucy kaget lalu berbalik. Ia memegang bahu gadis itu.
"Seseorang ingin menemuimu, dia pria yang sangat baik dan tampan, kau pasti menyukainya, pria itu juga menanyakan keberadaanmu. Aku akan mempertemukan kalian berdua, kalian akan saling jatuh cinta"
Phoeby menatap Nenek Lucy dengan tajam.

BERSAMBUNG...